Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Kesaktian Patih


__ADS_3

Terkejut bukan kepalang. Karena tiba-tiba Bima didatangi oleh seorang yang berkedudukan tinggi. Apalagi, saat ini dia ditantang untuk bertarung.


Orang itu tidak lain adalah Patih Surya. Sosok yang sudah pasti memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Ditambah, demit yang dimilikinya adalah Karna.


Meskipun tidak tahu detailnya, Bima mengerti betapa kuatnya Karna dalam legenda. Oleh karena itu, dia ragu untuk bertarung dengannya.


Tantangan itu ditolak Oleh Bima, tapi Surya terus berusaha mendesak dirinya. Hingga akhirnya, Bima menerima duel ini.


Patih Surya bilang hanya ingin sedikit mengujinya, tapi Bima merasa ini akan menjadi ujian yang sulit.


Di sisi lain, Kresna dan Laras hanya menonton mereka berdua yang sudah berkuda-kuda.


Patih Surya dan Bima sama-sama hanya menggunakan sebuah keris.


“Jangan menahan diri!”


“Baik,” tapi Bima sendiri tidak yakin bisa melukai Surya.


“Sini, Serang aku!”


Bima menggerakkan kakinya. Dia memulai dengan serangan keris simpel yang terarah. Namun, dengan mudah Surya menangkisnya.


Tangan yang sedikit terpental, dimanfaatkan Bima untuk mengambil posisi lebih rendah. Dia memutar tumitnya dan berniat menendang.


Surya menghindar, tapi serangan Bima tidak berhenti sampai di situ. Serbuan bertubi-tubi terus mengarah padanya. Terjadilah pertarungan fisik yang sengit di antara mereka.


Pada awalnya, Surya hanya bertahan dan menangkis serangan. Hingga kemudian dia mencoba untuk membalas dengan pukulan telak di saat Bima lengah.


Bima menyadari serangan balik lawan dan segera melompat menjauh. Melihat gerakan itu, Surya memujinya :


“Ilmu bela diri sudah lumayan, terlebih reflekmu juga bagus.. tinggal pengembangan teknikmu dengan ilmu kanuragan... kali ini coba serang dengan kesaktianmu..!”


“Baiklah.”


Bima memegang kerisnya lurus di depan dada. Dia kemudian mengalirkan kekuatan pada benda itu.


Di saat bersamaan dia juga memanggil seekor ular, lalu bersiap untuk menyerang.


Pertama ular yang cukup besar itu bergerak. Dengan cepat hewan tersebut mencapai tempat Surya berada.


Surya berhasil menebas ular tersebut,


sesuai yang direncanakan oleh Bima. Reptil itu lalu meledak dan menghasilkan asap yang tebal.


Mengambil kesempatan tersebut, Bima segera menerjang ke arah Surya.


“Rencana yang hebat Bima..! Tapi...”


Tepat sebelum keris meraih dadanya, Surya berhasil menghentikannya dengan memegang tangan Bima.


“...Kau lambat.”


Bima tersenyum, “Patih Surya memang benar.”


Mendadak keris yang dipegang Bima bercahaya dan memanjang, lalu-


Tuaangg..!

__ADS_1


“Apa?” Bima merasakan sesuatu yang keras dan terpental kuat ke belakang. Bahkan, dia berkali-kali bergelimpangan di tanah.


“Bahkan membuatku sampai mengeluarkan ini, kau memang hebat Bima!” Surya tertawa-tawa.


“Itukan..?”


Kresna dan Laras terperangah dengan apa yang dilihat. Mereka melihat pelindung dengan simbol matahari di tengah.


“Bukankah Karna telah kehilangan baju pusaka? Tapi kenapa...?” tanya Laras.


“Asalkan pernah dimiliki, maka seorang demit bisa menggunakannya... Tetapi untuk kasus Karna, mungkin seperti senjata yang kumiliki, hanyalah duplikat... Sehingga kekuatan yang terkandung berkurang.”


“Apa-apaan itu?” Bima perlahan bangkit. Dia melihat cahaya keemasan di balik asap yang menyelimuti Surya.


Sinar itu menghilang seiring waktu, bahkan sebelum asap yang mengelilingi hilang.


“Gimana? Masih mau lanjut? Kali ini cobalah bertahan dari seranganku!” Surya mengusap kerisnya lalu bergumam, “...Kiai Jalak.”


Keluar angin dahsyat yang mengibaskan asap tebal. Terlihat keris Surya menjadi berwarna kemerahan dan memunculkan aura yang luar biasa.


“Aku mulai ya..! Surya segera menerjang ke depan. Dengan cepat Dia sampai di hadapan Bima.


Ctaang..


Keris mereka saling bertabrakan. Melihat Bima yang lengah di bagian bawah, Surya menendangnya dengan keras.


Bima sekali lagi terpental hingga kerisnya terlepas dari genggaman.


“Haahh.. Hhaahh...” Dia mengambil kembali kerisnya dan berusaha bangkit.


“Bagaimana? Sampai di sini saja?” Surya berjalan mendekat dengan perlahan.


Sssszz... Ssszz.. Sssz.


Bergeraklah semua ular itu secara bersamaan.


“Agni..” Surya mengibaskan kerisnya. Sehingga kawanan ular tersebut terbakar habis dengan gampang.


“A-apa?”


“Heeyy..! Apa itu saja?” Surya menyerang Bima dengan keris yang masih menyala.


Bima yang mencoba menangkis, malah membuat keris yang dipegangnya terbelah.


“Fang..!” Bima dengan sigap mengganti senjatanya dengan membuat dua buah taring.


Kali ini mereka bertanding dengan cukup imbang. Dengan kedua taring yang dipegangnya, Bima masih bisa menahan serangan bertubi-tubi dari Surya.


“Bagus.. bagus sekali..!” Surya menguatkan serangan dan membuat Bima terseret mundur.


Kemudian Surya memasang kuda-kuda rendah. Dia mengarahkan kekuatan pada kerisnya hingga terbakar.


“Agni... tusukan memusat!”


Wwwuuussshh.. buaag...!


Api memanjang hingga menusuk perut Bima, membuat dirinya lumpuh hingga tangan menyentuh tanah. Namun, dia tidak selemas itu untuk terkapar di tanah.

__ADS_1


Rupanya di saat-saat terakhir, Bima berhasil meminimalisir dampak serangan dengan membuat sisik di perut.


“Kau memang pantas diakui Bima, pengendalian terhadap demitmu sudah cukup hebat,” Surya mendekat dan mengulurkan tangannya pada Bima.


Mereka mengakhiri duel dengan saling bersalaman.


...Perjalananku masih panjang, bahkan aku tidak bisa membuat Patih Surya mengeluarkan keringat setetes pun.


Bima mulai mengagumi sosok patih yang di hadapannya. Dia juga berpikir bahwa patih lain pasti sangat kuat pula.


“Sialan.. jika begini terus aku akan disaingi oleh Bima,” Laras menggeram kesal.


Melihat ekspresi Laras, Kresna hanya tersenyum. Dia merasakan kesenangan ketika kedua remaja itu akrab.


Setelah Patih Surya pergi, Bima segera menghampiri Kresna dan Laras dengan sempoyongan. Kemudian tubuhnya ambruk tengkurap ketika sampai di hadapan mereka.


“Patih sangatlah kuat, kekuatan kami sangat berbeda jauh, hhuuaahh..” ucap Bima seraya berbalik dan melihat langit.


“Kau telah berjuang keras Bima..!” Kresna mengelus-elus kepala Bima.


“Kresna pikir kepalaku ini apa? Aku bukanlah anak kecil ya..!”


“Meskipun begitu, aku-”


.....


Petang pun tiba, Bima sudah kembali ke kamarnya.


“Padahal hanya berlatih, tapi sampai selelah ini,” Bima mengelap badannya yang basah sehabis mandi dengan handuk.


“Untuk pelindung sisik tadi, apakah kau yang melakukannya Nyi Blorong?”


'Tidak sepenuhnya benar, karena pemicunya adalah Bima sendiri, saat itu secara tidak sadar kau mengalirkan kekuatan pada perut'


“Hanya reflek ya..? Aku sangat gugup waktu itu, untung saja ada engkau.”


'Aku hanya sedikit membantu'


“Ngomong-ngomong, apakah kau bisa hidup di luar tubuhku? Dulu saat jadi hantu pesugihan begitu kan..?”


'Sebenarnya-'


Bboomm... Bboommm..


Suara dentuman keras terdengar dari luar. Teriakan orang-orang juga sampai menggema di dalam.


Bima terkejut dan segera mengenakan pakaiannya.


'Kau sudah terbiasa ya sekarang..?' ucap Nyi Blorong dengan nada menggoda.


“Tidak ada pilihan lain lagi bukan?”


Setelah selesai mengenakan pakaian, Bima bergegas keluar kamar.


“Ada apa?” tanya Bima pada salah satu abdi.


“Seorang penderita mengamuk, kehilangan kendali atas demitnya.”

__ADS_1


“A-apa?”


__ADS_2