Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Selangkah ke Depan


__ADS_3

Jbreeg..!


Suara jentekan dari pintu mobil yang ditutup oleh Wira. Diikuti gertakan Bima dan Laras yang saling melirik kesal. Mereka sudah mengganti pakaian yang basah.


“Curang..! Bukankah kalian melarangku bermain-main air,” Fatim langsung memecah suasana.


“Eng-enggak gitu Fatim, bukan itu yang sebenarnya terjadi.”


“Begitulah Fatim, Mas Bima tuh yang mulai duluan menyerang!”


“Ee.. Tunggu! Bukankah kau dulu yang menjatuhkan ku dulu ke air!?”


“Tapi kan kau duluan yang mendorongku dan berniat untuk menjatuhkan ku!”


“Ya, tapi itu kesalahanmu, kau benar-benar membuatku jengkel!”


“Seharusnya aku yang bilang begitu.”


Pada akhirnya Fatim tidak jadi marah. Dia malah diam dan mendengar ocehan dua remaja itu. Yang laki-laki maupun perempuan sama saja, mereka tidak mengalah satu sama lain.


“Aku tahu menjadi akrab memang hal baik, tapi lihatlah keadaan juga,” Wira yang menyetir sedikit terganggu dengan itu.


“Akrab..!?”


“.. Seperti ini?”


Kemudian akhirnya mereka bisa diam dan tenang. Bima yang tadi terus menoleh ke belakang, sekarang duduk nyaman menghadap lurus. Tiba-tiba dia mengingat Hendra. Terakhir kali mereka bertemu saat misi waktu itu. 'Apa yang sedang dia lakukan?' batinnya.


Melewati banyak tikungan di pinggir jurang. Beberapa jalan masih berupa bebatuan, dan membuat mobil itu sulit bergerak. Namun, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pemandangan disana cukuplah indah.


Tidak terasa waktu sudah sore. Warna oranye memancar dari langit barat. Saat itu mereka sampai di sebuah kolam air kecil yang sangat jernih. Tempat itu dihiasi bebatuan dan tumbuhan yang tertata rapi.


“Jadi ini tempatnya, tapi kok sepi banget ya..?” Bima berjongkok seraya menatap kolam tersebut.


“Pastilah, hanya sedikit orang yang tahu tentang legenda lima mata air... meskipun tahu pun, kadang masih banyak yang tidak percaya,” ucap Wira yang berdiri di sampingnya.


“Benar juga ya.”


“Baiklah, kalian semua silakan minum dan membasuh muka dengan air ini!”


Byurr!


Glup... Glup...


“Wuaaahhh... Aku seperti hidup kembali,” Bima menatap puas dengan air di wajah yang masih berjatuhan


“Ya, ini sangatlah segar,” sedangkan Laras masih menenggelamkan kedua tangannya ke kolam tersebut.


Di saat itu, Fatim diam menutup mata. Dia terlihat sedang berkonsentrasi terhadap sesuatu. Wajah yang basah itu tetap saja terlihat manis. Sesaat kemudian, mulut kecilnya tersenyum. Lalu seseorang menjawil lehernya dengan jari basah.


“Ggrraaahh..!! Dingin.. Apa yang kau lakukan sih Mbak Laras!?”


“Kelihatannya sedang senang, apa yang dari tadi kamu lakukan?”


“Hehe.. Aku sudah bisa berkomunikasi dengan Putri Genowati, dan kami pun sudah akrab... Tapi sayangnya aku harus benar-benar fokus.”


“Efek air ini kah...?” gumam Laras.

__ADS_1


Di sisi lain, Bima juga merasakan sesuatu mengalir pada tubuhnya. Seperti sebuah energi yang menyatu menjadi sebuah kesatuan. Dulu dia butuh konsentrasi cukup keras apabila ingin berbicara dengan Nyi Blorong, tapi sekarang...


“Begitu ya..”


“Bagimana, Bima?” tanya Wira.


“Bagaimana ya.. Mungkin bila sudah menggunakan empat mata air yang lain lebih bisa dirasakan.”


“Kau benar, kelima mata air itu menjadi penyeimbang jiwa.”


“Penyeimbang.. Jiwa?”


“Ya, ibaratkan jiwamu wadah, dan kekuatan roh yang merasuki adalah air, Meskipun air yang masuk sangat banyak...”


“...Tetap saja tidak berguna bila tubuhku tidak bisa menampungnya.”


“Tepat sekali.”


“Sedikit saja, aku bisa merasakannya,” Bima menatapi kedua tangan dan mengepal untuk beberapa saat.


“Semuanya..! Hari sudah mulai larut, Sebaiknya kita segera pergi dari sini,”


Matahari sudah menutup tubuhnya hingga menyisakan sepertiga wujud di bumi barat. Mereka segera bergegas melewati tempat yang mulai gelap untuk kembali masuk ke dalam mobil.


“Kita mau tidur dimana, Romo?” tanya Fatim seraya menutup pintu mobil.


“Dimana mau kalian? Pengen menyewa satu malam? Ataukah ingin kemah? Atau di mobil saja?”


“Yang jelas tidak di mobil,” sahut Laras.


“Memangnya ada yang bawa tenda.”


“Buat aja sendiri, pake kain Ama beberapa kayu gitu,” Patih Wira mulai menyalakan mobil dan menginjak pedal gas.


Sedangkan yang lain mencoba membayangkan apa yang dikatakan oleh Wira. Sebuah tenda dengan kain seadanya. Itu seperti..


“Itu sedikit...”


“...Mirip gelandangan.”


“Gelandangan yang kaya.”


Begitulah pemikiran mereka bertiga. Tidak ada yang setuju dengan keputusan tersebut. Lalu pilihan yang tersisa adalah menyewa penginapan.


“Mungkin tidak begitu bagus, tapi cukuplah untuk kita bermalam,” perlahan Wira membuka pintu sebuah rumah.


“Bener-bener gapapa nih?” Bima mulai masuk seraya membawa tas dan melihat sekeliling.


“Ya, anggap aja rumah sendiri.”


Laras menunduk kepada Wira serambi mengucap, “terimakasih, paman.”


“Iya, sudahlah.. Laras juga, gunakan rumah ini dengan senyaman mungkin.”


“Baiklah.”


Rumah ini memang sangat layak untuk ditempati. Tetapi sayangnya hanya ada dua kamar di sini. Mungkin Fatim bisa satu kamar dengan Laras, tapi...

__ADS_1


“Biar aku saja yang tidur diluar, aku hanya titip barang di kamar ini.”


“Kau yakin, Bima?” tanya Wira.


“Ya, lagipula aku sudah terbiasa tidur di ruang tamu.”


“Aku mengerti, kalau begitu mandilah duluan..! Aku masih ada beberapa urusan.”


“Baiklah,” Bima segera menyiapkan perlengkapan untuk mandi. Setelah itu, dia segera berjalan pergi menuju kamar mandi.


“Fatim..? Mbak Laras sudah nih..! Kamu segeralah maaannn...dii...” Laras tepat berhenti di depan Bima. Rambut panjang yang terurai basah, serta handuk putih yang hanya menutupi beberapa bagian tubuh. Lengkukan dada serta paha mulus yang terekspos membuat Bima terpaku untuk beberapa waktu.


Bima langsung membalikkan badan, “tidak apa, aku tidak melihatmu.. tetapi-”


Duaagg..!


“Apa yang kau lakukan!?” Bima terjatuh kesakitan karena kepalanya ditendang dengan cukup keras.


“Seharusnya aku yang bilang begitu.”


“Itu kan bukan salahku..! Salahmu sendiri yang berpakaian seperti ii-uuaaahhh... sakit woy.. jangan menginjak punggungku seperti itu..!”


“Aku hanya sedikit memberi hukuman padamu,” Laras tanpa ragu memutar tumitnya di atas punggung Bima.


“Kalau begitu, aku juga akan...”


“Bila kau menoleh, aku tidak akan memaafkanmu lho!” aura murka wanita terasa kuat di balik punggung Bima.


Saat itu mereka tidak sadar bahwa sedari tadi Fatim sudah melihat. Dengan membawa perlengkapan mandi, gadis itu hanya diam melihat dari jauh. Hingga akhirnya dia berkata :


“Kali ini, permainan apa yang sedang kalian lakukan.”


“Eh? Fatim?”


“Fa-fafatim!?”


Kemudian terjadilah percakapan panjang untuk meyakinkan Fatim. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk memaklumi dan mau menutup mulut. Setelah itu, Fatim mandi. Selepasnya, Bima yang ganti mandi.


Di malam hari, Bima memutuskan untuk menonton televisi sambil tiduran.


“Selimutnya kutaruh di meja, aku kembali ke kamar, cepatlah tidur Bim..!”


“Iya, setelah ini aku akan tidur.”


Patih Wira berjalan pergi menuju kamarm Sedangkan Bima masih asik tiduran dan menonton televisi dengan nyaman. Waktu berlalu tak berasa, hingga dia tertidur dengan kondisi televisi yang masih menyala.


Laras saat itu terbangun untuk ke kamar mandi. Dia mendengar suatu suara di sebuah ruangan, “Hhhmm? Oalah.. malam-malam begini kok masih nonton televisi.”


Laras mendekat dan mematikan televisi tersebut. Di saat menoleh, dia pun melihat Bima yang sedang tertidur pulas.


“Bima? Ya ampun kau ini..?” Laras mengambil selimut dan menyelimuti Bima dengan lembut.


“Kkhhaa..!”


“Pppffftt...” Dia menahan tawa mendengar Bima yang mengigau. Kemudian perlahan berjalan pergi. Laras tersenyum sinis seolah berkata 'padahal gayanya sudah sok'


“...Tapi lucu juga sih.”

__ADS_1


__ADS_2