Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Latihan Pertama


__ADS_3

Sinar matahari merambat lurus di antara dedaunan. Diiringi dengan burung-burung yang memulai konser.


Udara pagi ini mengibarkan semangat para abdi kerajaan. Tidak ada yang bermalas-malasan hari ini.


Sekarang adalah hari minggu, tapi tidak ada satupun pengunjung yang datang. Karena keraton sudah menutup akses wisata.


“Tubuhmu sudah cukup bagus, kau hanya perlu melatih jiwa dan mental saja Bima!” Krisna berkata tegas mengitari Bima yang berdiri tegap.


Bima sudah menetapkan dan percaya diri dengan hal ini.


“Untuk permulaan aku akan mengujimu, sampai manakah batasanmu? Coba kerahkan seluruh kekuatan untuk menyerangku!”


“Kamu yakin..?”


“Ya..”


Bima mengambil kuda-kuda. Seraya membayangkan kekuatannya, dia berhasil mengeluarkan lima ular.


“Haahh.. hah...” berbeda dengan kapasitas sebelumnya, ini membuat lelah dirinya.


“Yo.. serang aku.!”


Atas kehendak Bima, kelima ular itu menggeliat maju dengan cepat.


Krisna mengelak ke samping seraya menembakkan peluru cahaya ke ular-ular itu.


...Tidak kusangka sangat cepat, itu hampir-


...Apa? Ada salah satu ular yang lolos dari serang tersebut. Sang reptil sesaat berhasil membelit kaki, sebelum Krisna meloloskan diri menggunakan sebuah sihir.


Krisna mengalami cedera ringan tulang kering dan betis pada kaki kanan. Dia hampir saja terlambat.


...Tidak kusangka efeknya sekuat ini, seperti kata prabu-


“Hanya ini kekuatanmu!?” Krisna menguatkan diri untuk berdiri tegap.


“Haahh haah.. sial-”


Deg..


“Ada apa Bima? Kau baik-baik saja?”


Bima memegangi kepala yang mendadak. sakit. Perutnya saat itu juga merasa mual tak tertahan.


Dia telah mencapai batas, hingga bersujud di tanah karena rasa sakit.


Krisna mendekat dan menenangkan dengan merapal sebuah mantra pada kepala Bima.


“Kita istirahat sebentar!”


“Huuaahh.. padahal baru mulai,” Bima mentelentangkan tubuh yang masih menyisakan sedikit rasa nyeri.


Di sisi lain, Krisna sedang meratapi kakinya yang terluka. Lengah sedikit saja, cedera tersebut pasti akan menjadi serius.


Di bawah sebuah pohon yang rindang, mereka berdua duduk membelakangi sinar matahari.


Bima melihat empat wanita sedang beraktivitas dari kejauhan, lantas dia berkata :


“Apakah mereka juga..?”


“Ya.. mereka ini adalah keturunan bangsawan terkecuali Laras.”


“Ngomong-ngomong, apakah mereka tidak mengalami fenomena kerasukan?”

__ADS_1


“Laras pernah mengalaminya, tapi keyakinannya cukup kuat untuk menahan demit.. sedangkan untuk kasus turunan raja, ada hal tertentu yang membuatnya kebal.”


“Sebentar, ... bukankah aku seharusnya juga mengalami fenomena tersebut?”


“Entahlah,” jawab Krisna tak acuh, seolah mengetahui sebuah fakta.


“Hey Krisna..! Apakah aku ini spesial?”


“Kenapa kau bisa berpikir demikian?”


“Aku juga tidak mengerti, tapi entah kenapa aku merasa dilahirkan untuk ini.”


Krisna tertawa kecil seperti berkata 'kau bodoh ya?'


...


Setelah istirahat sebentar, Mereka berdua melanjutkan latihan.


Beberapa saat kemudian, Bima duduk bersila dengan wajah terengah-engah kelelahan. keringat mengalir deras di kulitnya.


“Sepertinya ini akan menjadi latihan yang panjang, kau tidak memiliki bakat untuk hal ini,” Krisna menepuk kepalanya sendiri.


“Hhaahh... hhaahh.. i-ini sangatlah be..hhraat.”


Bima tergeletak seraya melihat matahari yang hampir lurus di atas. Padahal sudah membulatkan niat, tetapi keadaan tidak mendukung.


Krisna mengulurkan botol berisi air mineral ke arah Bima.


“Terima kasih,” Bima bangkit dan meminum air tersebut.


“Tidak usah buru-buru! jalani latihan ini dengan pikiran tenang, itu lebih mudah untukmu.”


Bima menyiram air minum pada kepala untuk mendinginkannya.


“Baiklah.”


....


...Aahh Segar!


Hanya berbalutan handuk, Bima berjalan seraya mengelap rambut dengan handuk yang lain.


Menatap cermin di depan, dia menatapi otot-otot tubuhnya yang sudah membentuk rapi.


...padahal fisik sudah cukup bagus.


...Persoalan antara jiwa dan raga lebih rumit dari yang aku kira.


Beberapa saat kemudian, Bima mendengar ketukan pintu. Dibarengi kata 'permisi' dari seseorang di balik itu.


...Krisna?


“Buka aja!”


Ternyata itu bukanlah orang yang dipikirkan, melainkan Irwan. Dia menggantikan Krisna membawakan beberapa buku untuk Bima.


“Kresna ada beberapa urusan, jadi aku menggantikannya.”


“Begitu ya, apa ini? entah kenapa nyeremin.”


Bima melihat satu persatu buku yang diterimanya. Berbagai macam model terdapat pada sampul. Namun ada satu kesamaan, yaitu semua judul buku selalu terdapat kata 'Primbon'


“Semua itu adalah kunci dasar untuk mengendalikan kekuatanmu.. terlebihnya, hanyalah keinginanmu,” ucap Irwan seraya membuka sebuah buku.

__ADS_1


“Sepertinya akan merepotkan.”


Bima segera duduk di kursi tepat di depan bangku belajar. Dia berniat membaca sekilas salah satu buku tersebut.


“Bahasanya benar-benar tinggi, aku tidak kuat membacanya.”


“Namanya juga syair orang lawas, paksalah! entar juga terbiasa.”


“Aku harap begitu.”


“Maaf, aku tidak bisa berlama-lama, masih ada urusan yang harus kulakukan.”


“Jadi abdi dalem itu berat ya..?”


“Tidak juga, kami semua menikmati hal ini... sampai jumpa!”


“Ya, sampai jumpa!”


Bima pun tinggal seorang diri. Ditemani dengan cahaya lampu yang berusaha tetap menyala.


Kamar dengan suasana putih, tidak bisa menutupi perasaan seram pada Bima. Seolah buku yang dibaca telah menghipnotis dirinya.


Suara jentikan jarum jam terasa semakin mendalam di telinga. Seakan waktu berjalan lebih lambat.


Semakin Bima menelusuri lembaran buku, semakin dalam pula rasa ingin menyelesaikan buku tersebut. Dia terjerat dan tidak bisa kembali lagi.


Satu per satu kalimat terus merasuki pikiran Bima. Remaja itu telah memasuki dunia baru yang belum dikenalnya.


Perasaan aneh yang dirasakan memuncak ketika dia selesai membaca buku itu.


Perlahan Bima menutup tirai jendela dunia. Otot tangan yang tadinya sangat kaku, sekarang lemas tak bertenaga.


Namun, persoalan pada wajahnya tidak berubah. Bahkan semakin parah di tiap detik yang terlewat.


Semua aliran pembuluh pada kepala menguat hingga kelihatan. Urat maupun saraf, mengeras seperti mau putus.


Meskipun demikian, ekspresi yang terpampang pada muka Bima seolah tidak merasakan apa-apa. Hanya saja, dia merasakan ada hal yang ganjil.


Dia berjalan lunglai menuju sebuah cermin. Seketika Bima sadar, sesuatu yang ghaib sedang merasuki dirinya. Cahaya berwarna hijau dan biru, ditambah estetika gelap yang menyeramkan.


Namun ketika Bima menoleh, tidak ada yang terjadi. Dirinya tidak melihat hal aneh itu. Lalu dia berbalik lagi ke cermin agar bisa melihatnya.


Seiring waktu sinar tersebut semakin menggelap. Hingga kemudian cermin yang berada di depan Bima berubah menjadi hitam.


Ada sesuatu yang bergerak dibalik punggung Bima. Merayap perlahan hingga salah satu bagiannya menyentuh pundak.


Lagi-lagi dia menoleh dan tidak ada yang terjadi. Bima meneguk ludah seraya berbalik ke cermin. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori wajah.


Sosok itu lambat laun menunjukkan diri. Jantung Bima berdegup kencang, ingin melarikan diri tapi tidak bisa.


Samar-samar, tapi dilihat dari bentuknya itu mirip wajah manusia. Sedangkan yang menyentuh pundak Bima adalah tangannya.


Melihat penampakan tersebut, dia menundukkan muka seolah berkata 'ini hanya halusinasiku saja kan?'


Bima kembali melihat ke cermin dan semua bayangan hitam itu telah hilang. Kemudian dia memukulkan kepalanya yang panas pada sebuah dinding.


Tubuhnya bergetar dan sulit bergerak. Bima pun bersandar pada dinding tersebut untuk sementara waktu.


...


Di sisi lain, Krisna sedang berdiri di balik pintu kamar. Meskipun tidak melihat langsung, dia mengetahui apa yang dilewati Bima.


Kemudian Krisna tersenyum seperti seorang orang tua yang berkata 'kau berhasil, tapi jalanmu masih panjang nak'

__ADS_1


__ADS_2