Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Dewi Lanjar


__ADS_3

Rantamsari, sosok bidadari cantik yang turun dari kahyangan. Dia mengelana di alam duniawi mencari kebahagiaan.


kebahagiaannya memuncak saat dia menikah dengan seorang pangeran yang bernama Bahurekso. Mereka dianugerahi seorang putra yang dinamai Sulamjono.


Namun, kejadian yang tidak diharapkan terjadi. Satu-satunya putra mereka meninggal di usia muda.


Sejak saat itu, hubungan rumah tangga mereka mulai retak. Raden Bahu merasa resah karena istrinya sering didatangi oleh sosok perempuan yang mencurigakan baginya.


Pertengkaran mereka memuncak ketika Rantamsari memutuskan untuk pergi. Dia berpisah dengan sang suami meskipun masih cinta.


Dalam pengembaraannya, Rantamsari sering mendapat lamaran. Dia tetap terlihat cantik meskipun janda. Hingga Rantamsari pun terkenal sebagai Dewi Lanjar.


Namun, tidak ada satupun lamaran yang ia terima. Karena Rantamsari sudah memutuskan untuk tidak menikah lagi.


Sampailah dia pada sebuah sungai yang besar. Wanita tersebut melihat ada pria berkumis dan pemuda yang sedang bermeditasi di atas aliran air itu.


Ia pun terkagum dan mendekat pada mereka berdua.


Menyadari itu, pria berkumis menoleh dan berkata pada Rara Kuning :


“Ada apa kisanak? Adakah yang bisa saya bantu?”


“E- tidak, maaf telah mengganggu,” Rantamsari segera berbalik.


“Tunggu, apakah ada sesuatu yang buruk menimpa kisanak?”


Rantamsari terdiam sesaat. Dia menghentikan langkahnya seraya berkata, “anda memang benar!”


“Tidak enak bila bicara seperti ini, saya akan segera ke sana!”


Kemudian pria itu berkata pada lelaki muda yang disampingnya. Sang pemuda mengangguk, lalu berjalan mengikuti pria tersebut.


Mereka bertiga mencari tempat yang nyaman untuk berbincang. Sampailah Rantamsari dan kedua lelaki tersebut pada dua bongkahan kayu.


Rantamsari duduk di salah satunya, diikuti sang pria yang duduk di lain tempat. Sedangkan lelaki yang lebih muda berdiri, berdamping dengan pria berkumis tersebut.


“Tidak enak bila belum mengenal satu sama lain, jadi siapakah nama nona cantik ini?” kata pria itu.


“Rantamsari..! Lalu kisanak sendiri?”


“Saya Sutawijaya, sedangkan dia adalah Singoranu.”


Pemuda yang berdiri itu menunduk hormat. Begitu pula Rantamsari membalasnya. Meskipun tidak tahu latar belakang mereka berdua, Rara Kuning sama sekali tidak menaruh curiga.


“Saya merasakan aura kesedihan yang mendalam pada diri Rantamsari.. Sebenarnya apa yang telah nona alami?” tanya Sutawijaya.


“Suami dan putraku baru saja meninggal..” begitulah pengakuan Rantamsari.


Mendengar itu kedua pria itu terkejut. Lalu Sutawijaya kembali bertanya :


“Lalu apa keperluan nona pergi ke hutan belantara seperti ini?”


“Saya sendiri juga tidak mengerti, karena saat kejadian itu kami baru saja menikah, saya sangat sedih.. Lalu memutuskan berkelana meninggalkan kampung halaman.”


“Memangnya berasal dari mana anda, nona?”


“Saya berasal dari sebuah desa kecil di Utara.”


Mereka berbincang seperti orang-orang yang sudah kenal dekat. Rantamsari sendiri mengaggap kedua pria yang ia temui adalah sosok yang mahsyur. Dia berharap setelah ini akan menemukan jalannya.


Sutawijaya merasa prihatin, lalu dia berkata :


“Oh iyaa... Apakah nona berkenan menikah lagi? Saya mungkin bisa mengenalkan pada seseorang, ataukah Nona Rara tertarik dengan pemuda ini,” Sutawijaya menunjuk pada Singoranu.


“Maafkan saya Tuan Sutawijaya, saya tidak lagi berkeinginan untuk menikah.. Yang saya bisa lakukan saat ini hanya bergerak mengikuti angin.”


“Jadi itu keputusanmu..” Sutawijaya menunduk seraya melemparkan batu-batu kecil ke bawah.


“Dari tadi saya penasaran, kenapa Tuan Singoranu tidak duduk?” tanya Rara Kuning.


“Bukan apa-apa, saya hanya ingin berdiri saja,” jawab Singoranu.


Gaya ucapan yang terdengar kaku itu, membuat Rantamsari sedikit curiga. Dia pun bertanya lagi :


“Sebenarnya siapa kalian ini? saya dari tadi sudah merasa bahwa kalian bukan orang biasa.”


Singoranu segera menyahut :


“Beliau sebenarnya adalah Raja Kerajaan Mataram, sedangkan saya adalah patihnya.”


“Raja..? Kalau begitu pantas saja, seorang pastilah merasa silau jika setara dengan junjungannya!” Rantamsari menunduk beberapa saat kepada Sutawijaya.


Jeda sejenak, Sutawijaya tersenyum ke arah Rantamsari. Lalu pria itu berdiri dan memberi sebuah petuah :


“Perkataanku ini, tidak harus nona lakukan, tetapi izinkan saya menyampaikan sesuatu...”


Sutawijaya menyarankan Rantamsari untuk pergi ke pesisir selatan dan melakukan tapa di sana.


Rantamsari berpikir bahwa saran dari sang raja itu adalah hal yang tepat. Dia pun memutuskan untuk pergi ke tempat itu. Sedangkan Sutawijaya dan Singoranu kembali bermeditasi di sungai.


Singkat cerita, sampailah Rantamsari di sebuah pantai. Panorama lautan yang indah, serta ombak yang menghantam ke tepian.


Wanita cantik itu berdiri di atas batu karang. Merasakan angin yang berhembus seraya mendengarkan dentuman ombak.

__ADS_1


“Kupikir ini tempat yang cocok.”


Rantamsari duduk di atas batu tersebut. Dia bersila menghadap ke samudra. Perlahan memejamkan mata dan mencoba menyatukan diri dengan energi sekitar.


Rantamsari bermeditasi penuh dan bertapa dengan tekun. Dia sangat berkonsentrasi pada kegiatannya, hingga puluhan tahun pun tidak terasa telah ia lewati.


Dalam keadaan moksa, alias menghilangkan ikatan duniawi. Rantamsari membuka matanya seperti bayi yang baru lahir. Dia melihat sosok perempuan berkulit kuning Langsat. Dia melayang di atas lautan dengan memancarkan aura putih jernih dan gemerlap.


Rantamsari perlahan berkata, “Engkaukah itu, Nawangwulan?”


“Benar saudariku, aku telah menunggumu,” perempuan itu menjawab dengan senyum tipis.


“Sudah berapa lama aku berada di sini?”


“Tidak lama, kurang dari tiga dasawarsa.”


“Siapakah Raja Mataram sekarang?”


“Keturunan kedua Sutawijaya, Raden Mas Jatmika, orang-orang menyebutnya Sultan Agung.”


Berseling beberapa waktu. Rantamsari membersihkan debu-debu yang mengotori pakaiannya. Kemudian dia berdiri dan menunduk pada Nawangwulan.


“Wahai saudariku, izinkan aku menjadi pengikutmu.”


“Tidak perlu... Lebih tepatnya, aku ingin Rantamsari menjadi penguasa di tempat lain!”


“Apa maksudmu Nawangwulan?”


“Pergilah engkau ke Utara dimana tempatmu tinggal dulu..! Saat ini di sana tidak ada satu manusia pun yang tinggal, tempat itu sudah menjadi alas yang menjadi sarang jin.”


“Paham.. Jadi aku hanya perlu menaklukkan mereka seperti engkau dulu, bukankah begit Nawangwulan?”


“Syukurlah kalau kamu mengerti saudariku.”


Rantamsari diam seraya melihati tubuhnya. Dia sedikit ragu dengan kemampuan dirinya saat ini.


“Tenang saja.. kamu pasti bisa melakukannya,” Nawangwulan menghilang turun ke laut seperti matahari yang tenggelam di sana.


“Engkau sangatlah indah Nawangwulan, betapa beruntungnya manusia yang dulu engkau nikahi.”


Rantamsari juga ikut hilang terbawa angin menuju Utara. Dengan kesaktiannya saat ini, dia bisa dengan cepat berpindah ke tempat yang pernah didatangi.


Pepohonan dan semak belukar memenuhi kayu yang dulunya sebuah rumah. Dia memegang tangkai yang menjalar di sana, lalu mengelus pada jari-jarinya.


...Padahal belum genap tiga puluh tahun


Dia berjalan ke arah lain. Kemudian angin berhembus menyibakkan rambut panjangnya.


“Sudah kuduga, sangatlah aneh bila tidak ada sangkut pautnya dengan kalian.”


“Maju sini..! Akan kubuat kalian tunduk padaku..!”


Ilmu kanuragan Rantamsari tidak bisa diremehkan. Dia berhasil menguasai pertempuran meskipun hanya seorang.


Para makhluk halus lainnya tidak berdaya menghadapinya. Belum ada celah sama sekali bagi mereka untuk menyerang.


Rantamsari sendiri sangat bersemangat. Seakan-akan dia bisa melakukan pertarungan ini untuk selamanya. Bahkan pohon-pohon ikut berteriak terbawa suasana.


Belum genap satu jam, ada jin perempuan yang bertekuk. Dia mengakui kekuatan dan keagungan Rantamsari.


Seiring berjalannya waktu, mereka mulai tunduk pada sang dewi. Pertarungan pun menjadi semakin sepi. Satu persatu mereka takluk, hingga semua pun mengakui Rantamsari sebagai ratu.


Seperti yang dikatakan Ratu Laut Kidul, Rantamsari menjadi makhluk yang berkuasa di Utara. Dia pun memutuskan untuk membuat kerajaan ghaib di daratan itu.


Tetapi sebelum keraton itu jadi seutuhnya, terjadi penyerangan dari para manusia. Mereka berniat untuk membuka hutan sarang makhluk halus.


Rantamsari tidak tinggal diam. Dia segera mengerahkan pasukan jin untuk menyergap orang-orang itu.


Pasukan jin dan manusia saling beradu kesaktian. Gemuruh petir menyambut datangnya badai kerusakan.


Hampir genap semalam. Garis-garis fajar sudah terlihat di bagian timur. Tetapi pertempuran itu belum kunjung reda.


Rantamsari mulai resah dan memutuskan untuk langsung menerobos ke medan perang. Dia berpikir untuk segera membunuh panglima, agar bisa menjatuhkan moral pasukan.


Bluaarr...


Energi mereka saling bertabrakan dan meruncing satu sama lain.


Alangkah terkejutnya Rantamsari ketika mengetahui panglima para manusia. Karena dia adalah suaminya sendiri, Bahurekso.


Wajahnya sudah kelihatan tua. Tetapi meskipun agak keriput, Bahurekso masih kelihatan sehat dan bugar.


“Kau..?”


Bergencatan senjata, mereka saling menghadap satu sama lain.


Sudah lama tidak bejumpa, tetapi hati ini tidak bisa berbohong. Sampai sekarang, Rantamsari masih merasa jatuh cinta pada Bahurekso.


Di sisi lain, ada anak buah dan harga diri sebagai makhluk halus yang harus diperjuangkan. Sedangkan di sisi lain, ada sosok yang Rantamsari cintai.


Tanpa sepatah kata, Bahurekso menjatuhkan keris. Lalu dia mengangkat tangan sebagai tanda menyerah.


“Kenapa..? tanya Rantamsari.

__ADS_1


“Engkau sudah menemukan jalanmu sendiri, alangkah baiknya saya tidak mengganggumu lagi.”


“Kakanda... Maafkan aku..!”


“Tidak apa, tapi tolong untuk saat ini rawat mereka yang masih bisa diselamatkan.”


“Aku mengerti.”


Mereka berdua memberi isyarat pada pasukan agar berhenti berperang. Lalu orang-orang yang terluka dikumpulkan.


Sedangkan Bahurekso dan beberapa pasukan yang hanya terluka ringan, mengubur mereka yang telah meninggal.


“Jadi, apa arti pertempuran ini raden? Bukankah mereka seakan mati sia-sia?” tanya seseorang.


“Tidak ada artinya, tetapi bila diteruskan kita semua akan mati, kita tidak cukup kuat untuk mengalahkannya,” jawab Bahurekso.


“Apa Raden Bahu yakin kami tidak bisa mengalahkan mereka?”


“Begitulah pikirku, akan banyak korban yang berjatuhan,” Bahurekso menatap ke bawah pada seseorang yang dikubur.


Sesaat pria itu menatap Bahurekso, lalu pergi menuju kawanan yang lain.


Gundukan tanah menutupi jenazah mereka yang gugur. Kemudian diatasnya diberi sebuah batu yang memberikan tanda.


Untuk orang-orang yang masih bisa melakukan perjalanan, dipersalahkan untuk pergi. Sedangkan untuk yang terluka, diperbolehkan untuk menetap beberapa waktu.


Bahurekso tetap berada di sini menemani mereka yang terluka. Sedangkan sebagian lainnya segera kembali ke Kerajaan Mataram.


Meski hati ingin berbicara dengan sosok dicintai, Rantamsari tetap menahan diri untuk tidak lagi berhubungan dengannya. Dia pun pergi menyendiri dari kerumunan itu.


Bahurekso hanya diam menatap kepergian Rantamsari, lalu melanjutkan pekerjaannya.


Genap satu hari satu malam, Bahurekso beserta pasukannya berencana pergi. Mereka pergi tanpa berpamitan dengan Rantamsari.


“Para manusia itu telah pergi, Ratu..!”


“Baiklah, terimakasih,” Rantamsari berdiri tegak di pantai. Dia menatap laut Utara dengan mata hampa.


Matahari naik sepenggal, Rantamsari melihat para anak buah yang bekerja cepat membangun istana.


“Maaf mengganggu, Ratu!” sosok makhluk halus menghadap.


“Ada apa?”


“Para manusia yang barusan pergi itu telah terbunuh.”


“Apa maksudmu?”


Rantamsari dan beberapa pasukannya segera pergi ke tempat yang diceritakan. Lalu sampailah mereka ke sebuah padang sempit di tengah-tengah hutan.


“Apa yang telah terjadi di sini..?”


Darah berhiaskan pada pakaian mereka yang tersayat. Tidak sedikit pula pedang yang menancap di tubuh mayat. Beberapa darah masih mengalir dan tercium bercampur dengan tanah.


Rantamsari mendekat pada mayat pria yang sudah tidak asing. Keadaannya cukup tragis, mayat itu tertusuk pedang di punggungnya. Bahurekso meninggal dengan ekspresi yang terlihat dipenuhi dengan penyesalan.


Ctaakk...


Sesuatu dalam diri Rantamsari mencapai batas dan terputus. Dia mengepalkan kedua tangan dengan penuh emosi.


“Siapa..? Siapa pelakunya...?”


“Maaf, saya hanya melihat orang-orang yang sama dengan pakaian mereka.”


“Begitu saja sudah cukup.”


Tanpa kata lanjutan, Rantamsari langsung naik ke langit. Dengan amarah dibumbui penyesalan yang memuncak, dia melesat ke arah Mataram dengan cepat. Itu adalah salah satu poin kenapa para jin mau tunduk. Tidak ada yang bisa mengejar kecepatan Rantamsari.


Di tengah jalan, dia bertemu dengan Ratu Kidul yang berkendara dengan kereta kuda.


“Nawangwulan..! Jangan halangi aku..!” teriak Rantamsari dengan buru-buru.


“Apa yang ingin kau lakukan? Kenapa engkau dipenuhi nafsu duniawi seperti ini!?”


“Kenapa? Kenapa..? Aku sudah kesal dengan para manusia itu...!”


“Urungkan keinginanmu, engkau sendiri pasti tahu bahwa orang-orang Mataram tidak seburuk itu.”


“Tapi lihat kenyataannya..!”


“Kau yang harus lihat kenyataan! Bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk moksa, tapi apaan dengan nafsu dendammu itu..!”


“Ta-tapi...”


“Bila kau masih bersikeras untuk menyerang, aku sendiri yang menghadangmu.. karena aku memiliki sebuah hubungan panjang dengan mereka,” Nawangwulan menatap dalam padanya.


“Begitu ya.. setidaknya aku tidak ingin melawanmu, maafkan aku yang terbawa emosi.”


Para pasukan Rantamsari baru saja tiba. Lalu salah satu dari mereka berkata :


“Ada apa, wahai ratu?”


“Kondisi telah berubah, kita mundur.”

__ADS_1


Rantamsari beserta pasukannya kembali ke tempat mayat dari Bahurekso dan para prajurit. Mereka menguburkan para mayat itu di tanah yang tidak jauh dari sana.


Kemudian Rantamsari memerintahkan pasukan jin untuk memindahkan istana. Dia memilih tempat yang jarang dilewati manusia, yaitu Lautan.


__ADS_2