Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Hati Pahlawan


__ADS_3

Penjajahan oleh kaum Londo membuat para rakyat Jawa menderita. Para pria pribumi diwajibkan bekerja tanpa imbalan. Mereka harus menuruti semua aturan penjajah.


Tidak hanya itu, penduduk juga diharuskan menyerahkan sebagian hasil bumi mereka. Desa yang terbakar sudah menjadi pemandangan umum bagi orang-orang yang memberontak.


Hingga akhirnya para keturunan garis biru turun tangan. Mereka meninggalkan kemewahan kerajaan dan berjuang demi rakyat.


Tidak hanya laki-laki, perempuan pun ikut andil dalam pertempuran. Bahkan, orang-orang tua juga tidak kalah dengan para pemuda.


Meskipun harus mengorbankan segalanya, mereka tetap berteguh dengan keyakinan. Sampai akhir hayat, mereka tetap berjuang demi kepentingan orang yang bahkan tidak dikenalnya.


Namun sebaliknya, saat ini beberapa dari mereka malah menjadi musuh untuk orang yang berusaha mereka selamatkan.


Fenomena dedemit ini, membuat sisi buruk dari para tokoh pahlawan hebat. Dan sekarang, generasi mereka terpaksa harus melawan.


Para bangsawan yang dulu melindungi rakyatnya, sekarang berubah menjadi pembunuh.


Di atas kuda putih, Nyi Ageng Serang melemparkan tombak berhias bendera yang sobek.


Dentuman pun tidak terhindarkan, Laras terpental hingga menabrak pepohonan.


“Uhk..! Uhk..! Seperti rumornya, Jeanne d'Arc Jawa sangatlah sakti!”


Laras melompat ke ranting pohon. Dia mengambil posisi yang paling mudah untuk memanah.


“Hhiiaaatt..!” Lagi lagi Nyi Ageng Serang melemparkan tombaknya dengan kuat.


Duuaarr...!


Sebelum senjata itu datang, Laras melompat ke dahan pohon lain. Dia melihat pohon yang barusan ditapakinya tumbang dan hancur akibat tombak.


“Hrusangkali..!” Laras mulai membidik dengan panah-


Duuaarr..!


Nyi Ageng Serang memanggil tombak kembali, lalu melemparkan kembali pada Laras. Serangan itu dilakukan secara terus menerus.


“Gilaa..! Apa dia mau menghancurkan hutan ini?”


Laras bergerak pada setiap dahan pohon. Dia kualahan melawan sosok pahlawan yang dulunya berjasa untuk ibu Pertiwi.


Hingga pada saatnya, tombak Nyi Ageng Serang bergerak lebih cepat dari Laras.


Di antara asap yang timbul, Laras terjatuh dengan posisi membidik dengan tangan kiri yang menarik anak panah. Tanpa ragu dia melepaskan serangan.


“Ardadedali..!”


Seraya menahan rasa sakit, Laras bergerak ke depan. Dia menghunuskan senjata tajam yang panjang serta lentur.


Di balik asap tebal, Nyi Ageng Serang menyambutnya dengan sebuah selendang. Dia turun dari kuda dan bergerak maju.


Dengan jarak sekitar empat meter, terjadilah duel kesaktian di antara mereka. Laras dengan senjata yang lentur seperti karet, dan Nyi Ageng Serang dengan selendang yang bisa bergerak leluasa.


“Kau mengingatkanku dengan diriku yang muda dulu..!” ucap Nyi Ageng Serang.


“Begitukah? Terus kenapa seorang pahlawan malah menjadi seperti ini?”

__ADS_1


“Tentu saja aku menyesal..! Aku sudah mengorbankan segalanya.. harta, keluarga, aku kehilangan semuanya..! Lalu apa yang aku dapatkan..!?”


“Dapatkan..? Bukankah kau melakukannya tanpa menginginkan imbalan!?”


“Aku sebenarnya tidak ingin apa-apa, tapi...”


“...”


“...Apa yang terjadi sekarang di tanah ini? Para penduduk yang dulu diperjuangkan, apa yang mereka lakukan? Itu seperti kami berjuang sia-sia..!”


Laras tidak membalas untuk beberapa saat, hanya angin kekuatan yang bisa dirasakan.


“Meskipun begitu.., meskipun begitu.., mereka masih layak untuk mendapatkannya, jadi pertarungan kalian tidaklah percuma..!”


“Layak? Orang-orang yang saling mengambil hak yang bukan miliknya, pantas diperjuangkan!? Keadilan negeri ini benar-benar buruk, jadi lebih baik hancur saja!”


“Padahal kau dulu.. Aaarrhhh..!”


Selendang Nyi Ageng Serang tiba-tiba dapat menggapai Laras, lalu mengibaskannya ke udara.


Tidak sampai disitu, dia terus menyerang secara bertubi-tubi dengan selendang. Hingga Laras terjatuh ke tanah.


“Kau sudah selesai?” tanya Nyi Ageng Serang.


“Aawhh..! Be..belum, a-aku masih bisa bertarung,” Laras bangkit dengan sempoyongan.


“Kalau begitu...” Nyi Ageng Serang mendekat dengan cepat seraya mengarahkan tombak, “mari akhiri ini dengan duel jarak dekat.”


Ctang!!


Terjadilah perang yang sengit di antara mereka. Dengan gaya bertempur yang berbeda, menimbulkan kesan yang fantastis saat saling mengancungkan senjata.


Angin kencang akibat dentuman senjata mengobrak-abrik dedaunan sekitar. Seolah ada yang membabat semak belukar tersebut.


“Bagaimana rasanya amarah pahlawan? Apa kau menikmatinya? Apa kalian senang ketika kami mati sia-sia!?” Nyi Ageng Serang membuat lawannya terpojok. Laras sama sekali tidak bisa membalas serangan.


“Kenapa...? Kenapa..? Tunggulah roh pahlawan! aku akan segera membebaskanmu dari belenggu yang menyiksamu..!”


“Begitukah..? Kalau begitu, coba pikul semua ini..! Peleton Semut Ireng, maju!!”


Dibelakang Nyi Ageng Serang, munculah para bayangan orang-orang terdahulu. Tidak salah lagi, mereka adalah sosok yang berjuang di tanah Jawa.


“Formasi segitiga...” Para roh membentuk formasi dan melemparkan pada satu titik di atas.


Di saat bersamaan Laras beribisik, “Puspamala...”


Dengan isyarat tangan Nyi Ageng Serang berkata, “...serang!!”


Kumpulan tombak itu menjadi satu dan berubah menjadi sesuatu yang lebih besar. Dengan kencang senjata itu melesat ke Laras.


Wuusshh.. Duuaarr...!


Di depan, Nyi Ageng Serang sudah tidak terasa tanda-tanda kehidupan. Tetapi dia terkejut ketika ada bunga yang jatuh di antara asap.


“!?”

__ADS_1


Saat sadar, Laras sudah berada di belakangnya dengan memegang keris yang bercahaya, “...Teknik pertama, gugur kembang.”


“Apa? Tidak mung-”


Jleebb..


“Sudah kubilang, aku akan membebaskanmu pahlawanku,” Keris Laras menusuk telak di punggung Nyi Ageng Serang.


Perlahan tubuh sang pahlawan itu terjatuh ke tanah, dan mulai memudar seiring waktu.


Nyi Ageng Serang pada saat itu mengingat perjuangannya. Semua keluarga yang bersama, serta murid-muridnya yang selalu mengaguminya. Ditambah, para prajurit yang menganggap dirinya seorang ibu.


Keindahan dan penderitaan. Di saat terakhirnya, Nyi Ageng Serang meninggalkan senyuman kebahagiaan.


“Sugeng tindak, semoga perasaanmu itu tersampaikan.”


Kemudian Laras mencoba berjalan, tapi sepertinya tidak akan bertahan lama. Dia pun mencari pohon untuk bersandar.


Sebenarnya serangan terakhir itu sedikit berhasil mengenainya. Oleh karena itu, untuk beberapa saat Laras tidak bisa bergerak.


....


“Aaarrrgghhh...!”


Irwan sama sekali tidak berkutik melawan seorang pangeran di depannya. Darah menjadi hiasan mengalir pada kulitnya.


“Apa hanya ini? Jadi penjaga keluarga itu kekuatannya hanya sebatas ini!?” Pangeran Mangkuningrat menatap rendah Irwan yang bertekuk dihadapannya.


Irwan berusaha bangkit. Seraya menatap tajam ke depan, Dia menguatkan otot-ototnya.


“Aku.. masihlah...”


“Hhaahhh.. Sangat menjijikkan, kenapa kau tidak menyerah saja? Biarkan aku membebaskan penderitaanmu.”


“Hhhyyaaa...!!” Irwan mendekat dengan kerisnya.


“Bodoh sekali.”


Ctang... ctang..


Dengan mudah Mangkuningrat menangkis dan menghindari serangan Irwan. Terlihat sekali ini adalah pertarungan yang berat sebelah.


Bagi seseorang yang tidak memiliki demit, jika ini sangat wajar. Karena lawannya bukanlah sembarangan.


“Ada apa..? Dimana kepercayaan dirimu yang barusan? Apa kau sudah menyadari kedudukanmu saat ini!?” senyuman angkuh terpampang pada wajah Mangkuningrat.


Kemungkinan sekecil apapun, Irwan terus mencoba melancarkan serangan padanya.


“Sudah kubilang.. Percuma..!”


Pangeran Mangkuningrat mendengkul perut Irwan, dan mendorongnya ke belakang.


Kemudian dengan santainya sosok pangeran yang juga dari Yogyakarta itu menebas Irwan. Air kental berwarna merah muncrat dari serangan itu.


“Aaarrrrgghh...”

__ADS_1


__ADS_2