Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Darkness


__ADS_3

Kejadian bermula di kamar putri bungsu, yaitu Kanjeng Astuti. Seperti malam biasanya, dia saat itu sedang merangkai bunga dembari tersenyum bahagia. Karena kegiatan tersebut merupakan hobinya. Hingga-


Tok.. Tok.. Tok.. Ketukan pintu terdengar dari luar.


“Iya, Sebentar..!” Astuti berjalan ke sana dan membukakan pintu tersebut.


Seseorang berambut gondrong belakang dengan kain berang di kepala. Semua pakaiannya berwarna merah. Kecuali sebuah kain pengikat perut yang menghimpit satu senjata tajam.


“Siapa kau? Kenapa bisa ada di sini?” Astuti perlahan berjalan mundur.


“Itu tidak penting bukan, wahai Putri Mataram?” pria itu dengan sigap menekik dan mengangkat Astuti di atas. Satu tangan lain melambai-lambai di belakang untuk membuat penghalang. Cengkraman satu tangannya sangat kuat, Astuti hanya meronta-ronta sebisa mungkin.


“K-kh..aaa...”


Gubrak..! Pria tersebut melempar Astuti ke dinding di samping mereka.


“Aakkhh.. Uhk..! Uhk!” Astuti duduk kesakitan memegangi leher berwarna kemerahan, bekas genggaman tangan.


“Dilihat dari dekat, kau cantik juga ya..” Pria itu memegang dagu Astuti dan memaksa dirinya untuk menatap ke depan.


“Pakaian itu... adalah pakaian seorang pangeran. Sedangkan, hanya ada dua kerajaan yang tersisa di Jawa... Dengan kata lain, kau pasti termasuk golongan dedemit,” tetap berusaha tegar meskipun sudah tidak berdaya.


Pria itu melepaskan tangan dan berdiri dengan nada yang sombong, “hahaha... siapa pun pasti tahu mengenai hal ini.”


“Apa yang kau rencanakan? Berani sekali kau menyusup ke sarang singa?”


“Tentu saja aku tidak sendiri, bukankah seharusnya ini sudah terlalu lama untuk para pasukanmu datang ke sini?”


“Apa yang kau- Aaarrhhh.!!” Astuti kesakitan akibat perutnya ditendang.


“Hhhaaahh... Sebenarnya aku ingin bersenang-senang dulu, tapi sayang sekali aku harus membunuhmu sekarang juga,” pria tersebut menghunuskan senjatanya. Sebuah pisau asimetris berhias pamor layaknya keris.


“Senjata yang kau pegang itu, Badik... Kau pasti orang timur bukan?”


“Hebat juga kau bisa tahu...! Senjata ini adalah badik salah satu ciri khas kami, orang-orang Gowa... Ups sepertinya aku kebanyakan bicara.. Baiklah, sekaranglah waktunya...”


Brag...! Pintu terbuka secara paksa. Sihir penghalang berhasil dihancurkan.


“Astuti kau di sana!?”perempuan dibalik pintu tersebut adalah sang putri sulung, Kanjeng Mayu. Alangkah terkejutnya dia melihat keadaan adiknya itu. Sontak Mayu langsung melemparkan sebuah pisau untuk menjauhkan sang demit.


“Walah.. Walah... Jadi inikah yang namanya mengenai dua burung dengan satu batu..?” sang demit mundur sedikit dan berkuda-kuda.


Kanjeng Mayu segera menghampiri adiknya yang duduk lemas, “kau baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja... Yang lebih penting apakah mbakyu melihat para abdi di sekitar?”


“..Pantesan, jadi memang itu rencana mereka.”


“Sudah selesai bicaranya?” kata sang demit yang sudah mulai bosan.


“Adhik pergilah..! cepat cari bantuan!”


“Tapi, mbakyu...?”


“Tenang saja, aku bisa menahannya.”


Demit mengarahkan tangan kiri ke tembok dan membuat penghalang lagi, “Eeiittss... jangan pergi..! Kalian berada dibawah kendaliku malam ini.”


“Cih.. kau..!” Mayu mengeluarkan dua buah pisau ditangannya. Dia perlahan mendekat kepada musuh yang berada di depan.


“Kalau begitu, dimulai dari kau,” demit menyambut dengan senyuman.


Pada awalnya berjalan normal. Gerakan sang demit bisa diimbangi oleh Kanjeng Mayu. Tetapi, tidak untuk seterusnya. tebasan sang demit semakin cepat seiring waktu.


Meski menggunakan dua senjata, Kanjeng Mayu kualahan di saat serangan beruntun itu datang. Demit berwujud pria berpakaian merah itu menggoyangkan badiknya dengan sangat lihai.

__ADS_1


“Sepertinya akhir pertandingan sudah terlihat,” demit mulai mendominasi duel ini.


Tangan Kanjeng Mayu terus terpental saat menahan serangan lawan. Dia sedikit demi sedikit berjalan mundur. Keadaan yang sangat tidak menguntungkan baginya. Karena sangat terlihat perbedaan kekuatan di antara mereka.


“Barubu..!” tebasan terakhir demit menghasilkan sebuah angin kencang.


“Aaarrhh..!” Mayu terlempar jatuh. Kedua pisau terlepas dari genggamannya. Sangatlah buruk, tetapi dia tetap menatap tanpa ras putus asa.


“Ekspresi yang bagus, seorang Tuan Putri memanglah hebat..” dia berjalan mendekat dengan senyum sinisnya.


Pyaarr...! Sebuah kendi keras terlempar dari samping, dan pecah di saat mengenai kepala sang demit.


“Jangan mendekat lagi,” kedua tangan Astuti bergemetar sembari memegang sebilah pisau. Sebenarnya dia benar-benar ketakutan.


“Waduh aku lupa bahwa kau di sana... Andai saja kau tetap diam saja, mungkin saja kau bisa selamat, dan sekarang aku berubah pikiran...” sang demit beralih mendekati Astuti.


“Aaa-”


“Astuti larilah!” teriak Mayu.


“Dirimulah yang menjadi pertama,” serangan pertama demit menjatuhkan pisau itu dengan mudahnya. Kemudian-


Jleebb..! logam dari senjata badik, masuk penuh ke dalam perut. Darah mulai mengalir membasahi gagang benda tersebut.


“Aaarrrhhh.. Hhaaa... Hhaaahh.. Uhk! K-kke...” bukan Astuti, melainkan sang kakak yang berada di sana. Sedangkan adik bungsu berganti posisi di tempat Mayu.


“Mbakyu...!” teriak Astuti.


“Oooww.. Jadi ini salah satu kemampuan Kalimasada, meskipun berpencar kalian tetaplah satu... Hahaha sangat menarik! Tetapi tetap saja, usaha yang percuma,” pria itu menarik kembali senjata. Mayu pun jatuh dengan lumuran darah di perut.


Tersenyum, Kanjeng Mayu masih belum merasa putus asa. Dia menatap lega karena adiknya masih selamat.


“Tidak mungkin...! Kenapa kau lakukan ini mbakyu..!?”


“Ada di sini...” suara samar-samar seseorang dari luar.


Jdaarr..! Untuk kedua kalinya penghalang itu dihancurkan.


Tiga orang perempuan. Mereka tidak pernah ikut bertarung di garis depan. Tetapi, merekalah yang bertanggung jawab dalam melindungi para wanita, khususnya putri raja.


Citra, salah satu diantara mereka yang paling feminim. Kemudian Indri, seseorang dengan aura menakutkan. Terakhir Rumi, satu-satunya yang memiliki rambut pendek dan penampilannya seperti laki-laki.


“Anda sangat terluka parah,” Citra menghampiri Kanjeng Mayu. Sedangkan Rumi memberi perhatiannya pada Astuti.


“Sialan kau..!” Kata Indri dengan nada tinggi. Rambut panjang dan selendangnya berkobar tanda kemarahan. Dia mulai berjalan pelan yang menyisakan jejak warna kehijauan.


“Dasar demit setengah-setengah.”


Pertarungan yang sangat mengerikan. Seperti orang bar-bar, tidak ada celah sama sekali untuk bertahan. Mereka hanya menyerang tanpa memikirkan luka yang diterima.


“Ah aku ingat! Orang Makassar, pakaian merah dengan pusaka badik yang unik... Identitas demit itu adalah Karaeng Galesong..!” kata Astuti.


Nama Karaeng adalah marga dari kerajaan di Makassar, yaitu Gowa. Karaeng Galesong sendiri adalah putra Sultan Hasanuddin, raja Gowa ke-16.


Ketika tanah kelahirannya menyerah dengan penjajah, Galesong bersama pasukannya pergi ke Pulau Jawa. Dia pun bertarung dengan kawanan penjajah yang sama. Membangun armada bersama para masyarakat yang sama-sama menentang.


Hingga suatu saat ada kerajaan besar di Jawa yang bersukutu dengan para penjajah. Kerajaan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kesultanan Mataram. Karaeng Galesong membenci itu dan berniat memberontak bersama pasukan. Dia bertempur hingga akhir hayatnya. Dan sekarang, Karaeng Galesong bangkit lagi untuk memusuhi turunan Mataram.


“Hyyaaa...”


Ctang..! Ctang..!


“Memangnya mau apa kalian setelah mengetahuinya?” semakin lama serangan demit yang diketahui bernama Karaeng Galesong terus menjadi-jadi.


Indri mengambil wujud Sukma. Berbeda dengan barusan, penampilannya menjadi buruk. Lalu dua Sosok Rumi berjalan menghampirinya masing-masing membawa panah dan pedang.

__ADS_1


“Mari kita selesaikan ini, Indri!”


“Ya!”


Di sisi lain, Citra berusaha menghentikan pendarahan Kanjeng Mayu.


“Seorang raksasa.. dan Raja Pancala ya.. Sekarang majulah!” demit itu malah menggila tidak karuan.


Indri beserta bayangan Rumi yang membawa pedang maju terlebih dahulu. Keadaan pun menjadi berbalik. Tetapi Galesong tertawa senang meskipun sedang terpojok.


“Baiklah, serangan penghabisan.”


“Okee...”


Indri menguatkan kuda-kuda. Mengepalkan kedua tangan, serta merenggangkan kaki agak rendah. Seolah dia sedang mengumpulkan sesuatu di dalamnya.


“Massive.. Uplercut..!” Indri menerjang ke depan, lalu memukul Karaeng Galesong hingga terbang ke atas.


Bayangan Rumi yang membawa pedang menyambutnya dengan tebasan di beberapa tempat. Terakhir, Rumi yang lain memanah demit itu hingga tertusuk ke tembok.


“Sudah berakhir kan?” Indri kembali ke wujud semula. Dan kedua Rumi, bergabung menjadi satu.


“Terkutuk..! Usaha yang kalian lakukan, tidak akan menyelamatkan apapun.. Hahaha...”


Indri dan Rumi tetap bersiaga. Mereka mengantisipasi bila Karaeng Galesong belum benar-benar kalah. Tetapi sebenarnya ini sudah jelas.


Demit itu sudah mencapai batas. Sebelum hangus, ia lirih berucap : “Kejayaan para Detya..!”


Setelah itu, Indri dan Rumi segera fokus pada para putri Hamengkubuwono. Astuti hanya mendapati luka ringan, tetapi Mayu...


“Aku sudah mencoba menghentikan pendarahannya, tetapi tetap saja mengalir..” kata Citra.


“Serangan kutukan ya.. Sialan!” Indri memukul dinding dengan kesal.


“Andai saja datang lebih cepat... Maafkan kami, Kanjeng...! Kami telah gagal melindungi anda..” Rumi menunduk. Dia mewakili perasaan bersalah mereka, ketiga penanggung jawab keamanan di sini.


“Ini bukanlah salah kalian,” Kanjeng Mayu masih bisa tersenyum dengan keadaannya yang parah.


“Mbakyu...!” Astuti tersedu-sedu memeluk sang kakak.


“Udahlah tidak apa Astuti, semua akan baik-baik saja,” dia mengelus kepala Astuti dengan lembut.


“An-andai saja Astuti lebih kuat...” menggenggam erat pakaian Mayu, Astuti tidak ingin melepaskan kakaknya pergi.


“Tidak apa.. Ini akan segera selesai, tidak akan terjadi aa-” tangan yang mengelus rambut Astuti, terjatuh ke lantai. Kanjeng Mayu menutup mata dengan senyum hangat di bibirnya.


Astuti tidak bisa menahan tangis. Dia benar-benar merasa bertanggung jawab. Sedangkan ketiga wanita penjaga terlihat tegar, tetapi semua tahu bahwa mereka juga merasakan hal yang sama.


Malam itu salah satu penyangga Kerajaan, satu dari lima kepingan pusaka Kalimasada hancur untuk menyelematkan bagian lain.


......


“Itu tidak mungkin, bagaimana bisa...?” jantung Bima berdegup kencang. Dia tidak ingin percaya dengan cerita barusan.


“Tapi memang itulah kenyataannya,” sahut Wira yang masih menghadap ke bawah.


“Tidak tunggu, keamanan seketat itu.. Tidak mungkin bisa ditembus dengan mudah..”


“Aku juga tidak tahu.. Mereka akan memberikan detailnya nanti.”


“Mengerikan.. Saat bisa tersenyum bahagia, Di sana malah....”


“Aku sendiri mulai merelakannya, tetapi...”


“Soal Fatim ya...?”

__ADS_1


__ADS_2