
Bbbzzz... Bbzzz..
*Maaf, nomor yang anda tuju-*
“Hhhuuuaaahhh...!”
“Ada apa, Bima?” Tanya Wira seraya memegang kemudi mobil.
“Entah kenapa akhir-akhir ini aku tidak bisa menghubungi kerabatku yang berada di Tulungagung.”
“Memangnya dimana letak rumah kerabatmu?”
“Yang kuingat hanyalah nama desanya, yaitu Tenggur.”
“Tenggur ya.. Aku sepertinya pernah mendengarnya.. Coba kau lihat desa-desa yang berada di Wilayah Rejotangan pada handphone-mu!”
“Baiklah,” Bima pun membuka internet untuk mencarinya. Hingga ketemulah Desa Tenggur yang berada di Kecamatan Rejotangan.
“Ada!” tegasnya.
“Baiklah, kita akan mampir ke sana.”
“Tunggu..! Bukankah kita sedang ke Karangrejo?”
“Kalo dari Boyolangu lebih dekat ke Rejotangan sih.. Lagipula lebih efektif ke sini, karena kita nanti masih pergi ke kediri.”
“Ah.. Begitu ya.”
Wira tersenyum seolah menyembunyikan sesuatu, “Memangnya Bima tidak sadar bila mobil ini bergerak bertolak belakang dengan matahari yang sedang terbenam?”
Bima menoleh ke belakang, “Aku baru saja sadar.. hhhmm?”
Saat itu mata Bima tertuju pada dua perempuan yang sedang tidur di belakang. Terutama Laras. Bersandar miring ke kaca mobil, dia sangat terlihat cantik dengan rambut panjangnya yang lurus. Di saat Laras menggeliat, serentak Bima langsung kembali ke depan.
“Yah.. terserahlah.”
.....
Hingga malam pun tiba, tetapi mereka masih belum sampai di tempat tujuan.
“Romo..! Apakah masih jauh?” rengek Fatim seraya menyandarkan kepala pada kursi depannya.
“Kemarin saja perjalanannya lebih jauh, kenapa sekarang tidak bisa tahan.”
“Soalnya...”
Krucuk... Krucuk... Suara perut Fatim yang kelaparan.
“Ah begitu ya.. ahaha,” tidak hanya Wira, Semua yang berada di mobil menertawakan itu. Fatim merasa sangat malu.
“Tenang saja Fatim, ini sudah dekat kok,” kata Bima dengan tersenyum.
“Kau sudah ingat jalannya, Bima?” tanya Wira.
“Ya, pokoknya lurus saja dulu paman, nanti akan kuberitahu ketika mau belok.”
“Siap.”
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di sebuah rumah. Bima berjalan menghadap pintu.
Tok.. Tok.. Tok..
“Permisi..!”
__ADS_1
Tok.. Tok.. Tok..
“Iya.. Sebentar..!” suara seseorang menjawab dari dalam sana.
Pintu terbuka dan sosok wanita muncul dibaliknya. Dia menggunakan gaun rumahan dengan motif bunga.
“Mbak Rahayu? Kenapa bisa ada di sini.”
Mendengar itu, perempuan tersebut menundukkan pandangan sebentar, “sebaiknya masuklah terlebih dahulu.. Apakah mereka teman-temanmu?”
“Iya.”
“Kalau begitu, ajak mereka masuk juga.”
Rahayu ini sebenarnya tidak memiliki hubungan darah dengan Bima. Mereka kenal karena paman Bima menikah dengan kakak perempuan dari Rahayu.
Bima dan yang lainnya pun berjalan memasuki rumah tersebut. Rumah dengan arsitektur cukup megah bila di pedesaan.
“Wwaahh.. Mas Bima..!” seorang anak lelaki berlari ke arah Bima. Dia terlihat sedikit lebih tua dari Fatim.
“Yo.. Jagoan, lama tidak bertemu.. Haidar!” Bima berjongkok dan menangkap anak itu.
“Akhirnya kau datang juga mas.. Hisk..! Hisk!”
“Waduh kenapa harus nangis juga sih? Ayah dan ibumu mana?”
Tangisan Haidar semakin terngisak-ngisak. Dia berusaha mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada yang terdengar jelas.
“Hey.. Kenapa kamu?” Bima memegang lembut kedua pundak Haidar.
“Mereka sudah tiada,” sahut Rahayu dengan nada rendah.
“A-apa?”
Seseorang misterius datang dengan membawa senjata tajam. Dia menikam orang tua Haidar dengan mudahnya. Sebenarnya Haidar sendiri juga ada di sana, tetapi pria itu tidak melakukan apapun padanya. Motif pelaku tidaklah diketahui sampai sekarang.
“Oleh karena itu, sekarang saya yang mengasuh Haidar.”
“Kami turut prihatin mengenai kejadian itu,” Wira berucap dengan lembut.
“Romo..!” rengek Fatim yang sedari tadi menahan lapar.
“Sebentar..”
“Oiya.. Kalian belum makan bukan? Aku akan masakin sesuatu!”
“Eh.. Tidak usah repot-repot gitu mbak..!” sahut Wira.
“Sudahlah, lagipula kalian akan jarang datang ke sini.”
“Biarkan aku membantu, mbak!” Laras menawarkan diri.
“Bolehlah.. mari ikut aku!”
Mereka berdua pergi berjalan meninggalkan ruang tamu. Tersisa Bima, Wira, Haidar, dan juga Fatim di sana.
“Paman mohon maaf Haidar, tetapi bisakah ceritakan lebih detail tentang orang yang membunuh kedua orang tuamu? Ah.. katakan saja ciri-ciri senjata yang dia gunakan?” ucap Wira seraya menggenggam tangan Haidar.
“Tidak mungkin..! Apakah maksud paman..?” sontak Bima langsung mendekat.
“Ini hanya firasat... Lalu Haidar..! Apakah kau bisa bercerita pada kami? Tetapi jika gak nyaman, gak apa-apa kok,” Wira berusaha bertanya selembut mungkin tanpa menyakiti perasaan.
“Belati, benda itu seperti belati yang agak besar.”
__ADS_1
“Apakah kamu bisa menggambarnya?”
Haidar mengambil selembar kertas dan mulai menggambar. Lalu jadilah senjata tajam dengan bentuk yang aneh.
“Sudah kuduga, memang ada kemungkinannya.. Senjata seperti ini, mustahil dimiliki oleh sembarang orang.”
“Ini sangat mirip sebuah gaman,” Bima juga memperhatikan gambar tersebut dengan seksama.
Sementara itu di dapur, Laras dan Rahayu sedang memasak. Dari gerakan tangan, mereka cukup mahir dalam bidang ini.
“Hey.. namamu Laras kan?”
“Iya.”
“Apa yang kau pikirkan tentang Bima, Laras?”
Daaagg..! Suara pisau yang memotong di atas nampan kayu.
“Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu.”
“Fufu..! Kupikir kau tertarik dengannya.”
“Enggaklah..! Kenapa mbak bisa berpikir seperti itu?”
“Insting seorang perempuan.”
“Hhaahh.. Memang benar sih Bima itu orang yang menjengkelkan dan keras kepala, tetapi...” sejenak Laras mendongakkan wajah.
“Tetapi...”
“Dia adalah orang yang selalu berusaha dengan jalan keyakinannya, Bima adalah tipe orang yang bisa diandalkan di saat-saat tertentu.”
Rahayu tersenyum mendengarnya, “Bima adalah anak yang malang, dengar-dengar dia kehilangan orang tuanya waktu kecil.”
“Aku juga mendengar itu darinya.”
“Kau mendengar langsung darinya? Bukankah berarti kalian ini sudah dekat!?”
“Mungkin... eh, Ngomong-ngomong soal itu, bisakah mbak ceritakan lebih detail mengenai kejadian tersebut? Aku ingin tahu, soalnya Bima sendiri katanya tidak begitu ingat.”
“Maaf, aku tidak tahu mengenai itu.”
“Aku mengerti.”
“Mereka sepertinya memang menyembunyikan sesuarmtu...” gumam Rahayu dengan nada yang sedu.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua menghidangkan makanan yang sudah siap. Mereka membawanya ke ruang tamu, lalu makan bersama dengan yang lain.
Setelah percakapan sesaat. Bima dan yang lainnya memutuskan untuk menginap di sini. Mereka mengambil barang-barang. Sedangkan Wira menakirkan mobil di depan rumah.
“Maaf, tetapi di sini hanya terdapat tiga kamar,” ucap Rahayu.
“Kali ini, biarkan aku yang tidur di ruang tamu,” sahut Wira.
“Apa bapak yakin?”
“Iya, Laras bisa tidur bersama Fatim, sedangkan Bima bisa tidur dengan Haidar bukan?”
“Terimakasih pengertiannya.”
“Enggak-enggak, seharusnya aku yang berterimakasih di sini karena diperbolehkan untuk menginap.”
Malam ini para tamu tidur dengan sangat nyenyak. Dikarenaman mereka telah berkunjung di berbagai tempat sebelumnya.
__ADS_1