
“Meskipun sudah dipakai beberapa kali, aku tetap saja tidak terbiasa dengan pakaian ini,” ucap Bima seraya memegang kerah baju.
“Sabarlah, kau juga sedang dibuatin pakaian untuk memaksimalkan kekuatanmu,” Laras berkata tanpa menoleh.
“Gitu aja diributin!” Hendra yang duduk di samping, menyinggung Bima.
Bima pun mengerutkan wajahnya kesal. Namun, untuk saat ini dia menahannya.
“Hhhaahh... Ngomong-ngomong Laras..! Entah bayanganku saja atau bagaimana, aku merasa yang kau pakai adalah pakaian laki-laki.”
“Seperti yang kau pikirkan, ini memang pakaian pria... kau benar-benar tidak tau kisah Baratayudha ya?” Laras memegang kepala dan menggelengkannya.
“Aku hanya tau-tau sedikit, hehe..”
Hendra diam saja mendengar mereka berbicara.
Saat ini mereka sedang di dalam mobil dan sedang menuju ke tempat dimana demit berada. Dikatakan bahwa yang mereka lawan akan berbeda.
Kali ini hanya empat orang melakukan misi ini; yaitu Bima, Hendra, Laras, dan Irwan. Adapun sekarang Irwan menjadi supir di depan.
Kresna mengirim mereka bertiga dengan tujuan untuk memberi mereka pengalaman lebih lanjut. Dengan kata lain, ini adalah latihan nyata.
Alasan lain kenapa hanya empat orang yang dikirim, itu karena demit yang akan mereka lawan selalu sembunyi-sembunyi. Tidak ada yang pernah melihat wujudnya, begitulah laporannya.
Diinformasikan pula bahwa diantara mereka ada salah satu dari enam Demit Sudra. Identitasnya tidak diketahui.
Setelah sampai di sebuah hutan, mereka berempat turun dari mobil.
Karena menjadi yang paling tua dan berpengalaman, Irwan menjadi pemimpin mereka.
“Tetap berkumpul dan jangan lengah!” ucapnya.
Mereka menyusuri hutan yang terkesan sepi. Yang mereka rasakan hanyalah aura dingin menusuk hingga ke dalam tulang.
Malam ini bulan purnama, tetapi tidak ada cahaya yang bisa masuk karena awan yang tebal.
Diiringi oleh embun yang dingin dan dedaunan yang basah, mereka diam-diam bergerak dan sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara.
Embun yang dingin itu mengkristal hingga membentuk sebuah kabut tipis.
Pandangan mereka pun terhambat, tapi mereka tetap mencoba bergerak dengan tenang.
Tidak terasa kabut tersebut semakin tebal dan secara tidak sadar mereka telah sadar. Hingga kemudian mereka berempat sadar bahwa telah terpencar.
Ada dua pilihan yang bisa mereka lakukan, berteriak atau tetap diam. Semua memiliki resiko sendiri-sendiri.
Jika berteriak mungkin mereka bisa berkumpul kembali, tetapi lawan akan mengetahui lokasi orang yang berteriak lalu diserang langsung oleh demit.
Sedangkan bila mereka tetap diam, maka jarak terpisah mungkin akan semakin jauh. Paling buruknya, terjadi bentrokan dengan gerombolan dedemit ketika sendiri.
Namun di saat mereka menginjakkan kaki di tanah ini, mereka sudah tidak kenal takut lagi. Sehingga memutuskan untuk percaya dengan kemampuan dirinya.
Di tempat Irwan kabut yang menyelimuti sekitar semakin menipis. Dia tetap berjalan hingga kabut itu hilang sepenuhnya.
“Dilihat dari pakaianmu, kau pasti salah satu dari anjing keraton juga kan?”
“Siapa kau?” Irwan mengamati arah suara datang.
“Waduh.. Bukankah itu tidak sopan? Berbicara pada atasanmu dengan nada seperti itu?”
Di balik kegelapan seorang pria berjalan mendekat. Dia memakai pakaian kerajaan yang sudah tidak asing lagi bagi Irwan.
“Katakan! Siapa kau sebenarnya?” Irwan menghunuskan kerisnya.
“Apakah jika aku mengatakannya, kau bisa lebih sopan? Aku ini orang yang harusnya kau hormati..!”
Irwan terdiam. Dia mulai menyadari siapa yang dilawannya. pria yang di depan ini pastilah juga berasal dari Keraton Yogyakarta.
__ADS_1
“... Ekspresimu itu.. kau sudah sadar bukan? Hahaha... Ya, seperti yang kau pikirkan..! Jadi, bersujudlah padaku! Bersujudlah di hadapan Pangeran Mangkudiningrat!” Dengan angkuhnya pria itu memandang rendah Irwan.
“Kalau begitu, aku sebagai abdimu... akan menyelamatkanmu dari siksaan ini!” Irwan memasang kuda-kudanya.
“Duh.. duh.. jangan terburu-buru gitu, kita ini seharusnya satu tim lho..!”
“Apakah kau yang disebut Sudra itu?”
“Hahaha... Kau saja mengabaikanku.. jadi perlukah aku menjawab pertanyaanmu itu?”
“Sudahlah.. yang jelas, aku harus menghabisimu!”
“Sebelum itu, coba lawan dulu teman-teman abdimu!”
Beberapa pria dengan pakaian sama dengan Irwan, muncul di sekitar Pangeran Mangkuningrat.
“Kau tahu? aku ini sudah bermurah hati padamu.. bila aku ini dia, aku akan menyerangmu bahkan sebelum mengetahuiku.”
“Dia...?”
“Hhhmmpp... Prajurit, serang dia!”
Sring..!
....
“Woy! Jangan menghilang-hilang terus! maju sini hadapi aku!” Hendra menyerang dengan panah, tapi pria yang di hadapinya terus menghilang-hilang dengan cepat.
“Aarrgghh tunggu! kau juga membawa orang lain? adu duh..” Di saat yang sama, Hendra terkena serangan dari arah lain.
“Sialan... aku akan menghajar kalian!”
Hendra mencoba berpikir tenang. Dia berusaha merasakan lawan yang berada di sekitar. Lalu-
“Gwwaahhh... aku tidak bisa tenang, lagipula ini bukan gayaku.. bukankah tinggal menyerang mereka ke segala arah!?”
Terus menembak dan menembak. Bahkan, beberapa pohon jatuh karena serangan itu. Hendra saat ini seolah sedang menari dengan iringan kembang api.
“Haahh.. aku sedikit pusing.”
“Entah kau pintar atau bodoh hingga menyerang asal seperti itu, tapi kupuji kau bisa mengalahkan semua pasukanku, siapakah namamu anak muda?”
“Hendra, namaku Hendra..”
“Kalau begitu Hendra..! Aku.. Papak Natapraja akan menjadi lawanmu!” Pria itu menghunuskan sebuah pedang.
“Jangan banyak omong..!” Hendra mengerahkan anak panah.
....
“Berapa sebenarnya musuhku ini?”
Laras berlindung di balik pohon. Dia terus merasa bahwa sedang diawasi.
Jleeb..!
Nyaris saja Laras terkena tusukan sebuah tombak. Dia melihat tombak itu secara seksama, lalu menyadari bahwa benda tersebut seperti bambu yang diruncingkan.
...*Mustahil, lawanku adalah seorang pahlawan?
...Tenangkan pikiranmu Laras! Itu bukanlah tidak mungkin.
...Jika benar seorang pahlawan, berarti dia adalah seorang gerilyawan, jadi aku hanya perlu menebak pola serangannya*.
Jleeb..! Jleeb..!
Tombak itu berhasil menusuk baju Laras. Namun dengan gagah Laras menyobek pakaiannya lalu berlari.
__ADS_1
Dia mencari sebuah tempat yang mungkin bisa menjadi persembunyian. Entah itu gundukan tanah, semak, dan pepohonan. Semua ia telusuri.
Dengan kemampuan indra perasa yang kuat, Laras menyerang tiap-tiap demit yang bersembunyi.
Bruug.. Slaass..!
Laras berusaha menghindari serangan jarak jauh mereka. Meskipun kadang dia berhasil tergores, tetapi api semangatnya tidak ada tanda-tanda meredup.
Seiring waktu semakin banyak yang berhasil Laras bunuh. Senjata demit cukup bervariasi ; seperti Pedang, tombak, clurit dan golok.
Setelah itu terdengar suara kuda. Di saat Laras menyadarinya, dia langsung diterjang oleh seekor kuda.
Dia tersungkur di tanah untuk beberapa saat, lalu bangkit dan menatap pada kuda itu berdiri.
Laras melihat kuda yang berwarna putih. Dengan atribut lengkap, kuda itu dinaiki oleh seseorang.
Sang penunggang kuda adalah sosok wanita tua, bersenjatakan tombak dan pakaian kejawen yang sederhana.
Lantas Laras segera tahu siapa yang menjadi lawannya, “Bukankah engkau...?”
“....” Nenek itu malah menyeringai.
Laras tertegun seraya melanjutkan ucapannya, “...Pahlawan Nasional, Nyi Ageng Serang..!?”
.....
Sedangkan saat itu Bima sedang kualahan. Karena ada sosok yang bergerak cepat mengelilinginya. Dia memantul di antara tanah, batu, dan pepohonan.
Dan pada waktu yang bersamaan, serangan dari arah lain datang. Karena tidak waspada, Bima pun terkena anak panah tersebut.
Tanpa jeda, dia langsung dipukul oleh sosok cepat itu. Bima terpelanting dan menubruk pohon.
Sebenarnya Bima bisa melihat pergerakan demit itu. Tetapi untuk menghindar, dia tidak akan sempat. Dia belum bisa menyaingi kecepatan lawannya.
Jlluub..!
Anak panah berdatangan menghampiri Bima. Dia berlari dan berguling menghindarinya. Hanya ini yang bisa dia lakukan.
Jika begini terus tentu saja akan gawat. Namun di sisi lain, dia tidak bisa mengetahui tempat musuh berada. Bima tidak merasakan demit lain kecuali sosok cepat itu.
Dia terus berlari-lari menghindari anak panah seraya memikirkan situasi ini.
Hingga kemudian Bima mengetahui sesuatu. Strategi yang paling cocok andaikan dirinya menjadi musuh. Dia ingat dengan istilah 'Benteng Pendem'
Salah satu taktik jitu yang digunakan oleh pendahulu untuk melawan penjajah.
Bima pun mencari tempat-tempat kemungkinannya. Dengan terus dikejar oleh sosok cepat itu, dia menemukan tempat persembunyian mereka.
Para demit bersembunyi dengan memendam tubuhnya di bawah tanah yang ditumbuhi tanaman. Satu-persatu tempat itu dibongkar oleh Bima.
“Engkau memang hebat, kisanak..!” sosok cepat itu berhenti di udara dan menampakkan diri.
“Si-Siapa.. ka..u.?”
Terlihat seorang pria dengan jubah sampai menutupi kaki. Dia juga memakai ikat kepala yang kainnya menjalar ke tubuh.
“Tapi sayangnya kisanak sudah kehabisan tenaga..!”
“Jangan remehkan aku demit sialan..!”
“Waduh.. anak zaman sekarang selalu semangat dan suka ngelunjak ya..”
“Katakan siapa kau!?”
“Baiklah.. karena saya sedikit mengakuimu, saya akan mengatakannya,” pria itu turun perlahan ke tanah.
“Engkau.. kan...!?”
__ADS_1
“Salah satu Sudra, saya adalah Antawirya, mungkin kisanak mengenalku dengan Diponegoro.”