Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Misi Pertama


__ADS_3

Pada siang hari, tepat beberapa waktu setelah Bima selesai latih tanding dengan Laras. Laki-laki remaja itu duduk di kasur berpikir cemas terhadap sesuatu.


“Jadi selama ini kau melihatnya?”


'Ya, aku selalu melihat semua perkembanganmu.'


“Yang benar saja..! meskipun demit, tapi kau ini tetap perempuan!” Bima berdiri sambil berteriak keras di kamar.


'Jangan terlalu dipikirkan! lagipula itu sudah terlanjur, ngomong-ngomong punyamu-'


“Berisik..!” Bima kembali duduk perlahan seraya memegangi kepala, “mana mungkin aku tidak memikirkannya...”


Kamar mereka tiba-tiba hening untuk sesaat. Hingga kemudian Nyi Blorong memulai pembicaraan.


'Jika sampai sekaget itu, bukankah berarti kau sama sekali tidak mengenalku?'


“Lebih baik tidak mengenal sama sekali.”


'Sudahlah, hentikan sifat kekanakanmu itu.”


“Hhaahh...” Bima menghembuskan nafas lelah. Tidak ada pilihan lain selain menerimanya. Lagipula mereka harus mengerti satu sama lain pikirnya.


“Jadi, apa yang harus kulakukan untuk lebih mengenalmu?”


'Pertama, baca-baca saja dulu tentangku di internet!'


“Meskipun hantu, kau paham juga beginian.”


'Tentu saja lah, aku sudah lama hidup berdampingan dengan manusia.'


Bima membuka Handphone dan mencari tahu tentang identitas Nyi Blorong. Dia membaca tulisan di web untuk mengumpulkan informasi.


Tertulis bahwa Nyi Blorong adalah seorang putri dari penguasa Laut Selatan. Dia adalah perwujudan wanita yang sangat cantik dengan tubuh ular dari bagian pinggang ke bawah.


Bima terus membaca asal usul Nyi Blorong lebih lanjut di internet. Namun, beberapa saat kemudian dia menjatuhkan ponselnya. Bima menatap kaget bukan kepalang.


'Ada apa?' tanya Blorong.


“Hoy.. oy..! Itu tadi serius?”


'Tentu saja.'


“Jadi kau melakukannya? Kau pernah melakukan itu?”


'Iyalah.'


“YANG BENAR SAJA..!” Bima berteriak hingga suaranya terdengar dari luar.


'Memangnya salah?'


“Mestilah.. Jangan pura-pura bodoh..! Mana mungkin kau tiap malam Jum'at Kliwon melakukan hal seperti itu dengan penggunamu!” Bima memaksakan ucapannya dengan sedikit malu.


'Kan memang tugasku untuk menggoda manusia, lagipula sama-sama untung.'


“Dan jangan bilang aku telah...” Bima masih ragu-ragu untuk mengatakan hal senonoh. Karena meskipun hantu, dirinya tetap menganggap Blorong sebagai perempuan.


'Tenang, melihatmu saja sudah cukup untukku, terlebih ritual seperti itu hanya untuk pesugihan saja kok.'


“Kalau persoalan tumbal?” tanya Bima dengan sedikit khawatir.


'Begitu pula dengan tumbal.'


“Hah.. syukurlah, kupikir kau menggunakan keluargaku sebagai tumbal,” jantung dan paru-paru Bima kembali beroperasi dengan normal.


“Lalu, sebenarnya apa tujuanmu?”


Blorong tidak menjawab.


“Halo.. Nyai..?

__ADS_1


'Ah.. iya, maaf aku sedang berpikir sesuatu.'


“Jangan bengong entar dirasuki...” Bima baru sadar bahwa yang diajak bicara adalah seorang demit. Jadi tidak mungkin demit kerasukan demit.


'Ha? Dirasuki?'


“Bukan apa-apa,.. aku hanya ingin memastikan apa tujuanmu sebenarnya?”


'Ah itu.. aku hanya disuruh oleh ibundaku, awalnya aku menolak karena pada dasarnya aku ini adalah musuh manusia.'


“Jadi kenapa kau menerimanya?”


'Pada akhirnya aku berpikir, jika manusia punah, maka aku tidak bisa mengganggu mereka lagi.'


“Hanya itu?”


'Ya, hanya itu.'


“Baik terserahlah, yang penting kau bisa membantuku untuk menyelesaikan semua ini.”


'Ya, tentu saja tuan, aku akan melakukannya.'


“Aku senang kau bersedia, tapi tolong jangan panggil aku tuan! Itu sedikit memalukan.”


'Apaan? Tubuhmu kekar, usiamu juga sudah cukup, tapi masih saja pemalu.'


“Berisik!”


Pada akhirnya Bima menerima keadaan ini. Karena dia sendiri juga tidak bisa mengelak.


Setelah berbicara dengan Blorong, Seperti sore biasanya Bima membaca buku primbon kejawen.


Karena terdapat demit di dalam tubuh, Bima tidak perlu lagi melakukan ritual untuk mendapatkan ajian yang terdapat buku. Dia hanya perlu mengendalikan kekuatan tersebut.


Nyi Blorong juga membantu Bima belajar. Dia menjelaskan kata-kata yang tidak dimengerti oleh pemuda tersebut.


Sampai kemudian, bintang-bintang kecil menggantikan sang Surya di langit.


“Sekarang giliranmu, Bima!” ucap Kresna dibalik pintu kamar Bima


“maksudmu?”


“ikutlah denganku?”


Seekor burung berkicau keras mengitari istana keraton. Kemudian turunlah burung tersebut ke tanah, hingga jelaslah ukuran hewan itu sebesar manusia.


Prabu Hamengkubuwono keluar diikuti para abdi. Beliau menghampiri burung tersebut yang terlihat jinak dihadapannya.


“Burung apa itu? Besar sekali?”


Bima yang datang bersama Kresna seketika melongo melihatnya.


“Itulah Burung Garuda, sosok hewan setengah dewa yang turun langsung dari kahyangan, dan kemudian menjadi peliharaan raja,” jawab Kresna.


“Jadi posisi setengah dewa itu membolehkannya ikut campur dalam urusan manusia?”


“Kalau itu.. aku tidak yakin.”


Meskipun para mata yang melihat tidak ada yang paham, tetapi mereka tahu bahwa sang raja sedang berbicara dengan Garuda.


Setelah selesai berkomunikasi, Prabu Hamengkubuwono bertitah :


“Para Patih lain sedang tidak ada, oleh karena itu masalah ini aku percayakan pada kalian yang tersisa.”


“Dengan segenap jiwa, Prabu..!” para abdi dalem menjawab dengan serempak.


“Tempatnya berada tepat di sebelah barat, ada sebuah sungai yang cukup besar dengan hutan lebat di sekitar, susuri pesisir sungai tersebut sampai bersih!”


“Laksanakan, tuan..!”

__ADS_1


Garuda kembali terbang ke angkasa, sedangkan sang prabu kembali memasuki kediamannya. Di saat yang sama, para abdi sibuk mempersiapkan keberangkatan.


“Kau ikut bukan, Krisna?” tanya Bima.


“Tidak bisa, aku harus menjaga keluarga kerajaan, akan gawat jika terjadi apa-apa di sini.”


“Begitu ya..”


Di sisi lain, seorang wanita pelayan sedang menarik-narik perempuan yang memaksa pergi.


“Kamu tinggal saja Laras, Biar para pria yang menangani ini!”


“Tidak, aku juga harus pergi!” Laras berusaha melepas genggaman pelayan tersebut.


“Jangan pergi! Anda ini perempuan, lihat..! semua yang di sana hanyalah laki-laki.”


“Aku tidak peduli, lagipula mereka tidak akan macam-macam denganku.”


“Tetap saja tidak bisa,” pelayan masih enggan mengizinkan Laras.


“Kalian berdua, tenanglah..!” Kresna mendekati mereka berdua diikuti oleh Bima.


Setelah berbincang beberapa saat dengan Kresna, akhirnya Laras diperbolehkan untuk mengikuti pertempuran.


Sekitar enam puluh orang berangkat menuju tempat yang dikatakan. Mereka ke sana menggunakan mobil pickup tertutup di bagian belakang, yang juga terdapat dua kursi panjang berhadapan di dalamnya.


Adapun salah satu mobil hanya terisi lima orang; sopir dan pendampingnya, serta tiga penumpang di belakang.


Ketiga penumpang tersebut ialah Bima, Irwan, dan Laras.


“Hanya tiga?” ucap Bima yang duduk di sebelah Irwan.


“Tentu sajalah, jika banyak orang maka akan canggung baginya,” bisik Irwan seraya melirik Laras yang duduk berjauhan di kursi lain.


“Benar juga.”


Setelah perkataan singkat itu, suasana terasa hening. Hanya suara kendaraan mobil yang terdengar di dalam.


Ini terasa sangat canggung bagi Bima. Dia pun segera memikirkan bahan pembicaraan. Hingga kemudian menemukan suatu topik.


“Hey Irwan..! Sebenarnya apa yang akan kita lawan? dilihat dari persiapannya, ini berbeda dari sebelumnya.”


“Pertanyaan yang bagus, dengarkan baik-baik!”


Laras menoleh dan mulai tertarik dengan pembicaraan mereka berdua.


Irwan menjelaskan bahwa ada tiga jenis demit yang akan dilawan. Pertama demit normal, tidak bisa berpikir dan bergerak lambat.


Kedua demit abnormal. Mereka juga tidak bisa berpikir, tetapi gerakannya cukup cepat dan liar.


Ketiga demit tingkat menengah. Tingkat paling awal untuk demit yang bisa berpikir, kekuatannya jelas lebih sakti dari yang sebelumnya.


“Apakah ada jenis demit yang lain?” tanya Bima.


“Ada, tapi untuk saat ini siapkan saja mentalmu!”


Bima pun sadar, yang akan ia hadapi adalah pertempuran atau bisa dikatakan perang. Nyawa pun jadi taruhan di sini.


“Haahh..”


Dia menggenggamkan kedua tangan di atas paha sebagai bentuk memantapkan diri.


Irwan berkata lagi :


“Tidak semua demit merasuki manusia, mereka terkadang hanya menyerupai.. tapi bila berhasil merasuki sepenuhnya, jangan segan-segan untuk membunuhnya!”


“Ap-”


Cciiitt...

__ADS_1


Mobil yang mereka naiki berhenti. Tidak ada lagi suara kendaraan, yang artinya mereka sudah sampai.


Sebelum keluar dari mobil, Irwan menegaskan kembali, “Ingat kata-kataku tadi!”


__ADS_2