
“...Awalnya aku sendiri tidak mengerti juga sih.. kenapa bisa memiliki kekuatan seperti ini? Tapi aku merasa ini ada hubungannya dengan orang tuaku,” ucap Bima seraya
memandangi langit-langit.
“Apakah kau sudah bertanya dengan Nyi Blorong?” tanya Laras.
“Begitulah..”
“Lalu?”
“Tidak tahu katanya, tapi aku merasa dia menyembunyikan sesuatu.”
“Bukankah dia saat ini sedang mendengarmu?”
“Benar sih..”
Jawaban yang tidak jelas itu membuat Laras bingung“ah baiklah, aku tidak akan bertanya lagi.”
“Sedangkan Laras sendiri, kenapa bisa sampai di kerajaan ini?”
“Hhhmm.. benar juga ya, aku sudah bertanya masa lalumu, sudah sepantasnya aku menjawab pertanyaanmu.”
“Jikau keberatan maka...”
“Aku akan memberitahumu, ini hampir mirip dengan ceritamu dan juga tidak cukup enak untuk di dengar... Aku juga kehilangan orang tuaku, tetapi aku masih ingat betul dengan mereka semua.”
.....
Sejak dirinya kecil, Keluarga Laras tidaklah Harmonis. Dia memiliki ayah, ibu, serta kakak laki-laki. Tiada malam tanpa jeritan di rumah mereka.
Ayah yang pemabuk dan suka main tangan. Pembetakan sudahlah biasa ia lakukan. Lalu korban yang selalu dijadikan pelambiasan, adalah sang ibu.
Saat itu dia masih terlalu dini untuk mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya. Oleh karenanya, Laras bertanya pada sang kakak. Tetapi setiap ditanya perihal tersebut, kakaknya menjawab 'Inilah keluarga, Laras akan mengerti suatu saat nanti'
Sang kakak hanyalah satu-satunya pria yang dia percayai. Dikarenakan sifat ayahnya yang seperti itu, Laras memandang buruk para lelaki.
Adit, begitulah nama sang kakak. Dia selalu diam saja saat orang tua mereka bertengkar. Adit sudah tidak lagi peduli seakan menyerah dengan kehidupannya.
Di sisi lain, untuk seukuran gadis yang polos seperti Laras, dia cukup tegar dengan semua ini. Dia masih selalu berharap akan adanya mukjizat yang datang dan mengubah keluarganya.
Hingga kejadian itu tiba. Sebuah peristiwa yang merombak kembali kehidupannya. Bayangan samar menghilang, lalu digantikan dengan kegelapan mutlak.
Pada awalnya, malam itu berjalan seperti biasanya. Emosi sang ayah yang menggema seperti malam-malam lewat. Namun mereka tidak tahu, bahwa sekaranglah malam terakhir mereka bersama.
“Aaaarrrrggghhh...”
Adu mulut itu tiba-tiba berubah menjadi hal yang lebih serius. Sang ayah memegang erat leher ibunda dan mendorongnya ke tembok. Saat itulah sosok makhluk dedemit merasukinya.
Ekspresi sang ayah berubah pesat saat mencekik. Takut, cemas, putus asa, semua perasaan negatif dirasakan oleh ibunda waktu melihat itu. Hampir tidak bisa dikenali, seakan yang dia lihat saat ini adalah orang lain.
“Aa..a.pa yang k-kamu...?”
“Belum, semua ini belum membuatku puas.”
__ADS_1
Pegangan sang ayah semakin kuat. Semua organ leher terasa mengumpul menjadi satu. Cengkraman ibu tidak ada apa-apanya dibandingkan milik ayah.
Krraakk...
Tidak ada lagi otot yang terasa. Sang ibu langsung dijatuhkan setelah kehilangan nyawa.
Laras yang melihat langsung kejadian itu segera menemui kakaknya, “mas..! Mas Adit..!”
“Ada apa Laras? Sudah kubilang biarkan saja mereka!”
Laras menarik tangan Adit, “Tapi.. Lihat!”
Adit yang tadinya santai-santai saja, menjadi lebih serius. Tatapannya mengarah tegang ke sang ayah. Lantas dia berkata, “kau siapa?”
“Siapa? Dia ini ayah kita lho..!”
“Ayah.. katamu..?”
“Belum, masih belum.. aku belumlah puas!” Sang ayah menoleh perlahan kepada mereka, lalu dengan segera menerjang.
“Laras!” Adit segera menarik adiknya untuk menghindar.
Karena tidak bisa pergi lewat depan, mereka lari ke arah dapur. Adit yang berusaha melawan, melempar semua perabotan dapur. Meskipun benda tajam seperti pisau yang mengenai, tetapi sang ayah masih bisa berjalan.
“Apa-apaan dia ini? Zombie..?”
“Bagaimana mas...? Mas..? Mas Aa..dit?”
Adit tetap diam saja. Meskipun Laras menarik-narik lengan bajunya, dia masih saja membisu. Di sisi lain, sang ayah tiba-tiba tersenyum.
“Tapi kan...”
“Cepatlah pergi! Mas Adit.. tidak... Bii..sa mena-hannya lagi,” Adit menoleh terkaku-kaku dengan wajah yang menyeramkan.
“A-a...” Laras saat itu hanya berpikir bahwa dirinya hanya mengganggu. Jadi dia pun pergi dengan yakin.
“Hhaa.. aahh.. sepertinya a-aku...”
Adit mengambil panci, lalu menerjang dan menamparkannya pada sang ayah. Dari sisi lain dia juga terkena pukulan yang keras.
Jdag... Jdaak..
Mereka bertarung seperti hewan liar. Tanpa ada aturan, beladiri, mereka memukul secara tidak karuan.
Dapur sudah tidak berbentuk lagi. Semua alat-alat dipencarkan saat mereka bergelut. Mereka bergerak tanpa memikirkan hal-hal di sekitar.
Plaarr... Plaar...
Di ketenangan malam itu, hanya tempat itulah yang terdengar ramai. Pada pedesaan, setiap rumahnya berjarak cukup jauh. Sehingga tidak ada yang bisa menyadari peristiwa tersebut.
Sedangkan saat itu Laras berlari ke arah tegalan. Semestinya gadis kecil semasa ini merasa takut, tetapi tidak untuknya. Dia masih yakin kakaknya akan menjemputnya.
Dia berlari menuju ke sebuah pepohonan besar di samping kebun jagung. Laras berdiri dibalik itu seraya memanjatkan permohonan. Tentu saja, dia ingin sang kakak segera datang padanya.
__ADS_1
Dia memejamkan tanpa ragu-ragu. Gadis itu terlihat bersinar di bawah cahaya bintang. Kilauan yang memancar seolah ingin menembus langit.
Saat itulah dia bersekutu dengan demit yang merasukinya. Godaan yang dilontarkan tidak bisa menghancurkan hati Laras. Jiwa mereka bersatu, membentuk kepribadian baru.
“Kkkwwwaaarrhhh...!”
Ketika ada sosok yang mendekatinya, Laras langsung bergerak. Seakan insting sudah diasah sejak lama, dia langsung mengeluarkan anak panah dan menusukkannya pada makhluk yang ingin mencengkram.
Sebelumnya, Laras tidak bisa melihat makhluk tersebut. Tetapi saat mendekat, dia menyadari bahwa sosok yang dia bunuh adalah kakak kandungnya.
Namun Laras tidaklah bersedih. Kepribadian baru membuat dirinya berpikir lebih dewasa. 'Jika aku tidak menghentikannya, akan menimbulkan banyak korba' begitulah pikirnya. Meskipun bilang begitu, dia tidak tahu lagi mau hidup seperti apa.
Crak.. Crak..
“Kalau tidak salah, salah satunya tadi lari ke sini!”
Saat itulah seorang pria dengan baju bergaris coklat dan hitam menemukan Laras. Dia tertegun melihat gadis yang berdiri di hadapan mayat.
“Ada apa?” salah satu pria lainnya berlari mendekat.
“Ini...!?”
Kemudian mereka membawa Laras ke Kesultanan Ngayogyakarta. Kelima putri raja memutuskan untuk mengadopsinya.
.....
“.... Begitulah, dongeng malam ini sudah berakhir,” Laras bangkit, lalu menggerayangi laci.
“Apa kau baik-baik saja, Laras?” tanya Bima.
“Tidak apa-apa kok,” Laras mengulurkan sebuah benda persegi panjang ke arah Bima.
“Apa ini?”
“Dilihat saja sudah tahu bukan? Handphone! Handphone!”
“Terus?”
“Di sini ada gambar denah gedung ini, jadi kau tidak akan tersesat lagi.”
“Maksudmu..? Bukankah ada penghalang?”
“Sihir tersebut memiliki jeda setiap waktu, oleh karena itu... cepatlah!” Laras memaksakan handphone itu, lalu menarik dan mendorong Bima keluar.
“Ta-tapi kau...”
“Udahlah diam saja!”
“Tu-”
Brak...!
Kalau masalah menginap satu kamar, sebenarnya Laras masih tidak keberatan. Tetapi-
__ADS_1
“...Aku tidak bisa menunjukkan wajah menyedihkan ini padanya... Hisk..”