
Sebuah tempat bersejarah yang masih hidup hingga sekarang. Salah satu dari sekian situs destinasi wisata di pulau Jawa bagian tengah.
Sekarang ini, tempat tersebut telah tutup. Hanya tersisa penghuni asli Keraton.
Bima berjalan selasaras dengan seorang pria yang menyelamatkannya. Gugup dicampur kekhawatiran terasa pada benaknya.
“Tidak kusangka aku dibawa di tempat ini?” tanya Bima.
“Kau terkejut?”
“Ya, jadi kalian ini kaum bangsawan ya?”
“Tentu saja bukan, ... kami memang tinggal di sini, tapi bukan berarti kami juga keturunan darah biru, ... saya ini hanyalah seorang abdi.”
“Tunggu kenapa kita-”
Pria itu menarik Bima ke arah yang berbeda dengan Anggun. Mereka menuju tempat yang terlihat lebih megah dari yang lain.
“Udahlah, ikut saja!”
“Baiklah.”
Gapura besar menyambut mereka, serta kawasan yang luas nan sepi mengiringi lorong tempat mereka berjalan.
“Ngomong-ngomong, sebenarnya mau kemana kita?”
“Menghadap Sri Sultan.”
“Apa!?”
...
Melewati sebuah pintu yang terukir indah, Bima berjalan seraya mengagumi seni dalam bangunan.
...Aku pernah sekali mengunjungi istana ini, tapi pada malam hari suasananya sangat berbeda
Bima baru sadar orang yang di hadapannya adalah sosok figur yang sangat terhormat. Sri Sultan Hamengkubuwono X duduk berwibawa di atas singgasana.
Dengan pakaian yang mayoritas hitam dan bawahan kain jarik, sang raja terlihat masih gagah meski sudah lanjut usia.
Enam pria pengikutnya duduk berjejer di tepian depan singgasana. Mereka memakai pakaian dengan corak berbeda-beda.
Kondisi ini benar-benar tidak cocok untuk Bima yang hidup di kota metropolitan.
Pria di samping Bima menunduk. Kemudian Bima juga ikut menghormat pada sang sultan dengan tergugup.
“Lapor tuanku, kami sudah berhasil menyelesaikan fenomena roh yang dimaksud.”
“Kerja bagus, lalu siapa anak yang engkau bawa itu?”
“Tuan, anak ini adalah sosok yang menahan roh tersebut.”
“Maksudmu.. dia bertarung dengan orang yang kerasukan!?” tanya sultan dengan keterkejutan.
“Begitulah tuan.”
Sang sultan berganti menatap Bima seraya berkata:
“Wahai anak muda, siapa namamu?”
“Saya Bima, tuan,” Bima meniru gaya bicara pria di sampingnya.
“Bima..!”
“Iya?”
“Tujukkan padaku!”
Tiba-tiba mincul tiga ekor ular menggeliat di depan Bima.
“Jadi seperti ini kekuatanmu?”
“Ya, tuan.”
....tiga ekor? bagaimana sebenarnya cara kerja kekuatanku ini?
Bima kebingungan seraya terus memandangi ular-ular yang bergerak.
“Bangkitlah..! Ceritakan tentang kekuatanku lebih detail!” titah sang sultan.
__ADS_1
...jawab setahuku sajalah
Bima berdiri dan mulai berbicara:
“Tuan, yang kuketahui kekuatan ini muncul saat saya masih kecil, saat itu aku sedang bermain dan digigit oleh seekor ular, lalu...”
Bima mendadak menghentikan kalimatnya.
“Lalu apa, Bima?”
“Lalu...”
Merasakan ingatan yang samar-samar, bagai kaset yang sudah rusak. Bima melihat sebuah kenangan tidak jelas didalamnya.
Seseorang, Bima melihat seseorang. Wajahnya tidak begitu jelas. Namun dengan proporsi tubuh sedemikian rupa, pastilah itu seorang wanita.
Bima saat ini sedang memegangi kepalanya yang sakit di hadapan raja dan para abdi.
“Ada apa?”
“Bima?”
Seketika para hadirin terheran dengan apa yang dilihat.
“Tidak.. tidak apa-apa, aku baik-baik saja,” Bima merilekskan tubuh. Pikirannya sudah mulai tenang saat ini.
Sang sultan lega mendengar ucapan Bima, kemudian dia bertitah pada abdi:
“Baiklah, sampai di sini saja, bawa anak muda tersebut ke tempat itu!”
...Tempat itu?
Bima bingung dengan dengan perkataan sang sultan. Namun, dia tetap menurut begitu saja.
Pria yang telah menyelamatkannya, membawa Bima pergi dari ruang utama istana.
Tersisa sang sultan dan jejeran para abdi seperti sebelumnya.
Raja ke sepuluh kerajaan Yogyakarta itu masih duduk di singgasana seraya memikirkan tentang Bima.
...Pengendali ular ya, itu bukan gejala kerasukan dedemit biasa.
“Ada apa tuan? tiba-tiba berekspresi seperti itu..?”
Sang prabu menyadari sesuatu, tapi masih belum yakin. Untuk memastikan, beliau bertitah pada salah satu abdinya:
“Wahai Kresna..! kuserahkan anak itu padamu!”
“Baiklah tuan.”
...
“Tempat apa ini? Kenapa ada lift di tempat seperti ini?” Bima terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Tanyakan sambil jalan, mari masuklah!”
Ckieet..
Pintu lift tertutup setelah mereka masuk.
“Anu.., pak...”
“Irwan, maaf telat perkenalannya.”
“Pak Irwan-”
“Tolong Irwan saja, umurku masih belum setua itu.”
“Kalau begitu ... Irwan, bagaimana ya.. aku bingung mau mulai dari mana?” Bima menghembuskan nafas lemah.
“Haha.. baiklah aku paham, ... Bisa dibilang tempat ini memang dirancang untuk saat-saat sekarang.”
“Maksudmu tentang kerasukan? Jadi banyak kasus seperti itu?”
“Ya, dan akhir-akhir ini semakin sering terjadi,” Irwan menampakkan wajah kelelahan.
Pintu lift terbuka kembali dan sampailah mereka ke sebuah lorong. Warna putih mendominasi tempat itu.
“Woy woy.. jangan-jangan ini...”
__ADS_1
“Seperti yang kamu pikirkan, Bima.”
“Ruang bawah tanah!?”
Orang-orang yang berada di sana langsung terfokus ke arah Bima.
“Ehm.. ehm..!” Bima mencoba menenangkan diri.
Keadaan kembali ke sedia kala.
“Sudah.. sudah, ayo!” Irwan menepuk bahu milik Bima seraya berjalan.
“Jadi, untuk apa tempat ini?”
“Paling simpelnya sih persembunyian, atau kata kasarnya tempat karantina.”
“Kenapa harus dikarantina?”
“Karena para dedemit itu sangat sensitif dengan sesamanya.”
“Seperti magnet ya...” gumam Bima.
“Begitulah, kalau alasan tempat ini berada di bawah tanah sudah tahu bukan?”
“Ya, karena rahasia,” Bima menatap ke sebuah kamar yang ditempati oleh seorang pasien. Penderita tersebut dibalut kain seluruh tubuh.
“Apakah sampai separah itu?” tanya Bima.
“Orang itu nyaris dikuasai oleh demit.”
“Bagaimana jika sudah dikuasai penuh? Apa yang akan kalian lakukan padanya?”
Dengan nada lemah dan sambil menundukkan kepala, Irwan menjawab:
“Dibunuh, dia akan dibunuh.”
Bima hanya diam seribu kata menatap ekspresi yang terpampang pada wajah Irwan.
Suasana berubah menjadi canggung di antara mereka berdua.
“Jangan terlalu dipikirkan Bima..!”
Irwan kembali meredakan atmosfer sekitar dengan tersenyum dan memegang pundak Bima.
Mereka pun kembali lanjut berjalan ke tujuan. Melewati kamar demi kamar yang terisi oleh pasien.
“Hey Irwan..! Seberapa luas tempat ini?” Bahkan kita saja sudah melewati banyak persimpangan lorong.”
“Aku sendiri tidak pernah mengunjungi semua bagian yang ada di tempat ini.”
Bima sudah tidak terkejut. Terlalu banyak hal yang membuat heran hingga tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah kamar yang di huni oleh Anggun.
Terlihat dari kaca, Anggun lemah berbaring di ranjang. Rambutnya yang panjang diikat untuk berjaga-jaga bila makhluk halus itu bangkit kembali.
Karena tidak diperbolehkan untuk menjenguk, Bima lanjut berjalan ke kamar sebelahnya.
Irwan membuka pintu ruangan dan menyalakan lampunya.
“Untuk sementara, tinggalah di ruangan ini Bima.”
“Baiklah, tapi-”
Bima menghentikan kalimat. Dia terlalu terkejut melihat barang-barangnya yang sudah dipindahkan di tempat ini.
Bima menoleh ke belakang. Irwan pun tersenyum melihat tingkah laku Bima.
“Kalian ini.. serius banget ya?” Bima tersenyum kaku dengan kesal.
“Hahaha.. Tentu saja kami tidak melakukannya secara setengah-setengah.”
Bima berjalan ke dalam ruangan itu, lalu memastikan bahwa benda-benda ini memang miliknya.
“Ya sudahlah, terlanjur juga.”
“Kalau begitu sampai di sini saja, aku masih ada urusan, cepat tidur..! selamat malam!” Irwan menutup pintu secara perlahan.
“Ya ampun.. huuaahh... melelahkan, .... apalah yang akan terjadi dengan kehidupanku?” Bima merebahkan tubuh di kasur.
__ADS_1