
“Memangnya apa yang bisa kau lakukan dengan kondisi seperti itu?” Raden Mas Papak Natapraja mengancungkan pedang.
“Hhaahhh.. Entahlah, tapi aku belumlah kalah..” Hendra menapakkan tangannya ke depan bertanda sedang bersiap menyerang.
“Memang seharusnya begitu..” Papak Natapraja berkata lirih seraya tersenyum seringai, “aku mulai ya..!”
Dia menghilang dan tiba-tiba berada di depan Hendra. Papak Natapraja menguatkan genggaman dan mulai menebas.
Hendra yang terkena serangan itu, langsung melompat ke belakang. Seraya memegangi luka di dada, dia bernafas dengan terengah-engah.
Di saat mengeluarkan senjata lagi, tiba-tiba ada cahaya yang muncul di kepala Hendra. Sinar tersebut lambat laun membentuk mahkota yang menutupi rambut.
Pada saat bersamaan, mata kanan Hendra berubah warna. Terlihat bagian koroid mata menjadi keemasan.
Apa ini? Pikirnya. Tetapi tidak ada waktu untuk berpikir. Karena sang lawan sedang bergerak padanya.
Secara tidak sengaja, Hendra mengeluarkan pedang dan menangkis serangan tanpa menyentuhnya.
“Hoho.. jadi kau bisa seperti itu ya..? Menarik,” Papat Natrapaja mengeluarkan satu pedang lagi. Sehingga saat ini dia menggunakan dua pedang.
Hendra tidak mau kalah. Meskipun belum paham dengan cara kerja kekuatan, dia tetap berusaha memakainya. Dia mengeluarkan empat pedang dan mengendalikannya secara bersamaan.
Papak Natapraja tersenyum sebentar, lalu kembali menggunakan teknik menghilangnya dan muncul lagi tepat di depan Hendra.
Pedang-pedang Hendra berkeliaran menyamai serangan musuh. Tetapi dia masih kesulitan, tidak jarang Hendra terkena tebasan yang memuncratkan darahnya.
Di bawah gelapnya malam yang pekat, mereka menari diiringi oleh teriakan pedang. Tarian yang indah hingga membuat pepohonan ikut mengayunkan tangkai.
Kembang api akibat percikan kesaktian mereka, menambah kemeriahan panggung tersebut.
“Lumayan juga kau.. Bisa sampai bisa bertahan seperti ini!” Papak Natapraja menikmati duel ini.
“Ggwwaahh... Masih belum..!”
“Hahaha... Lihat matamu! Bukankah itu mata yang seharusnya tidak manusia miliki!?”
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!?”
“Haha... Maksudku bergabunglah bersama kami, kekuatan seperti itu tidaklah cocok untuk memperjuangkan manusia yang bahkan tidak mempedulikanmu!”
“Berisik.. Mati..!”
Papak Natapraja yang seharusnya bisa mengelak, malah menoleh ke samping seraya bergumam, “Nenek...?”
“Kena kau!”
Kelengahan itu, membuat kesempatan lebar bagi Hendra. Dia berhasil menebas dan melempar sang lawan ke belakang.
“Sial... Selanjutnya aku-”
Booaamm...
Hendra melemparkan sebuah batu besar. Dampaknya membuat efek ledakan dan asap yang sangat tebal. Dia sendiri tidak bisa melihat lawannya.
“Apaan? Ternyata tidak kena.. mengejutkan saja.”
“Itu saja sudah cukup untukku,” di antara asap yang menghilang, Hendra tersenyum.
“Ciih..” Papak Natapraja bergerak perlahan lalu berlari.
Di saat yang sama Hendra membuat batuan bertumpuk didepannya. Bebatuan itu menjalar panjang di depan.
“Usaha yang percuma, aku ini ya..”
Untuk melewati dinding batu itu, Papak Natapraja menghilang dan berpindah di atas. Di saat itulah Hendra menyambut dengan senyuman yang meremehkan.
“Sudah kuduga kau akan datang dari sana..”
“...apa?”
Keadaan berbalik. Dengan mengandalkan pedang yang bisa bergerak leluasa, Hendra menyerang dengan bertubi-tubi dan membuat lawannya tidak berkutik.
Kenapa Hendra dapat menyadari gerakan Papak Natapraja? Semuanya terungkap saat ledakan batu yang barusan. Lebih tepatnya, asap adalah jawaban itu.
Mereka tidak bisa melihat satu sama lain. Saat itu Papak Natapraja tidak berpindah tempat, dan begitulah Hendra menyadarinya. Kemampuan sang pangeran tersebut hanya bisa digunakan saat dia melihat tempat yang akan dituju.
Oleh karena itu, Hendra dapat menebaknya. Bila dia menutup bagian depan, maka Papak Natapraja akan menyerang dari atas.
“Itu mustahil.. Siapa kau sebenarnya?” tanya Papak Natapraja yang mulai terluka parah.
__ADS_1
“Sudah kubilang namaku Hendra bukan!?”
“Tidak, kau berbeda dengan yang tadi, tidak mungkin kau orang yang tadi.”
Hendra mencolok mata Papak Natapraja dan melemparkan ke udara.
“Selamat tinggal..”
Jluub... Jluub.. jluub..
Beberapa tombak cahaya berhasil menusuk Papak Natapraja hingga tidak bisa bergerak lagi. Kemudian demit itu perlahan memudar di telan angin.
Pada yang saat sama tubuh Hendra kembali seperti semula. Mahkota yang dia pakai menghilang. Luka yang dia dapat sudah sembuh. Mata yang aneh juga kembali seperti sedia kala.
“Apaan?”
....
Kecepatan yang tidak bisa diimbangi oleh tembakan bisa dari Bima. Sosok demit berwujud Diponegoro benar-benar berhasil menyudutkannya.
Di dalam kegelapan hutan, serta diantara pepohonan yang mengelilingi, Bima hanya bisa melihat sosok putih yang bergerak cepat. Ada kalanya dia juga terkena serangan olehnya.
...Reflekku sudah cukup bagus, tapi aku masih belum bisa mengimbanginya, Blorong.. apa kau bisa melakukan sesuatu?
'Aku bisa sedikit mengendalikanmu dan membuatmu lebih cepat, tapi kecepatan itu akan membuatmu pusing, atau hal yang paling buruk akan membuatmu pingsan'
...Lakukan saja, tidak ada cara lain bukan?
'Baiklah'
Untuk pertama kalinya, Bima menghindari serangan Diponegoro. Namun, untuk sesaat pandangannya memudar dan kepalanya terasa sakit.
Reflek seekor ular, manusia tidak bisa merasakannya. Sedangkan apabila manusia biasa bergerak dengan akselerasi tersebut, dia akan pingsan. Karena kecepatan itu menyamai seseorang yang berkedip.
Srreett... Duuaarr...
“Kau memang berhasil menghindarinya, tapi yang kulihat kau hanya menambah beban dirimu,” Diponegoro menatap tenang sosok Bima yang terlihat pucat.
Seperti yang katakan, saat ini Bima seperti mencapai batas. Dia harus segera menyesuaikan diri. jika tidak, dia akan benar-benar tidak sadarkan diri.
Berbeda dengan Diponegoro yang bisa terus memantul, Bima hanya bisa bergerak dalam satu arah. Oleh karena itu, Bima hanya bisa mengandalkan serangan balik.
Dengan mengatakan 'Bertahan, bertahanlah diriku, tetaplah sadar' pada hari, Bima tetap bergerak dengan kecepatan yang melampaui batasnya.
Seperti hama yang tidak akan mati setelah diberi pestisida berkali-kali, dia sudah immune dengan efek samping dari kecepatan ini.
Diponegoro menghentikan gerakannya, “Sepertinya sudah tidak berguna lagi, lalu begitu aku akan lebih serius.”
Sebuah keris keluar dari tangannya. Pada senjata itu, terdapat ukiran aneh yang menyerupai ular. Tidak hanya itu, aura yang keluar sudah tidak asing bagi Nyi Blorong.
“Bukankah itu.. Kyai Nogo Siluman..!?”
'Ya, meskipun sudah lama aku masih mengingatnya, keris itu adalah senjata yang berhasil mengalahkan salah seorang wakil Ratu Kidul, Putri Genowati.'
“Bukankah ini gawat?”
'Bulan terlihat setelah dua menit, akan ada jeda di antara awan, sampai saat itu bisakah kau bertahan? Setidaknya jangan sampai kesadaranmu hilang!'
“Ya, tapi memangnya kenapa?”
'Aku akan memasuki mode purnama, tenang saja.. karena ini keistimewaanku dalam sebulan sekali, jadi tidak ada efek samping.'
“Baiklah, akan kucoba.”
“Aku mulai, persiapkan dirimu!” Diponegoro memasang kuda-kuda.
Begitu pula Bima. Dengan kekuatan yang tersisa, dia bersiaga seraya menatap ke depan.
Jjlluurrr...
Gelombang kejut menggelegar di dalam hutan. Bima tidak bisa menyerang, dia hanya bisa berlari-lari dan mengelak serangan keris Diponegoro.
Meskipun mau, Bima sama sekali tidak bisa mendekat. Serangan itu seolah menggiringnya ke suatu tempat. Dia tidak berkutik dan mengikuti aliran yang membawanya.
Duuaarr...
“Aaarrggghh...!”
Bima tersungkur ke tanah, telingannya berdenging seakan mau pecah. Gelombang yang menyambar-menyambar pun berhenti.
__ADS_1
“Sudah berakhir, kuakhiri penderitaanmu.”
Melihat Diponegoro yang berjalan mendekat, Bima mengeluarkan anaconda. Dia berpikir setidaknya untuk menghambat pergerakan.
“Ular...? Oh gitu ya.. kau salah satu dari mereka ya..?” tanpa tenaga, Diponegoro mencabik-cabik ular besar yang melilit.
“Haahh.. haahh.. sedikit lagi..?” Bima terengah-engah di atas rerumputan.
“Kau bilang apa? ... ah sudahlah, aku juga akan mengirimmu ke tempat saudara ularmu itu.”
Dari keris Kyai Nogo Siluman, keluar sebuah ular kecil. Hewan tersebut perlahan menggeliat ke depan Bima.
“Ke..keluarlah..” tangan Bima bergetar seraya mengeluarkan ular kecil.
Namun, ular milik Bima dengan sekejap bisa dikalahkan oleh ular Diponegoro.
“Percuma.. coba kita lihat! kau yang memiliki racun, apakah juga bisa bertahan dengan bisa dari ular ini?”
Bima tidak memiliki kekuatan lagi, semua bagian tubuh bergetar dan sulit bergerak. Dia hanya bisa melihat seekor ular yang menusukkan taring pada kulitnya dengan pasrah.
“Aaa-aduh..”
“Bagaimana? apakah racunmu bisa menang?”
Bima semakin tidak bisa menggerakkan tubuh, semua mati rasa karena racun itu. 'Bertahan, tetaplah sadar aku!' dia mengucapkannya berkali-kali di hati.
Apa daya penglihatan yang semakin merabun. Semua terlihat samar-samar di hadapannya. Cahaya yang masuk di mata terus menipis sampai padam. Namun di saat terakhir ada sengatan yang mengejutkannya.
Ssrreett... Wwuss...
'Maaf telah membuatmu menunggu, Bima!'
Bima merasakan sesuatu mengaliri tubuh. Aliran darahnya memanas dan berkerja lebih cepat seakan mau meledak.
“Hhhwwwaaahhh...!”
Bima bangkit seraya mengguncang lingkungan sekitar. Seolah ada badai yang datang, beberapa pohon kecil serasa ingin melepas diri dari tanah. Apalagi ular yang menggigitnya.
Kulit Bima menghijau dan mulai ditumbuhi sisik. Wajahnya juga terlihat menyeramkan seperti ular. Dia menatap tajam dengan bola mata yang berubah menyerupai reptil.
Bagian lengan tangan bawahnya berubah menjadi taring yang tajam. Sedangkan kaki dilapisi sisik yang bisa dikendalikan. Dia berubah menjadi seekor monster.
Bima kembali merasa sehat. Tidak ada luka yang terasa sakit lagi. Dia benar-benar dalam kondisi prima.
'Jangan khawatir! kau memiliki regenerasi yang cepat, jadi segera selesaikan ini sebelum terlambat!'
“Kkwwaahh..”
Bima menguatkan kuda-kuda hingga membuat retakan pada tanah. Dengan dorongan itu, dia bisa melesat dengan cepat. Kemudian terjadi hantaman yang membuat Diponegoro terpental jauh ke belakang.
Tanpa basa-basi lagi, Bima mengikutinya dan memberi serangan bertubi-tubi. Keadaan sudah berbalik, Diponegoro kualahan melawan mode perubahan dari Nyi Blorong.
Pangeran Diponegoro mulai kesal. Diam-diam mengumpulkan kekuatan lalu menghempaskannya seraya berteriak, “Jangan remehkan aku!”
Meskipun tidak cukup jauh, Bima terdorong ke belakang oleh ledakan itu.
Kemudian Diponegoro mengancungkan keris sembari berkata, “Wahai roh yang bersemayam jawablah panggilanku..! Keluarlah Antaboga!”
Muncul sebuah naga dengan mahkota memakai badhong berambut. Makhluk tersebut bersisik kebiruan dengan bagian depan memakai pakaian merah, serta memakai kalung berwarna emas.
“Kkwwaarrhh...!”
Setelah Diponegoro memberi isyarat menyerang, Naga tersebut menerjang cepat ke depan.
'Jangan menghindar Bima! Coba taklukan dia!”
“A-aku cobwaa..!”
Terjangan itu sangat kuat. Bima yang berusaha menahan, tetap terseret ke belakang. Sedikit demi sedikit hingga mereka berhenti.
'Sekarang pukul dahinya!'
Seperti arahan Nyi Blorong, Bima memukulkan sikunya pada dahi naga tersebut hingga tersungkur ke tanah. Kemudian Nyi Blorong menyuruh Bima untuk memegangi wajah seraya menatap mata naga itu.
Ketajaman mata Bima, seolah menusuk-nusuk Antaboga. Hingga akhirnya, makhluk itu pun tunduk. Karena pada dasarnya, naga itu seekor ular. Sedangkan Nyi Blorong adalah penguasa ular.
Setelah itu Bima segera melompat dan berniat mencabik. Diponegoro yang berusaha menahan, malah membuat patah keris Nogo Siluman. Lalu dia terpelanting ke tanah.
Diponegoro bangkit dengan wajah kekesalan. Kemudian dia mengeluarkan keris lagi dengan tersenyum.
__ADS_1
Keris itu terasa lebih hebat dari sebelumnya. Malahan, Bima dan Nyi Blorong tidak tahu perihal senjata yang dipegang.
“Tentu saja kau tidak tahu, inilah satu-satunya pusaka yang kusimpan dan kujaga bahkan hingga mati, yaitu Kiai Ageng Bondoyudo.”