
Seorang pria bermata tajam. Berbadan kekar. Tidak begitu banyak bicara, tetapi menakutkan. Seutas kain dan beberapa hiasan mengkalung di tubuh. Dia memegang sebuah belati yang berbentuk seperti api menyala. Bima mengingatnya, ciri-ciri itu...
“...Seperti yang dikatakan Baru Klinting, berarti dia ini juga pelaku pembunuhan paman dan bibi.. Sial..!”
“Keputusan ada di tanganmu.. Jadi, apa yang akan kita lakukan,” Nyi Blorong menarik tangan Bima yang berbaring di tanah.
“Kesal mengakuinya... Tetapi, kita harus mundur,” Bima mengepal kuatkan tangan. Dia tahu batas kemampuan yang bisa dilakukannya.
“Keputudan yang bagus, kalau begitu-”
“Waduh.. Tunggu dulu, jangan terburu-buru gitu lah,” seorang pria pembawa tombak menghadang jalan mereka.
“Ternyata dia tidak sendirian.”
“Ini gawat, Bima!”
“Akhirnua kita bisa bertemu, wahai Raden dari Mataram..!” ucap pria misterius itu.
“Bahkan dia memanggilku raden.. Sebenarnya siapa kau..?”
“Lah.. Tidak tahu? Bukankah kita ini saudara!?”
“Apa maksudmu?”
“Hahaha.. Kalau begitu..” pria aneh itu menunduk hormat pada Bima, “Perkenalkan, akulah yang bernama Bagus Wanabaya,” ucapnya sembari menghentakkan tombak dengan hiasan naga itu.
“Bagus Wanabaya.. Aku ingat..! Jadi kaulah yang menjadi rival Sultan Mataram pertama!”
“Rival? Jangan bercanda.. Dia berada dibawahku.. Orang yang menggunakan cara licik seperti itu tidak layak disebut rivalku!”
“Hoy pangeran bertombak, bukankah sudah dibilangin jangan membeberkan identitas!?” suara seseorang terdengar dari dahan pohon di atas.
“Sudahlah tidak usah dipikirkan, lagipula mereka akan segera mati.. Bukan begitu, wahai Patih Penakluk?” Demit yang mengaku dirinya Bagus Wanabaya menoleh kepada pria belati. Mereka berkumpul pada suatu tempat di depan Bima dan Nyi Blorong.
“Sial...!” keringat dingin bercucuran, Bima tidak tahu lagi mau berekspresi seperti apa. Keadaan yang terpojok, membuatnya sulit untuk berpikir.
Semua demit yang dikatakan Baru Klinting akhirnya muncul juga. Kali ini Bima dan Nyi Blorong benar-benar dalam situasi terburuk. Apa yang harus mereka lakukan? Tidak ada yang tahu. Ketiga Demit Sudra berkumpul satu tempat, bukanlah hal yang sepele lagi.
Semuanya menjadi masuk akal sekarang. Aneh rasanya perjalanan mereka saat mengunjungi mata air suci tidak ada halangan. Ternyata para dedemit selalu mengawasi dan mencari celah untuk menyerah. Tetapi karena hanya tiga yang menghadang, mungkin ada celah bagi Bima dan Blorong untuk kabur.
“Aku mulai!” sosok pria belati akhirnya bicara. Dengan tenang dan tanpa ekspresi, dia menerjang ke arah Bima. Bersamaan dengan itu, Bagus Wanabaya melompat seraya mengancungkan tombak pada Nyi Blorong.
Ctang..!
Tombak itu berbenturan dengan tangan sisik milik Nyi Blorong yang merubah dirinya ke wujud asli. Sedangkan Bima tersaut dan terpental ke belakang.
“Hmm? Ular? Ooohh.. Jadi kau salah satu dari golongan bangsa demit yang berpihak pada keturunan Mataram ya..? Menarik.. Kita lihat sampai mana kau akan bertahan!?”
“Hooyy Bima..! Kau bisa mendengarku..!?” teriak Blorong.
“Cih.. Lihat kemana kau reptil sialan!?” Bagus Wanabaya menguatkan tombak dan membuat Blorong yang lengah terlontar ke tanah.
Di sisi lain, Bima tidak berdaya menghadapi sosok yang berdiri tak jauh di depannya. Dia berusaha bangkit, tetapi tubuhnya terasa sangat lemas. Kedua tangan bergetar ketika menyentuh tanah. Saat sempoyongan berdiri, Bima melihat demit yang dihadapannya tersenyum. Namun bukanlah senyuman meremehkan, melainkan seperti-
Sang pria belati berjalan perlahan ke arah Bima. Tanpa sepatah kata, dia memijaki setiap rumput yang dilewatinya. Sedangkan Bima, dia tidak bisa bergerak. Seraya memegangi tubuh lemasnya, pemuda itu bernafas dengan terengah-engah.
__ADS_1
Sesaat pria itu langsung berpindah tepat di hadapan Bima. Tangannya sudah bersiap-siap untuk menusuk dada Bima, tetapi di saat-saat terakhir senjata akan menyentuh-
Ting...! Belati itu tertahan oleh sesuatu. Bagian perut dan dada Bima tiba-tiba dilapisi sesuatu yang berwarna keemasan. Pelindung itu bereaksi dan meledak hingga membuat sang pria belati terdorong ke belakang.
“Hhhmm.. Sudah bangkit ya..?”
Nyi Blorong dan Bagus Wanabaya menghentikan pertarungan karena langsung berfokus pada cahaya emas yang menyilaukan. Tatapan kagum mereka seolah berkata 'kekuatan apa itu?'. Namun, sosok yang berada di atas pohon belumlah turun.
Mereka semua lengah. Nyi Blorong lah yang berinisiatif pertama untuk membawa kabur Bima, “ayo. Bima..!” Tetapi mendadak tubuhnya berhenti di tengah jalan. Sesuatu telah menghentikan pergerakannya.
“Sampai disitu saja..!” ucap demit yang berada di pohon. Dengan kata lain, dialah dalang penyebab tidak bisa bergeraknya Blorong.
“Aarrgghhh..!” tombak Bagus Wanabaya sukses menembus punggung Nyi Blorong.
“Blorong..!” teriak Bima seraya lari ke arah demit ular itu. Sontak dia langsung memegang kedua pundaknya.
“Bi..ma lar-larilah!” rasa sakit membuat kalimat Nyi Blorong terbata-bata.
“Sebelum itu...” Bagus Wanabaya menarik keras tombaknya hingga darah yang berwarna hijau memuncrat. Kemudian dia menodongkannya pada Bima.
Perlahan-lahan Bima berjalan mundur. Ujung tombak masih terus mengikutinya. Hingga akhirnya dia menubruk sebuah pohon di belakang.
Ctaak..! Sebuah percikan muncul ketika tombak hampir menyentuh perut Bima.
“Aku tidak mengerti dengan kekuatan yang kau miliki.. Tetapi yang jelas, pelindung itu hanya melindungi badanmu kan..!” Wanabaya siap menghancurkan kepala Bima dengan tombaknya. Lalu-
Craak..!
“Aa-a...” Bima tertegun melihatnya. Tangan yang memegang tombak itu terlepas dari asalnya. Pria yang memegang belati adalah pelakunya.
“Dia mangsaku.”
“Enak banget kamu bilangnya ya.. Dasar Ga- aargghh” kepala Bagus Wanabaya terputus karena tebasan.
“Hoeee... Hoee.. Kenapa kau membunuhnya hanya karena ambisi konyolmu itu? Kau sudah membunuh banyak kawan demit kita.. dan sekarang....” dia turun dari pohon. Sosok demit yang memakai pakaian gaya negeri barat.
“...”
“Hah.. Sudahlah, cepat selesaikan...! Aku pergi, aku bosan di sini.” Di saat dia pergi, Nyi Blorong terlepas dari belenggunya. Namun, lukanya tidak kunjung sembuh.
Tubuh Bagus Wanabaya memudar, menyisakan tombak pusaka yang terjatuh. Kemudian satu demit yang tersisa itu mengambil senjata tersebut dan melemparkannya pada Bima.
“Gunakan ini!”
Bima mengambil senjata itu. Saat menyentuhnya, dia pun mengingat sesuatu. Berasal dari lidah makhluk kutukan, tombak pusaka dinamai dengan namanya-
“...Baru Klinting.”
Konon, tombak kutukan yang bila menimbulkan luka tidak akan bisa disembuhkan. Kecuali bila senjata itu dihancurkan.
“Hhiiiaaa...!” sekuat tenaga Bima berusaha mematahkan tombak tersebut. Tapi sepertinya ini akan butuh waktu.
“Dasar bodoh..! Padahal sudah dikasih kesempatan,” tersenyum sesaat, sang pria besar segera menerjang ke arah Bima.
Ckraaakk..! Suara tombak yang patah.
__ADS_1
Nyi Blorong sadar, lalu menjulurkan ekornya yang bisa memanjang. Tepat di depan wajah Bima, belati itu berhenti. Karena saat itu perempuan ular berhasil melilit pria yang menjadi musuh mereka.
“Blorong... Bukankah kau masih terluka?”
Nyi Blorong melempar pria itu sejauh mungkin, lalu bergerak mendekati Bima, “aku tidak apa-apa, lagipula kaulah yang menyingkirkan kutukanku.”
“Apa kita ada kesempatan untuk menang?” bisik Bima.
“Aku tidak yakin, karena dia dari tadi belumlah serius.”
“Kau benar, apalagi identitasnya belum diketahui.”
Sang pria belati berkuda-kuda. Dia bersiap kembali memulai pertarungan.
“Tetaplah di belakangku, Bima!” titah Nyi Blorong.
“Maaf..!”
Sesaat Bima merasakan hawa yang aneh. Serasa ada seseorang sedang memanggilnya. Kemudian sesuatu menariknya, lantas dia langsung memegang tangan Nyi Blorong.
“Bentar Bima, lawan kita sedang menuju ke arah kita!”
'Bima, kau bisa mendengarku?'
Saat pria belati sampai dihadapan mereka, mendadak Bima bersama Nyi Blorong tertarik cepat ke belakang. Tempo yang kencang membuat Bima pusing dan memejamkan mata. Melihat mereka yang lolos, demit itu malah menyeringai.
Bima mencoba tenang, tetapi kelajuan terus saja saja bertambah. Hingga beberapa saat kemudian, dia mendadak berhenti dan itu membuatnya kaget.
“Huaaahh...!” Bima terbangun dengan nafas terengah-engah, serta keringat yang membasahi tubuh.
“Akhirnya kau sadar juga,” kata Wira yang duduk disampingnya.
“Kami sangat khawatir pada Mas Bima, lihat Mbak Laras sampai panik seperti itu!” ucap Fatim. Perlahan Bima pun menoleh kepada Laras.
“Siapa yang panik juga!? Fatim jangan ngomong sembarangan lah!”
“Kenapa kalian ada di sini?” tanya Bima.
“Tadinya mau bersiap pergi dan membangunkanmu... Setelah melihat keadaanmu, kami menjadi khawatir sehingga berkumpul di sini,” jawab Wira.
“Jiwa yang melepas dari raga...”
“Bima, kau sangat ceroboh..! Tidak menguasai Ajian Raga Sukma, lalu jiwa dipaksa keluar.. Itu sangatlah berbahaya!” jelas Wira.
“Oh saat itu aku bertemu-”
“Ceritanya nanti saja! Masih ada waktu sebelum kita berangkat, istirahatlah dahulu!” perlahan Wira membaringkan kembali Bima.
“Ah.. Baiklah kalau begitu..”
“Bima..” rintih Laras.
“Apa? Kenapa kau memanggilku seperti itu!? Seperti bukan Laras saja..”
“Aku senang kau baik-baik saja.”
__ADS_1