Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Fajar di Laut Utara


__ADS_3

Kabut menyelimuti perairan Laut Utara Jawa. Begitu tenang, dengan cahaya bintang yang memantul dari langit.


Grojokan air bergemuruh dilewati oleh sebuah benda. Diikuti dengan suara kincir yang memutar, kapal besar itu berlayar dari barat.


Seorang pria berpakaian serba hitam dengan pakaian topi angkatan lautnya berdiri tegak di depan. Dia tersenyum bersama kapal besar yang dinaiki.


“Kali ini, pastilah berhasil!”


“Ya, aku akan membantumu dengan segenap jiwa,” sosok wanita cantik nan misterius duduk tidak jauh darinya.


“Tentu saja, engkau akan menjadi senjata pamungkas di saat kita menaklukkan lautan ini.”


“Apakah kau merasa menyesal, Karel?”


“Begitulah, aku telah gagal menjalankan tugas yang diberikan oleh negaraku, bahkan saat itu aku mati sia-sia karena sebuah keyakinan.”


“Bukankah indah jika engkau meninggal dengan kemauanmu sendiri?”


“Mungkin saja, tapi aku masih merasa ada yang kurang.. Oleh karena itu aku...”


Hembusan angin menggerakkan tiang kapal. Lalu memperlihatkan sembilan kapal yang membentuk formasi di sekitarnya. Jika ditotal, jumlah semua jin awak kapal mencapai 2.000.


.....


“Hhhmm?” Rantamsari membuka mata dan merasakan sesuatu mengarah ke istananya.


“Ada apa, Kanjeng Ratu..?” tanya salah satu dari Lima Abdi Kinasih yang duduk tidak jauh dari Rantamsari.


“Sepertinya kita kedatangan tamu.”


Rantamsari perlahan berdiri diikuti oleh para Abdi Kinasih. Gaun biru panjang miliknya masih menyentuh lantai meskipun dia tegak.


“Serahkan pada kami, Kanjeng Ratu!”


“Apa kalian yakin bisa mengalahkan mereka?”


“Tentu saja, Kanjeng Ratu.”


“Baiklah kalau begitu.”


Rantamsari kembali duduk di singgasana. Sedangkan kelima Abdi Kinasih pergi meninggalkan aula istana. Didampingi oleh dua pelayan perempuan, dia tersenyum ke arah mereka.


Tiga jin laki-laki dan dua jin perempuan itu berdiri di tempat yang tinggi. Mereka mengumpulkan para pasukan makhluk halus di sana.


“Jayalah Ratu Laut Utara...!”


“Jaya...!”


“Jayalah Ratu Laut Utara...!”


“Jaya...!”


Teriakan mereka berkumandang memanaskan udara malam. Air pun ingin mendidih oleh suara itu.


Para pasukan Ratu Laut Utara juga membawa kapal. Lima buah kapal laut yang mereka rampas dari manusia. Semua kapal sudah diberi kekuatan supernatural. Tiap-tiap kapal itu diisi oleh seorang Abdi Kinasih.


Pertama adalah sosok perempuan yang bernama Lanita. Menyerupai Nyi Blorong, dia memiliki tubuh bawahan seekor naga.


Lalu pria yang terbakar seluruh tubuhnya, yaitu Banaspati. Dia memiliki tubuh yang mengerikan dibandingkan Abdi Kinasih yang lain.


Abdi Kinasih yang selanjutnya bernama Bahula. Sosok jin yang berwujud kakek bungkuk yang membawa tongkat.


Keempat adalah Ayom, perempuan yang memiliki hawa dingin di tubuhnya. Bahkan, benda dan udara sekitar yang dilewatinya langsung membeku.


Dan yang terakhir, Buton. Sosok jin laki-laki yang bertubuh besar. Berbeda dengan Banaspati yang menyeramkan karena api yang terus menyala, Buton memiliki badan yang sangat keras.


Boom!! Boom!


Bombardir meriam tanda peperangan dimulai. Meskipun sebenarnya semua makhluk halus bisa terbang, hanya beberapa saja yang memang ahli dalam pertempuran di udara. Sehingga beberapa dari mereka tetap berada di kapal.


Ledakan sihir demi sihir menghujani udara di Laut Jawa. Kapal mereka mulai mendekat satu sama lain. Pertempuran langsung awak kapal pun tidak terhindarkan.


Panah api, meriam, pedang, tombak, berbagai jenis senjata mereka gunakan. Dentuman, teriakan, hantaman, suara itu terus terdengar di wilayah itu.


Ayom merapalkan sihir. Dia membekukan lautan dengan jangkauan yang cukup luas. Beberapa awak kapal turun dan bertempur di perairan yang beku itu.

__ADS_1


“Wraa..!”


Buton melompat lalu menghantam ke kapal musuh. Menggempurkan lawan dengan tangan kosong, dia bertarung habis-habisan dengan liar.


Banaspati naik ke langit. Api yang membakar dirinya mulai membesar. Dia menengadahkan tangan. Keluar dari tubuhnya, lalu hujan api turun memeriahkan peperangan.


“Voor goud, glorie, evangelie!” Karel Doorman melompat turun dari kapal. Seraya memegang belati dan pistol, dia membantai khodam yang dipanggil oleh Bahula.


Dor.. Dor.. Sring...


Tidak ada yang bisa menghentikan Karel. Dari jauh, pistolnya dapat menjangkau dengan tepat. Sedangkan bila mendekatinya, belati miliknya sudah siap untuk menerkam.


Hingga kemudian Karel melihat Lanita yang menerjang dari atas. Dia pun mengabaikan yang lain dan langsung melompat untuk menyambutnya.


Ctaang...!


Pedang Karel bertumbuk dengan tangan Lanita yang berbentuk cakar. Bergesekan dahsyat di udara hingga membentuk angin yang saling beradu.


“Ternyata kau bangkit lagi ya, laksmana!”


“Siluman ya..? Jadi kau pemimpin mereka?”


“Entahlah.”


Duaarr...


Mereka berdua jatuh ke lapisan es. Lalu kembali menerjang satu sama lain. Duel mereka cukup seimbang. Tetapi sayangnya ini bukanlah duel satu lawan satu.


Boom..!


Karel terlempar karena sebuah bola api. Lalu terlihat Banaspati turun dari langit menuju ke tempat Lanita.


“Kenapa kau menggangguku?” tanya Lanita.


“Jangan main-main..! kau dapat membuat Kanjeng Ratu menunggu lama.”


“Cih... Baiklah.”


Setelah api yang menghantam itu menghilang. Terlihatlah sosok perempuan mistis yang bercahaya di samping Karel.


Perempuan itu hanya merespon dengan senyum. Lalu dia menoleh ke arah Karel, “Kupikir sekarang adalah waktunya!”


“Ya, mohon bantuannya!”


“Mari kita mulai penjelajahannya!”


Sosok perempuan itu menghancurkan lapisan es dan tenggelam ke dalam laut.


“A-?” Ayom pun terkejut melihatnya.


Mereka, Lanita dan Banaspati bengong beberapa saat. Hingga kemudian tiba-tiba lapisan es yang dipijak bergetar kencang.


“Apa yang...?”


Jangkauan getaran itu juga sangat luas. Semua yang ikut bertempur dapat merasakannya. Kubu Penjaga Laut Utara kebingungan. Sedangkan lawannya, berteriak kegirangan.


Lalu tiba-tiba permukaan laut naik ke atas. Ayom mencapai batasnya. Semua lapisan es retak hingga kemudian pecah.


“Hhhwwwaaaa!!”


Bukan hewan ataupun makhluk hidup yang lain. Yang muncul dari bawah sana adalah sebuah kapal yang berukuran seperti gunung.


“Bukankah ini...?” Lanita menatap ke arah kayu kapal yang ia pijak.


“Seperti yang kamu pikirkan,” Karel berdiri di sebuah puncak di kapal.


“Beberapa Minggu yang lalu, dikabarkan sebuah gunung legenda telah menghilang... tidak kusangka dia memiliki wujud seorang perempuan.”


Dilihat dari jauh, Kapal itu hanyalah kapal besar biasa yang sedang mengangkat lima belas kapal lain beserta awak kapalnya. Tetapi di sisi lain, kapal itu juga memiliki tenaga mistis yang kuat.


Karel mengangkat pedang seraya berteriak :


“Ik val aan, volg mij!”


“Jaa..!”

__ADS_1


Aura pasukan Karel berubah. Mereka terlihat lebih kuat, mentalnya juga tidak diragukan lagi. Para armada laut itu berteriak lantang dengan semangatnya.


Kali ini pertempuran lebih meriah dari sebelumnya. Para Abdi Kinasih Laut Utara juga mulai kuwalahan.


Pergerakan Buton tidak lagi sebebas tadi. Bahula merapalkan mantra dengan tidak tenang. Sedangkan Ayom sudah kehilangan energi dikarenakan kejadian barusan.


Banaspati berniat naik ke udara. Tetapi pada ketinggian tertentu dia kesakitan karena sebuah penghalang. Banaspati pun meledak-ledak seperti kembang api.


“Hyyaaa...!” Serangan Lanita melemah. Kapal ini terus menyerap energi sekutu mereka dan memberikan pada pasukan Karel. Kondisi ini benar-benar tidak terprediksi sebelumnya.


Beberapa kali Lanita terkena tebasan dan tembakan dari Karel. Luka yang diterima tidak bisa beregenerasi karena energinya tinggal sedikit.


Lanita berniat untuk berubah wujud penuh seekor naga. Namun, yang hanya bisa berganti wujud hanyalah lengan dan sebagian pinggul yang menjadi terlapis sisik. Badan depan dan belakangnya pun menjadi sasaran empuk.


Di saat para pasukan Karel sudah bisa melihat puncak kemenangan, terdengar suara perempuan menggema dari langit.


“Waktu bermain sudah berakhir anak-anak.”


Rantamsari mengepakkan sayap bidadari putih. Dengan membawa pusaka tombak keemasan, dia bersinar di depan bulan separuh. Mata pertempuran langsung tertuju ke arahnya.


Para Abdi Kinasih menggeram kesal karena membuat pemimpinnya turun tangan. Namun apa daya, mereka sendiri tidak bisa mengubah keadaan ini.


Rantamsari menyiapkan tombak. Mulutnya menggumamkan sesuatu. Lalu dia melemparkan tombaknya seraya berteriak.


“Apsara bhaala!”


Tombak itu melesat bertabrakan dengan penghalang. Menimbulkan gemerlap petir yang bergetar di udara. Senjata itu menancap tertahan beberapa saat. Lalu-


Blaar...!


Tombak Rantamsari menembus kapal gunung itu. Membuat goncangan dan ledakan saat mengenainya.


“Sayang sekali Laksamana, tapi pertarungan sudah berakhir,” kata Lanita seraya menyiapkan kuda-kuda untuk menyergap.


“Ya, kau benar.. Sangat disayangkan.”


Ketika Lanita berencana untuk menghabisinya, Rantamsari langsung bertitah :


“Perang sudah berakhir..! Kalian pergilah!”


“Tapi.. Kanjeng...”


“Ini perintah!” tatapan yang mengerikan dari penguasa Laut Utara.


“Aa.. Baiklah... Semua pasukan kembali!” teriak Lanita.


Pasukan Kerajaan Laut Utara segera mundur dari pertempuran. Kemudian Lanita berkata mendekat pada Rantamsari :


“Kenapa Kanjeng Ratu membiarkan dia?”


“Karel Doorman memiliki harga diri pelaut, dia sudah berakhir.”


Lanita tidak begitu mengerti dengan ucapan Ratu Laut Utara itu.


Disisi lain, Para pasukan Karel kocar-kacir menyelamatkan diri. Namun, hanya sebagian kecil yang bisa selamat dari kejadian itu. Sebagian dari mereka berenang karena tidak punya energi untuk terbang.


Karel Doorman duduk bersandar di tepi kapal. Dia menatap langit dengan mata penuh berharap.


“Kenapa kau masih di sini, Karel?” tanya roh kapal itu.


“Tidak apa, ini hanyalah kebiasaan seorang pelaut.”


“Apa kau dulu mati dengan cara seperti ini?”


“Begitulah...”


“Benar-benar bodoh...”


“Memang benar,” Karel membuat rokok imitasi dari sihir.


“...Tapi, tidak begitu buruk.”


Karel tertawa sejenak lalu menghirup rokoknya, “Hhhuuufff.... hhaaa... Sudah kuduga, rokok yang asli lebih enak.”


Duuaaarrr.... Daaarrr....!

__ADS_1


__ADS_2