
“Jangan-jangan, aku sudah mati?” Bima panik bukan kepalang.
“Enggak, tenang saja itu hanyalah sedikit kemampuanku... Bukankah kau seharusnya tidak asing dengan ajian rogo sukmo?” perempuan itu tetap memegang tangan Bima dan menariknya.
“Rogo Sukmo...?”
“Itu adalah ajian yang dapat melepas jiwa dari raga.. Seharusnya hanya bisa dilakukan untuk diri sendiri, tetapi untuk beberapa kasus dapat juga diarahkan pada orang lain... meski sangat merepotkan.. Huuaaahh.”
“Tapi nanti aku bisa kembali ke tubuhku kan?”
“Ya.. tenang saja.”
“Ehm.. Jangan lupakan aku.”
Bima menoleh ke sisi lain, “Eh Nyi Blorong..!? Kau juga disini?”
“Yaa.. Aku juga ikut tertarik paksa olehnya.”
“Begitu ya.. Tapi ngomong-ngomong, perasaan wujud aslimu itu setengah ular.. Lah ini kok...?”
“Jika ingin, aku juga bisa berubah seperti manusia... Bagaimana..?” Nyi Blorong mencoba menggoda. Tentu saja saat itu pandangan Bima langsung menuju ke arah belah lingkar itu.
“Makhluk penggoda memanglah hebat,” Bima berusaha memalingkan muka.
“Tentu saja lah..” Nyi Blorong mendekat dan memeluk Bima.
“Ehh..!? A-apa yang kau lakukan..? Jangan mendekat seperti ini!?” Bima mendorong-dorong Blorong yang terus berusaha menempel.
“Kenapa? Bukankah biasanya kita memang menyatu seperti ini?”
“Itu.. Mung-mungkin benar, ta-tapi... Aaahh.. Pokoknya menjauhlah dariku!” Bima merasa sangat gugup.
“Whahaha... Iya iya,” Nyi Blorong melepas tangannya dari Bima, tetapi hanya mengambil sedikit jarak darinya.
“Haahh.. Yang lebih penting, siapa kau ini?” tanya Bima kepada perempuan misterius di sisi yang lain.
“Oh iya.. maaf kelupaan, hehe... Panggil saja aku Daha... Kau pasti Bima, dan yang di sebelahmu itu adalah Blorong.”
“Sepertinya kau memang sudah mengenal kami.”
“Ya, kurang lebih begitu.”
“Apa ini? Ada sesuatu panjang yang terhubung denganku?”
“Itu adalah energi kehidupanmu yang menghubungkan antara jiwa dan raga.. Serta hanya kau saja yang bisa melihatnya.. Kau bisa gunakan itu bila ingin kembali ke tubuhmu nanti.”
“Lalu, sebenarnya kita ini mau kemana? Dan sampai kapan kau akan terus memegang tanganku ini?”
“Kenapa? Apa kau tidak suka?”
“Enggak maksudku itu... Rasanya aneh diapit oleh dua demit perempuan seperti ini.”
“Tidak sopan ya.. Aku ini manusia.. Lebih tepatnya manusia yang telah moksa.”
“Daha.. Lalu moksa..? Eh jangan-jangan...?”
“Sepertinya kepalamu tidak kosong, bisa berpikir juga ternyata.”
....
Sebuah tempat yang sangat terkenal di Kota Kediri. Tidak, bahkan bisa dikatakan seluruh pulau Jawa. Ini adalah tempat dimana sosok orang yang mahsyur mengangkat diri ke atas.
Bangunan itu terdiri dari Lingga dan Yoni yang menyatu menjadi sebuah manik. Dikelilingi pagar beton serta memiliki 3 pintu masuk. 3 Pintu masuk tersebut dikatakan adalah gambaran kehidupan; meliputi lahir, dewasa, dan mati.
“Jadi ini tempatnya..”
Di tengah bangunan terdapat benda dari batu yang berbentuk persegi bak sebuah makam. Terlihat ada dua orang. Seorang laki-laki yang berpakaian mirip Daha bersama seorang perempuan berpakaian nuansa hijau yang sedang duduk dengan khidmat.
“Akhirnya kalian datang juga, lelah aku menunggu,” sang perempuan menoleh ke arah Bima dan yang lainnya.
“Oohh.. Kau di sini juga ya ,” ucap Nyi Blorong dengan nada mengejek.
__ADS_1
“Kau kenal dia?” tanya Bima.
“Ya, bahkan sangat dekat.”
“Dari dulu kau tidak pernah berubah ya.. Padahal dengan ibu sendiri masih berkata seperti itu,” perempuan yang dimaksud mendekat.
“Ibu..!?”
“Ya begitulah kenyataannya, dialah yang disebut Nyi Rara Kidul,” kata Blorong.
“Sepertinya baru kali ini ya.. Kamu melihatku langsung,” Rara Kidul menatap senyum pada Bima.
“Sekarang aku ingat, Ni Mas Ratu Pagedongan yang moksa itu pergi ke Laut Selatan.. Tidak kusangka dialah sosok asli dari Nyi Rara Kidul.”
Lelaki yang berpakaian mirip dengan Daha itu bangkit dan berkata, “karena semuanya sudah berkumpul, mari kita mulai saja.”
“Jangan-jangan.. engkau Daka?”
“Ya, dan kau pasti Bima.”
“Tidak kusangka aku bisa bertemu kalian, dua patih yang cukup terkenal pada masanya... Anu.. Gimana caraku memanggil kalian?”
“Tidak usah formal, lagipula kami tidak mengemban jabatan itu lagi.. Jadi panggil saja seperti sebelumnya, Adhi tidak keberatan bukan?”
“Ya, aku tidak mempersalahkan itu kang mas,” jawab Daha.
“Kalau begitu, kita mulai saja ritual pemanggilannya,” Daka kembali duduk menghadap batu yang berada di tengah bangunan.
“Jadi kita akan melakukan itu ya... Tapi apa yang bisa aku lakukan..?” tanya Bima.
“Duduklah..! Ikuti saja kata-kata kami!”
Mengitari batu peti tersebut, mereka duduk bersimpuh menghadap ke tengah. Malam itu tidak ada bintang-bintang yang biasa mengayomi bangunan dan pepohonan sekitar.
“Om namah sri maha ganatapaye...”
“Om namah sri krishnaya...”
“Jaava kee raat jo aapane kaha tha, he mere raaja...!”
Dia antara kegelapan cakrawala, sebuah cahaya terbuka di sana. Tepat di atas peti, sinar tersebut merambat lurus menerangi bangunan batu itu. Terlihat dari belahan langit, ada sesuatu yang turun dari sana.
Seorang manusia. Dia memakai dua utas kain berwarna hijau dan hitam dengan garis emas. Menutupi kedua bahu dan perut, hingga melambai di sekitar paha. Sedangkan kain tenunan berwarna jingga menutupi bagian bawah.
Beberapa saat kemudian, sosok itu semakin dekat. Tentang siapa yang akan dipanggil, Bima sudah menyadarinya dari tadi. Namun saat melihatnya langsung, dia tidak bisa lagi merasakan apa-apa.
Orang yang sangat dihormati, disanjung, dikenal di seluruh Pulau Jawa. Bahkan kata-katanya masih menjadi perbincangan hingga saat ini. Sang raja hebat serta ahli nujum, Dialah...
“...Prabu Jayabaya.”
Sembari menggenggam sebuah trisula kecil, dia, Jayabaya turun perlahan dari batu petilasan. Hawa yang sangat agung, bahkan angin serasa ikut bersujud di hadapannya.
“Selamat datang kembali, Yang Mulia..!” Daka dan Daha mengucap bersamaan.
“Kerja bagus semua, sekarang bangunlah!” titah Jayabaya.
“Wah.. Jayabaya beneran..!” gumam Bima tak sengaja karena terpana.
Prabu Jayabaya menoleh, “hhhmm..? Engkau kah itu...?”
“Ah maafkan saya prabu!” Bima langsung menunduk.
“Tidak usah dipikirkan, engkau pasti tidak terbiasa dengan nuansa kerajaan seperti ini... Jadi, bagaimana keadaannya?”
“Apa maksud Prabu...?”
“Tentang pemusnahan dedemit, bagaiamana perkembangannya?”
“Dari tingkat Sudra, kami sudah membunuh dua makhluk.. Sedangkan yang lain, kami masih belum mengetahuinya.”
“Berarti masih banyak yang harus dilewati... Lalu apakah raden sudah menguasai kekuatanmu?”
__ADS_1
Sejenak Bima berpikir tentang kata 'raden' yang diucapkan oleh Jayabaya, “eh.. yah sedikitlah... Saya mulai bisa menyeimbangkan diri dengan Nyi Blorong.”
“Blorong...? Siapa dia?”
“Dia adalah putri hamba Gusti Prabu...” Nyi Rara kidul menunjuk pada Blorong yang disampingnya.
“Pada era Jayabaya aku ini belum ada, seharusnya kau sudah tahu bukan?” Bisik Nyi Blorong pada Bima.
“Tapi maksud perkataan ku tadi bukanlah soal kekuatan pinjaman, Bima..! Melainkan kekuatan yang ada dalam jiwamu..!” Prabu Jayabaya menyentuh lembut dada bagian hati Bima dengan jarinya.
“Eehh.. Tetapi hamba tidak memilikinya.”
“Ada...! Hanya saja kau tidak menyadarinya...! Baiklah, kalau begitu aku akan membantumu,” dari jari Prabu Jayabaya muncul sebuah cahaya emas yang kemudian masuk ke tubuh Bima.
“A- eh? Aku tidak merasakan apa-apa.”
“Kau akan merasakan perubannya secara berkala.. Eh, sudah waktunya ya... .. Sebenarnya aku masih ingin bicara padamu tapi...”
“Prabu akan pergi..?”
“Ya, ada urusan yang harus kulakukan... Daha..! Daka..! Kita berangkat.”
“Siao, Gusti Prabu..!”
“Kita akan bertemu lagi... Sampai hari itu tiba, berlatihlah untuk menjadi lebih kuat, Raden..!” angin berhembus menutupi pandangan sekejap, dan tiba-tiba Prabu Jayabaya dan kedua abdinya tersebut sudah tidak ada.
“Kenapa Prabu Jayabaya memanggilku Raden?” gumam Bima.
“Mungkin sebaiknya kita juga pergi, Bima!” kata Nyi Blorong.
“Yaa..”
“Sepertinya kita berpisah di sini, Bima... Sampai jumpa lagi!” Nyi Rara Kidul bergerak pada sebuah pohon.
“Barusan itu.. Siapa? Apakah kau juga melihatnya Blorong? siapa itu yang pergi bersama Nyi Rara kidul!?” Bima melihat ada siluet bayangan yang pergi bersama Nyi Rara Kidul.
“Sayangnya, aku tidak mengetahui apa-apa.”
“Tidak apalah.. Kalau begitu, ayo pergi!”
Bima berjalan mengikuti aliran berwarna biru yang samar-samar. Sebuah energi kehidupan yang akan mengembalikan jiwa ini pada tubuhnya.
“Huuaahh.. Ya ampun, dipaksa datang, tapi kembalinya tidak diantar balik.”
“Hahaha.. Kau ini mengeluh saja, makanya ayo sini terbang! Masa berjalan kaki mulu..!” Nyi Blorong terbang berputar-putar mengitari Bima.
“Meskipun bilang begitu, aku...”
“Sudahlah.. Sudahlah...” Nyi Blorong mendekap Bima dari belakang.
“Eh.. A-apa yang kau...”
“Tinggal melompat, lalu terbanglah!” Dengan sedikit tenaga, Nyi Blorong melempar Bima ke atas.
“Eeehh.. Woo-wooyy...!” awalnya Bima berputar-putar tidak jelas. Hingga kemudian, dia mulai bisa terbang dengan tenang.
“Sudah kubilang, kau pasti bisa melakukannya..!”
“Hahaha aku-”
“Awas!” Nyi Blorong mendorong Bima hingga jatuh ke tanah.
Gubrak..!
“Aduh..! Ada apa tiba-tiba..?”
“Lihat itu...!” tunjuk Nyi Blorong pada sebuah pohon yang tertebas oleh sebuah serangan.
Mereka menoleh ke sisi dimana serangan itu datang. Perlahan mulai kelihatan, dari kaki yang besar berjalan melewati kegelapan. Hingga terlihatlah orang berbadan besar dengan belati aneh di tangan.
“Dia...?”
__ADS_1