Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Menghadap Ratu Laut Utara


__ADS_3

Dua hari setelah pertempuran melawan armada laut Karel Doorman. Istana Kerajaan Laut Utara sudah mulai bekerja seperti biasanya.


Kebencian Rantamsari kepada manusia masih berlanjut hingga sekarang. Terkadang dia tidak segan untuk menculik anak manusia untuk dijadikan bawahan dan menenggelamkan kapal yang mendekati istananya.


Namun, masih ada yang berani mendekati adanya. Bahkan, beberapa orang berani menghadapnya. Seperti kedua pria ini yang berlutut padanya.


Bima berbisik, “hoy Krisna...! Bagaimana ini? Bukankah sudah kubilang aku tidak pandai berkata-kata, kenapa kamu malah menunjukku?”


Kresna membalas, “Sultan Mataram yang telah menunjukmu, Beliau pasti memiliki alasan tertentu.”


“Meskipun kau bilang begitu...”


“Jadi, apa tujuan kalian datang ke sini?” Rantamsari berkata dengan nada tinggi.


Perasaan tertekan pada diri Bima. Tetapi itu bukanlah rasa takut, melainkan kekaguman yang sangat tinggi pada sosok di depannya. Dia pun menjadi gugup tidak bisa bicara.


Lalu Kresna berkata :


“Seperti sebelumnya, kami ingin menawarkan untuk bekerja sama dengan anda, Kanjeng Ratu..”


“Hhhhmmmpp... Apa untungnya buatku?”


“Hamba yakin, Kanjeng sendiri kerepotan dengan kejadian malam lalu.”


Rantamsari yang tersinggung memanas, “apa kau bilang? Pikirmu aku kesusahan melawan mereka!?”


“Bukan itu maksud hamba, tetapi bila kejadian seperti malam lalu terjadi lagi maka... Kanjeng tidak akan bisa bertahan lebih lama.”


Para Abdi Kinasih Laut Utara langsung berdiri. Mereka bernafsu ingin menghabis Kresna. Tidak terkecuali dengan Lanita. Dia sudah menyiapkan cakar yang tajam di tangan.


“Meskipun kau inkarnasi dewa, bila bicara lebih panjang lagi, aku tidak akan segan melawanmu!” gertaknya.


Di sisi lain, Bima menatap khawatir pada Kresna. Mata penuh kecemasan seolah ingin mengungkapkan 'apa yang terlah kau lakukan?'


“Tenanglah, Lanita!” Rantamsari berdiri seraya menatap kedua manusia yang berada di depannya.


“Apa yang ingin Kanjeng lakukan terhadap mereka?” tanya Lanita.


“Aku sedang memikirkan suatu hal padanya, maksudku pada anak muda itu, namanya siapa tadi... Bima ya...? Hamengkubuwono pasti merencanakan sesuatu.”


Rantamsari mengisyaratkan para Abdi Kinasih untuk kembali duduk


“Sekarang giliranmu, Bima..!” bisik Kresna.


“Ha? Harus ngapain aku..?”


Bima hanya bisa diam melihat Rantamsari yang berjalan mendekat. Semakin dekat, dia merasakan kecantikan dan keanggunan yang luar biasa.


“Kalau tidak salah, sosok di dalam dirimu adalah salah satu pasukan dari Laut Kidul, benarkah itu?” tanya Rantamsari seraya bergerak menggoda.


“I-iya, Kanjeng...” jarak mereka sangat dekat, hingga membuat Bima gugup dan menelan ludah.


“Hhhhmm? Apaan ternyata bukan salah satu petinggi di sana ya...” sontak Rantamsari tertawa, “wahaha... Memangnya apa yang dipikirkan oleh si Hamengkubuwono itu.”


“Bukan petinggi? kupikir Nyi Blorong cukup berpengaruh di sana?” Bima kebingungan. Sedang Nyi Blorong sendiri memilih untuk diam.


“Nyi Blorong katamu!? Tidak kusangka anak keras kepala sepertinya mau tunduk padamu.”


Nyi Blorong jengkel dan memperlihatkan diri di balik tubuh Bima, 'kau tetap saja banyak bicara seperti dulu'


“Hahaha.. akhirnya kau muncul Blorong.”


'Telingaku panas mendengar ocehanmu, nenek tua'


Rantamsari dan Nyi Blorong bertengkar layaknya perempuan-perempuan pada umumnya. Namun, mereka terlihat akrab dari sudut pandang yang berbeda.


“Anu.. Permisi...! Biarkan saya menyela sebentar, ada yang ingin kutanyakan,” Bima mengangkat tangan.


“Apa itu, Bima?” tanya Rantamsari.


“Kanjeng Ratu tadi berkata tentang petinggi di Laut Kidul, bisakah anda ceritakan lebih lanjut?”


“Lah kok.. memangnya dia tidak memberitahumu?”


“Begitulah, dia tidak mau bicara mengenai hal itu.”


“Sebenarnya banyak makhluk halus kuat yang tunduk pada Ratu Kidul, tapi ada tiga petinggi jin yang menjadi tangan kanan dia...”


Ratu Laut Kidul, identitas aslinya adalah sosok bidadari yang turun dari kahyangan. Dia turun ke Laut Jawa Selatan lalu menaklukkan semua jin yang ada di sana.


Berlaku hukum rimba, Nawangwulan menjadi sosok yang diagungkan di Laut Selatan. Lalu dia mengganti nama bidadari itu. Gusti Kanjeng Ratu Kenconosari, begitulah nama panjangnya saat ini.


Saat menjadi ratu, Kenconosari memilih tiga jin yang akan melayani dirinya langsung. Dia mengangkat dan memberi mereka julukan.


Yang pertama disebut Simbok Nyai Kidul. Dia adalah sosok yang paling dekat dengan Ratu Kidul. Di sisi lain, dia terkadang menampakkan diri pada manusia yang tirakat. Lalu Simbok Nyai Kidul akan menawari sebuah kekuatan, dengan syarat orang tersebut mau menjadi sekutu.


Kemudian Nyai Riyo Kidul. Sosok jin yang bertugas untuk mengatur inti kerajaan. Seperti halnya keamanan dari pemberontakan maupun dari luar.


Terakhir adalah Nyai Rara Kidul. Semua masyarakat Jawa sudah tidak asing lagi dengan nama itu. Dia bertugas sebagai patih yang berurusan dengan luar kerajaan. Seperti urusan dengan para penghuni ghaib yang tinggal di gunung maupun hutan.


“...Eehhh!? Kukira Nyai Rara Kidul itu ratunya..” ucap Bima.


“Wajar sih, dia yang paling sering menampakkan diri pada manusia sehingga banyak desas-desus seperti itu,” jelas Rantamsari.


“Dan juga aku tidak menyangka, ternyata Ratu Kidul itu berasal dari cerita tujuh bidadari.”


“Benar-benar kisah yang membingungkan.”


“Kau benar, aku sendiri tidak mengerti dengan semua itu.”

__ADS_1


“Ehem..! Sepertinya kau sudah terbiasa ya, Bima,” Kresna yang berdiri tersenyum ke arah Bima.


“A-ah.. Bukan begitu maksud saya, Kanjeng Ratu.. saya terlalu terbawa suasana,” Bima langsung menunduk pada Ratu Laut Utara itu.


“Bwahaha.. pemuda yang cukup menarik.. kalau begitu sebagai hukumanmu, akan kuberikan ujian untukmu,” Rantamsari berjalan ke samping dengan kondisi tetap menoleh.


“Hhhmm?”


“Kebetulan sekali di sini juga ada yang memiliki kemampuan mirip Nyi Blorong,” Rantamsari mengisyaratkan Lanita untuk mendekat.


Langsung saja di dalam aula istana itu. Di hadapan para hadirin Bima dan Lanita berdiri pada tengah-tengah aula.


Rantamsari duduk di singgasana dan berkata :


“Kalau begitu, silahkan dimulai duelnya!”


Mereka berdua sama-sama mengeluarkan senjata tajam yang melengkung tangan. Perbedaanya, hanyalah sebatas taring ular dan cakar naga.


Ctaang..! Ctang..!


Bagai melihat cermin, mereka bertarung dengan gaya yang sangat mirip. Cara mereka mengayunkan senjata tidak ada perbedaan yang signifikan.


Sesaat, momentum kedua senjata menimbulkan jarak di antara mereka. Kemudian Lanita menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan api dari mulut.


“Ouh.. panas, Naga sialan!” Bima hanya bisa menghindar-hindar. Dia tidak bisa mendekat sama sekali.


Bima terus bergerak seraya mencari celah di antara api yang terus menyembur. Dia saat itu sedikit mangeluh karena tidak bisa menggunakan sihir.


Bima menunggu sampai Lanita menghentikan semburannya itu. Namun setelah beberapa semburan, muncul Lanita yang menerjang dari balik api yang belum menghilang sepenuhnya.


Serangan dadakan itu sukses membuat Bima terpojok. Dia juga lebih kesusahan karena gaya serangan Lanita tiba-tiba berubah.


“Dengan kemampuan seperti ini, kau ingin menyelamatkan Tanah Jawa? Kau pasti hanya beruntung ketika mengalahkan para dedemit.”


“Aarrhh!” Bima terpental oleh serangan itu. Dia kembali bangkit dengan terengah-engah.


Pertarungan pun berlanjut. Untuk menutupi kelemahannya, Bima mengamati serangan lawan dan menirunya.


“Tapi matamu tidaklah buruk, kita lihat sampai mana kau bisa bertahan, Hiyyaaaahhh!!”


Rantamsari menyaksikan langsung pertarungan itu. Perbedaan kekuatan mereka terlalu jelas. Pengalaman dalam pertempuran sebelumnya sangat berpengaruh.


Tapi di sisi lain, Bima memiliki teknik pengamatan yang hebat. Mungkin jika bisa bertahan lebih lama, dia bisa menyusul kemampuan Lanita. Semua para hadirin mengetahui itu.


Lanita juga menyadarinya. Dia selalu bergerak secara variasi. Membuat gerakan baru agar Bima tidak memprediksinya.


Rencana itu terlihat sukses. Mata sang ratu juga melihat Lanita yang sedang mendominasi duel tersebut. 'Pemenenangnya sudah terlihat ya' begitulah pikirnya. Hingga kemudian...


“Apa itu tadi..?”


“Aku tidak bisa melihatnya.”


Bima yang sudah bernafas terengah-engah mengancungkan taring pada Lanita. Perempuan itu melihat kaget dengan apa yang terjadi dalam waktu kurang dari satu detik yang lalu.


Salah satu kemampuan ular yang mengerikan. Yaitu bergerak lurus dalam akselerasi yang sangat tinggi. Bahkan, lebih cepat dari kedipan mata apabila mangsanya tepat dihadapannya.


“Kau menang anak muda, aku terlalu meremehkanmu,” Lanita jatuh dengan posisi bertumpu pada kedua lengan.


“Seperti yang kau bilang barusan, aku hanya beruntung,” Bima mengulurkan tangan ke bawah.


“Aa.. Ya ampun, memangnya masih ada manusia seperti ini?” gumam Lanita seraya menerima bantuan Bima.


“Apa maksudmu?”


“Bukan apa-apa.”


Bila sama-sama manusia memanglah wajar. Tetapi bila manusia dengan makhluk halus akrab adalah hal yang tidak normal. Biasanya hubungan kedua makhluk itu hanyalah sebatas memperalat satu sama lain.


Kejadian langka ini menarik hati Kanjeng Ratu yang duduk melihat mereka. Dia terkagum melihat kejadian tak biasa antara manusia dan jin.


Rantamsari perlahan turun dari tangga singgasana dan mendekati Bima. Lalu dia berkata padanya :


“Luar biasa Bima, pertunjukan yang sangat menakjubkan, sekarang ikutlah bersamaku!”


“Kemana?” tanya Bima.


Tanpa menjawab Rantamsari segera menarik tangan Bima. Dia tetap memaksa meskipun Bima meronta-ronta.


“Silahkan berkeliling sebentar Kresna, Aku ingin meminjam Bima sebentar.”


“Dimengerti Kanjeng Ratu... Lalu Bima, semoga beruntung!”


......


“Anuu... Kanjeng Ratu?”


“iya?”


“tempat ini...?”


“Hihi.. Selamat datang di kamar pribadiku, Bima.”


“Aapa!?”


Sebuah kamar yang sangat mewah. Emas dan beberapa berlian menghiasi dinding tempat itu. Lalu terdapat satu kasur besar yang memiliki kayu ukir yang sangat indah.


“Mungkin ini sedikit tidak sopan, tapi izinkan hamba bertanya sesuatu pada Kanjeng Ratu,” ucab Bima.


“Rantamsari.”

__ADS_1


“Ha?”


“Panggil aku Rantamsari.”


“Aa.. t-ta-tapi itu...”


“Tidak apa-apa, aku yang menyuruhmu memanggil begitu.”


“Kalau begitu, Bibi Ran-”


“Kau tidak mendengarku ya, Ran..tam..sari,” Rantamsari mendekat penuh hingga membuat Bima terpaku.


“Tapi bila nama langsung itu sedikit...” Bima ingin mengelak, tetapi jarak wajah mereka semakin mendekat dan membuat dirinya tidak berdaya, “Ah.. baiklah baiklah, jadi tolong menyingkirlah!”


“Hehe.. syukurlah kalau mengerti,” Rantamsari berjalan mundur.


“Kau tidak akan membunuhku kan?”


“Bwahaha... kau punya selera humor yang buruk.”


“Padahal aku tidak sedang bercanda, lagipula kenapa bisa sampai tertawa sampai seperti itu.”


“Kupikir kau sedang bercanda.”


Kemudian suasana hening menghampiri ruangan itu. Sejenak Bima menatap wanita yang dihadapannya itu dengan canggung.


“Ehm.. baiklah, jadi gini Rantamsari...”


“Huumm huumm..” Rantamsari mengangguk-angguk dengan senang.


“Memangnya makhluk halus itu perlu tidur?”


“Kukira apa.. ternyata hanya pertanyaan konyol.”


“Itu sedikit menggangguku.”


“Namun bukankah itu hal yang wajar? Bima pasti pernah mendengar sosok jin yang tertidur ribuan tahun kan?”


“Masuk akal sih.. tapi jika seperti ini...”


“Benar juga ya... sebelum itu duduklah dahulu,” Rantamsari duduk menepukkan tangan ke kasur. Mengisyaratkan agar Bima untuk duduk di sampingnya.


Dengan ragu Bima menuruti permintaan Rantamsari, “baiklah.”


“Seperti Nawangwulan, dulunya aku ini adalah bidadari di kahyangan... meski bukan salah satu tujuh bidadari yang terhormat itu.”


“Lalu kenapa bidadari Rantamsari bisa sampai di sini?”


“Ceritanya panjang, saat itu aku hanyalah bidadari yang mendambakan kebebasan dan memutuskan untuk turun ke dunia ini, kemudian... kemudian...” Rantamsari menunduk dengan ucapan yang terdengar berat.


“Maaf.. Maaf.. tidak usah dilanjutkan bila itu mengganggumu.”


“Terima kasih,” Rantamsari menatap Bima Seolah ingat dengan seseorang di masa lalu.


Sesaat mereka terdiam satu sama lain. Bima menatap sekitarnya dengan wajar. Dia mungkin mulai terbiasa dengan kamar seorang perempuan karena kejadian dengan Laras waktu itu.


“Bima.. maukah kamu tidur bersamaku?” Rantamsari menatap dan berucap dengan suara menggoda.


“Kamu mencoba mempermainkanku? Itu sudah tidak mempan lagi padaku.”


“Lagi? Jangan-jangan Bima sudah pernah tidur dengan perempuan?”


“Eh!? Kenapa bisa menyimpulkan seperti itu?”


“Cih..! Yang jelas, perempuan itu pasti saingan yang kuat.”


Bima tidak menyangkalnya. Karena dia sendiri berpikir bahwa Laras adalah orang yang kuat.


“Bima, kau tadi bertanya tentang aku yang tidur bukan?”


“Iya sih...”


Rantamsari berdiri lalu berjalan menuju beberapa jangkah di depan Bima.


“Svarg kee abhivyakti!” Sesaat tubuh Rantamsari mengeluarkan cahaya yang menyilaukan.


“Hebat! Sangatlah indah, kamu bertambah anggun wujudmu saat ini!”


Kedua sayap merentang di punggung Rantamsari. Mahkota kecil berhias di kepalanya. Ditambah gaun birunya membuat dirinya benar-benar cantik.


“Aku berterimakasih,” Rantamsari tersenyum kecil.


Kemudian Bima menyadari sesuatu di sayap tersebut. Seolah kedua sayap putih itu ingin menghilang dari tubuh Rantamsari.


“Rantamsari, itu...?”


“Kau sudah menyadarinya..? Kau benar, ini bukan perasaanmu saja.”


“Jadi yang dikatakan Kresna tadi itu benar...?”


“Aku kesal, tapi memang benar adanya... Ini dikarenakan aku yang tidak pernah kembali ke kahyangan, aku tidak bisa mengisi kembali energi bidadari ku.”


“Oleh karena itu kamu melakukan tidur?”


“Kau benar.”


“Lalu kenapa kamu tidak kembali naik ke kahyangan saja.”


“Tidak bisa, aku tidak mungkin bisa naik ke sana lagi.”

__ADS_1


__ADS_2