Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
7 Patih Raja


__ADS_3

Sejak hari itu Bima mulai menulis sebuah catatan harian. Dia pikir perjalanan ini pantas untuk dikenang.


Sekarang merupakan dua hari setelah pertempuran yang diikuti Bima. Meskipun kemarin sedikit terhambat, hari ini kegiatan di keraton sudah seperti biasanya.


Mulai saat itu juga, Bima dan Laras berlatih bersama-sama. Walaupun tidak bertarung satu sama lain, tapi tempat yang berdekatan membuat mereka sering bertatap muka.


Waktu istirahat pun tiba. Bima pun memulai pembicaraan.


“Hey Laras.. selain para penderita, apakah hanya kita orang luar di sini?”


“Sepertinya begitu,” ucap Laras seraya mencopot ikatan rambut karena gerah.


“Ngomong-ngomong, aku penasaran, apa demit yang merasuki dirimu?”


“Bukankah seharusnya kau sudah mengetahuinya?”


“Ahaha.. Aku tidak begitu tahu tentang kisah mahabarata.”


“Srikandi, kau tahu bukan?”


“Sama sekali.”


“Ya sudahlah.”


Di saat mereka mengobrol seperti itu, mulai terlihat kerumunan di sepanjang jalur masuk istana.


“Sepertinya enam patih telah kembali.”


“Enam patih?”


“Ya, mau lihat? Jika kau belum tahu tentang mereka, aku bisa memberitahumu.”


“Ah, baiklah.”


Bima dan Laras pergi menuju tempat keramat tersebut. Setelah mengambil posisi agar bisa melihat, Laras mulai menjelaskan pada Bima.


Mulai dari sosok yang berjalan paling depan. Seorang yang terlihat mencolok dan berwibawa dari yang lain. Dia bernama Wira, identitas demitnya adalah Yudhistira.


Kemudian Patih kedua. Tubuhnya yang paling pendek, membuat dia terlihat lebih muda dari yang lain. Candra, adapun demit yang merasukinya bernama Setyaki.


Lalu di belakangnya, Basuki. Dia nampak biasa saja karena tidak membawa senjata. Namun, sebuah cincin yang di jari tangannya memunculkan aura luar biasa. Diketahui dia dirasuki oleh Ekalaya.


Berikutnya adalah orang yang memakai baju yang cukup terbuka dari lain. Namun dia tampak percaya diri. Dikenal dengan nama Surya, dan demitnya yang bernama Karna.


Patih Kelima, kali ini pakaiannya lebih tertutup dari yang lain. Bahkan, wajahnya tidak terlalu terlihat. Bagian mahkota menutupi hidung hingga ke atas. Pria tersebut bernama Bayu, dan identitas demitnya adalah Gandari.


Yang terakhir, seorang yang terlihat lebih tua dari yang lain. Pria itu juga cukup mencolok dari sudut pandang lain. dialah Raynar, satu-satunya patih yang tidak memiliki demit.

__ADS_1


Setelah keenam patih lewat, Bima dan Laras berjalan kembali ke tempat latihan.


“Kedengarannya hebat! Meskipun demit yang tahu cuman Karna dan Yudhistira sih.. Ehehe..”


“Kusarankan kau segera belajar!”


“Hah.. tapi ya.. aku masih penasaran, apa benar .. siapa Patih yang tadi itu.. hhuumm .. Raynar kalo gak salah ... apa dia sangat kuat meskipun tanpa demit?”


“Kresna pernah berkata bahwa dia sendiri tidak begitu yakin bisa menang?”


“Yang benar saja, dia ini inkarnasi dewa lhoo..!”


“Memang benar Kresna adalah awatara Wisnu, tapi mungkin dia juga memiliki alasan tertentu, seperti... batasan kekuatan mungkin?


“Kalau begitu masuk akal.”


....


Pada waktu yang sama di dalam istana. Prabu Hamengkubuwono dan ketujuh patih berkumpul di istana.


“Bagaimana hasilnya?” tanya sang prabu yang duduk di singgasana.


Basuki menyampaikan apa yang ia selidiki :


“Dari Jawa Barat saya mendapati kejadian yang sangat aneh, tepatnya di Kota Bandung sebuah gunung yang dikenal dengan Tangkuban Perahu telah menghilang...”


Semua di ruangan pastilah tahu bahwa itu adalah ulah dedemit.


Lalu Surya angkat bicara :


“Maafkan saya tuan prabu, di Jakarta kami sangat kesulitan mencari informasi, tapi saat itu kami sekali berhasil menanyakan sesuatu pada orang yang kerasukan, 'Sudra' kata itulah yang keluar.”


“Saya di Banten juga begitu tuan, tidak hanya 'Sudra', dia juga mengatakan 'Waisya'” Candra langsung menyaut.


“Sama,” suara serak terdengar singkat dadi mulut Raynar.


“Kebetulan sekali, saya juga membawa sesuatu yang berhubungan...” Wira mengambil sebuah gulungan kertas yang terikat pada badannya.


“...Izinkan saya membacanya... Tanah Jawa, suatu saat daratan ini akan mengulangi sejarah leluhurnya, mereka akan datang membuat keonaran, enam Sudra dan Waisya serta Kesatria juga seorang Brahmana... Jangka, Kadiri 1146.”


“Sepertinya mulai terhubung.. sebelum membahas lebih lanjut, bagaimana denganmu Patih Bayu?” tanya prabu.


“Tidak ada lagi yang bisa kukatakan, semuanya sudah dijelaskan,” jawab Bayu dengan tenang.


“Berarti kau juga sama ya... kalau begitu mari kita bahas tentang Gunung Tangkuban Perahu! Sudah jelas itu ulah demit, tapi pertanyaannya apa alasan mereka melakukannya?” tatapan Prabu Hamengkubuwono menajam pada pertemuan tersebut.


Beberapa saat, Istana mengalami keheningan. Mereka semua berusaha menemukan jawaban.

__ADS_1


“Alat tempur.. ya, alat tempur! bila benar awalnya gunung itu adalah perahu, maka pasti dijadikan senjata,” Kresna menunjukkan diri.


Mendengar itu, para hadirin lain bergumam sendiri-sendiri.


“Hhmm.. Jika itu kemungkinannya, maka itu sedikit merepotkan, karena cerita itu juga mengatakan bila pembuatnya dulu cukup sakti, kita tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh perahu tersebut,” prabu menanggapi pernyataan Kresna.


“Tuan Prabu benar, saat ini tidak ada pilihan lain kecuali menyelidikinya lebih lanjut,” ucap Bayu.


“Lalu tentang surat yang dibawa Wira, Bagaimana menurut kalian?” prabu bertanya lagi.


“Tidak diragukan lagi, surat itu berasal dari Kediri, pastilah merupakan salah satu benda yang dinamakan Jangka Jayabaya,” jawab Basuki.


“Kebanyakan ramalan Jayabaya memang akurat, tapi apa maksud isi surat tersebut?” tanya Candra.


Lalu Kresna meminta untuk melihat surat tersebut. Taraka pun menyerahkannya.


“Uuhhmm... Bagaimana ya..? Bisakah kita simpulkan bahwa ini tingkatan demit yang lebih tinggi?” Kresna mencoba mengambil kesimpulan setelah membaca secara seksama.


“Apa maksudmu Kresna?” tanya prabu.


Kresna berdiri dan berjalan perlahan seraya memberi penjelasan dengan bijak :


“Seperti yang saya katakan barusan, mungkin saja ini adalah petunjuk jenis demit yang lain, yaitu Sudra, Waisya, Kesatria, Brahmana.. Lalu menurut catatan ini, masing berjumlah enam kecuali Brahmana yang tertulis kata 'seorang'”


“Memang benar, itu masuk akal,” kata prabu dengan senang.


“Se..tuju,” lagi-lagi hanya sepatah kata yang keluar dari mulut Raynar.


“Lalu Kresna..! Bagaimana menurutmu anak-anak?” tanya prabu.


“Meskipun masih perlu banyak belajar, pikir saya mereka sudah berkembang dengan cukup cepat.. Bahkan di pertempuran pertama, mereka sangat berandil besar.”


“Syukurlah kalau begitu.”


“Anak-anak..? Apakah maksudnya pemuda yang datang ke sini malam-malam dulu?” tanya Surya dengan penasaran.


“Ya begitulah,” jawab Kresna.


“Apakah kau sudah mengetahui demit yang merasukinya?”


“Ya, pemuda itu dirasuki oleh Nyi Blorong.. meskipun yang menyadari tuan prabu duluan sih..”


“Nyi Blorong ya.. menarik, aku tertarik dengan dirinya.. aku ingin sedikit mengujinya,” Surya membuat senyuman kesenangan.


“Sepertinya sekian saja pertemuan kali ini, kalian semua diperkenankan untuk pergi,” Prabu bangkit dari singgasana dan berjalan pergi.


Kemudian Surya mendekat ke arah Kresna. Lalu dia berkata padanya :

__ADS_1


“Hey Krisna..! dimana dia saat ini? tunjukkan padaku!”


“Baiklah, ikutlah denganku!”


__ADS_2