Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Ikatan


__ADS_3

“Krisna, Apa itu? Payung?” tanya Bima.


“Ya, ini adalah Songsong Tunggulnaga, pusaka yang melindungi keraton ketika malam,” ucap Krisna seraya melebarkan payung berwarna keperakan.


“Wwooaahhh... aku bisa merasakan aura kuat yang memancar,” Bima menatap kagum, “bolehkah aku memegangnya?”


Kresna tersenyum sejenak, lalu menyerahkan payung tersebut, “tentu saja!”


“Whoo Aa..a-apaan ini? Berat sekali!” Bima dapat menahannya untuk beberapa saat. Hingga kemudian dia bertekuk lutut oleh pusaka itu.


“Bagaimana menurutmu?” Krisna dengan tenang mengambil kembali payung tersebut.


“Sebenarnya benda apa itu? Saat dipegang tidak terlalu berat, bagaimana ya... seakan tubuhku sendiri yang menolak pada pusaka tersebut?” Bima berdiri seraya menebahi pakaiannya.


“Kamu masih ingat bukan tentang dewa yang menjelma menjadi Jamus Kalimasada?” Kresna menutup kembali payung itu.


“Ya, terus?”


“Songsong Tunggulnaga adalah jelmaan dari sekutu dewa tersebut, atau lebih tepatnya kendaraan sang dewa itu.”


“Begitu ya.. tapi kenapa kedua benda itu bisa ada di tempat ini?”


“Pertanyaan yang bagus... Dulu sekali pada era Mahabharata tanah ini adalah kerajaan Amarta, kau sudah tahu kan?”


“Amarta...? Hhhhhmm... aku tidak tahu.”


“Memangnya apa sih yang kau tahu tentang Mahabharata..? Ah lupakan, jika memang ingin mengetahuinya cari aja sendiri..! aku mau pergi.”


“Dengan pusaka itu?”


“Ya... Aku akan mengeceknya di tempatku, karena ada laporan bahwa kemarin ada penyusup yang tidak terdeteksi.”


“Ha-” Bima pun langsung bereaksi.


“Apa Bima? Kau ingin mengatakan sesuatu?”


“Tidak, tidak, aku hanya sedikit terkejut... kenapa bisa orang itu bisa lolos..?”


“Entahlah..”


Dalam hati Bima bersyukur karena Kresna tidak menyadarinya.


“Kalau begitu, sampai nanti!” Kresna melangkah pergi.


“Ya,” sedangkan Bima berjalan ke arah lain.


....


Tidak lama setelah Bima memulai latihan, Kresna menghampirinya bersama seorang gadis.


“Kamu sudah cukup mahir ya, Bima..!”


“Hwaa! Kau mengejutkanku Krisna..!” Bima kehilangan konsentrasinya. Dia menoleh dan melihat Kresna bersanding dengan anak perempuan.


“Hahaha.. Maaf, maaf.”


“Terus kenapa kau di sini? Dan siapa gadis yang kau culik ini?” Bima melakukan peregangan sesaat.


“Padahal aku ini inkarnasi dewa.. malah dikatain sama orang sepertimu?”


“Mantan...” Bima berjalan mendekat.


“Kalau itu aku tidak bisa menyangkal... Yang lebih penting, Perkenalkan..! Fatim, mulai saat ini dia adalah muridmu.”

__ADS_1


“Eh..?”


“Dan Fatim..! Laki-laki ini adalah Bima, dia yang akan mengajarimu.”


“Tunggu..! Jangan asal diputuskan gitu dong..! Aku jadi guru? Yang benar saja, apa yang bisa kuajarkan?”


Kresna mendekat lalu berbisik ke telinga Bima, “Apa mau kubeberkan peristiwa tadi malam?”


“Aa-? K-kau..?”


“Jadi keputusanmu?”


“Aahh.. Baiklah, tapi apa yang bisa kulakukan?”


“Dia dirasuki yang mirip denganmu... Akhir-akhir ini, dia sering dihantui sosok bayangan ketika malam hari.”


“Aku paham,” kemudian Bima membungkuk hingga setara dengan Fatim, “apa itu menyeramkan buat Fatim? Mulai sekarang jangan khawatir, serahkan masalah ini pada Mas Bima!”


“Iya mas.. Fatim mohon kerjasamanya!” gadis itu menunduk dengan polosnya.


Kresna tersenyum, “ternyata bisa mengakrabkan diri juga kamu!”


“Apa Kresna lupa bahwa aku memiliki adik perempuan?”


“Baguslah, kalau begitu aku tidak perlu khawatir lagi... Sampai nanti!” Kresna berjalan pergi.


....


“Sekarang mulai dari mana ya..?” Bima berdiri menatap Fatim seraya memegangi dagu.


“Hhhmm?”


“Ngomong-ngomong sejak kapan Fatim mulai dihantui oleh bayangan itu?”


“Kemarin adalah malam yang ke-enam,” jawab Fatim.


'Seperti yang kau pikirkan Bima, ini ada hubungannya dengan pertempuran malam itu' sahut Nyi Blorong di dalam diri Bima.


“Apa maksudnya...?”


'Masih ingat dengan Keris Nogo Siluman? Benda itulah yang menyegel kekuatan Putri Genowati, kau pasti mengerti maksudku'


“Begitu ya.. Jadi Putri Genowati mulai bangkit di tubuh gadis ini.”


“Mas Bima..?”


“Ah.. ya?”


“Mas Bima kok bisik-bisik sendiri dari tadi.”


“Terdengarkah..? Asal kamu tahu, Mas Bima tadi barusan berkomunikasi dengan demit yang merasuki tubuh... Tenang saja, Fatim pasti akan bisa!”


“Saya akan berusaha!”


“Oke, kita mulai pembelajarannya!”


Bima berusaha sebisa mungkin untuk memberi arahan pada Fatim. Mulai dari hal yang paling mendasar, yaitu mental.


Seorang manusia yang dirasuki haruslah memiliki mental kuat. Dia mesti mempunyai kepercayaan diri, serta tidak takut dengan yang namanya dedemit.


Kemudian Bima juga menyuruh Fatim untuk bermeditasi dan merasakan sosok di dalam dirinya. Agar gadis itu bisa berkomunikasi dengan sosok tersebut.


Pada awalnya Fatim ketakutan. Dia berkata pada Bima bahwa dirinya melihat hal-hal yang mengerikan. Lalu Bima menenangkannya dengan lembut. Hingga akhirnya, Fatim dapat berkonsentrasi kembali.

__ADS_1


Fatim yang berusaha keras, mengingatkan Bima saat awal-awal dirinya tinggal di keraton ini. Dia menatap gadis tersebut dengan wajah senang.


Tidak terasa hampir satu bulan Bima berada di sini. Cukup banyak yang sudah terjadi hingga dia sudah terbiasa dengan tempat ini.


Keadaan yang jauh dari kata modern. Namun, Bima dapat beradaptasi dengan cepat. Tetapi dia tahu ini bukan tujuan awalnya.


“Tujuan ya..? Menjadi pahlawan mungkin..?”


Angin berhembus membawa dedaunan seperti sedang mengalir.


“Romo? Romo sudah sampai ya..!” Fatim melambaikan tangan pada seseorang.


Kemudian Bima juga ikut menoleh. Dia melihat sosok pria yang memakai pakaian anggota kerajaan. Pria tersebut tidak lain adalah seorang patih yang bernama Wira.


....Romo? Kalau tidak salah itu panggilan Jawa


Bima hanya diam melihat mereka saling menghampiri.


“Kau sudah berusaha keras ya... Putriku!” kata Wira serambi mengelus kepala Fatim.


“Iya Romo, ini juga berkat bantuan Mas Bima..!” sahut Fatim dengan semangat.


Setelah itu, Wira berjalan ke arah Bima. Kemudian sang patih itu mengulurkan tangan, “terima kasih telah menjaga putriku!”


“Aahh bukan apa-apa,” sedikit gugup Bima menjabat tangan Wira.


“Fatim..! Lanjutkan saja latihanmu..! Romo ingin berbicara dengan Mas Bima..!” ucap Wira.


“Baiklah, Romo.”


Kemudian Fatim melanjutkan latihannya. Sedangkan Bima dan Wira mengamati tidak jauh dari sana.


“Duduklah..!” kata Wira.


“Baiklah,” Bima duduk bersebelahan dengan sang patih.


“Apakah kamu masih mengingat keluargamu?”


“Eh? Tidak, kenapa tiba-tiba paman menanyakan hal itu?”


“Awalnya saya heran, seharusnya roh-roh dari lautan selatan hanya bisa merasuki keturunan Kerajaan Mataram... Lalu setelah diselidiki, kamu memang salah satunya.”


“Aku baru tahu itu.”


“Apa kamu tahu dua sosok pendiri kerajaan Mataram?”


“Pemanahan dan Giring, kah?”


“Tepat...! Berarti aku tidak perlu menjelaskannya.”


“Berarti maksudnya.. aku adalah keturunan salah satu dari mereka, begitu kan!?”


“Ya, tapi Bima..! kelihatannya kamu tidak terkejut?”


“Setelah kejadian semua ini, aku sudah tidak heran lagi.”


“Baiklah, akan kuceritakan lebih lanjut.”


Patih Wira mengatakan bahwa dirinya sebenarnya juga keturunan kerajaan. Sama seperti halnya Bima, dia seorang yang bernasab dari Ki Ageng Giring.


Nasab mereka bertemu pada buyut Bima, yang sekaligus menjadi kakek dari Patih Wira.


“Meskipun belum pernah tatap muka, kami saling berbagi informasi tentang dedemit.. Hingga kemudian kami putus komunikasi empat belas tahun yang lalu.”

__ADS_1


“Empat belas tahun lalu..?” Bima pun memikirkan hal yang menimpa keluarganya. Dia sekarang sudah memiliki alasan untuk berjuang.


Bima ingin mengungkap kejadian empat belas tahun lalu, serta menemui keluarganya yang lain.


__ADS_2