
Hari masihlah gelap. Tetapi di ujung timur mulai ada cahaya kemerahan. Meskipun tinggal satu mata air, ini akan menjadi yang terlama. Karena jarak Kediri menuju Banyuwangi mencapai 360 km.
Di dalam mobil mereka masih terlihat segar bugar. Kecuali Fatim yang tertidur. Perjalanan ini mungkin cukup berat baginya.
“Kau tidak tidur, Bima?” tanya Wira.
“Mana mungkin aku bisa tidur pagi-pagi begini.”
“Katanya tadi rasanya seperti gak tidur sama sekali.. Ya sekaranglah waktunya.”
“Hah.. Aku gak merasa ngantuk, dipaksa pun tidak berpengaruh apa-apa.”
Sejenak mereka mengambil nafas untuk saling bergurau. Melegakan pikiran dari hal-hal yang berbau mistis. Tetapi ingatan tentang kekacauan ini tetaplah terngiang-ngiang.
Wira merendahkan nada suara, “kalian tahu bukan, resiko hidup di Pulau Jawa?”
“Maksudnya diganggu dedemit?”
“Kalau itu memang benar, tetapi apakah kalian pernah berpikir kehidupan setelah kematian?” ucapan Wira semakin mendalam. Latar Belakang hitam menghiasi kata-katanya.
“Ah itu.. Soalnya... Aku jarang berpikir sampai di sana, tapi bukankah melakukan hal yang baik itu sudah cukup?”
“Bukan itu maksudku, bila jiwamu hilang dimakan dedemit... Maka tidak ada yang namanya reinkarnasi, apalagi kehidupan surgawi yang didambakan.. Membayangkannya saja membuatku merinding.”
“Paman benar..! Mengingat itu rasanya ingin pergi dari tanah ini, tapi...”
“Ini bisa dibilang pertarungan antara manusia dan malaikat jatuh... Yang kalah akan lenyap, dan tidak ada lagi kehidupan kedua.”
Mereka diam sejenak. Perkataan Wira membuat suasana menjadi canggung. Karena pada dasarnya kematian adalah hal yang mengerikan. Apalagi bila menjadi akhir segalanya.
“Tapi.. Aku yakin, kita semua pasti bisa melewati ini... Bayaran yang besar itu tidak akan sia-sia,” Bima tersenyum melihat ke atas seolah berharap kepada bintang-bintang di sana.
Laras diam menatap sedu ke luar jendela. Dia juga paham betul dengan keadaan ini. Mereka tidak bisa lari dari kenyataan.
“Suatu saat, pasti...”
.........
Saat menuju Banyuwangi, tidak lupa mereka mampir untuk sarapan dan mengisi bahan bakar. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai tujuan.
Matahari sudah bergerak condong ke arah barat. Perlahan mobil mereka memasuki halaman sebuah pendopo yang besar. Di depan bertuliskan Sabha Swagata.
Mereka mencari tempat parkir dan segera keluar dari mobil. Mereka pergi setelah mengambil tas yang berisi barang-barang.
“Ini...?”
__ADS_1
“Wah.. Menakjubkan.”
Berbeda dari yang sebelumnya, tempat ini tidak terasa angker sama sekali. Bahkan tidak sedikit orang yang lalu-lalang. Bukan karena alasan, karena memang area ini terbuka untuk umum. Jadi banyak wisatawan yang berkunjung.
Lampion berwarna putih bergantungan di pohon yang besar. Rumah gardu dibangun indah di setiap petak lahan. Sekilas, pemandangan hijau ini mirip dengan Keraton Yogyakarta.
“Kamu datang lagi, Pak Wira..!” seorang pria datang menyambut.
“Lama tidak bertemu, Pak Anang... Kerjaannya lancar-lancar saja kan pak?” Wira menjabat tangan pria tersebut.
“Kurang lebih begitulah, meskipun kadang ada kendala juga.”
“Perkenalkan pak, mereka berdua muridku, Laras dan Bima.. Sedangkan ini putriku, Fatim.”
“Senang bertemu dengan kalian semua, dan selamat datang di Pendopo Banyuwangi ini.”
“Kami juga, Pak Anas,” Bima dan Laras membalas sapaan itu dengan tersenyum seraya sedikit membungkukkan badan.
“Saya kaget lho.. Tiba-tiba anda telpon dan berkata ingin datang dan menginap di sini,” kata Pak Anas.
“Hahaha... Bukankah hal yang wajar bila kami ke sini kembali?”
“Iya sih.. Hhhmm baiklah, sebelum pergi ke mata air, sebaiknya letakkan barang-barang kalian ke penginapan.”
Seorang perempuan datang. Dia menunjukkan Laras dan Fatim tempat penginapan. Sedangkan Wira dan Bima bersama dengan Pak Anang tersebut.
Daun-daun melengkung menyambut mereka sepanjang jalan. Sinar matahari masuk samar-samar di tempat itu. Kemudian sampailah mereka di sumur tua berdiameter kurang dari 1 meter.
Tinggi dinding lingkaran tidak mencapai lutut. dua buah kayu yang sudah mulai gapuk berdiri tegak menggapit batu dinding. Kedua kayu tersebut dihubungkan oleh satu kayu yang lebih kecil di atas.
“Gunakan ember dan tali yang berada di sana!” tunjuk Pak Anang pada sebuah pojokan.
“Serahkan padaku!” Bima mengambil ember yang sudah diikatkan tali panjang itu. Kemudian dia mengambil air di sumur dengan bantuan benda tersebut.
“Seperti kata legenda.. Tidak hanya segar, air ini juga sangat harum,” Laras menikmati aroma kedua tangannya.
“Tunggu sebentar, aku memiliki sebuah pertanyaan?” kata Bima.
“Tanyakan saja..!” jawab Pak Anang.
“Banyuwangi berarti air yang harum, kalau gak saja cerita tentang kisah Sri Tanjung dan...” Bima mendengung beberapa saat karena lupa.
“Sidapaksa..” lanjut Laras.
“Nah... Cerita merekalah yang membuat air ini menjadi harum, lalu pertanyaannya apa hubungan mereka dengan Tan Tik Sioe?” Bima berdiri seraya menoleh kepada Wira dan Pak Anang.
__ADS_1
“Tidak ada yang tahu pasti, ada yang bilang Tan Tik Sioe adalah orang yang menemukan bukti dari kisah Banyuwangi... Dan ada juga yang bilang dia hanyalah pengarang dari cerita tersebut, jadi air yang wangi ini adalah perbuatannya.”
“Hadeh... Rumit banget ya dunia ini.”
........
Malam ini cukuplah indah. Bintang bersinar membuat kehidupan di bumi ikut tersenyum. Di bawah cahaya indah itu, Bima duduk santai bersandar pada dinding Rumah Gardu.
Ketenangan ini membuat dirinya lupa akan semua yang dilalui. Keadaan yang sangat cocok untuk melepas penat serta membawakan kedamaian.
“Bima, ambil ini!” Wira melemparkan sebotol minuman. Terkejut, Bima gagal menangkapnya dengan sempurna.
“Kau lengah, Bima!” sambung Wira seraya tersenyum dan duduk di samping Bima.
“Serangan itu sangat tidak terduga, kedamaian ini membuatku lupa semuanya.”
“Tepat sekali..! Itulah kehidupan, di saat seseorang berpikir telah mendapat segalanya.. Di saat itu pula dia akan kehilangan yang telah didapatkannya,” Wira meneguk air botol lain yang ia pegang.
“Bila sudah begini, siapa menurutmu yang bisa disalahkan?” Bima memegang erat botol dengan kedua tangan, seraya menatap dalam ke arahnya.
“Apaan? Kau mau mengeluh pada para dewa di sana?”
“Aku tidak tahu, aku benar-benar tidak mengerti.”
“Yah wajar sih kalau Bima berpikir seperti itu, terkadang kehidupan ini memang sulit untuk dipercaya.”
Tik.. Tik.. Tik..
Rintikan air turun dari langit. Gerimis membuat keadaan di sana semakin getir. Namun, seketika perasaan buruk hilang saat lampion yang bergantungan itu menyala.
“Mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakannya padamu,” gumam Wira.
“Apa maksud paman?”
“Seharusnya kamu ingat ketika Bima bertanya tentang sesuatu yang menggangguku,” itu adalah senyuman yang dipaksakan dari Wira.
“Aku kelupaan, kejadian kemarin malam membuatku tidak ingat tentang itu.”
“Haha kalau begitu.. Aku menceritakannya, lagipula kau juga akan mengetahuinya nanti...”
Jeda sejenak, Wira menghirup nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskan kembali secara perlahan.
“Malam lusa, terjadi penyerangan di Keraton Dan Patih Kresna mengabariku bahwa...” mata Wira berdenyut. Bibir yang ikut bergetar, membuatnya sulit melanjutkan kalimat itu.
“Paman Wira..?” Bima menggeser dirinya untuk lebih dekat dengan Wira.
__ADS_1
“...Putri pertama Hamengkubuwono, ibu dari Fatim.. Kanjeng Mayu, dia dinyatakan meninggal dunia karena kejadian itu.”