
“Beneran mau pergi sekarang? Ini masih belum jam tiga lho...!” Yoshida Sano berdiri di pintu masuk.
“Iya, terima kasih atas kebaikannya, Sano-san,” Wira dan yang lainnya membungkukkan badan.
“Tidak masalah, bila butuh bantuan lagi bilang saja padaku!”
“Sampaikan salam kami pada nak Kaede.”
“Tentu saja, Kaede mungkin masih tidur sekarang.”
“Kalau begitu, kami permisi dulu.”
“Ya, hati-hati!”
Mereka menaiki mobil dan pergi meninggalkan rumah keluarga Yoshida. Turun bukit, lalu sampai ke jalan yang lebih ramai.
“Kau benar-benar sudah baikan, Bima?” tanya Wira.
“Begitulah... Aku hanya merasa lelah, karena rasanya seperti tidak tidur sama sekali... Kalau Fatim? Apakah dia tidak apa-apa bangun pagi-pagi begini?”
“Tidak masalah, Fatim sering dilatih untuk bangun seperti ini ketika di keraton... Lalu, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”
Bima menceritakan semuanya. Mulai dari pertemuan dengan tokoh-tokoh hebat dan turunnya Prabu Jayabaya. Tidak lupa yang paling penting, bentrokan dengan tiga demit Sudra sekaligus.
“Membunuh kawannya sendiri?”
“Ya, entah ada motif tertentu atau hanya kesenangan saja.. aku tidak mengerti.”
“Tapi, kau benar baik-baik saja kan? Bertempur dengan tiga demit langsung seperti itu, sangatlah berbahaya.”
“Awalnya kupikir juga begitu.. Mungkin karena berkat dari Prabu Jayabaya kekuatan aneh muncul dan menyelamatkan diriku.”
“Syukurlah kalau begitu... Berarti bisa dikatakan, Prabu Jayabaya dan kedua patihnya adalah sekutu... Ini akan menguntungkan kita, apalagi rumor mengatakan bahwa beliau adalah inkarnasi Dewa Wisnu juga.”
“Tapi bukankah seharusnya para dewa tidak bisa lagi berurusan dengan dunia manusia?”
“Entahlah, siapa yang tahu dengan dunia para dewa?”
“Semakin kesini, semakin rumit saja.”
Krik.. Krik.. suara serangga yang sudah biasa terjadi di pedesaan.
“Hhhmm lah kok sepi?” gumam Bima.
“Bener dah, perasaan barusan banyak mobil yang lalu-lalang,” Laras juga melihatnya dari jendela.
“Tentu saja, kita telah memasuki sawah yang dikatakan angker bila malam hari, tidak banyak orang yang lewat sini,” jelas Wira.
“Apa kau takut, Fatim?” tanya Laras.
“Enggak, aku sudah terbiasa dengan Putri Genowati.. Jadi pasti baik-baik saja.”
“Siplah...”
Mobil itu akhirnya menepi. Mereka pun berbarengan turun dari sana.
“Gila..! Tidak ada apa-apa sama sekali kecuali padi dan cahaya di ujung sana,” Bima menghadap kepada luasnya sawah.
“Sini Fatim, biar Romo gendong!”
“Enggak..! Aku ini bukan anak kecil lagi Romo.”
“Hehe.. Romo mengerti.”
__ADS_1
Suasana malam pada saat itu sangatlah terang. Cahaya bulan setengah serta gemerlapnya bintang-bintang menghiasi angkasa. Seperti mengharapkan sesuatu, Laras melihat dalam pemandangan itu.
“Mulai dari sini, kita akan berjalan melewati tanggul sawah.. Ayo ikuti aku..!” Wira memimpin jalan mereka. Sedangkan Bima memilih untuk berjalan paling belakang.
Sebuah jalan yang berupa gundukan tanah. Memisahkan setiap petak sawah yang ada. Serta ditumbuhi rumput liar yang hijau. Mereka berjalan di atasnya dengan cukup santai.
“Hati-hati.. jalannya semakin licin.” Belum lama Wira berkata seperti itu...
“Uuaaahh..” Laras nyaris terjatuh. Dia berhasil digapai oleh tangan Bima. Keadaan seperti itu bisa dikatakan pelukan. Kehangatan tubuh satu sama lain, membuat mereka gugup.
“Ah.. Maaf,” Bima menaikkan tubuh Laras dan segera melepasnya.
“A-aku juga.”
Hingga sampailah mereka pada sebuah sumur tua. Tumbuhan ganggang memenuhi sela-sela dinding. Lalu disampingnya terdapat sebuah reruntuhan batu.
“Tidak ada timba, terus gimana kita mengambilnya?” Bima menengok sumur yang tidak kelihatan ujungnya itu.
“Serahkan padaku, kalian sedikit mundurlah!” Wira membentuk tanda dengan kedua tangan. Mulutnya berkomat-kamit menggumamkan sesuatu. Setelah itu, dia mengerahkan kedua telapak tangannya ke sumur dengan perasaan kuat.
Jluurr...
Getaran muncul dari bawah. Kemudian terlihat sekumpulan air yang mengarah ke atas. Sebuah air mancur kecil pun lahir.
“Wwoooaahh..!” keajaiban sepele membuat yang lain kagum. Kemudian mereka secara bergantian menggunakan mata air tersebut.
'Tinggal satu lagi, maka kau bisa dengan mudah berbicara dan memanggilku' kata Nyi Blorong.
“Memanggil? Apa maksudmu aku bisa memanggilmu secara terpisah?”
'Ya, itu akan menguntungkan bila kau sudah mengetahui kekuatan aslimu'
“Katanya angker.. Tapi tidak juga terjadi sesuatu,” Laras menginjakkan salah satu kakinya di atas batu seraya melihat sekeliling.
Bima mendekat padanya, “jangan mengibarkan flag penanda seperti itu.. Bisa saja nanti...”
“Eh..?”
“Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku,” Bima dan yang lainnya berusaha menjaga keseimbangan.
Kemudian muncul dari bawah gerombolan roh gentayangan mengerumuni mereka. Berbeda dengan demit biasanya, mereka nampak bersih dari kutukan Ashura. Tapi-
“Hihihi...!”
“Wwwooo...” para roh tetap berniat menyerang mereka.
“Uhk.. Uhk..” Bima batuk hingga terjatuh ke tanah. Energi dalam dirinya belum benar-benar pulih.
“Jangan memaksakan diri, Bima! Serahkan saja pada kami!” Laras menepuk halus pundaknya.
“Laras, fokuslah melindungi Bima dan Fatim!” ucap Wira seraya memanggil tombak Tunggulnaga.
“Tetaplah didekatku, Fatim!” Kemudian Laras mengeluarkan panah pusaka Hrusangkali.
“Hhaahh.. Maaf Laras..!”
“Tidak apa, lagipula kupikir mereka tidak terlalu kuat.”
Serangan jarak jauh para roh ditangkis oleh tombak. Secara bergantian, Wira meladeni lawannya dengan gerakan yang sangat cepat. Setiap ayunannya menghempaskan dua bahkan tiga makhluk.
Laras berdiri di antara Bima dan Fatim. Tidak bisa bergerak bebas. Dia terlihat tertekan karena harus melindungi sambil bertempur.
“Bawa mereka menjauh dari sini, Laras..!” Patih Wira berniat untuk menjadi umpan.
__ADS_1
Laras percaya dengan kekuatan sang patih. Oleh karena itu dia mengiyakannya, “Berpegenganlah..!”
“Eh? Ma-?”
Laras mencangklong panahnya. Lalu tangan kanan memegang tubuh Bima, sedangkan tangan kiri menggendong Fatim. Seraya membawa mereka, dia melompat keluar dari kerumunan roh. Awalnya para roh mengejar...
“Itu ... aduh! Pelan-pelan dong.. Hampir saja aku tercebur ke sawah,” Bima terkapar menghadap ke Laras.
“Mereka tidak mengejar..?” gumam Laras seraya perlahan menurunkan Fatim.
“Aku juga memikirkan itu.. tadi ada sebuah penghalang yang menyala ketika mereka mendekat... ” Bima berjongkok menatap Wira yang dikeroyok dedemit.
“Akan kucek..!” Laras bersiaga seraya berjalan perlahan ke depan. Tidak ada roh yang menyerangnya. Kemudian ketika ada yang berusaha melompat sebuah ledakan muncul dan memperlihatkan pelindung luas berbentuk bundar.
Laras pun berteriak, “Paman Wira...! Kesini.. Keluarlah dari jangkauan penghalang mereka!”
“Oke.. aku akan segera ke sana,” sejenak membuka jalan, dan menyingkirkan para dedemit. Wira berlari ke arah Laras.
“Tolong... Tolong..!”
“Lepaskan kami..!” suara roh bersahut-sahutan membuat lagu yang menyeramkan.
“Sebenarnya mereka ini kenapa Paman?” tanya Laras.
“Aku tidak tahu, tapi yang jelas mereka berbeda dengan demit yang kita ketahui, aku akan mencoba bicara dengan mereka.”
“Apakah akan berhasil?”
“Entahlah, tapi ini patut dicoba.”
Wira menancapkan tombak ke tanah. Berdiri tegap seraya berkata :
“Bila kalian memang memiliki kesadaran, cobalah jawab pertanyaanku! Kenapa kalian bisa berada di sini?”
Doom..! Doom..! sebuah energi ledakan mementalkan para roh hingga berpencar menabrak dinding pelindung. Lalu sosok makhluk yang lebih menyeramkan berjalan mendekat. Dia berwujud kakek tua dengan pakaian compang camping dan wajah setengah tengkorak.
“Apa kalian akan membebaskan kami?” ucapnya.
“Tergantung situasinya, kami mungkin bisa melakukan sesuatu,” Wira berbohong demi kebaikan. Dia sama sekali tidak berencana untuk membebaskan mereka.
“Kalau begitu dengarkan ini... Satu bulan yang lalu aku mengalami kecelakaan, lalu saat berwujud roh... Seseorang membawa paksa diriku di tempat ini... Di sini aku bertemu dengan roh-roh lain yang juga dikurung oleh orang tersebut... Seorang misterius itu terus membawa roh orang mati ke sini.. Tidak lupa, dia selalu berpesan 'kau aman di sini' pada setiap roh, tapi bukankah tempat kami tidak di sini?” jelas roh berwujud kakek tua.
“Aku paham sekarang, apakah kakek tahu bagaimana ciri-ciri sosok itu?” tanya Wira.
“Aku tidak tahu... Padahal sering melihatnya, tetapi entah kenapa aku tidak bisa mengingatnya.. yang lain pun juga begitu.”
“Maaf kek, sepertinya kami juga tidak bisa membebaskan kalian... Orang itu benar, kalian lebih aman berada di sini.”
“Kenapa kau bisa bilang begitu!? Lihat mereka banyak yang gila karena terkurung lama di sini..!”
Kemudian Wira menjelaskan tentang lelembut pemakan roh-roh orang mati. Tidak akan ada yang bisa naik ke langit karena mereka akan selalu menghadang di atas sana.
“Apakah separah itu? Terus bagaimana dengan kami semua..? Dan bagaimana dengan kalian nanti..!?”
“Kami akan menghentikan semua ini.. Jadi tunggulah..! Suatu saat kalian akan kami bebaskan,” Wira berjalan memasuki penghalang. Tetapi kali ini tidak ada yang berani menyerang. Roh anak kecil, remaja, tua, baik laki maupun perempuan melihat Wira dengan mata harapan disertai cemas.
“Apakah kami akan baik-baik saja?” roh gadis kecil menarik-narik pakaian Wira.
“Tentu saja, semua ini akan segera berakhir.. Dan kalian akan menuju ke tempat yang seharusnya,” lalu Wira berjalan keluar. Dia mengisyaratkan yang lain untuk kembali ke mobil.
“Apakah tempat itu benar-benar aman?” tanya Laras.
“Ya, aku merasakannya.. Mode Sukma tidak akan bisa dipakai di sana.. Yang berarti dedemit murni tidak bisa menembusnya... Selebihnya, lihat ke belakang...! Apakah Laras melihat mereka?”
__ADS_1
Laras menoleh ke belakang, “Tidak ada? Mereka menghilang?”
“Aku tidak tahu siapa orang dibalik ini... Tetapi pastilah dia orang yang sangat sakti.”