
Bima dan teman-temannya memulai perjalanan lagi. Tujuan mereka adalah mata air berikutnya yang berada di kecamatan Karangrejo. Seharusnya ini juga akan berjalan seperti biasanya. Tetapi-
Bima saat ini terus saja menatap Wira yang sedang menyetir mobil. Dia benar-benar merasakan ada yang aneh dengan pria itu, seolah Wira sedang menyembunyikan sesuatu.
“Hhhmm? Kenapa kau melihatku seperti itu?”
“Bukan apa-apa.. Ngomong-ngomong apakah kita akan mampir ke sesuatu tempat dahulu?”
“Maaf, kurasa mulai sekarang kita sudah tidak bisa santai lagi, kita tidak memiliki banyak waktu.”
“Begitu ya.”
Setelah mendengar jawaban Patih Wira itu, Bima semakin yakin bahwa memang ada yang tidak beres. Dia berniat akan menanyainya nanti.
Membutuhkan waktu 3 jam untuk perjalanan sampai ke Karanganyar. Tepatnya di sebuah Dusun kecil yang bernama Klampok. Tempat ini tidak berbeda dari wilayah kampung lainnya.
Kecurigaan Bima semakin besar disaat mereka sedang mengambil mata air di sana. Saat itu Wira sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata sama sekali. Dia hanya diam menatap ke arah mata angin Barat.
“Paman..! Beritahu diriku tentang sesuatu yang mengganggumu itu..!” Bima berjalan ke arah Wira yang sedang membelakanginya.
“Tidak bisa.”
“Memangnya kenapa? aku tahu bahwa diriku ini masih muda, tetapi.. Percayakan padaku!”
“Aku mengerti perasaanmu, tetapi tidak bisa.. untuk saat ini... Setidaknya aku ingin memberitahukan secara empat mata denganmu!”
“A-”
“Hay..! Romo.. Mas Bima..! Kesinilah..!” Teriak Fatim seraya melambaikan tangan.
“Iya.. Romo segera ke sana..! Pokoknya, aku tidak apa-apa kok,” Wira memegang kepala Bima sejenak, lalu pergi ke arah Fatim.
“Menurutmu apa yang telah terjadi, Nyi Blorong?”
'Entahlah, tapi yang jelas sesuat pasti terjadi di Kerajaan Ngayogyakarta'
“Mas Bima..! Ayolah.. Lihat ini..!”
“Iya.. Mas sedang ke sana nih..” Bima berlari ke lainnya yang sedang melihat ke arah mata air.
“Gimana.. Menurut Mas Bima?”
Bima melihat mata air tersebut mengeluarkan aliran warna yang saling berbaur, “wah indahnya..! Fatim, kamu yang melakukan ini?”
“Iya.. Aku melakukannya sesuai arahan Putri Genowati, Hebat bukan?”
“Wah hebat, padahal masih beberapa hari kamu memiliki kekuatan tersebut.”
“Putriku memanglah hebat..” Wira tersenyum seraya memeluk dan mencium dahi Fatim.
Di sisi lain, Laras hanya diam terpaku pada pemandangan itu. Sepertinya dia terlalu kagum hingga tidak tahu mau berkata apa. Ini akan menjadi kenangan indah. Laras pun mengambil foto bersama-sama.
“Baiklah, waktunya melanjutkan perjalan,” Wira bangkit berdiri.
“Berarti kurang dua tempat ya..?” gumam Bima.
“Sudah sore, kita akan mampir ke rumah seseorang.”
“Siapa? Kenalan paman?”
“Ya.. Mungkin bisa dibilang begitu.”
Pada petang menjelang sore, sampailah mereka ke sebuah tempat terpencil. Di sekitar hanya ada pohon yang mengelilingi jalanya mobil. Kemudian terlihatlah satu rumah di depan sana.
Rumah yang memiliki arsitektur berdeda dari rumah Jawa pada umumnya. Material kayu mendominasi bangunan tersebut. Sudah jelas itu bukanlah rumah milik orang Jawa. Kemudian dan yang lainnya pun turun dari mobil untuk melihatnya.
“Mereka menyebut rumah ini dengan nama Minka,” kata Wira.
“Minka?”
Wira memimpin di depan lalu berkata, “beginilah cara mereka mengucap salam.. Sumimasen..!”
Tentu saja Bima dan yang lainnya bingung dengan apa yang Wira barusan ucapkan.
Grreeekk...! Pintu kayu itu terbuka dengan bergeser. Kemudian muncul seorang pria yang kira-kira umurnya sebaya dengan Wira.
“Aahh.. Wira ya.. Lama tidak bertemu,” katanya.
“Hahaha... sekitar tiga tahun ya, Yoshida Sano.”
__ADS_1
Bima tidak asing dengan gaya nama seperti itu, “nama itu kayak...”
“Ya, pria ini adalah keturunan orang-orang Jepang yang dulu pernah menjajah negara ini,” jelas Wira.
“Aku paham... Ah perkenalkan nama saya Bima.”
“Udah-udah, gak perlu formal gitu.. Sedangkan cewe ini?”
“Laras,” sahut Laras sendiri.
“Dan yang ini adalah putriku, Fatim.”
“Senang bertemu denganmu, Paman.”
“Begitu ya.. Ah iya silahkan masuk!”
Mereka pun masuk. Lantai rumah berwujud potongan kayu berjejer yang lebih tinggi dari tanah alas sekitar.
“Hey, Kaede..! Kita kedatangan tamu, bisakah kamu siapkan teh untuk mereka!” seru Sano.
“Baik, ayah..!” suara seorang perempuan.
Meskipin orang Jepang, tetapi bahasa keseharian mereka menggunakan Bahasa Indonesia. 'Jadi mereka ini memang benar sudah tinggal dari dulu ya?' pikir Bima.
Bangunannya terkesan sangat tradisional. Apalagi letaknya yang di tengah hutan, mungkin beberapa orang akan berpikir bahwa ini adalah rumah hantu.
Mereka saling berhadapan sambil duduk di atas sebuah alas duduk berwujud bantal. Masing-masing menggunakan satu kecuali Fatim yang dipangku oleh Wira.
“Jadi gini, Sano-san.. bisakah izinkan kami untuk bermalam di sini?” Wira menundukkan kepala.
“Tentu saja, sudah pernah kubilang bukan? Bila butuh bantuan, bicara saja padaku, Wira!”
“Ah.. Terimakasih banyak.”
“Ngomong-ngomong paman, kenapa kalian bisa akrab begini?” tanya Laras. Saat itu Bima heran karena Laras biasanya hanya diam saja.
“Yahh.. Adalah sesuatu yang terjadi.”
“Ya, karena kelalaianku, hampir saja diriku dibunuh oleh demit yang berwujud leluhur kami, jadi aku sangat berhutang budi atas kejadian tersebut.”
“Tidak usah berlebihan gitu.. Waktu itu Sano-san jugalah yang menyelamatkanku.”
“Begitulah intinya.”
Deg.. Deg.. Deg.. Suara langkah kaki terdengar dari lorong samping.
“Silahkan, tehnya,” seorang perempuan membagikan teh kepada mereka. Dia memakai pakain kain bermotif yang menutupi seluruh tubuh. Di pinggangnya juga terdapat balutan sabuk kain yang diikat. Lebih mudahnya, sebuah Kimono.
“Perkenalkan, dia adalah putriku, Kaede..”
“Aku Bima.”
“Dan aku Laras,” tatapan Laras berbinar-binar melihat Kaede.
“Aku juga..! Namaku Fatim.”
“Ah.. salam kenal semua,” seraya memeluk nampan berbentuk lingkaran, Kaede menunduk kepada mereka.
“Kami juga.”
“Kuharap kalian semua bisa akrab.”
Krucuk.. Krucuk.. Suara perut seseorang berbunyi.
“Itu tadi bukan aku,” ucap Fatim seraya menutupi muka. Sontak yang lain pun tertawa melihat tingkahnya.
“Kaede.. Bisakah kau menyiapkan mereka makan malam juga.?” kata Sano.
“Baik, ayah!”
“Izinkan aku membantu,” Laras bangkit berdiri.
“Tapi...”
“Tidak apa.. Biarkan kami juga melakukan sesuatu untuk kalian.”
“Romo.. Bolehkah aku juga...?” bisik Fatim pada ayahnya.
“Jangan..! Entar Fatim malah mengganggu.”
__ADS_1
“Udahlah, izinkan sajalah Wira!” kata Sano. Mendengar itu, Fatim langsung menatap dalam ke arah ayahnya.
Pada akhirnya, mereka bertiga bersama-sama pergi ke dapur. Meninggalkan para lelaki yang tepat duduk di tempat.
“Kaede, putri yang baik ya..” kata Wira
“Ya, begitulah kurasa.”
.....
“Maaf telah membuat kalian menunggu!” Ketiga wanita itu kembali dengan membawa makanan. Masing-masing membawa dua nampan di tangan.
“Eh..? Kenapa dengan pakaian kalian?” Bima terkaget dengan penampilan wanita yang dihadapannya. Terlebih dengan perempuan yang bernama Laras.
Kimono berwarna magenta itu memaksimalkan aura kecantikan pada dirinya. Rambut yang disimpul, membuat leher yang bewarna kuning langsat terekspos jelas. Bima saat itu berpikir bahwa Laras adalah perempuan Asia yang ideal.
Fatim juga tidak kalah, warna kucing mencolok pada Kimononya. Dia sangat imut dengan pakaian tersebut.
“Laras-san tadi mengatakan bahwa tertarik dengan pakaian ini, jadi aku pinjamkan kimono milik ibu.. dan ternyata hasilnya...” saat Kaede berkata seperti itu, Laras tertunduk malu sembari membagikan makanan.
“Bagaimana, Romo?” Fatim berputar menyibakkan pakaiannya.
“Ya, itu sangat cocok buat Fatim,”
“Benarkan!? Ahaha..” Fatim tertawa kecil.
Semua makanan sudah dibagi rata. Gaya hidangan itu sangat berbeda dengan yang biasa orang pribumi makan.
“Ada apa, Bima? Kau bengong Mulu dari tadi?” tanya Wira.
“Ah enggak.. hanya saja...” sesaat Bima memutar bola matanya, “maksudku, aku hanya tidak terbiasa dengan makanan orang Jepang.”
“Ah.. Begitu ya.”
.....
“Ittadakimasu!”
Semua serempak mengatakannya kecuali Bima yang bingung. Dia tidak mengerti apa yang barusan yang lain ucapkan. Kemudian dia melihat hidangan dan baru sadar bahwa di situ hanya ada sumpit.
Bima menengok kesana-kemari. Semua menggunakan sumpit dengan tenang. Tidak terkecuali Laras dan Fatim. Hanya Bima yang sepertinya tidak biasa.
“Huuaah...”
“Ada apa, Bima-san? Apakah kamu tidak suka dengan makanannya?” tanya Kaede.
“Tidak, hanya saja... aku tidak bisa menggunakan sumpit ini,” Bima mencoba mengambil nasi, tetapi tetap saja jatuh lagi.
“Baiklah, akan kuambilkan sendok dahulu.”
“Aahh.. maaf ya.”
Laras menatap Bima dengan senyum sinis yang menjengkelkan. Dia memang berniat mengejek saat itu.
“Apa sih lihat-lihat? Namanya juga tidak bisa.”
“Tetapi lihat..! Fatim saja bisa melakukannya,” Laras tertawa kecil.
“Berisiklah.”
.....
“Segeralah tidur...! Kita akan berangkat jam dua dini hari..!” begitulah kata Wira beberapa menit yang lalu.
Tetapi di atas sebuah kasur empuk yang disebut Futon, Bima masih berbaring dengan mata yang terbuka. Dia masih ingin bertanya tentang sesuatu yang mengganggu Wira.
Apa daya, Wira ternyata sudah tertidur di Futon sampingnya. Dia mungkin kelelahan, jadi Bima enggan untuk membangunnya.
Saat itu Bima benar-benar kesulitan tidur, tetapi tiba-tiba pandangannya memudar. Dia tidak sadarkan diri sesaat. Kemudian dirinya mendadak terasa ditarik paksa ke atas. Bima tidak bisa berteriak, laku perlahan membuka matanya.
“Dimana ini?”
“Akhirnya kau datang juga, Raden,” ucap seorang perempuan. Dilihat dari penampilannya yang nyentrik, dia adalah sosok orang zaman dahulu.
“Raden? Maksudmu aku..? Tunggu, tubuhku terasa sangat ringan sekarang, lalu.. Eehh..! Aku sedang terbang!?”
“Tentu saja kau merasa ringan, karena saat ini jiwamu sedang terpisah dengan raga.”
“A-apa!?”
__ADS_1