Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Awal Tragedi


__ADS_3

Sore hari di Universitas Gajah Mada, seperti biasa Bima mengakhiri kuliahnya dengan pergi ke perpustakaan.


Buk...


Bima menutup buku Babad Tanah Jawa. Raut mukanya menandakan dia telah puas membacanya.


“Haahh.. Akhirnya, empat hari berturut-turut selesai juga.”


“Emangnya lu percaya dengan cerita seperti itu, Bim?” tanya Reno, seorang pemuda yang tak lain adalah teman baik Bima.


“Kesampingkan percaya atau tidak, tapi buku ini sangatlah menarik lhoo..!”


“Ah.. begitu ya.”


Bima menatap tangannya yang memegang buku dengan mata sedu.


...Aku sendiri juga tidak ingin mempercayai buku ini, tapi-


“Udah larut nih, mau pulang sekarang?” Reno memegang pundak Bima yang sedang melamun.


“Wa.. haaa..!!”


“Kenapa? Anda masih sadar tuan muda? Ataukah sedang memikirkan sesuatu?”


“Aahh.. bukan, ayo pergi!”


“....”


Setelah mengembalikan buku, Bima bergegas keluar dari perpustakaan. Kemudian langsung pulang menuju rumahnya yang tak jauh dari universitas.


Kreek...


Bima membuka pintu perlahan. Dia melihat adiknya, Anggun sedang belajar di ruang tamu.


“Lagi kerasukan apa dik? Akhir-akhir ini kok rajin banget!”


“Apa itu pujian?” Anggun tidak begitu memikirkan perkataan Bima.


“Haha.. mungkin.”


Kemudian Bima berjalan menuju kamarnya.


...


Bima kembali ke ruang tamu dengan membawa tas yang berbeda.


“Lho!? mau berangkat lagi mas Bim?”


“Begitulah, seperti biasa mau fitness.”


“Eeeehhh... setidaknya makanlah dulu!”


“Hhhhmmm?”


Bima menatap lama Anggun dengan penasaran. Mereka berdua terdiam satu sama lain. Tatapan Bima membuat Anggun gugup sekaligus bingung.


“A-a-apa, mas?”


“Hhhhmmm.. kok aneh ya,” Bima tersenyum jahil.


Anggun segera memalingkan muka dan melanjutkan belajarnya. Dengan menahan kesal, dia berdiam seribu kata.


“Kalau begitu aku berangkat, baik-baik di rumah!”


“Kamu pikir aku ini anak kecil apa?”


Bima berjalan keluar dan menutup kembali pintu rumah. Dengan mengendarai motor, dia pergi menuju tempat fitness.


...


Bima memulai kegiatannya dengan melakukan peregangan sebentar dilanjutkan menggunakan mesin chest press.


...Apakah kekuatan yang kumiliki ini benar-benar nyata? Adakah orang lain yang memilikinya juga?

__ADS_1


Melamun tanpa sadar, Bima menggerakkan tangannya dengan kasar.


Glup.. Glup..


Seorang pria berotot kekar meminum botol air sembari mendekati Bima, “Apa yang sedang kau pikirkan, jagoan?”


“E-eh.. apa aku terlihat memikirkan sesuatu?”


“Ya, terlihat jelas bagaimana caramu menggerakkan tangan.”


“Begitu ya, ... memang akhir-akhir ini ada sesuatu yang menggangguku,” Bima melepas pegangan tangannya.


“Jika tidak keberatan, bicarakan saja denganku!”


“Maaf...”


“Tidak bisa ya... sudahlah, yang jelas kau pasti akan menemukan jalannya.”


“Ya, terimakasih.”


Bima pun memutuskan pulang lebih awal. Setelah mandi di pemandian tempat fitness, dia segera kembali ke rumah.


Memasuki ruang tamu, Bima melihat Anggun yang sedang tertidur di sana. Dengan buku yang masih terbuka, Anggun terlihat seperti kelelahan.


... Ya ampun, jika lelah setidaknya tidurlah di kamarmu.


“Anggun..! Bangunlah..!”


“Anggun..?” Bima mendekat dan mulai menggerak-gerakkan tubuh Anggun.


“Aku lapar...”


“Kamu mengigau?”


“Lapar.. Makanan.. Mas Bima..!”


“Anggun mau diambilin makanan?” jawab Bima agak gugup.


“Hhaaahh...” Anggun mulai menggerakkan kepalanya.


Keputusan yang tepat, karena sesaat setelah itu Anggun berusaha menyerang Bima. Atau lebih tepat, memakan sosok kakaknya itu.


Dengan terkejut, Bima menatap adiknya yang terlihat berbeda. Mulut yang nyaris saja melahap tangannya, mengeluarkan sepasang taring.


... Entah perasaanku saja atau bukan, aku merasa rambut Anggun terus bergerak seperti diterpa angin.


Bima masih terpaku dengan perubahan Anggun. Tapi dia juga tetap berpikir, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.


Selama ini Bima selalu memikirkan ini, kenapa dia memiliki sesuatu yang tidak memiliki orang lain?


Setelah melihat Anggun, Bima sekarang yakin bahwa sesuatu yang mustahil itu memanglah nyata. Ya, kekuatan ghaib benar-benar ada.


... Sepertinya aku memang harus menggunakan itu.


... Aku akan menyelamatkanmu, wahai adikku.


“Gwraahh...!” Anggun mencoba menerkam Bima.


Dengan sigap Bima melompat ke samping. Serangan awal berhasil dihindari.


Selanjutnya dengan tanpa jeda, Anggun langsung melompat lagi ke arah Bima.


Kali ini Bima tidak bisa berkutik, gerakan itu sudah bukan lagi gerakan manusia. Anggun berhasil mendominasi pertarungan dan membuat Bima terjatuh dalam terkaman.


... Kuat, padahal aku sudah melatih tubuhku-


Bima yang tidak berkutik dengan terkaman Anggun, berusaha sekuat tenaga menahan dengan kedua tangan.


“Anggun..! Kamu dengar aku!? Hoy.. sadarlah!”


Kata-kata yang percuma.


... Jika benar ada, perlihatkan dirimu.

__ADS_1


Sssstt.. Sssstt..


Entah dari mana asalnya muncul dua ekor ular yang menghadap ke arah mereka berdua.


Dilihat dari tubuhnya jenis ular itu tidaklah beracun, tapi bisa melakukan lilitan yang sangat kuat.


Ular itu segera menyerang. Sulit menggerakkan tubuh, cengkraman Anggun terlepas.


Kedua ular tersebut memutar dan membelit Anggun. Bima menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri.


Rambut Anggun yang terurai menjalar masuk di antara lilitan ular.


Sring..


Tubuh ular tercerai-berai dan menghilang akibat tebasan rambut tajam milik Anggun.


Sembari rambutnya melambai-lambai, Anggun perlahan bangkit dengan gaya yang aneh.


Tidak memberi waktu untuk berpikir, Anggun mengibaskan rambutnya yang memanjang ke arah Bima.


Dengan tubuh dikerumuni rambut, ditambah kedua tangan dan kaki terkekang oleh itu, punggung Bima ditabrakkan ke tembok.


Anggun berjalan perlahan mendekati Bima yang masih terikat oleh rambutnya.


“Ggwwaahh...”


Anggun tersenyum mengerikan seraya memegangi dagu Bima.


Ekspresi takut dan keputusasaan terpampang pada wajah Bima seolah mengatakan 'kakak macam apa aku ini?'


“Ya, di sana! di dalam rumah itu!”


“Permisi!”


Sring..


Seorang pria dengan pakaian hitam dan coklat memotong rambut Anggun yang mengikat Bima.


Anggun dengan sigap melompat mundur. Bima pun sekarang bisa bernafas lega


Kemudian orang-orang lain yang juga memakai pakaian hitam dan coklat, masuk dan mengepung Anggun. Mereka semua memegang senjata tajam.


“Apa kamu baik-baik saja anak muda?”


“Aku baik-baik saja, ... tapi tunggu dia-”


“Tenang, adikmu tidak akan kami sakiti, dia masih bisa diselamatkan.”


“Kalau begitu, tolong!”


Orang-orang yang mengelilingi Anggun mulai bergerak.


Anggun juga tidak tinggal diam, rambutnya memanjang dan digunakan menyerang.


Namun, perlawanan Anggun sia-sia. Karena rambutnya terus dicincang hingga tidak bisa lagi beregenerasi.


Anggun berhasil dibuat takluk.


“Sudah selesai, adikmu untuk sementara akan kami bawa.”


Bima melihat adiknya yang terikat dan dibawa oleh orang-orang itu. Dia tidak tahan lagi dengan kondisi ini.


“Biarkan aku ikut!”


“Tidak bisa, hal ini harus dirahasiakan.. tenang saja, adikmu akan kami sembuhkan.”


“Tapi-”


“Sebelum pergi aku ingin bertanya padamu, kenapa kau bisa bertahan selama itu dengan kondisi adikmu yang sudah begitu?”


“Bagaimana ya..? Bisa dibilang aku menggunakan kekuatan aneh yang tersimpan di tubuhku.”


“Kekuatan apa itu?”

__ADS_1


“Aku juga tidak begitu mengerti, yang jelas aku bisa mengeluarkan dan mengendalikan roh ular.”


“Hhhhmmm... kalau begitu, ikutlah bersama kami!”


__ADS_2