Pendekar Tanah Jawa

Pendekar Tanah Jawa
Goa Bangau Putih


__ADS_3

Pagi yang cerah menyinari Pulau Padi. Semua berjalan seperti biasanya. Mobil dan Motor lalu lalang memenuhi jalanan. Tidak lupa para murid yang berangkat sekolah dengan sepedanya.


Di sisi lain, Bima dan yang lainnya masih berada di rumah Rahayu. Tidak seperti kemarin yang langsung berangkat pagi-pagi sekali.


Bima duduk di sebuah kursi sembari menggonta-ganti channel televisi, “hhhaaahh... hari gini tidak ada serial televisi yang seru.”


Kemudian-


*...Rekaman misterius menggemparkan netizen-*


“Apa ini..? Paman Wira..! Coba lihat ini..!”


Wira datang dari belakang, “ada apa?”


“Lihat itu..!”


*...Video yang memperlihatkan lautan beku ini diambil di pesisir hutan Laut jawa-*


“Gawat! Bila begini bisa-bisa akan terjadi kepanikan di Pulau Jawa.”


“Kalau itu aku sedikit kurang yakin paman, memangnya masih ada yang percaya yang begituan?”


“Meski tidak percaya, suatu saat mereka pasti merasakan hal yang janggal.. Karena pada dasarnya, orang Jawa sudah tidak asing lagi dengan makhluk halus atau siluman.”


“Tetapi mengenai panik, itu kurasa tidak akan.”


“Maksudmu?”


“Paman tahu sendiri kan sifat orang-orang... Mungkin saja bila ada keanehan seperti itu muncul, mereka malah akan semakin penasaran dan tidak sedikit pula yang akan mengambil foto.”


“Benar juga ya..”


Mereka tertawa terbahak-bahak.


“Gila ya kalian berdua! Kehidupan dibuat bercanda..! Yah sudahlah.. aku hanya ingin bilang sarapan sudah siap, kalian ambillah jatah sendiri,” ucap Laras dengan posisi yang masih memegang sebuah sendok sayur.


“Baiklah, ayo Bima!” Wira segera menuju dapur.


“Woah.. Seperti emak-emak ya.. *tung..* ah.! aduh..! Kau ini sakit tahu!” Bima berjalan seraya memegangi bagian kepala yang dipukul Laras.


“Udah.. makan sana!”


“Iya.. Iya.”


.....


“Terima kasih ya.. mau mampir!”


“Kami juga berterima kasih.”

__ADS_1


“Datang lagi ya, Mas Bima!”


“Ya, sampai jumpa lagi!”


Setelah berpamitan dengan Mbak Rahayu serta Haidar, Bima dan yang lainnya pergi lagi ke arah timur. Mereka berencana langsung menuju ke tempat mata air selanjutnya.


Beberapa menit perjalanan, mereka pun sampai di tempat tujuan. Terdapat sebuah klenteng kecil yang indah di sana. Meski sepi, tempat tersebut masih kelihatan bersih. Orang-orang di sana masih bisa menjaganya dengan baik.


“Akhirnya kau datang lagi ya, Patih Wira,” seseorang pria tua menjabat tangan Wira. Dari penampilannya, bisa diketahui bahwa dia adalah tetua di sini.


“Iya, kali ini aku membawa murid-murid yang berbakat.”


“Sepertinya memang begitu, dengan melihatnya saja aku sudah tahu.”


Kemudian Bima, Laras dan Fatim memperkenalkan diri.


“Oalah.. Jadi ini putrimu..! .. Dan salam kenal, aku adalah Sumirin, juru kunci tempat ini.”


“Salam kenal, Pak Sumirin.” mereka menunduk pada pria yang didepannya.


“Baiklah, langsung saja kita menuju ke tempat mata air yang kalian cari.”


Sebuah sumur yang berbentuk seperti pada umumnya. Tetapi arsitekturnya sudah dibuat seperti gaya Tionghoa.


Bima menimba sumur itu. Dengan bergantian, Laras dan Fatim membasuh muka menggunakan air itu. Kemudian diikuti Bima yang juga menggunakan air tersebut.


'Apa kau mendengarku, Bima?' tanya Nyi Blorong.


'Ini karena efek air ini, bila kau sudah menggunakan kelima mata air suci, cukup membayangkan saja, kau bisa bicara denganku.'


“Seperti tepati gitu ya..?” gumam Bima.


“Kalian sedang tidak buru-buru kan? Bila masih ada waktu, mari masuk dulu ke dalam,” ajak Sumirin.


Mereka berjalan masuk di salah satu ruangan di kelenteng. Mereka duduk bersila di atas sebuah matras.


“Bagaimana perkembangannya?” tanya Sumirin.


“Sejauh ini, kami mengetahui ada tingkatan yang ada pada dedemit.. Ada Sudra, Waisya, Ksatria, dan Brahma,” kata Wira.


“Bukankah itu kasta Hindu?”


“Begitulah, tetapi memang seperti itu yang tertulis pada salah satu Serat Jayabaya.”


“Permisi,” seseorang membawa 5 gelas berisi teh di atas sebuah nampan. Kemudian membagikannya pada para tamu dan Sumirin.


“Terima kasih.”


Setelah memberikan semua teh, orang yang memakai jubah itu bergegas keluar. Lalu mereka pun melanjutkan pembicaraan.

__ADS_1


“Sedangkan kalian para anak muda, apa kemampuan kalian?”


Bima menceritakan tentang Nyi Blorong dan Laras menceritakan tentang roh Srikandi. Sedangkan untuk kasus Fatim, Wira yang mengatakannya.


“Mumpung berada di sini, maukah kalian berkunjung ke gua?” tanya Sumirin.


“Ada juga yang seperti itu!?” Bima langsung bersemangat.


“Kali ini aku tidak ikut, kalian pergilah sama Pak Sumirin.”


“Baiklah.”


“Fatim ikut juga?” tanya Laras.


“Tentu saja.”


“Kita harus jalan kaki sekitar tiga ratus meter dari sini, apa kalian tetap bersedia?”


Tidak ada yang keberatan. Mereka melewati sebuah ladang dengan beberapa pohon besar. Tegalan, begitulah orang-orang menyebut tempat seperti ini.


Setelah menaiki beberapa tingkat, mereka melihat sebuah patung dan gerbang besi melengkung dengan tulisan 'goa tan tieh shioe sian' menandakan bahwa mereka sudah dekat. Lalu terlihatlah sebuah gua yang kira-kira tingginya 2 meter di atas tanah.


Pintu masuk depan goa berbentuk lingkaran. Adapun serambi kanan dan kiri yang menambah estetika dari tempat sakral tersebut. Masing-masing serambi juga terhubung di bagian pusat.


Ini bukanlah goa alami. Melainkan goa buatan yang terbuat dari bebatuan dan semen. Katanya, goa ini selesai didirikan pada tahun 1922 oleh para pengelana yang berdarah turun Tionghoa. Kira-kira luas bangunan ini adalah 10 × 6 meter.


Di dalam ruang tengah Goa ada sebuah meja sembahyang, dan di atas meja sembahyang terdapat alat-alat untuk sejati dan foto seorang tokoh China, yaitu Tan Tik Sioe. Disampingnya, juga terdapat patung yang menggambarkan tokoh tersebut. Sumirin berkata bahwa tempat inilah yang dulunya menjadi tempat bertapa Tan Tik Sioe.


“Tulisan apa ini?” Bima menggerayahi sebuah dinding.


“Itu adalah salah satu ajaran yang ditulis oleh Tan Tik Sioe, berisi tentang pelajaran hidup manusia,” ucap Sumirin.


Di tempat goa lain, terdapat juga patung yang masih terawat. Patung tersebut adalah wujud sosok dewa-dewi. diantaranya dewi Kwanim, Kwankong menunggang kuda, Patung Orang Tua dengan bangau putih, Lo Tjia yang memakai jubah dan lain-lain.


“Mungkin hanya itu yang bisa kukatakan, apa ada pertanyaan?”


Mereka saling menoleh karena bingung mau bertanya apa. Atau memang tidak tahu mau bertanya tentang apa.


“Kalau begitu, kita kembali! Perjalanan kalian masih panjang bukan?”


“Baiklah.”


Mereka bergegas kembali menuju Klenteng. Terlihat Wira sedang di teras menghadap ke bawah seraya memegangi kepalanya.


“Oh.. Kalian sudah datang ya? Gimana.. apa menyenangkan? Yah.. Kalau Bima sih tidak perlu ditanya lagi.”


“Paman, kenapa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?” Tanya Bima.


“Hhhmm? Memangnya ada apa?” ucap Wira serambi mengelus kepala Fatim.

__ADS_1


“Ah, tidak,” saat itu Bima merasa ada yang aneh dengan Patih Wira.


__ADS_2