
...Apa yang harus kulakukan?
Bima termenung meratapi adiknya yang masih lemah berbaring.
Sampai sekarang, Bima masih berharap bahwa ini hanya sekedar mimpi buruk.
Kemudian Bima berjalan menuju kamarnya. Sembari menunggu Krisna datang, dia duduk main handphone di kasur.
...Mungkinkah sebaiknya aku mengabari pihak kampus? Tapi apa alasan yang harus kusampaikan?
Bbzzz... Bzz...
Seketika handphone itu berdering, pertanda panggilan masuk dari seseorang.
...Reno? Kebetulan sekali.
“Halo? Ada apa, Reno?”
'Ada apa gundulmu! Kau tidak pergi kuliah hari ini.. kukira sakit dan lupa izin, tapi saat coba kujenguk rumahmu malah kosong!'
“Yah.. banyak hal yang terjadi.”
'Ceritakan padaku!'
“Kalau itu, aku tidak bisa.”
“Haahh... Baiklah kalau begitu, aku harap kau baik-baik saja.”
“Terimakasih telah pengertian, tolong sampaikan izinku pada dosen!”
“Oke, kututup teleponnya.. sampai nanti!”
“Ya..”
Tuutt.. tuutt..
“Sepertinya aku tidak akan naik semester, huuaahh..”
Bima berbaring lemah.
“Sudah selesai Bima?” kudengar kau sedang bicara dengan seseorang.”
Seseorang berkata di balik pintu yang tertutup. Dari suara, Bima mengetahui bahwa itu Krisna.
“Ya, masuklah!” Bima bangkit kembali untuk menyambut.
“Siapa? Temanmu?” Krisna berjalan masuk, dan mendekati Bima.
“Begitulah.”
Krisna mengambil kursi kecil yang tersedia. Dia kemudian duduk di dekat Bima.
“Sebelum aku berbicara lebih lanjut, aku akan bertanya padamu terlebih dahulu, ... apakah Bima tau kisah Baratayudha?”
“Yah.. sedikit tau sih, itu cerita tentang lima Pandawa dan seratus Kurawa.”
“Seratus satu tepatnya, ada perempuan yang kau lewatkan.”
“Terus, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?”
“Apakah Bima tau tentang konflik yang terjadi?”
“Tentulah, mungkin bisa dianggap perselisihan antar keluarga kerajaan hingga terjadi pertempuran.”
“Kalu sudah sampai itu akan lebih mudah bicaranya.”
“Memangnya ada hubungannya dengan kejadian ini?”
__ADS_1
“Ya, karena itu terjadi di pulau Jawa pada masa lalu, jadi ada hubungannya.”
Bima berdiam fokus mendengarkan cerita Krisna.
“Puncak peperangan itu terjadi di sebuah tanah yang cukup tinggi, Dieng ... Apakah kau akhir dari pertempuran itu?”
“Aku tidak tau detailnya, tapi Pandawa menang bukan?”
“Ya begitulah, dan masalah muncul setelahnya, ... ketika para jiwa yang terlepas menuju ke langit, mereka dihadang oleh Ashura, jiwa-jiwa tersebut dicemari sehingga kehilangan jati dirinya. Lalu mereka kembali ke Jawa untuk meneror orang-orang yang tersisa.”
“Kurang lebih aku paham, ... lalu aku pernah membaca tentang Syang Hyang Semar, siapa dia itu?”
“Dia adalah seorang dewa, sosok dewa yang langsung turun dari kahyangan.”
“Tu-tunggu, jangan-jangan kamu...?”
“Seperti yang kau pikirkan...”
“Tidak mungkin..! Maksudnya kamu adalah titisan Dewa Wisnu!?” kali ini Bima benar-benar terkejut seraya meneguk ludah.
“Aku memang Kresna yang kau maksud, tapi aku juga bukan seperti itu?”
“Ha?”
“Saat ini aku hanyalah kepingan ingatan, ... karena setelah para jiwa dicegat Ashura, para dewa memutuskan tidak lagi ikut campur dengan urusan manusia.”
“Sedikit rumit ya.. Mungkinkah Sang Hyang Semar juga tidak bisa kembali saat itu.”
“Begitulah, dia menguasai tanah Jawa dengan tidak bijak, karena saat itu manusia yang tinggal punah oleh jin, ... hingga kemudian pendeta itu datang?”
“Pendeta? Maksudmu Syekh Subakir?”
“Ya, dia memasang tumbal di tanah Jawa, lalu membuat perjanjian dengan Sang Hyang Semar, ... para dedemit tidak bisa menggangu kehidupan manusia, mereka dan juga aku terseret ke sebuah tempat yang gelap.
“Kamu yakin perjanjiannya hanya itu?”
“Saat-saat terakhir, sebenarnya aku melihat mereka masih bicara, tapi aku tidak bisa mendengar.”
Bima berbicara dengan sedikit bercanda, tapi kali ini Krisna menjawabnya serius.
“Memang benar para jiwa itu tidak dibolehkan menganggu manusia, tapi itu dalam kehidupan saja.”
“Jadi ketika mati bisa diganggu ya..” gumam Bima.
“Dan yang terjadi adalah roh-roh manusia mati tersebut terseret, lalu dimakan oleh para jiwa sesat itu.”
“Kamu juga..?”
“Tidak, aku bisa mengendalikan diriku, ... itu mungkin karena aku kepingan dari Dewa Wisnu, tapi pada suatu hari entah kenapa ada satu roh yang menyatu padaku.”
“Bukankah banyak titisan dewa saat itu? jadi ada yang lain juga?”
“Aku tidak tau.”
“Aku punya pertanyaan lagi, apakah kau saat ini sedang merasuki seseorang?”
Krisna terdiam sesaat mendengar mendengar pertanyaan itu, seraya memikirkannya.
“Hhaahh... sepertinya aku memang harus terus terang, ... sebenarnya tubuh ini adalah mayat seorang raja, seorang yang menyatu denganku seperti yang disebutkan tadi, kemungkinan dia juga adalah titisan Dewa Wisnu.”
“Bukankah kamu bilang dewa tidak lagi ikut campur!?”
“Sudah kubilang aku hanya kepingan ingatan, jadi aku tidak tau.”
“Jadi intinya kasus ini tentang kerasukan roh leluhur ya..”
“Sebagian kau benar, karena beberapa lainnya adalah ciptaan baru Sang Hyang Semar.”
__ADS_1
“Begitu ya.”
“Lalu sekarang yang membuatku penasaran adalah roh yang merasukimu,” Krisna menatap dalam ke arah Bima, “...Kalau ular, yang kuingat hanyalah Antareja, tapi kau sedikit berbeda, siapa ya...?”
Bima merasa grogi karena terus ditatap oleh Krisna, “Tidak usah mendekat seperti itu juga lah!”
“...Ataukah jangan-jangan kau generasi baru?”
“Generasi baru..?”
“Itu hanyalah sebutan untuk roh atau siluman yang diciptakan setelah ditanamnya tumbal.”
“Apa tidak ada informasi lain?”
“Tidak ada, sepertinya hanya ini yang bisa kusampaikan,” Krisna berdiri dan berniat pergi dari kamar.
“Hhhmmm..”
“Aku hampir lupa, Bima..! kau besok akan mulai pelatihannya untuk mengendalikan demit di dalam tubuh, jadi beristirahatlah cukup!”
“Aku mengerti.”
“Kalau begitu, selamat malam!”
“Selamat malam!”
Krisna segera berjalan keluar dari ruangan itu.
Bima mengambil ponsel yang berada di samping.
...Sudah hampir jam 9? Apa aku sebaiknya langsung tidur saja?
Bima meletakkan ponselnya ke meja, lalu membaringkan tubuh ke kasur.
Dia memutuskan untuk pergi ke pulau kapuk.
Beberapa menit berjalan.
...Aku tidak bisa tidur.
Bima masih saja terkejut dengan kejadian malam itu. Terbayang-bayang dengan kondisi adiknya saat ini.
Meskipun ingin menjenguk ke dalam, saat ini masih tidak diperbolehkan.
Bima bangun, lalu keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju tempat di mana adiknya dirawat.
Dia melihat dari balik kaca yang besar. Seorang gadis bernama Anggun itu masih berbaring lemah di tempat tidur.
...Semoga ini cepat berakhir.
Bima sudah membulatkan tekad kali ini.
...
Sementara itu di istana.
Sultan Hamengkubuwono X bertitah pada seorang pelayan. Beliau menyuruh sang pelayan untuk memanggil Kresna.
Mendengar itu, Kresna segera menghadap pada baginda sultan.
Sang sultan berkata :
“Kresna..! Apa kau sudah mengetahui siapa yang merasuki Bima.”
“Maaf tuan, saya benar-benar tidak tahu identitas roh itu.”
“Jika kau tidak tau, maka hanya ada satu kemungkinan.”
__ADS_1
“Maksud tuan, tuan sudah mengetahuinya?”
“Ya, identitas demit itu adalah-”