Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
5 Mata Air Suci


__ADS_3

Karena suatu alasan Ratu Laut Utara menyetujui untuk bekerja sama dengan kerajaan. Kedua pihak akan saling berbagi informasi perkembangan dedemit pengganggu.


Setelah itu Bima dan Kresna pamit untuk kembali ke kerajaan. Di langkah pertama, Kresna tersenyum. Bima tidak begitu mengerti maksud sikap tersebut. Lalu...


“Hwaaahhh...! Seperti kembali ke rumah saja.”


Bbzzztt..!! Bbzzztt..!!


Bima melihat handphone-nya, tapi tidak ada tanda notifikasi.


....Bukan dari handphone ku?


Bima membuka laci di bawahnya dan melihat handphone milik orang lain.


“Tunggu, bukankah ini...?” Bima tersadar bahwa itu adalah milik Laras dan dia lupa mengembalikannya.


...Nomor tidak dikenal? Angkat tidak ya?


Di saat Bima sibuk berpikir, panggilan tersebut keburu terputus. Kemudian dia memutuskan untuk pergi mengembalikan handphone itu.


.....


Bima berjalan-jalan di area istana dan berharap menemukan Laras pagi ini. Beberapa saat kemudian, ada pria berkostum burung yang menarik perhatiannya.


Tidak semua bagian tubuhnya tertutup. Hanya beberapa bagian saja yang ditutup oleh kain dan bulu yang berwarna coklat.


Bima pun segera menghampiri pria tersebut. Dia menatapi tubuh yang ditutupi bulu. Saat ditatapi dengan serius, pria itu tetap diam seolah tak peduli.


Bima semakin penasaran dengan apa yang dilihat. Perlahan, dia berniat untuk menyentuh bulu berwarna kecoklatan itu.


Wuusshh!!


Sayap itu dikepakkan hingga mendorong Bima ke belakang. Dia hanya bisa heran melihat manusia burung yang tidak bereaksi lebih lanjut.


“Makhluk apaan sih kau ini?”


“Dia ini Garuda,” mendadak Kresna muncul dari samping.


“Garuda katamu?”


“Ya, wujud asli Garuda itu bisa dikatakan manusia setengah burung.”


“Eeehhh... Baru tahu, kupikir hanya burung mistis yang besar gitu.”


Garuda menoleh ke arah Bima dengan tatapan yang tajam.


“Sepertinya dia marah dengan ucapanmu barusan.”


“Meskipun tidak berbicara, Garuda bisa mengerti juga ya.”


“Dia sebenarnya juga bisa berbicara lewat telepati, tapi mungkin ada sesuatu yang telah terjadi.”


“Sesuatu seperti apa?”


“Entahlah, mungkin itu sangkut pautnya dengan turunnya dia di Bumi, benar begitu kan?”


Garuda mengangguk senang ketika Kresna mengelus kepalanya.

__ADS_1


“Hhhmm kelihatannya Garuda patuh denganmu, Kresna.”


“Tentu saja lah, apa kau lupa bahwa aku ini dulunya seorang inkarnasi dewa.”


“Sifatmu yang tidak mencerminkan seorang dewa itu membuatku sampai pangling.”


Bbbbzzz... Bbbbzzz..


Lagi-lagi nomor tadi menghubungi handphone Laras. Bima pun berniat untuk menjawab sekira saja penting.


Kresna mengisyaratkan tangan seolah menyilahkan Bima untuk menjawab telepon itu.


“Halo?”


Krsseek.. Kresseek...


"Akhirnya dijawab nih mbak."


"Udahlah kamu aja yang bilang."


Terdengar dua suara perempuan dari panggilan itu. Bima tidak begitu mendengarnya dan mencoba mengecek kembali, “Halo..?”


"Halo.. Ini Mas Bima Bukan..?"


“Eh..?”


"Saya Fatim, Mas..!"


“Fatim..? Bagaimana bisa...? Berarti Laras tau ini?”


“Ahaha begitu ya.. Lalu ada keperluan apa?”


"Jadi gini Mas..."


.....


Bima pergi ke kamar dan menyiapkan beberapa keperluan berpergian. Lalu dia masukkan ke dalam sebuah tas.


Setelah itu, Bima mencangklong tas tersebut dan pergi ke sebuah tempat. Di sana dia melihat Laras dan Fatim yang sudah bersiap.


“Jadi, sebenarnya kita ini mau kemana?” tanya Bima.


“Sebelum bertanya, sebaiknya kau mengembalikan hak orang lain,” sahut Laras.


“Oh iya, aku kelupaan lagi,” Bima menyerahkan handphone milik Laras itu.


“Udah berapa hari coba...”


“Hahaha maaf.. maaf..”


“Ngomong-ngomong kakak semuanya, Fatim penasaran... Kenapa handphone Mbak Laras bisa ada di Mas Bima?” Fatim menengah di antara mereka.


“Eh?”


“Yahh kalau itu sih...”


Bima dan Laras pun mengingat malam itu. Mereka tersipu sama lain dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Fatim. Di saat kebingungan itu...

__ADS_1


“Kalian semua sudah siap ya,” Patih Wira datang ke arah mereka. Perhatian Fatim teralihkan olehnya.


“Hhhuuufff...”


“Selamat..”


“Kenapa kalian berdua? Seperti baru saja mengalami hal yang menyeramkan,” ucap Wira.


Kedua remaja itu mencoba menyangkal perkataan itu.


“...Yang lebih penting paman, kemana kita sebenarnya akan pergi?” tanya Bima.


“Nanti kujelaskan di perjalanan.”


Dengan membawa barang-barang yang telah disiapkan sendiri, mereka berjalan mengikuti Wira. Kemudian sampai ditempat sebuah mobil yang terparkir.


Setelah meletakkan barang-barang tersebut di bagasi belakang mobil, mereka segera masuk ke dalam mobil. Bima bersanding dengan Wira yang menyetir. Sedangkan Laras bersama Fatim di belakang.


Jentikan kunci yang membuka operasi mesin. Mobil itu bergetar diikuti suara yang lirih. Kendaraan roda empat itu perlahan bergerak dan semakin cepat beberapa saat.


“Aku merasa ini hanyalah liburan keluarga,” gumam Bima seraya melihat cermin yang berada di atas.


“Tidak salah bila Bima merasa seperti itu... memang benar, kita akan liburan... setidaknya untuk bersenang-senang,” Wira tersenyum seraya menatap mereka.


“Tapi adikku...”


“Meskipun aku bilang liburan, tidak sepenuhnya begitu, ini tetap ada hubungannya dengan perkembangan untuk melawan para dedemit... Kalau begitu, aku akan mulai menjelaskannya...”


Zaman dahulu hidup seorang sastrawan, ahli pengobatan, sekaligus memiliki ilmu kejawen yang tinggi. Dia berdarah turun dari negeri Tiongkok. Chen De Xiu, orang-orang hebat Jawa menyebutnya Tan Tik Siu.


Lahir di Surabaya dan tumbuh di Trenggalek, Jawa Timur. Pada masanya, ia sangat dihormati kaum pribumi maupun penjajah. Karya sastra yang Chen De Xiu tulis juga masih ada hingga sekarang.


Kebanyakan buku itu berisi tentang ilmu tentang pengobatan, serta pendekatan diri kepada dzat yang menguasai alam semesta ini.


Chen De Xiu dikenal memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Dia dapat menyembuhkan penyakit seseorang dengan media air.


Air tersebut hingga kini masih belum habis. Para masyarakat setempat menyakralkan tempat air itu disimpan. Dikatakan ada lima tempat mata air yang disakralkan oleh Tan Tak Siu.


Kebetulan semua tempat itu berada Jawa Timur. Pertama di Sumberagung, Rejotangan, Tulungagung. Tepatnya di depan sebuah kelenteng kecil yang berjarak 200 meter dari gua yang digunakan pertapaan oleh Tan Tik Siu.


Kemudian yang kedua juga berada di Tulungagung. Berada di lereng Gunung Wilis. Yaitu di Dusun Klampok. Karena tempat yang terlihat angker, jarang orang yang berani ke sana.


Selanjutnya juga berada Gunung Wilis. Te.patnya di sisi lain lereng mata air yang sebelumnya. Lokasinya bernama Desa Durenan, Trenggalek. Berbeda dengan di Tulungagung, mata air ini sering dikunjungi masyarakat.


Mata air keempat berada di Kediri. tepatnya di tengah sawah Desa Pacuh. Siang hari tempat itu ramai dikarenakan petani yang memang bekerja di sana. Mereka menggunakan air tersebut hanya untuk membasuh muka atau membersihkan badan. Tidak ada yang berani menggunakan air untuk mengaliri sawah. Konon, ketika malam hari patung yang berada di dekat sumur itu akan mengeluarkan suara. Sehingga saat matahari terbenam, tidak ada seorangpun di sana.


Terakhir, tempat mata air terjauh bila dijangkau dari Yogyakarta. Berupa sumur Arteris yang berada di Kota Banyuwangi. Tempat itu dinyatakan sakral dan sering digunakan sebagai pemujaan roh.


“...Banyuwangi? Bukankah itu Jawa paling Timur!?” ucap Bima.


“Makanya aku menyuruhmu untuk membawa pakaian untuk tiga sampai lima hari,” balas Wira.


“Untuk Chen De Xiu, apakah kita akan melawan wujud demit orang itu?”


“Kemungkinannya kecil, karena dia meninggal di luar Pulau Jawa.”


Mobil hitam mereka menuju ke arah matahari yang sedang naik keatas. Tujuan pertama mereka, adalah Trenggalek.

__ADS_1


__ADS_2