Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Perjanjian


__ADS_3

Orang yang berhasil kembali ke Turki tidak lebih dari 40 nyawa. Jumlah yang sangat tidak terkira pada awalnya. Mereka pulang dengan rasa takut dan trauma yang cukup dalam.


Orang-orang yang baru datang dari Jawa di hadapkan pada sang Baginda Sultan.


“Kami banyak yang mati dilahap demit, jin dan bangsa sejenisnya.”


Sang sultan heran sekaligus sedih mendengarnya. Beliau mengepalkan tangannya untuk menahan emosi.


Lantas Baginda Sultan memerintahkan untuk memanggil Syekh Subakir untuk menghadap padanya.


...


Dengan segera, Syekh Subakir menghadap kepada sang Raja.


Baginda Raja berkata dengan bijaksana:


“Tuan Syekh anda yang saya tunjuk, pergilah ke Pulau Jawa itu dan pasanglah tumbal! Tempatkan di gunung yang tengah, supaya lelembut makhluk halus itu pergi. Serta bawalah 20.000 orang india, agar mereka menetap tinggal di tanah Jawa dan lengkapi dengan persenjataan!”


“Seperti yang Baginda katakan,” Syekh Subakir menghormat dan bergegas pergi.


Setelah berlayar menuju Hindustan untuk menjemput 20.000 orang India, Syekh Subakir bersama mereka meneruskan berlayar ke pulau Jawa.


...


“Apakah batang-batang kayu itu.. awalnya adalah sebuah perahu?”


Sesampainya di pantai Utara Jawa, para anggota ekpedisi melihat banyak perahu layar yang yang sudah rusak. Mereka sedikit gentar selagi menepikan perahunya.


Syekh Subakir turun dari perahu. Menghadap dengan yang lain, dia berkata:


“Wahai para saudaraku! Tolong dengarkan pesanku ini!”


Perhatian orang-orang India itu langsung tertuju pada Syekh Subakir. Kemudian Syekh Subakir melanjutkan ucapannya.


“Saya hanya ingin berpesan agar kalian tidak meninggalkan tempat ini! Makan dan minumlah seadanya! Jika terpaksa kalian boleh pergi ke hutan tapi jangan jauh-jauh, dan jangan sendirian! Kuulangi.. jangan pernah meninggalkan pantai ini hingga saya kembali ke sini!”


Syekh Subakir adalah sosok yang disegani. Sehingga mereka pun percaya dengan apa yang dikatakannya. Kemudian Syekh Subakir berjalan menuju ke dalam hutan.


...


Matahari menyembunyikan diri, digantikan oleh bulan dan bintang-bintang yang menghiasi langit.


Sembari menyingkirkan dedaunan yang menghalang, Syekh Subakir bergerak ke timur. Dia bergerak menuju bagian tengah pulau Jawa.


Sampai saat ini, Syekh Subakir masih belum menemui kejanggalan di tanah ini. Tapi dia yakin akan menghadapi itu. Sehingga kewaspadaan tetaplah diperlukan.


“Aaa... aarrgg!!”


Seorang lelaki bersandar di sebuah batang pohon. Orang itu berwajah pucat dengan darah di lengannya.


...Apa hanya tinggal dia seorang?


Syekh Subakir perlahan mendekati orang tersebut. Dengan mencekal serban yang mengkalung di lehernya, dia memandangi sekitar dengan waspada


Beberapa langkah lagi sebelum mendekat, pria bersandar itu menoleh ke arah Syekh Subakir dengan tatapan mencekam.


Lantas Syekh Subakir merefleksikan diri untuk melompat ke belakang. Lalu tiba-tiba tubuhnya berhenti di udara, seolah sesuatu telah membekam lengan Syekh Subakir.


Samar-samar, tapi Syekh Subakir masih dapat melihatnya. Sosok makhluk bukan manusia sedang mengunci pergerakannya.

__ADS_1


Ssrruutt...


Serban Syekh Subakir bergerak sendiri. Benda itu bergerak lalu memukul makhluk yang mencekal Syekh Subakir hingga terlepas.


Syekh Subakir kembali menginjakkan tanah. Serbannya juga ikut kembali dalam genggamannya.


Memang benar saat ini Syekh Subakir sedang diserang jin. Namun hingga saat ini para makhluk halus lainnya masih bersembunyi selagi menjalankan rencana.


“Apa yang kau lakukan di sini?”


“Kenapa kau di sini?”


“Apa tujuanmu?”


“Lupakan jalanmu itu!”


“Ikuti saja kami!”


“Ya, ikutlah bersama kami maka kau akan bahagia!”


“...atau, mati saja!”


Selagi mendengar hasutan para makhluk halus, Syekh Subakir memejamkan mata sembari menengadahkan tangannya berdo'a.


Syekh Subakir perlahan membuka mata, dengan tenang sembari berkata:


“Godaan seperti itu, tidak akan mempan untukku.”


Syekh Subakir mengibaskan serban, melebar serta memanjang dari ukuran asli. Kemudian serban itu perlahan disentuh kan ke permukaan tanah.


Suasana hening seketika, lalu mulai muncul getaran dari pepohonan sekitar.


“Ggrrr...!”


Dilihat darimanapun satu serangan itu memberikan efek yang cukup besar bagi makhluk lelembut sekitar.


...Aku harus segera pergi, jika jumlah mereka terus bertambah maka akan menyusahkan


...Tinggal beberapa meter lagi


Syekh Subakir bergegas menuju puncak gunung.


Para jin dan lelembut semakin ganas. Mereka bahkan mengendalikan pepohonan untuk menyerang.


Syekh Subakir melompat-lompati batang pohon yang menyerbu dengan lihai.


...Tidak ada waktu lagi, sebelum ada sosok makhluk yang lebih kuat.


Syekh Subakir masih bergerak dengan sekuat tenaga. melewati tanah yang berlika-liku seta pepohonan yang terus mencoba menubrukinya.


...Itu dia!


Syekh Subakir mengeluarkan sebuah batang kayu kecil dari tangan kosongnya. Dengan tergesa-gesa dia menancapkan benda itu ke tanah.


“Aarrrggghhh...!!”


Bersamaan dengan itu beberapa ranting telah berhasil membuat sarang di punggung Syekh Subakir.


...Ini bukan apa-apa.

__ADS_1


Syekh Subakir duduk bersila di depan tancapkan tongkat sembari menahan sakit. Tetap bersikap tenang sembari berdo'a:


“Dengan menyebut nama-Mu...”


Pertahanan Syekh Subakir terlihat kosong, para makhluk halus pun tidak bisa menahan dirinya lagi.


“Apa yang sedang kau lakukan!?”


“Kkrraaa..!”


Sesuatu tidak terlihat menyengat para jin yang mencoba menyerang.


“Apa?”


“Hoy! apa yang sebenarnya...?”


“Entah kenapa, tubuhku terasa panas!”


Syekh Subakir masih duduk tenang bagaikan air. Seiring berjalannya waktu gelombang angin mulai mengitari dan mengibas para lelembut.


Mulai saat itu tidak ada lagi yang bisa menyerang Syekh Subakir. Karena pada area tertentu para lelembut akan kepanasan, dan jangkauannya meluas setiap waktu.


Terjadilah keributan di pulau Jawa. Situasi alam berubah, yang tadinya tenang dengan angin sejuk meniup dan padangnya rembulan, seketika berubah menjadi bencana.


Cuaca menjadi mendung mendadak, angin bergerak dengan cepat, topan menebas semua yang ada, kilat menyambar, gemuruh suara halilintar, serta hujan api akibat marahnya gunung.


Peristiwa tersebut terjadi selama tiga hari tiga malam. Bangsa lelembut, jin, dan siluman lari menyelamatkan diri karena kepanasan oleh tumbal Syekh Subakir.


Setelah peristiwa menggemparkan itu alam menjadi tenang kembali. Sunyi senyap, pengap dan gelap gulita meliputi cuaca langit pulau Jawa.


Blaarrr...


Sosok makhluk tak dikenal menyerang Syekh Subakir. Membuat dirinya terpental jatuh dari puncak.


“Tuan Subakir, sebagai pendeta yang mengelana kenapa tuan datang kesini membuat kerusakan?”


Syekh Subakir bangkit menatap makhluk itu seraya berkata pelan:


“Kisanak.. kau ini siapa? Keluar dari mana engkau? Lantas apa keperluan kisanak?”


“Saya ini orang Jawa, saya ingin bicara dengan tuan.”


“Beritanya tanah Jawa tempat yang belum ada manusianya, tempat yang masih hutan belantara.”


“Itu kisah yang panjang pada pulau Jawa, tapi nyatanya saya ini orang Jawa, saya ada sebelum tuan datang. Saya menduduki dan menetap di pucuk-pucuk gunung selama 9.000 tahun.”


“Hai kau ini bangsa apa? Apakah sungguh-sungguh manusia? Umurmu panjangnya bukan main. Hei kisanak..! mengakulah! Berterus terang padaku.”


Makhluk itu memperjelas diri pada Syekh Subakir, lalu berkata dengan menunjukkan wibawa:


“Sesungguhnya saya ini bukan manusia. Sayalah dahnyang tanah Jawa yang paling tua, putranya Dewa-Dewi. Yang disebut Manik Maya ya saya ini, Sang Hyang Sist ya saya ini, dahnyang Teritoti ya saya ini, Rekanaya ya saya, Sang Hyang Ening itu namaku, ya sayalah yang disebut Sang Hyang Semar...”


Sang Semar turun dari puncak, mendekati Syekh Subakir lalu melanjutkan ucapannya:


“Jika tuan belum tahu, inilah wujud badan hamba. Seluruh makhluk yang berada di sini adalah keturunan saya. Jadi, mengapa tuan membuat kerusakan pada semua anak cucu hamba?”


“Bukanlah itu maksudku kisanak, aku ini diutus rajaku untuk mengisi pulau Jawa dengan manusia. Itu sudah kehendak Tuhan, tidak bisa kamu menghalangi.”


“Baiklah, kalau memang itu takdir pulau Jawa, tapi.. bagaimana cara tuan bertanggungjawab atas ini semua?”

__ADS_1


“Aku mengerti, duduklah dahulu kisanak! Ini akan menjadi pembicaraan yang cukup panjang.”


__ADS_2