
Kejadian ini terjadi sudah cukup lama. Sekedar serpihan pada pikiran Bima, serta hanya inilah ingatan yang tersisa tentang orang tuanya.
Bima sendiri belum mengingat sepenuhnya. Tempat dan waktu peristiwa masih belum jelas.
Namun Bima yakin, insiden tersebut memang pernah berlangsung dalam kehidupannya.
Hari itu, Bima melihat di balik sebuah celah. Meskipun kecil, tapi masih bisa digunakan untuk mengintip.
Lalu perkara itupun terjadi. Sang ayah menikam badan ibunda Bima.
Gemetar tak tertahan. Bima ketakutan hingga membuat telinganya berdenging kencang.
...
“Lagi..?”
Bima membuka matanya. Sesaat dia merasa asing dengan apa yang dilihat. Hingga kemudian tersadar bahwa ini bukan rumahnya.
...Apakah kejadian itu juga ada hubungannya dengan fenomena dedemit?
Bima bangkit dengan ekspresi kusut di wajahnya. Dengan rambut yang masih acak-acakan dia membuka pintu dan menengok ke luar kamar.
Orang keraton sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Bima kembali menutup pintu, lalu segera bersiap.
Setelah menata diri dan berganti pakaian kasual, Bima keluar dari kamar.
“Yoo..! Bima..!”
Tepat di saat membuka, sosok pria menyapa di depan Bima.
Bima pun terkejut tanpa ekspresi berlebih.
Melihat pria tersebut memakai pakaian seperti orang penting istana, Bima mencoba berbicara dengan nada lembut :
“Ada apa ya?”
“Tidak perlu formal..! aku ini juga orang biasa kok..!”
“Apa benar begitu..?” Bima keluar penuh dari kamar, lalu menatapi pria itu dari bagian bawah ke atas.
“Haha.. Panggil saja Kresna!”
“Krisna?” tangan kanan Bima memegangi dagunya.
“Itu juga boleh.”
“Jadi, Krisna mau kamu apa menemuiku?”
“Aku berancana mengajakmu keliling keraton, mau ikut?”
“Tentu saja.. soalnya aku sendiri bingung mau ngapain.”
“Biasakan dirimu oke..!”
Matahari sudah nampak penuh di ufuk timur. Burung berkicau melewati langit keraton.
Krisna mengajak Bima ke sebuah gedung padepokan. Di sana para abdi dalem sedang melakukan semedi.
Bima merasakan ketenangan ketika melihatnya. Seolah ada angin kesejukan yang melewati kulit.
Mereka berdiam melihat para abdi untuk beberapa saat.
Kemudian mereka berjalan ke area lahan yang luas. Rumput hias dan beberapa pohon besar menghiasi tempat itu. Pohon tersebut tertanam rapi dengan jarak yang berjauhan.
Adapun pula saat itu sebaian abdi lainnya juga sedang berada di sana. Mereka berlatih fisik serta mengasah kemampuan dalam menggunakan keris.
“Mereka sangat berusaha keras ya..” gumam Bima.
Krisna hanya tersenyum melihat ekspresi kekaguman Bima.
Belum lama kemudian, para abdi menyelesaikan latihan mereka.
Melihat itu, Bima berkata :
“Eeehh? Sudah berakhir?”
“Kau pikir kapan mereka memulainya? ... memangnya mereka pemalas sepertimu?”
__ADS_1
“Tidak, aku ini tidak malas, hanya saja bangunku memang jam segitu.”
“Terserah kau saja.”
“Sekarang mau kemana lagi?” tanya Bima yang menyadari Krisna berjalan kembali ke arah istana.”
“Bima pasti lapar bukan?”
“Eh?”
...
Seperti yang diisyaratkan oleh Krisna, mereka pergi menuju sebuah tempat yang menyediakan banyak bungkus makanan.
“Wooaahh..! Ramai banget..”
Semua abdi berkumpul telah berkumpul. Mereka mengantri untuk mengambil makanan.
“Hey Krisna.. memangnya tidak ada abdi perempuan? Dari kemarin yang kulihat hanya pria terus.”
“Apa? Kau kecewa?” Krisna mencoba menjahili Bima.
“Apa sih? Aku hanya penasaran.”
“Ah membosankan.. Bima pasti belum pernah pacaran.”
“Karena merepotkan sih,” wajah Bima sedikit memerah.
Krisna tersenyum sebentar, lalu menjawab pertanyaan paling awal :
“Tentu saja ada, merekalah yang menyiapkan makanan ini.”
“Ada yang Ikut mengatasi fenomena kerasukan ini?”
“Ada..! Nanti aku jelaskan lebih lanjut, untuk sekarang ayo makanlah sesuatu!”
Bima dan Krisna ikut mengantri untuk mengambil makan.
Meskipun sangat ramai, tetapi tidak ada keributan yang terjadi di sana. Mereka menanti giliran dengan sabar.
Tidak ada meja makan yang tersedia. Sehingga mereka pun sarapan dengan menyebar di seluruh tempat. Adapula orang yang berada di luar ruangan. Bagi Bima, itu sedikit aneh.
Dan saat mengambil sesuap, Bima melihat beberapa abdi makan langsung menggunakan tangan.
Bima termenung sebentar.
...Aku tau itu untuk kesehatan tapi tetap saja-
...
Setelah selesai makan, Bima dan Krisna pergi menuju sisi lain keraton.
Seperti yang dikatakan oleh Krisna, ada abdi perempuan yang berpartisipasi juga di sini.
“Mungkin Bima belum melihanya saja..”
Mereka berdua mengintip kegiatan para perempuan.
Bima menyadari ada seorang perempuan yang berbeda. Perempuan itu terlihat lebih muda dari yang lain.
Tidak seperti abdi wanita lainnya yang berlatih fisik, gadis tersebut malah melakukan semedi.
“Siapa dia? Kenapa gadis itu tidak berlatih seperti yang lainnya?”
“Laras, dia juga orang luar sepertimu.”
“Apakah dia memiliki roh di dalam tubuhnya juga?”
“Benar sekali, dan sekarang dia ini sedang berlatih mengendalikannya, mau lihat lebih dekat?”
“Tapikan itu...”
“Ayolah!” Krisna mendorong paksa Bima.
“Iya iya.. gak usah dorong-dorong gitu!”
Mereka mengendap-endap menuju tempat Laras.
Semakin mendekat, Bima mulai menyadari keindahan Laras. Dengan rambut terurai panjang bergelombang, perempuan itu menarik perhatian Bima.
__ADS_1
“Gimana? Cantik bukan Bim?”
“Yah.. kurasa begitu,” Bima sedikit malu dan memalingkan pandangan.
“Haha berteman baiklah dengannya, kalau bisa rebut harinya juga, ... Oh! sudah waktunya, aku harus pergi!”
“Pergi sana!”
“Oh ya..! hampir lupa, nanti malam aku akan berkunjung ke kamarmu, ada yang ingin kukatakan.”
“Terserah kau!”
“Jangan marahlah..! aku hanya bercanda,” ucap Krisna seraya pergi meninggalkan Bima yang menatap dirinya kesal.
...Apa-apaan dia ini?
Bima menghela nafas sebentar, lalu menghembuskan kembali.
...Karena terlanjur di sini lebih baik kulihat dia dulu, daripada rugi.
...Tidak, maksudku ini hanya pengamatan,
...Ya, pengamatan.
Bima kembali berbalik dan berniat melihat Laras.
...Eh? Tidak ada
...Kemana perginya Laras?
Saat Bima kebingungan, tiba-tiba Laras sudah berada di depannya.
“Ada apa? Tuan penguntit!?”
Meskipun kata-katanya cukup kasar, tapi suaranya masih cukup lembut di telinga Bima.
“Eh.. Hai..!” Bima tersenyum paksa.
“Penyusup ya?” Laras segera menghunuskan keris.
“Tidak, bukan..! kau salah paham!”
“Saat ini keraton sedang tutup, hanya ada keluarga kerajaan dan para abdi di sini, jadi tidak mungkin kau bukan penyusup..!”
“Sudah kubilang, kau salah paham..! dengarkan penjelasanku!”
“Katakan dalam dua kata!”
“Aku juga dirasuki.”
“Itu tiga kata.”
...
Pada akhirnya Laras mau mendengarkan penjelasan Bima.
Bima pun menjelaskan bagaimana dan kenapa dia bisa ke keraton dan sampai di tempat ini.
“Tapi tetap saja kau ini sedang melihatiku kan!?”
“Itu...”
...Aku tidak bisa menyangkalnya.
“Sudahlah terserah kau! aku mau lanjut berlatih-”
“Tunggu!”
“Apa lagi?”
“Anu.. aku Bima, kuharap kita bisa berhubuy baik,” Bima mengulurkan tangan untuk salaman seraya gugup dan menahan rasa malu.
“Laras,” gadis itu menggapai tangan Bima seraya tersenyum tulus.
...Bukankah Laras itu orangnya Jutek? tapi kok-
Kemudian Laras berjalan pergi. Namun, Bima masih saja tertegun di tempat.
...Aku benar-benar tidak mengerti isi pikiran perempuan.
__ADS_1