
“Bicara? Menurutmu aku tidak tahu dengan orang yang bersembunyi di sana?”
Patih Wira melihat ke tempat Bima bersembunyi dan berkata :
“Aku tahu itu kau Bima..! Keluar saja..!”
“Maafkan aku, Paman,” Bima perlahan keluar menghadap naga besar di depan.
“Tidak apa, Bima tidak berniat begitu bukan?”
Baru Klinting menatapi dua manusia yang berada di depannya. Pada awalnya, dirinya berpikir bahwa kedua manusia itu berniat baik dan hanya ingin bicara. Tetapi tiba-tiba ada bisikan yang berkata, 'apa kau lupa dengan kejadian waktu itu? Tempat tinggalmu hancur lebur saat itu, dan juga luka ini... apa kau sudah lupa semua itu?'
“Kkkwwwaaarrrhhh!!” semburan api keluar dari mulut Baru Klinting. Bima dan Wira segera melompat ke belakang.
“Sudah kuduga, ini memang ulah dedemit... Bima bantu aku..! makhluk ini masih bisa diselamatkan,”
“Baiklah, kebetulan aku juga ingin mencoba sesuatu,” Bima menyilangkan tangan. Hingga kemudian kedua lengannya perlahan diselimuti oleh sisik ular dengan ujung sebuah taring.
“Kau semakin hebat saja Bima... Keluarlah..! Karawelang!” Patih Wira berkuda-kuda dengan sebuah tombak.
“Kkwwwaarrhhh!” Baru Klinting menyembur-nyembur ke segala arah. Luka di sisi kanannya tiba-tiba membara berwarna kemerahan. Begitu pula mata yang tadi terlihat indah, sekarang lebih mirip seperti monster liar.
“Kau lihat tanda luka di kepalanya, Bima?”
“Maksud paman, sesuatu yang aneh di bawah mahkota itu?”
“Benar, sepertinya itu adalah kunci kemenangan kita.”
Bruukk!!
Dengan cepat Baru Klinting menghantam ke arah Bima. Hingga terseret terbang hingga menabrak pohon besar.
“Bima.!”
“A-aku ma..sih bisa menahan ini, sekarang kesempatanmu, paman!” Bima berusa menandingi gigi monster itu dengan kedua tangannya.
“Baiklah,” Wira berlari ke atas lewat tubuh Baru Klinting. Namun beberapa saat sebelum mencapai kepala, dia memilih melompat mundur.
“Kwwaarrhhh..!!” alhasil, Baru Klinting menggeliat dan tubuhnya memancarkan energi yang mengerikan.
“Kau tidak apa-apa, Bima!?”
“Ya! Aku masih bisa melanjutkan ini!”
“Sepertinya aku memang harus menggunakan wujud Sukma.”
“Sukma..?”
Patih Wira menancapkan tombaknya ke tanah. Dia berdiri tegap seraya menggabungkan kedua telapak tangan. Angin kuat menari di sekitar tubuhnya. Aura sihir yang Wira luapkan semakin kuat seiring waktu. Sesaat cahaya keemasan menyelimuti dirinya.
Byaarr...!
Sinar itu meledak dan menghasilkan rintikan cahaya emas yang lebih kecil. Perlahan terlihatlah sosok Patih Wira yang berbeda dari yang tadi. Yang tadinya memakai pakaian normal, berubah menjadi baju perang tradisional.
Mayoritas bagian tubuh ditutupi oleh pelindung yang berwarna perak. Rambut Wira menjadi panjang dan terikat oleh sesuatu berwarna keemasan. Dia memakai bawahan kain putih dengan ikatan di tengahnya. Wira berdiri tegak seraya memegang tombak.
“Kkwwaarrhhh...!”
Ctang..!
Dengan bantuan tongkatnya, Wira berhasil menahan terjangan dari Baru Klinting. Dentuman itu menghasilkan angin yang sangat kencang beberapa saat.
“Hhiiyyyaaaatt..!” Wira sukses mementalkan kembali Baru Klinting hingga kepalanya menyentuh air danau.
“Hebat..!”
Tetapi, tanpa disadari gerakan monster itu memutar dan mengarah cepat ke arah Bima. Dia tidak sempat mengelak sehingga hanya mengandalkan pertahan pada tangan.
__ADS_1
Jdaaagg...!
“Haa?”
“Mundurlah dulu, Bima!” Wira tiba-tiba sudah berada di depan menahan tubrukan Baru Klinting. Tidak ada waktu untuk heran, Bima segera menuruti perintah tersebut.
Mengenaskan, tapi Bima memang tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya dapat melihat Patih Wira yang bertarung dengan Baru Klinting.
“Sial..! Apakah tidak ada yang bisa kulakukan!?”
'Sayangnya, pertarungan ini masih terlalu cepat untukmu! Kau sadar bukan akan kesalahanmu membiarkan musuh melukaimu dengan mudah' Nyi Blorong akhirnya menampakkan diri pada Bima.
“Tetapi, aku...”
'Percuma saja, kau malah akan menghambatnya'
Memang benar, dalam hal kekuatan Patih Wira lebih unggul. Tetapi karena mengetahui Baru Klinting masih bisa diselamatkan, dia hanya fokus terhadap tanda di atas kepalanya.
Tentu saja demit yang merasuki makhluk tersebut sadar akan hal itu. Berkali-kali Baru Klinting menangkis serangan yang diarahkan ke kepalanya. Dengan kata lain, Wira sedikit dirugikan.
“Hrusangkali.. Rainy Arrow!” hujan anak panah menyerbu ke arah Baru Klinting. Laras akhirnya tiba di sana.
“Kenapa Kau..?” Bima heran.
“Aku yang seharusnya bilang begitu, bukankah kau bilang ingin membantu Patih Wira? Kenapa malah jadi penonton di sini?”
“Maafkan aku.”
“Yah sudahlah.”
“Lalu Fatim..?”
“Jangan khawatir, dia sekarang berada di mobil... Yang lebih penting, katakan padaku keadaannya.”
“Seperti yang Laras tahu, Baru Klinting sebenarnya tidaklah jahat... Apa kau melihat tanda di atas kepalanya?”
“Dia sedang dikendalikan, begitukan maksudmu..? Dan semua bisa berakhkir bila bisa menyerang tanda itu, dan membebaskannya.”
“Aku bisa saja menyerang tanda tersebut, tetapi aku tidak tahu cara membebaskan makhluk itu.”
“Berarti hanya ada satu cara,” Bima bersiap diri untuk menyerang.
“Syukurlah kalau kau mengerti.”
Bima mengeluarkan taring serta sisik ular. Dia berlari ke arah Wira yang sedang bertarung dengan Baru Klinting.
“Biarkan kami yang menjadi umpan.”
“Baiklah,” Wira melompat ke belakang dan digantikan oleh Bima. Diikuti panah yang terus dilontarkan Laras.
“Hhhyyyaaahh..! Lawanmu adalah aku..!” Sebagai pengalih perhatian Bima lebih fokus untuk menghindari serangan. Dia mencoba untuk membuka jalan untuk Wira menyerang kepala Baru Klinting.
Doom.! Doom..!
Tanah bergetar seolah sedang terjadi gempa bumi. Tetapi tekad mereka belum gentar untuk menaklukkan monster yang berada di hadapan. Usaha Bima dan Laras mengulur waktu tidaklah sia-sia.
“Terimakasih atas waktunya, Bima mundurlah!” Wira memegang tombak tegak di tengah kedua tangannya. Senjata itu bercahaya seperti sedang menyerap sesuatu pada bagian ujung.
“Baiklah.”
Wira berlari kencang. Setiap tapakan yang dilewatinya menimbulkan percikan cahaya yang indah. Dia bergerak lewat tubuh Baru Klinting dan menghindari serangan seraya mengucap mantra.
“Wahai Bhatara Dharma, terangilah hamba dengan cahaya kebijaksanaan dan hapus semua kegelapan yang menutupi pandangan kami, Tumbak Wicaksana..!”
Wira melompat ke atas dan mengarahkan serangan pada tanda di kepala Baru Klinting. Tidak mudah begitu saja, dia harus melewati pelindung yang menghalangi. Sehingga terjadi bentrokan momentum yang sangat kuat di udara. Perlahan ujung tombak Wira terus mendekat dan menembus pertahanan Baru Klinting.
Ctaakk..! Jluub..!
__ADS_1
Alhasil ujung tombak itu berhasil menancap pada tanda yang ada di kepala. Jeda sejenak, Wira mengelus kepala Baru Klinting dengan lembut. Kemudian mencabut tongkatnya tenang, dan melompat turun ke tanah.
Baru Klinting kehilangan kesadaran untuk beberapa saat. Sementara itu, Bima dan Laras mendekati Patih Wira yang kembali ke wujud semula.
“Tadi benar-benar hebat..! Aku merasa kembali ke zaman dahulu.”
“Kau terlalu berlebihan, Bima...! Aku hanya meminjam wujud kesatria era Mahabharata.”
“Tapi tetap saja...”
“Jadi, apakah kalian manusia yang telah membebaskanku?” tanya Baru Klinting yang perlahan mulai sadar.
“Sungguh makhluk mitologi yang sangat kuat, bisa sadar dalam beberapa waktu,” Wira tersenyum puas.
“Apa keinginan kalian? Sebelum aku pergi, kali-” kata-kata Baru Klinting tiba-tiba berhenti di saat dirinya melihat Bima.
“Ada apa?”
“Ka-kau..? Bila kau ada di sini, berarti kalian golongan dari mereka juga kan!?” Baru Klinting bersiaga dan menyiapkan serangan.
“Tenanglah, kenapa tiba-tiba marah seperti ini? Coba lihat dirinya baik-baik..!” Wira berusaha meyakinkan Baru Klinting.
“Maaf, sekilas anak muda itu mirip dengan orang itu.”
“Katakan pada kami detailnya!”
“Ini terjadi dua bulan yang lalu, ada kumpulan makhluk halus yang dipimpin oleh tiga orang. Salah satunya adalah orang yang kupikir adalah anak ini.”
Baru Klinting menjelaskan lebih lanjut. Ketiga orang itu mengaku sebagai sosok yang disebut Demit Sudra. Tetapi dia tidak tahu lebih lanjut siapa identitas mereka. Setidaknya Baru Klinting mengetahui ciri-cirinya.
Mereka berpenampilan berbeda satu sama lain. Ada yang menggunakan pakaian elegan dengan wajah seperti kaum bangsawan. Kemudian sosok sederhana yang berhasil menaklukan Baru Klinting dengan sebuah tombak pusaka.
Dan terakhir, yaitu orang yang dikatakan sekilas mirip dengan Bima. Dia adalah pria yang bertubuh kekar, memiliki tatapan tajam, tidak banyak bicara, tetapi menakutkan. Dia memakai bawahan kain dengan atasan selembar kain dan beberapa pernak-pernik tambahan.
Setelah menceritakan detailnya, mereka pun berpisah. Baru Klinting kembali menyelam ke telaga. Sedangkan Bima, Laras, dan Wira bergegas menuju mobil.
“Kupikir orang yang dimaksud oleh Baru Klinting sama sekali tidak mirip denganmu,” kata Laras.
“Yaahh.. tapi kan bisa saja begini, seperti potensi pada diriku, atau... aku yang ada di masa depan,” sangkal Bima.
“Kurasa itu mustahil, apa kau tidak sadar dengan dirimu yang sekarang?”
“Kau bilang apa barusan!?”
“Ouw.. apa kau akan memukul wanita?” Laras mencoba menggoda Bima yang terlihat bernafsu ingin memukulnya.
“Enggak, aku memiliki ide yang lebih bagus,” Bima memegang kedua pundak Laras dan mendorong ke arah danau. Dia berencana menceburkan wanita yang membuatnya kesal itu.
“Tu-tunggu.. Bim!!”
“Terima ini!”
Laras pun juga berusaha keras menahannya. Beberapa kali dia bertahan dari jegalan. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk balik menggulingkan Bima.
“Haha.. Coba kau saja yang mandi!”
“Celaka!”
Byurr..!
“Haha.. inilah namanya senjata makan-”
Byurr..!
“Kau lengah, Laras.”
“Sialan kau, Bima!”
__ADS_1
Ketika mereka bercanda tentang apa yang dikatakan Baru Klinting, Wira malah sedang berpikir keras. Dia merasa ada sesuatu yang cukup penting pada kata-kata itu.
“Bima..! Laras..! Kita harus see..gee.raa...” Wira melihat mereka yang sedang bermain air.