Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Kawan


__ADS_3

“Hal ini sudah terbiasa terjadi?” tanya Bima


“Ya, bisa dibilang hal ini adalah pertarungan klimak antara demit dan orang yang dia rasuki, tapi entah kenapa saat ini berbeda dari biasanya.”


“Berbeda..?”


“Kekuatan amukan, sangat berbeda dari sebelumnya.”


“Tipe demit yang baru?”


“Mungkin.”


Bima dan seorang abdi itu berlari berlari menuju asal suara.


Boomm..!


“Hhwwaaa..!!”


Pada belokan lorong, para abdi terlihat terpental oleh suatu ledakan.


“Kalian tidak apa-apa?”


“Tidak usah khawatir, masalahnya ada di depan sana.”


Di simpangan koridor itu, Bima melihat pria yang berdiri tegap dengan cahaya menyilaukan di kepala.


“Bantu aku Nyi Blorong..! Fang..!!” Bima berkuda-kuda seraya memegang erat sepasang taring.


“Jangan ceroboh..!”


Ucapan dari seorang abdi dihiraukan oleh Bima. Dengan cepat dia bergerak ke arah lawan yang jaraknya cukup jauh.


Pria yang menjadi lawannya hanya diam saja. Tetapi di saat yang sama, delapan anak panah muncul di sekitarnya.


Pheeww..!


“A-” Bima mencoba menghindar, tapi anak panah itu datang bersamaan. Beberapa berhasil ditangkis, dan sisanya berhasil melukai Bima.


Tidak diberi waktu. Setelah panah yang menggores kulit Bima, mendadak ada sebuah batu besar menghantamnya.


“Aarrgghhh...”


Bima terpelanting hingga sampai ke para abdi lainnya.


“Sudah kubilang sabar dulu!” salah seorang abdi memeganginya.


“Sebenarnya kekuatan apa itu?” tanya Bima.


“Sepertinya dia bisa membuat suatu objek dan mengendalikannya, lalu menghilangkan benda tersebut dengan kemauan dia.”


“Kemampuan yang merepotkan...”


“Setidaknya kita tahan dia sampai seorang patih datang!”


Meskipun bilang begitu, para abdi sendiri kesusahan. Ditambah dengan tempat sempit yang membuat tidak bisa leluasa.


Bima juga masih kelelahan dengan latih tanding dengan Patih Surya tadi. Jadi, ini waktu yang tidak menguntungkan baginya.


Namun, Dia tetap bertekad untuk bertarung. Dengan bantuan Nyi Blorong, Bima terus berusaha maju.


Bak senapan mesin yang mengarah pada mereka. Tidak henti-hentinya anak panah menghujani mereka. Mereka akhirnya mundur dan bersembunyi di tembok.


“Apakah patih akan segera datang?” tanya Bima.


“Seharusnya ada salah satu dari mereka yang masih ada di area keraton, jadi tidak lama lagi,” jawab salah satu abdi.


Abdi dalem lain yang berada di paling pinggir mencoba melirik, “Orang itu berjalan mendekat..!”


Salah satu abdi mencoba keluar untuk menyerang, tapi dengan cepat sang lawan menyingkirkannya.


Bima menemukan suatu cara dan berbicara pada Nyi Blorong :


“Apa kau bisa melakukan lagi seperti waktu latih tanding dengan Laras?”


'Asalkan kau tenang, aku bisa melakukannya, untuk lebih mudahnya coba tahan nafasmu!'

__ADS_1


“Baiklah,” Bima menghirup nafas dalam-dalam lalu berkata pada yang lain, “aku akan maju.”


“Tungg-”


Bima bergerak menuju pria yang menjadi lawan.


Melihat itu, pria tersebut lagi-lagi mengerahkan anak panah yang berkobar.


“Sekarang..! Hhheeemmpp..” seru Bima. Tubuhnya tiba-tiba melentur dan menghindari hujan panah yang datang.


Seperti terkena hembusan angin yang lembut, Bima menari-nari diantara panah yang mencoba menyerangnya. Hingga saat dekat, dia berhasil melumpuhkan lawan dengan menubruknya.


“Kena kau! Hhhaaaahhh... Berapa kalipun aku tetap merasa tubuhku telah hancur... Eehh?”


Pria yang di bawah Bima tiba-tiba terlihat tidak berdaya. Mahkota yang bercahaya di kepalanya juga menghilang.


“Woooaaahh...” para abdi kagum melihatnya.


Tidak lama kemudian Kresna datang dengan tepuk tangan dan tawa, “Hahaha... sudah kuduga kau bisa menghentikannya, jadi aku datang terlambat, tidak masalah bukan?”


“Kau ini..! Karena kau lihat kondisi mereka!” Bima menunjuk pada orang-orang yang bersandar ke tembok.


“Lihat? Bukankah mereka baik-baik saja?”


Saat itu para abdi tersenyum dengan luka yang di badan mereka.


“Kenapa kalian malah menyetujuinya..?”


....


Esoknya dengan semangat Bima pergi ke tempat latihan. Dia berjalan seraya memutar-mutar bahunya.


“Aaahh.. Kemarin aku tidur lebih awal dan sangat lelap, sekarang aku benar-benar dalam kondisi sempurna.”


“Selamat pagi, Bima!” seorang pelayan perempuan menyapa.


“Pagi juga,” Bima mengacungkan tangan dengan santai.


...Eh? Dia siapa? Bima menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke belakang.


Sampailah Bima ke tempat latihan. Dia melihat sosok baru di sana.


“Wooahh.. sudah pada datang ya... Eh? kau kan..?”


“Hahaha.. panggil aku Hendra..!” ucap laki-laki itu seraya mengulurkan tangan.


“Mulai saat ini kau akan berlatih bersama, akrab lah dengannya!” Kresna tersenyum lebar.


”Ya, aku Bima, salam kenal,” Bima menggapai tangan Hendra, “eh, tunggu! Bukankah ini aneh?”


“Hahaha.. ada apa Bima? memangnya apa yang aneh?” Hendra tertawa dengan percaya diri.


“Ah tidak kok ... Hoy Krisna..!” Bima menarik Kresna.


“Apa, Bima?”


“Jangan hanya bilang 'apa'! Bukankah dia ini pria yang kemarin?” tanya Bima


“Ya, kau benar.”


“Terus kenapa dia bisa di sini?”


“Yah.. itu...”


“Udahlah katakan..!”


“Kau sudah tau kan bahwa jiwa demit dan jiwa pengguna akan memperebutkan kuasa atas tubuh?”


“Iya, lalu?”


“Di saat demit yang menang, maka kepribadian asli akan menghilang dan kekuatan mistis demit akan muncul... dan jika jiwa asli yang menang, maka jiwa demit akan bergabung menjadi satu dan kehilangan kekuatan mistisnya... tetapi dalam satu kasus, bila jiwa pengguna berhasil mengalahkan demit yang kuat, kesaktian demit akan tersisa pada tubuhnya.”


“Seperti halnya Laras dan para patih?”


“Ya, begitulah yang terjadi pada Hendra, dia menang melawan demit yang kuat, jadi kuputuskan untuk mengajaknya bergabung.”

__ADS_1


“Ngomong-ngomong, apa identitas demitnya?”


“Aku tidak tahu, sebelun dia mencoba melakukan sesuatu dengan kesaktiannya, aku tidak bisa mengetahui.”


“Hhhhmmm...”


Mereka berdua kembali ke tempat Hendra.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Hendra.


“Bukan apa-apa kok.”


“Begitu ya.”


Bima sedikit heran karena Hendra tidak protes sama sekali.


Latihan pun dimulai.


“Kali ini kita akan melatih akurasi kalian, coba kalian bidik sasaran yang didepan sana!” titah Kresna.


“Jauh banget..” Bima melihat pohon dengan sasaran yang sudah ditandai, “sebentar..! Bagaimana cara kami mengenainya? senjata jarak jauh saja tidak ada.”


“Jangan banyak bicara! lihat Hendra!”


Kemudian Bima menoleh, dia melihat Hendra yang mengeluarkan anak panah.


“Kalau begitu, aku pamit dulu!” Kresna berjalan pergi dengan senyuman yang mengesalkan.


“Tungg- ah sialan!” Bima menghadap menuju sasaran tembak.


Dia tidak bisa mengeluarkan anak panah, bagaimana cara untuk mengenainya? Begitulah pikir Bima.


Di sisi lain, Hendra terus berusaha menembakkan panah. Tetapi tidak ada yang tepat sasaran.


'Bagaimana Bima?'


Bima memegangi dagu dan berpikir.


...Kekuatanku hanyalah yang berhubungan dengan ular, kira kira apakah ada sesuatu yang bisa dilemparkan? taring? menurutku kurang cocok.


“Hhhmmpp..”


Lalu Bima ingat sesuatu yang bisa dikeluarkan oleh ular, yaitu bisa.


'Aku mengerti'


Bima membentuk jari seolah sedang menembak. Dia berusaha memusatkan sebuah bisa di ujung telunjuk.


Pyarrr..!


Gagal, serangan tersebut tidak bisa menjauh. Bulatan air pecah sebelum waktunya.


Namun di sisi lain, Bima mengetahui efek mengerikan racun tersebut. Seperti asam, bisa ular itu dapat melelehkan benda mati.


Bima tetap berusaha. Dia terus menembakkan racun itu meskipun berkali-kali gagal.


Sedangkan Hendra yang kesal itu, mendapatkan sebuah ide. Dia mengeluarkan banyak panah secara bersamaan.


“Kalau gini pasti kena! Hahaha...” Hendra menembakkannya dengan tertawa besar. Mau bagaimanapun, jika dengan cara seperti itu pasti ada yang tepat sasaran.


“Woy..! kau berlebihan!”


Waktu istirahat pun tiba, mereka berdua mencari tempat yang nyaman untuk merehatkan tubuh.


Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Laras. Lantas Bima berkata :


“Hendra..! perkenalkan dia ini... eh, tidak ada..!? Kenapa kau bisa di situ?” Bima melihat Hendra yang tiba-tiba menunduk di depan Laras.


Bak seorang pangeran, dalam arti kasar penguntit, Hendra seolah menggoda sosok tuan putri.


Bima hanya terdiam melihatnya.


...Jadi begitu, dia ini hanyalah orang yang bodoh.


Brag..!

__ADS_1


__ADS_2