Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Keteguhan


__ADS_3

Krik.. krik.. krik..


Suara serangga saling bersahutan di hutan yang gelap. Ditambah dengan gemuruh air mengalir, membuat suasana malam terasa mencekam.


Karena tidak tahu lokasi tepatnya, para abdi memutuskan untuk berpencar dua arah, Utara dan Selatan.


Bima, Irwan, dan Laras mendapat jatah untuk menelusuri bagian Selatan.


“Itu dia!” bisik salah seorang yang berada di lini depan.


Mendengar itu, mereka langsung bersiaga seraya menatap ke depan. Dari balik pohon dan dedaunan terlihat banyak manusia dengan tubuh yang menyeramkan.


“Tidak salah lagi.”


Salah seorang melambaikan tangan, mengisyaratkan untuk membentuk posisi melebar.


Mereka segera bergerak dengan hati-hati di antara kegelapan hutan. Dan isyarat serangan pun akhirnya dilontarkan.


Pertempuran dimulai. Meskipun kalah jumlah, tapi pasukan kerajaan saat ini sedang mendominasi keadaan.


Saat ini, demit hanya ada yang jenis normal saja. Sehingga sangat mudah untuk dihabisi. Bahkan, untuk pemula seperti Bima.


Sring.. sring..


Setiap tebasan memotong badan demit yang lambat, hingga bagian tubuhnya terurai bercampur dengan udara.


'Aneh, kenapa hanya jenis normal saja yang keluar?' Semua orang yang bertempur di tempat ini pastilah berpikir demikian.


Dari tadi yang muncul hanyalah demit dengan tingkatan paling rendah. Ini terasa ganjil bagi mereka.


“Hey Bima..! Ikutlah denganku!” Irwan mengambil inisiatif. Dia memisahkan dari pasukan lain bersama Bima.


Laras yang mengetahui, diam-diam mengikuti mereka berdua.


Beberapa saat kemudian demit abnormal mulai muncul. Salah satu dari mereka tiba-tiba muncul dan menabrak salah satu abdi.


“Semuanya hati-hati! mereka sudah datang..”


Pertempuran pun menjadi cukup sengit. Jumlah dedemit terus bertambah dan berkurang seiring waktu. Demikian dengan para abdi yang mulai menerima luka-luka.


Di saat yang bersamaan Irwan dan Bima, diikuti oleh Laras menerobos masuk ke selatan. Dengan tetap mengikuti aliran air sungai, mereka bergerak seraya menghabisi demit yang menghadang.


Lalu sesuatu yang cepat menghantam Bima hingga dia terpental jatuh ke sungai. Untungnya, air yang mengalir di sana hanya bisa menenggelamkan mata kaki.


“Bima!!”


Saat ini tepat di hadapan Bima, terdapat sesosok demit abnormal. Matanya tajam dengan tubuh menyerupai monster aneh tak bisa dijelaskan.


awalnya demit itu bergerak-gerak perlahan dengan kaku. Hingga mendadak dia melancarkan serangan kejutan pada Bima.


Ctang...


Krr.. krraakk


Kuku panjang demit bergesekan dengan keris. Serta terjangannya membuat Bima terdorong mundur. Mereka saling beradu kekuatan.


Mengetahui Irwan dan Laras yang ingin membantu, Bima berkata :


“Kalian pergilah dahulu! Aku akan melawannya.”


“Tapi-”


“Bima...”


“Tidak apa-apa, aku bisa mengatasi ini, kau pasti tahu sesuatu kan Irwan!?”


“Baiklah, ayo pergi!” Irwan menyarungkan kembali keris, lalu pergi bersama Laras.


“Kau yakin Bima akan baik-baik saja?”


“Ya, pasti... yang lebih penting, kita harus cepat.”


Seperti pada latihan, Bima menggerakkan keris dengan Lihai. Menyerang dan terus menangkis kuku demit yang datang.


“Hyaaa..**!”


Bima memberikan tekanan serangan pada demit. Lalu di saat ada kesempatan, dia menerjang dan membuat lawannya terpukul mundur.


Bima mengaliri kerisnya dengan kesaktian, membuatnya bercahaya dan membesar.


Crak.. crak..


Langkah kaki Bima membuat percikan air di di bawahnya. Dengan konsentrasi, dia berlari maju dan menyerang demit.


Demit itu pun dengan ganas menyambutnya, dan terus bertambah liar.


Seiring waktu berjalan, Bima kehilangan tenaga. Berbeda dengan demit yang tidak bisa merasakan lelah, dan malah menyerang dengan membabi buta.


Dengan kata lain, Bima berpacu dengan waktu. Dia harus segera menyelesaikan ini sebelum-


“Waktunya mengakhiri ini, Keluarlah..! Anaconda!”


Dua ekor roh ular berukuran besar keluar dan segera meluncur ke depan. Berputar beberapa saat, kedua ular itu mengekang tubuh demit.


Meskipun tidak terperangkap sepenuhnya, tapi itu sudah cukup untuk menghambat pergerakannya.


Jleeb..


Keris itu masuk telak ke tubuh demit. Pertempuran berakhir dengan kemenangan Bima.


'Kerja bagus Bima.. tanpa arahanku kau bisa mengalahkannya' Blorong menampakkan diri.


“Hhaahh... Tapi sepertinya aku harus lebih banyak belajar lagi.”


Cahaya keris menghilang, Bima kembali menyarungkan-


'Tunggu Bima, pertempuran masihlah berakhir'


Bima terdiam dan menoleh ke sisi salah satu pinggiran sungai. Dia akhirnya merasakan, sosok makhluk berjumlah banyak sedang mendekat.


'Apa yang akan kau lakukan Bima? Meskipun mereka tingkatan yang paling rendah, jumlah mereka cukup banyak, mau bertarung atau lari?'


Kemudian Bima berpikir, saat ini teman-temannya juga sedang berjuang keras. Dia akan merasa malu bila lari ketika mereka bertempur.


“Sudah jelas bukan? Bertempur.”

__ADS_1


'Sudah kuduga kau akan mengatakannya'


“Ayo, Nyai Blorong..!”


'Untuk permulaan aku tidak akan membantumu, tapi panggil aku jika perlu!'


Bima tersenyum bersemangat seraya berkuda-kuda di atas genangan.


.....


Di tempat lain, Irwan dan Laras sedang berlari dengan tergesa-gesa.


Mereka dalam perjalanan ke sebuah tempat yang di rasa pusat oleh Irwan, yaitu tempat dimana demit tingkat menengah berada.


Alasannya, dikarenakan demit tingkat menengah merupakan jenis demit yang bisa memerintah. Dia bisa mengatur demit lain yang berada di bawah tingkatnya.


Namun, ketika sosok pengatur itu mati. Maka dedemit jenis normal dan abnormal akan kacau. Bagai prajurit yang kehilangan moral mereka.


Dan sekarang ini, Irwan dan Laras sedang mengincarnya.


“Seharusnya berada di sini tapi...” Irwan berjalan ke sebuah cahaya. Terdapat sejenis sesajen dengan lilin mengelilingi.


“Ada apa?” tanya Laras.


“Kita tertipu..” Irwan menatap sesajen tersebut, lalu mulai melihat sekitarnya.


“Dan kita juga dapat masalah,” Laras menghunuskan keris.


“Kau benar.”


Mereka bertatap punggung sembari bersiap-siap.


Kkwwaarrh...


Dimulailah pertarungan mereka melawan para dedemit.


Jumlah dedemit tidak terlalu banyak, seolah mereka direncanakan hanya untuk mengukur waktu.


Ketika Irwan bertempur luwes, dia menyadari sesuatu.


“Laras..! segera pergilah ke tempat Bima! ini akan kuatasi.”


“Kau yakin?”


“Ya, cepat pergi!”


“Aku mengerti!”


Laras beranjak pergi meninggalkan Irwan.


“Hoy.. lawan kalian adalah aku..!” Irwan mengalihkan perhatian demit agar Laras bisa menerobos kabur.


Laras dengan sigap mengambil kesempatan tersebut dan lari. Dia pun segera pergi menuju tempat dimana Bima terpisah.


Dia berjalan mengikuti aliran sungai. Laras menggunakan suatu sihir pada kedua kaki. Sehingga ketika menyentuh air, langkahnya akan lebih jauh dan lebih cepat.


Tidak perlu waktu Lama Laras dapat menemukan Bima. Saat ini, pria itu terlihat sedang dikeroyok oleh gerombolan dedemit.


“Hyyaahh..”


“Kau tidak apa-apa?” tanyanya.


“Ya, bukan masalah besar.. tapi kenapa kau di sini?” Bima terengah-engah, tapi dia tetap memegang keris dengan tangguh.


“Tidak ada waktu untuk basa-basi, kita harus menyelesaikan ini!”


“Ya.”


Mereka pun bergerak bersamaan. Para demit tipe normal bukan masalah, tapi jumlah mereka sedikit merepotkan.


Melengkapi satu sama lain, mereka bertarung dan melindungi satu sama lain. Gerakan Bima dan Laras bersimponi dengan sangat lihai.


Hingga kemudian datanglah dua demit tipe abnormal dengan serangan kejutan. Mereka meluncur cepat ke dalam kerumunan.


Bima dan Laras melompat ke arah yang berbeda untuk menghindar. Mereka keluar dari gerombolan para dedemit.


“Anaconda!” Bima mengarahkan salah satu telapak tangan ke depan dan mengeluarkan roh ular yang lebih besar dari sebelumnya.


Ular tersebut bergerak mengitari para demit yang berkumpul. Lingkaran lilitan ular semakin terus mengecil seiring waktu.


Untuk beberapa alasan, para demit tidak bisa terbang di lingkup lingkaran ular. Mereka mencoba memanjat dan berjatuh. Namun, itu tidak akan bertahan lama.


Di saat yang sama, Laras sudah menyiapkan busurnya dengan anak panah yang menuju ke langit.


“Padamkan masalah dan turunkan hujan yang deras!”


Anak panah melesat ke langit dan menghilang. Lalu turunlah panah yang menghujani para dedemit.


Tersisalah asap yang menutupi pandangan. Namun, dua demit abnormal terlihat masih berdiri di dalam.


“Kalau begitu, kita coba ini...” Laras menarik sebuah anak panah yang lebih bercahaya dan lebih besar, “...Ardadedali!”


Jluub..


Kedua demit tertusuk dengan satu anak panah yang cukup panjang itu.


Bima dan Laras berjalan berdekatan.


“Bukankah itu panah yang waktu itu..?” tanya Bima.


“Iya, ini.. a-aduh.”


“Ada apa? Kau terluka..!? Ternyata itu jurus yang sulit ya, sebaiknya kau tidak memaksakan diri.”


Bima menatap dengan serius. Tangan Laras dari siku ke bawah berwarna kemerahan.


“Apa sakit? Kau masih bisa menggerakkan tanganmu?”


“Sedikit, lengan bawahku terasa lemas dan pergelangan tanganku mati rasa.”


“Aku tidak begitu mengerti pengobatan, tapi semoga ini membantu,” Bima mengambil sebuah gulungan dan membalut luka Laras dengan kain putih.


Wajah Laras memerah. Karena sampai sekarang, dia belum pernah sedekat ini dengan seorang pria.


Bima pun membalut kuat bagian lengan bawah. Tidak lupa dia memberikan mantra penyembuhan.

__ADS_1


“Oke, selesai,” Bima kembali menegakkan badan. Dia melihat Laras yang wajah masih menunduk, “masih terasa sakit?”


“Ah.. tidak, sudah terasa mendingan,” Laras menatap dengan ragu-ragu, “...Te-terima kasih.”


“Sama-sama,” rasa kemanusiaan yang tinggi membuat Bima tidak merasakan keanehan pada perilaku Laras.


Sebuah kilatan cahaya putih menyambar di hutan barat sungai.


“Sepertinya di sanalah tempatnya,” Bima menatap serius tempat itu.


“Jangan ke sana! Kau sendiri tidak akan bisa.”


“Tidak ada pilihan lain, orang lain saat ini sedang bertarung ketika kita diam.”


“Baiklah, aku ikut!”


“Tidak perlu, jangan khawatir! Kali ini aku akan bertarung bersama Blorong,” pada tubuh Bima keluar sosok perempuan.


“Siapa juga yang khawatir..?” Laras berkata lirih sampai tak terdengar.


“Kalau begitu, aku pergi..!”


Bima segera berlari ke hutan barat. Dia bergerak sesuai arahan dari Nyi Blorong.


'Sampai di sini lurus saja, tapi hati-hati mereka sedang mendekat'


Seraya menggenggam erat keris, Bima terus melangkahkan kaki dengan cepat.


Lalu para dedemit mulai menunjukkan diri. Kali ini terdapat satu demit abnormal dengan beberapa demit normal.


Nyi Blorong sangatlah membantu di saat-saat seperti ini. Karena dia menjaga demit yang menyerang dari belakang. Bima tidak perlu khawatir lagi akan punggungnya.


Bima bertarung sengit dengan demit abnormal. Di sisi lain, Nyi Blorong menggunakan sihirnya. Dia menyerang demit lain yang mencoba mengganggu.


Kefokusan Bima tertuju pada sosok demit di hadapannya. Sedangkan Nyi Blorong sibuk mengurus kurcaci pengganggu.


Saat itu juga mereka lengah. Sosok demit abnormal yang lain menerjang pada titik puda mereka.


'Celaka'


“Tidak akan sempat.”


Gubrak...


Bima tertubruk oleh demit dari beberapa sisi.


“Adu-du-duh, ... Wwhhaaa..!” Bima kaget dan berguling menjauh dari tumpukan dedemit, “dilihat dari dekat mereke mengerikan juga, ... tapi aku tidak terluka?”


Bima menatapi tubuhnya yang hanya mendapatkan goresan kecil di beberapa tempat.


'Lihat mereka!'


Sekarang ini para dedemit tidak memiliki daya. Kuku tangan mereka yang biasanya panjang juga menghilang.


“Mungkinkah...?”


'Ya, hanya itu kemungkinannya'


“Hhwwaaa..!” terdengar suara teriakan yang diiringi kilatan cahaya.


“Jangan-jangan..?”


Bima langsung berlari ke sumber suara tersebut.


Di sana terlihat seorang perempuan muda yang terlihat merangkak kesakitan. Tubuhnya cukup mengerikan dengan warna yang memucat.


“Hey.. kau tidak apa-apa?” tanya Bima.


Sang perempuan perlahan berdiri. Langkah demi selangkah dia mendekati Bima.


“A-aku tidak tahan lagi, bunuh..! bunuh aku! tolong.. bunuhlah aku!”


“Tapi...” mulai muncul keraguan pada diri Bima. Karena sosok manusia yang dilihat terlihat masih bisa diselamatkan, dia tidak tega melakukannya.”


“Kwaahh.. Ce-cepat bunuh sebehwuaah... aku...” Perempuan itu terus berjalan mendekat dengan keadaan seolah di ambang batas.


'Buruk, Bima cepat serang dia!'


“Ti-tidak bisa,” Bima bergetar. Dirinya berpikir perempuan itu masih bisa disembuhkan.


Ketika sang perempuan sudah cukup dekat, dia malah melompat dan menerjang Bima yang lengah.


Saat itu pikiran Bima pun kosong. Dia tidak memikirkan apa-apa lagi


Crraakk..


Sebuah cahaya berbentuk keris menancap dan melemparkan perempuan yang sudah kerasukan itu ke samping.


Bima menoleh ke samping lain. Dia melihat Laras yang berdiri terengah-engah di batang sebuah pohon.


“Laras? Kenapa kau di sini,” Bima segera menghampiri Laras.


“Hiih.. Apa itu kata yang pantas untuk orang yang menyelamatkanmu?”


“Aahh kalau itu.. terima kasih, tapi dia...”


“Kau bodoh! orang itu sudah sepenuhnya kerasukan, dia tengah memperdayaimu.”


“Begitu ya, ... kau masih bisa jalan?”


“Iya, tenang saja.”


Melihat Laras yang terlihat kesusahan, Bima berkata, “mau kubantu?”


“Aahh... ti-tidak! tidak perlu,” memikirkannya saja sudah membuat Laras malu.


Mereka berjalan perlahan ke arah timur tempat sungai mengalir. Dari kejauhan terlihat seseorang yang melambaikan tangan, dia adalah Irwan.


“Hoy... Bima..! Laras..! Kalian baik-baik saja!?” teriaknya.


“Ya, tidak ada yang perlu dikahawatirkan!” Jawab Bima.


Malam ini banyak para dedemit yang mati. Sebagian dari mereka berhasil melarikan diri.


Sedangkan di pihak manusia, hanya mengalami luka-luka. Entah itu berat, atau luka ringan.

__ADS_1


__ADS_2