
Setelah lima hari tidak sadarkan diri, Bima akhirnya terbangun di sebuah kamar. Hanya cahaya rembulan yang samar-samar menerangi tempat itu.
...Dimana ini? Kamar kerajaan?
“Aa-aduh.”
Tubuh sudah cukup sehat. Tetapi saat dia mencoba bangkit, rasa nyeri muncul pada perutnya. Dia mengintip dari balik selimut dan melihat bagian perut yang diperban.
Mungkin karena efek tidak sadarkan diri berhari-hari, Bima langsung merasa haus. Kebetulan sekali pada sebuah meja yang di samping tempat tidurnya, terdapat segelas air minum. Seakan sudah dipersiapkan oleh seseorang.
Glup.. Glup..
Bima menghembuskan nafas berat, lalu mengembalikan gelas tersebut. Di saat akan berbaring kembali, Dia merasa ingin buang air kecil.
Kemudian Bima melihat-lihat sekitarnya dan menyadari bahwa tidak ada kamar mandi di tempat ini. Sehingga terpaksa mencari ke luar.
Bima membuka seluruh selimutnya, lalu bergegas turun dara kasur. Setelah memakai pakaiannya yang tertanggal, dia segera berjalan keluar.
Tidak ada anggota tubuh yang terasa lemas atau sakit terkecuali Perutnya. Sehingga dia masih bisa berjalan seperti biasanya.
...Tidak ada orang sama sekali?
Karena sama sekali tidak ada orang yang bisa ditanyai, Bima pun terpaksa mencari toilet sendiri. Dia berjalan perlahan pada sebuah lorong kerajaan.
Seraya mengagumi tempat-tempat yang dilewati, Bima bergerak dengan mengandalkan instingnya. Meskipun begitu, sangat sulit menemukan suatu ruangan di tempat ini.
Hampir setengah jam dia berjalan dan tidak menemukan tujuannya. Entah bayangannya saja atau bukan, Bima merasa bahwa tempat ini seperti labirin. Karena beberapa lorong memiliki ujung.
Sangking kebingungannya, Bima sudah tidak merasa ingin kencing lagi. Tetapi meskipun ingin kembali ke kamar, dia juga tidak tahu kemana arahnya. Hingga tidak sadar melewati batas terlarang.
...Memangnya jam berapa ini? Sepi amat.
Di tengah-tengah keputusasaan, Bima akhirnya melihat ruangan yang berbeda dari lainnya. Cahaya lampu keluar dari sana. Pintu masuknya hanya menggunakan sebuah kelambu berwarna merah. Serta di atasnya terdapat Aksara Jawa yang tidak bisa dia baca.
Bima memasuki tempat tersebut seraya berharap ada seseorang di dalam. Sehingga bisa dia tanyai.
Setelah menyadari aura kehadiran seseorang, Bima berjalan lega mencapai garis akhir. Dia pun melangkahi garis tersebut dengan percaya diri.
Memang benar di dalam jejeran toilet itu terdapat individu yang sedang menggunakan. Tetapi setelah mendengar suara mereka, Bima menyadari bahwa tempat yang dia masuki adalah toilet perempuan.
Bima berbalik dengan tergesa-gesa hingga membuatnya terpeleset dengan bersuara. Para wanita pun melihat ke sumber suara. Sepasang Kaki yang terlihat dari balik tembok, membuat mereka sadar ada lelaki yang datang.
“Kyaaa..!!”
Teriakan para wanita membuat jantung Bima bergetar kencang. Tanpa banyak pikir dia langsung berlari menjauhi tempat itu.
Para penghuni kamar yang semuanya adalah perempuan segera keluar dari ruangannya. Mereka mengejar sosok pria hidung belang yang mengintip kamar mandi wanita.
Bima berlari sekuat tenaga dan mengingat-ingat jalan buntu yang pernah dilewati. Dia tidak diuntungkan, karena kemungkinan wanita penghuni di sini tahu betul peta gedung ini.
Lalu setelah melewati beberapa jalur, Bima melihat lorong yang sudah tidak asing.
...Kalau tidak salah kiri adalah jalan buntu.
__ADS_1
Dia pun mengambil jalan ke kanan. Jika pilihannya benar, maka dia sudah selamat. Karena para wanita tertinggal cukup jauh di belakang.
Tetapi dirinya masih belum beruntung. Beberapa langkah kemudian Bima menyadari bahwa di depannya adalah jalan buntu.
Mengetahui ada pintu di ujung lorong, dia mencoba membukanya. Meskipun sudah berusaha sekuat tenaga menggerakkan ganggang berkali-kali, pintu tersebut tidak mau terbuka.
...Sial! Harga diriku akan hancur karena hal konyol.
Klak.. klak.. klak...
“Ada apa-”
Melihat pintu yang tiba-tiba terbuka, Bima dengan cepat masuk dan menutup kembali pintu tersebut.
“Hhaaahhh... hhaahh... safe..!”
“Bima? Apa yang kau...?”
“Laras?” Bima tertegun sesaat melihat Laras yang memakai piyama.
“Pergi..! Keluar dari sini!”
“Tu..tu-tunggu! Terjadi kesalahpahaman, kumohon selamatkan diriku!”
Tetapi Laras terus mendorong-dorong Bima dan berusaha membuka pintu. Dia sama sekali tidak ingin mendengar alasan pria malang itu. Hingga kemudian Bima berlutut, “Laras kumohon! Sembunyikan diriku!”
Kemudian Laras menyuruh Bima untuk pergi bersembunyi ke kasurnya. Beberapa saat kemudian, segelintir abdi dalem perempuan mengetuk pintu.
“Mencurigakan?” Laras berbalik tanya.
“Ya, seorang pria telah berani mengintip para wanita di kamar mandi.”
“Apa? Cari matikah dia?”
“Jadi, apakah kamu tau sesuatu?”
“Tidak, aku bahkan tidak merasakan adanya sihir.”
“Begitu ya, sepertinya pria itu memang benar-benar sudah mempersiapkan diri... Kalau begitu, maaf telah mengganggu!”
Setelah para perempuan itu pergi, Laras menutup kembali pintu dan menguncinya. Bima keluar dari tempat persembunyian seraya bergemetar.
“Hheee.. tukang intip ya?” Laras melontarkan mata yang merendahkan.
“Sudah kubilang..! itu salah paham..”
“Salah paham?” Laras mendekat seakan tidam mendengarkan perkataan Bima.
“Ini semua.. aa-a-aduh aduh..” Bima kembali merasakan nyeri pada perut. Pukulan Laras berhenti tepat sebelum mengenai perut Bima.
“Hhhuuuaaahhh...”
Kemudian Bima pun segera menceritakan apa yang sebenarnya telah ia alami. Mulai dari buang air kecil dan tersesat. Dia mengatakannya dengan malu-malu.
__ADS_1
“Dehahaha... cerita yang sangat konyol, Wahaha... kau benar-benar bodoh!” Laras tertawa terpingkal-pingkal oleh cerita Bima.
“Setidaknya kau mengerti..”
“Memang benar sih.. struktur bangunan ini dibuat seperti labirin agar menyusahkan penyusup, aku sendiri dulu juga kesusahan waktu pertama kali.”
“Kau sendiri juga tahu..”
“Tapi ya...”
Laras yang kesusahan menahan tawa, semakin membuat Bima tersipu malu.
Kamar yang tadinya ramai karena tawa Laras, menjadi terasa hening. Lalu Bima dan Laras pun baru sadar, bahwa di dalam ruangan tersebut hanya ada mereka berdua.
Mereka mulai merasa canggung. Bingung serta tidak tahu mau berkata apa lagi. Sesaat mereka diam seribu kata di antara sumerawang cahaya bulan.
Bima segera berdiri, lalu berjalan perlahan menuju pintu-
Laras mengambil inisiatif dengan berkata, “bermalamlah di sini!”
“Eh? Kau tadi bilang apa?”
“Jangan membuatku mengulanginya!”
“Tapi tunggu.. aku ini seorang laki-laki lhoo.. kau paham kan maksudku..?”
“Kau tidak tahu arahnya bukan? Tidak mustahil kau akan di tangkap basah lagi, ataukah memang mau?”
“Tapi ya.. aku tetap tidak bisa tidur satu ruangan dengan perempuan.”
“Begitu ya..”
“Syukurlah kau mengerti, kalau begitu- Aaarrrrrgghhh...” Bima tersengat di saat memegang ganggang pintu.
“Aku lupa memberitahu bahwa ketika lewat waktu tertentu, semua bagian kerajaan akan dilindungi dengan sihir, mungkin karena kau tidak seharusnya di sini, jadi bereaksi.”
“Ti-tidak mungkin.”
“Tidak apa-apa, tidak akan ada alarm yang berbunyi karena kau menyentuhnya dari dalam.”
Laras membuka lemari. Dia mengambil sebuah kasur tipis lalu menggelarnya di lantai.
Pada awalnya Bima masih menolak. Tetapi setelah berdebat dengan Laras, dia menyetujui untuk bermalam di sini.
Malam ini mereka berdua tidur dalam satu ruangan. Laras berada di kasur yang besar, dan Bima berada di bawah.
Beberapa waktu berlalu. Bima kesulitan untuk tidur. Mungkin karena aura ruangan yang berbeda, dia menjadi tidak terbiasa.
“Bima, kau sudah tidur?”
“Tidak, belum.”
“Bisakah kita bicara sebentar?”
__ADS_1