
Pertempuran kembali seimbang. Entah dari Bima atau Diponegoro, mereka berusaha saling menjatuhkan.
Bima sama sekali tidak bisa menembus pertahanan Diponegoro. Di sisi lain Diponegoro berhasil menyerang, tetapi regenerasi Bima sangatlah cepat.
Memang benar saat ini terlihat imbang, tetapi mungkin sebenarnya tidak. Karena serangan Diponegoro selanjutnya bisa saja membuat Bima tidak lagi bisa regenerasi.
“Coba tahan ini kalau bisa!” Dengan kekuatan penuh Diponegoro mengarahkan kerisnya.
Ctang...!
Dengan menyilangkan taring, Bima menahan keris itu sekuat tenaga. Meskipun kecil, momentum yang dia rasakan sangatlah besar. Terlebih, tekanan yang diberikan semakin berat seiring waktu.
Sisik pada kakinya terkelupas, memencar seperti pecahan kaca. Kemudian itu melesat dari samping mengincar Diponegoro.
Bima menyadari satu hal di saat lawan melompat ke belakang. 'Dia hanya bisa menang jika bisa melancarkan beberapa serangan sekaligus' pikirnya. Karena bukanlah penggunanya yang sakti, tetapi keris. Asalkan bisa langsung menyerang tubuh Diponegoro itu sudah cukup.
'Antaboga sudah menjadi milikmu, kau bisa menggunakannya.'
“Oke... Keluarlah..! Antaboga..!”
Naga yang tadinya musuh, sekarang menjadi sekutu Bima. Makhluk itu pun menerjangi Diponegoro berkali-kali.
'Sekarang kesempatanmu, cepat habisi dia sebelum bulan tertutup lagi!'
“Hyyaaa...!” Bima menerjang dari arah yang berbeda dengan antaboga. Seraya menerbangkan sisiknya, dia menempatkan kedua taring. Serangan dari empat sisi, tidak terhindarkan.
Jlleeebb...!
“A-” Bima berhasil ditusuk dengan keris pusaka Diponegoro. Lalu dia dilemparkan ke permukaan tanah.
“Sudah berakhir...”
Demit berwujud seorang pahlawan itu mendekat. Dia berjalan perlahan seraya tersenyum menatap Bima yang tidak berdaya.
Bima dan Nyi Blorong sendiri juga bertanya-tanya. Kenapa perubahan berakhir secepat ini? Menurut perkiraan mereka seharusnya awan masih membutuhkan beberapa waktu lagi untuk menutupi bulan.
Tetapi saat itu bulan sudah tertutup penuh oleh awan. Atau lebih tepatnya, sebuah sihir ilusi.
“Ti-tidak mung..kin.”
'Meskipun cuman ilusi, tapi itu berhasil menutupi bulan.. menyebalkan, aku tidak memperkirakannya.'
Diponegoro tepat sampai di depan Bima yang masih tidak berdaya. Keadaan sudah bisa dipastikan, serta tidak dapat berbalik lagi.
“Bagaimana rasanya? Ketika kau menatap kemenangan dan sesaat kemudian berubah menjadi kekalahan mutlak, menyakitkan bukan?” Diponegoro mengacungkan kerisnya bersiap untuk menghabisi Bima.
__ADS_1
Bima sudah berusaha sekuat tenaga, tapi percuma saja. Tubuhnya sama sekali tidak ingin bergerak. Darah yang mengalir dari bagian perut, memperburuk kondisinya.
Namun di dalam tubuh Bima, Nyi Blorong malah tersenyum lega.
“Cakra Sudharsana!”
Sebuah benda berbentuk gasing yang memiliki gerigi berbenturan dengan sihir keris Diponegoro. Hingga membuatnya terpental menjauhi Bima.
Dibalik gelapnya malam, seseorang berjalan dengan anggun. Dia menggunakan mahkota kecil serta pakaian khas kerajaan. Sosok itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kresna. Dia datang di saat-saat terakhir.
“Andai saja senjata asli, cakra itu pasti sudah mengoyak tubuhnya,” senjata itu kembali ke atas jari telunjuk Kresna.
“Ke-kenapa?” Bima heran sekaligus lega.
“Mana mungkin aku mengirim kalian berempat tanpa ada rencana?” Kresna menoleh seraya tersenyum, “bicaranya nanti saja! kita tidak memiliki banyak waktu, lukamu cukup parah.”
Setelah mengamati, Kresna pun menyadari bahwa senjata yang dipegang oleh lawan sangatlah kuat. Untuk mempersingkat waktu, dia memanggil senjata lagi. Sebuah terompet berbentuk seperti keong muncul di tangan kiri.
“Bima, tutup telingamu!”
“Eh?” dengan ragu Bima menutup rapat telinganya. Lalu-
Prwoong...
Kresna meniup sangkakala tersebut hingga memunculkan suara yang keras. Bila saja itu adalah asli, maka dunia ini akan hancur. Tetapi saat ini, benda tersebut hanya bisa membunuh musuh lewat suaranya.
Rasa sakitnya tidak tertahan seiring waktu. Diponegoro berupaya untuk menutup kedua telinganya dan menjatuhkan senjata yang dipegang.
“Kena kau!” Kresna mengerahkan Cakra Sudarsana. Senjata tersebut melesat dan sukses memotong leher Demit Diponegoro.
“Hebat..!” Bima kagum melihat aksi Kresna tersebut.
Setelah itu Kresna segera menghampiri Bima, “Kau kehilangan cukup banyak darah, jangan banyak bergerak!”
“Aaarrgg.. apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan menghentikan pendarahan, serta meredakan rasa sakitmu.”
Selepas mengucapkan suatu mantra, Kresna membalut luka Bima dengan selembar kain, “bantuan akan segera datang, bersabarlah!”
“Baiklah.”
.....
Irwan sudah tidak kuat lagi. Meskipun dia tidak diserang dengan senjata tajam, Tetapi tetap saja pukulan para dedemit itu tetaplah menyakitkan.
__ADS_1
Dia dikeroyok hingga kedua tangannya tidak bisa digerakkan, tulang rusuk yang mulai retak, serta kaki kanan yang mengalami mati rasa karena otot terjepit.
Di hadapan banyak dedemit, Irwan tumbang tak berdaya. Jumlah mereka bukanlah tandingan yang setara baginya. Terlebih ada Raden Mangkuningrat yang sakti.
“Sudah kubilang bukan? Kau tidak pantas untuk melawanku, Lihatlah betapa menyedihkannya dirimu saat ini!” dia tertawa angkuh sampai puas.
Irwan sama sekali tidak bisa membalas. Dia hanya bisa menatap di atas rerumputan, tempat dia tergeletak. Tetapi mata yang dia tunjukkan masihlah penuh keyakinan dan itu membuat Mangkuningrat kesal.
Raden Mangkuningrat menginjak kepala Irwan. Dia memutar-mutar kaki di atasnya seperti mainan. Senyuman tanpa belas asih terpampang pada wajahnya.
“Wahai para makhluk halus yang mengganggu manusia..! Menyerahlah..! Maka kupastikan kematianmu akan membawakanmu ketenangan,” sebuah suara terdengar jelas dari salah satu sisi hutan.
“Apa? Pengganggu lagi?” Mangkuningrat menoleh tanpa menghentikan kaki yang terus menginjak Irwan.
Kemudian sebuah anak panah melesat dang mengenai pohon. Batang pohon tersebut retak akibat panah tersebut.
“Selanjutnya itu tidak akan meleset.”
Mendengar itu Mangkuningrat beserta pasukannya berjalan mundur, “Siapa kau? Kalau berani tunjukkan dirimu!”
Sebuah cincin bersinar di jempol tangan kanannya. Dengan anak panah yang siap dilepaskan, Basuki menampakkan diri.
“Bisakah kalian menyerah sekarang?”
“Hahaha.. kukira apaan? Ternyata datang lagi seorang pelayan kerajaan,” tidak ada rasa takut sama sekali bagi para dedemit itu.
“Aku sudah memperingatkan, oleh karena itu...” Basuki menghilangkan senjata yang dia pegang. Dia menyatukan telapak tangan dan menutup mata seakan meditasi.
“Hhhhmmm? Apa yang kau lakukan? yah terserahlah, serang dia..!” Mangkuningrat mengerahkan semua pasukan untuk menyerang.
“Ajian Danurwenda.. pasukan khodam keluarlah!”
Muncul sepuluh bayangan arwah mengelilingi. Kemudian Basuki membuka mata secara perlahan. Para arwah itu menahan pasukan lawan. Meskipun kalah jumlah, tetapi mereka terlihat lebih unggul.
Beberapa waktu berjalan setelah pasukan kedua belah kubu saling membasmi. Sekutu Mangkuningrat satu persatu berhasil ditumbangkan. Mangkuningrat pun tidak bisa tinggal diam. Dia segera memasuki arena pertempuran.
Basuki sudah menyiapkan sambutan. Dia sedari tadi menunggu saat-saat ini. Karena panahnya sudah bersiap untuk dilepaskan.
Kilauan cincin mengiringi dilepasnya tali busur panah milik Basuki. Melewati pertempuran para arwah dan dedemit, panah tersebut langsung melesat dan menusuk tepat di jantung Mangkuningrat.
Tidak lama kemudian, beberapa abdi dalem sampai di tempat mereka.
“Bagaimana keadaannya? Patih?” tanya salah satu abdi.
“Sudah terkendali, kalian urus dia! Sepertinya luka yang diderita cukup parah.”
__ADS_1
“Laksanakan..!”