Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Kota Ngrowo


__ADS_3

Mentari pagi mulai bersinar di timur Gunung Wilis. Burung berkicau mengiringi sebuah mobil hitam yang berkendara. Udara dingin berubah menjadi butiran air embun yang hinggap di kaca.


Melewati lereng selatan Gunung Wilis, mobil tersebut bergerak ke arah timur Kota Trenggalek. Turun gunung, hingga tak terasa suasana sekitar sudahlah ramai.


Hingga Kemudian kelihatan dari jauh ada gapura yang besar. Sebuah pintu masuk yang menjadi patokan perbatasan antar kota. Seolah sedang menyapa, Gapura itu bertuliskan 'SELAMAT JALAN'


Wusshh...


Di saat mobilnya melewati perbatasan itu, Laras menoleh ke belakang dan melihat tulisan lagi di atas sana.


'SELAMAT DATANG DI KAB. TRENGGALEK'


“Tujuan kita selanjutnya masih cukup jauh, sebaiknya kita cari sarapan dahulu,” Wira memperhatikan sekitar untuk mencari sebuah rumah makan. Kemudian mereka pun menepi di sebuah warung makan yang sederhana.


Beda dari yang sebelumnya, kali ini di meja ada papan kecil yang berisi list makanan dan minuman. Di warung makan ini juga ada terdapat pelayan yang akan menghampiri ke meja makan.


“Menu makanan sudah tertera, silahkan memesan apa yang mas dan mbak inginkan!” pelayan datang dengan sebuah catatan di tangan. Lalu mereka membuat keputusan.


“Saya ulangi.. Empat ayam geprek, dua jus alpukat, dan dua jus jeruk... apakah ada pesanan yang lain lagi?”


“Tidak, terimakasih.”


“Baiklah, mohon tunggu sebentar..” Pelayan itu berjalan pergi.


“Apakah kalian tahu bahwa wilayah Tulungagung ini ada hubungannya juga dengan Baru Klinting?” Patih Wira membuka pembicaraan.


“Aku baru saja ingat, itu terjadi saat wilayah ini bernama Ngrowo.. Kalau gak salah tentang kisah Joko Baru bukan?” sahut Bima.


“Benar sekali..! Alasan yang membuat nama Tulungagung...”


Dikisahkan awalnya wilayah ini banyak sumber air yang tersedia. Air tergenang dimana-mana di tanah karena daratan yang tidak merata. Apalagi di saat musim hujan. Oleh karena itu tempat ini dinamakan Ngrowo, yang berarti 'rawa-rawa'.


Hingga suatu ketika ada seorang pemuda bernama Joko Baru yang turun dari Gunung Wilis. Dia pergi ke mengerikan air yang menggenangi Ngrowo dengan cara menyumbat sumber air yang ada lewat bantuan sebuah lidi dari pohon aren.


Sebenarnya Joko Baru adalah pemuda yang dikutuk menjadi ular oleh sang ayah. Dia hanya bisa berubah menjadi manusia untuk beberapa waktu. Orang-orang sekitar memanggil dia Baru Klinting. Ayahnya mengatakan bahwa bila ingin menjadi manusia sejati, Joko Baru harus mampu melingkarkan tubuhnya di Gunung Wilis.


Naasnya, masih kurang satu jengkal tubuh tersebut untuk melingkar sempurna. Alhasil Joko Baru menjulurkan lidahnya. Di saat bersamaan sang ayah memotong lidah Joko Baru. Secara ajaib, potongan lidah berubah menjadi tombak. Sedangkan Joko Baru sendiri tidak bisa menggunakan wujud manusia lagi.


Tulungagung, berarti pertolongan yang besar. Dalam bahasa Jawa, itu juga memiliki arti sumber air yang besar.


“Aku tidak begitu mengerti, tapi cerita itu sangat menakjubkan,” sorak Fatim.


“Jadi itu asal-usul Tombak Baru Klinting... aku baru tahu, tapi Bima..! Kenapa kau bisa tahu sejauh ini? Saat di Telaga Ngebel saja seolah tidak tahu apa-apa,” ucap Laras.


“Hehe.. Aku benar-benar kelupaan saat itu.”


“Mengejutkan..! Bagaimana kau bisa tau tentang semua itu? Apakah Bima membaca di internet?” tanya Wira.

__ADS_1


“Sebenarnya aku memiliki saudara di wilayah Tulungagung, merekalah yang memberitahuku,” Bima berkata dengan ekspresi aneh.


“Ada apa kau-?”


“Maaf menunggu...! Empat ayam geprek sudah siap,” pelayan yang tadi datang membagikan makanan.


“Wooaahh..!”


“Kelihatannya enak.”


“Sebentar saya ambilkan minumannya dulu,” sang pelayan pergi sekejap dan kembali dengan membawa empat minuman.


“Baiklah, Selamat makan!”


Mereka berempat menyantap makanan masing-masing. Tanpa kata yang terucap, tidak terasa makanan mereka sudahlah habis.


Glup... Glup...


“Ngomong-ngomong soal Tulungagung, aku jadi ingat dengan Kerajaan Majapahit,” Bima memutar-mutar sedotan yang berada dalam gelas.


“Benar juga ya, kota ini berdekatan dengan pusat Majapahit,” kata Laras.


“Salah satu reruntuhan peninggalannya pun berada di sini, maksudku di Boyolangu.”


“Apakah kalian ingin mampir ke sana?” tanya Wira.


“Tidak apalah, kan sudah kubilang kita ini juga sedang wisata.... Baiklah, aku akan pergi membayar dulu,” Wira beranjak pergi.


“Hey Laras...! Aku jadi tidak enak nih,” bisik Bima.


“Makanya...”


....


Setelah memarkirkan kendaraan, mereka berjalan hingga sampai ke gapura batu hitam. Sebuah pintu masuk untuk menuju Candi Gayatri. Beberapa meter mereka berjalan melewati lorong dan melihat reruntuhan.


“Wooaahhh..! Benar-benar peninggalan yang indah..! Yah.. meskipun sudah rusak tertelan waktu sih,” Bima memegangi bebatuan reruntuhan candi. Dia terlihat antusias dengan ini semua.


“Lihat..! Kepala dan tangan patung itu telah putus,” Fatim menunjuk pada sebuah patung yang di naungi oleh atap sederhana.


“Itukah arca Dewi Gayatri? Sosok figur perempuan hebat dibalik berjayanya Majapahit,” ekspresi Bima sangat memperlihatkan bahwa dia sangat senang ke sini.


“Apakah kau juga ingin pergi ke situs lain? Kalau gak salah masih ada beberapa candi dan sebuah goa di Boyolangu,” Wira memberi perhatian pada Bima.


“Tentu saja mau... Eh tapi, bukankah kita malah akan menjauh dari tujuan kita?”


“Sudah kubilang, nikmati saja perjalanan ini!”

__ADS_1


“Ahaha... Aku jadi semakin tidak enak.”


Wira hanya membalas dengan senyum hangat. Dia sendiri juga senang melihat seorang pemuda yang tertarik dengan sejarah.


Mereka pun juga pergi ke situs yang lain juga. Seperti Goa Selomangleng, Candi Cungkup, dan Candi Sanggahan. Tetap saja, Bima adalah yang paling semangat saat membahas tempat tersebut.


Mulai dari sejarah, etimologi, serta budaya setempat. Dia tersenyum bahagia saat berbicara mengenai itu. Bima sangatlah mencintai warisan nenek moyang.


Terakhir, tempat yang mereka kunjungi adalah Candi Dadi. Berada di Desa Wajak Kidul yang letaknya cukup strategis karena berada di tengah-tengah wilayah Tulungagung.


Lagi-lagi sebuah gapura hitam. Kali ini ada sebuah ukiran aksara Jawa berwarna putih di atasnya. Bima berdiri dan hanya bisa menatap karena tidak bisa membacanya.


“Apa ya itu bacanya?”


“Padahal kau suka sejarah, tapi tidak bisa membaca aksara Jawa?” kata Laras.


“Yaahh... Aku tidak begitu paham dengan sastra hehe..”


“Ehh.. Pantas saja kau salah masuk waktu itu.”


“Ahaha.. Kupikir kau sudah melupakan kejadian itu.”


Laras melihat gapura itu dan mencoba mengeja Aksara Jawa yang tertera, “Padepokan... Hyang... Aa...gung Wis..ku.. Petir? Oalah.. Padepokan Hyang Agung Wisnu Petir.”


“Aku tidak ingat bila Wisnu itu menggunakan elemen petir,” gumam Bima.


“Kalian berdua.. Jangan bengong saja..! Ayo masuk!” ucap Wira seraya membonceng Fatim.


Mereka berjalan naik ke sebuah bukit. Saat itu sudah melewati tengah hari. Namun, tidak terasa panas dikarenakan angin yang terus berhembus.


Sebuah papan bertuliskan Candi Dadi. Tidak jauh dari sana terdapat puing reruntuhan bangunan batu zaman dahulu.


“Wwooaa..! ke-aduh..” Bima terjatuh menyungkur di tanah.


“Hahaha... apa sih yang kau lakukan, Bima!?” Laras tidak bisa menahan tawa.


“Enggak..” Bima melihat kakinya, tetapi tidak ada sesuatu yang bisa menyandung di sana.


“Hoy..! Ayo..! Entar ditinggal lho..!”


“Iya iya..” Di saat Bima mulai beranjak, dia melihat sesuatu cepat di belakangnya.


Sontak Bima langsung mengejar beberapa langkah. Tidak ada yang ia dapatkan di sana. Dia hanya lingak-linguk ke sekitar.


“Ada apa, Bima!?” teriak Wira.


“Tidak, bukan apa-apa!”

__ADS_1


...Hanya perasaanku saja?


__ADS_2