Pengganti Yang Tidak Diinginkan

Pengganti Yang Tidak Diinginkan
Bab 15 Perangkap sang pemburu


__ADS_3

Singapore


"Wah cantiknya airport Cangih. Tinggal disini pun saya mahu." Hana sangat mengagumi pemandangan sekitar airport itu.


Cangih adalah antara airport terbaik di dunia bertemakan alam hijau. Terdapat sebuah air terjun di satu tempat dalam airport itu sendiri yang menambahkan aura aman di dalamnya.


"Hati-hati kalau berjalan. Disini banyak orang." Sebas menyedarkan pembantu pribadinya itu datar dan dingin.


Bring yang sama dinginnya dengan tuan Sebas memutarkan matanya tajam.


Setiba di hotel, mereka menaiki lift ke tingkat 20 setelah Bring berurusan di kaunter tetamu lobby hotel.


Ting


"Tuan roomnya seperti biasa. Ini kunci room tuan," Bring menyerahkan kunci pintu tersebut.


"Silakan tuan," tunjuk Bring ke sebuah pintu. Room vip yang sering diduduki Sebas kalau ke Singapore.


"Mmm.." Dia membuka pintu lalu masuk.


"Tuan barang-barang tuan?" Kata Hana menolak beg tuan Sebas sambil membawa begnya sendiri


Bring sudah hilang di room sebelah tanpa banyak kata


"Jadi saya? Room saya mana? Tuan Bring tidak ambil untuk saya? Jadi saya terpaksa turun mendapatkan room sendiri? Ampunnn saya tidak sanggup membayar sewa hotel ini lebih dari satu malam. Kalau gitu, saya akan ke airport sajalah. Tak apalah." Hana bermonolog sendiri mengesali nasibnya.


"Tuan, beg tuan di depan pintu ya."


Hana dengan kesal menutup pintu room tuan Sebas di belakangnya dan melangkah menuju lift.


Ceklek


Pintu dibuka lagi. Sebas menjengukkan kepalanya mencari keberadaan pembantu pribadinya.


"Hei kamu mau ke mana tu? Masuk!!" seru Sebas kasar.


"Masuk? Kemana?"


"Memang mau masuk ke mana? Sini, masuk di sini!!"


Mata Hana terbuka luas mendengar bossnya mengarahkan dia masuk ke roomnya.


"Apa? Tuan tidak salah?"


"Saya bilang masuk," tekan Sebas tidak sabar.


Hana berjalan tergopoh-gapah mendekati tuan Sebas.


"Masuk!!"


Dia sedikit terlonjak terkejut. Dia menunduk masuk mendahului bossnya masuk ke dalam room vip itu.


Hana terpukau melihat dengan matanya sendiri room mewah untuk pertama kali dalam hidupnya.


Dia berdiri kaku di sana kagum. Dia cuba membayangkan kalau seisi kluarganya menghuni room itu. Wah pasti menyenangkan.


Tring tring tring


Hpnya berbunyi mematikan lamunan indah, angan-angan yang entah bila akan tergapai.

__ADS_1


_hello_


"....."


_ya bu, sudah sampai. Kami sedang merehatkan diri di hotel_


"....."


_ibu ni, ha ha ha_


Sebas pura-pura tidak mendengar perbualan pembantu pribadinya. Pada hal, dia benar-benar ingin tahu dengan siapa assistantnya itu bercakap.


Ketika dia tahu panggilan itu dari ibu assistantnya, dia terus membiarkan mereka berbuat panjang di telepon.


Segala isi kopernya dia sangkutkan di almari baju begitu juga dengan pakaian milik Hana. Dia susun dengan teratur semua itu di almari sama dengannya.


Sebas kemudian duduk santai di sofa mencari saluran tv yang dia sukai.


"Mana beg saya? Tadi di sini? Tak kan hilang?" Hana mencari ke mana-mana begnya tetapi gagal. Dia bingung dan juga hairan.


"Kamu kenapa bingung?"


"Saya cari beg saya tuan,"


"Ada di almari."


"Di almari?"


"Tidak percaya? Periksa saja sendiri."


Hana ragu mempercayai tuan Sebas. Tetapi dia ingin tahu kebenarannya. Lalu dia bergerak ke almari membuka pintu almari tersebut.


Dia menutup mulutnya terkejut. Semua pakaiannya tersusun rapi di sana. **********?


"Sudah percaya?"


"Beg saya mana?"


"Untuk apa?"


"Sa.. saya mahu simpan pakaian saya."


"Simpan? Kamu tidak suka saya sudah menyusunnya di sana?"


"Ehh mmm kalau pakaian saya di sana, bagaimana saya ambilnya tuan? Maksud saya, kalau saya di room sebelah, itu menyusahkan ambil baju saya di sini."


"Siapa bilang kamu akan tinggal di room lain?"


"Hah?? Maksud tuan apa? Saya tidak mengerti."


Tuan Sebas berdiri menghampiri Hana lalu berdiri di hadapan gadis itu.


Dia memegang dagu Hana, mengangkatnya. Mereka beradu tatapan.


"Dengarkan baik-baik assistant ku. Kamu akan tinggal di room ini sehingga kita pulang. Ngerti?"


Kenyataan yang didengar Hana mengejutkannya. Bibirnya terbuka kaget.


"Di..di..si..si..si..ni bersama tu..tuan?" Tapi tu..tuan...?"

__ADS_1


"Ada masalah? Tidak ada penolakan, ok?"


Sebas mengusap lembut dagu Hana dengan ibu jarinya. Tatapan mereka terikat. Mulut Hana terbuka kecil masih tidak percaya.


"Kamu itu assistant pribadi ku. Kalau kamu jauh dari saya, siapa yang akan mengurus saya? Saya perlu kamu untuk menyiapkan segala urusan."


"Hah?"


"Iya sebentar nanti kita akan keluar, siapkan pakaian saya. Kamu juga harus bersiap. Kita rehat dulu dalam tiga puluh minit ini. Setelah itu kita harus bersiap."


Hana masih terpaku diposisinya tidak percaya.


Tiba-tiba..


"Ahhh..."


Sebas mengendongnya ala bride.


"Tuan....turunkan saya."


Tapi pada saat sama, Hana melingkarkan tangannya di leher Sebas dengan erat kerana takut jatuh.


"Kamu seperti tidak mendengar, kita tidur rehat dulu."


Dengan perlahan Sebas meletakkan gadis itu di atas ranjang.


"Kamu masih ingin memeluk saya?"


Tangan gadis itu masih melingkar erat dilehernya saat dia sudah mendarat aman di katil itu.


"Ahhh..?" Bingung di fikiran Hana mengaburkan otaknya untuk berfungsi.


Cup...


Sebas mendaratkan kucupan lembutnya pada bibir terbuka itu. Dia mengisap bibir Hana lembut, memintal bibir itu.


******* kecil keluar dari bibir munggil Hana. Sensasi baru untuk bibir yang sudah ketiga kalinya disosor Sebas tanpa izin.


Ciuman Sebas semakin mendalam kerana pelukan Hana pada lehernya makin menariknya menempel pada gadis itu. Tarikan Hana bagaikan tanda bagi lelaki normal itu untuk terus menyerang bibir lembutnya.


"Ummmmmm..." Hana melepaskan tangannya di leher Sebas dan mendorong lelaki itu sekuat hatinya. Dia tersedar dari kenikmatan bahaya itu.


Dengan susah payah, dia berbalik dan berputar masuk ke tengah ranjang.


Perasaan kecewa hadir di hati pemuda yang mulai berdiri tegak di sebelah katil. Dia menatap gadis yang sudah beralih ke tengah ranjang dengan marah dan benci.


"Lain kali jangan ulang bertindak begitu!" serunya kesal. Dia masuk ke kamar mandi membanting pintu.


"Aaapa salah saya? Sepatutnya dia yang minta maaf. Bibir saya bukan tempat dia melempiaskan hasratnya."


Gadis itu merasa sakit di dada. Timbul rasa benci kepada bossnya. Sebutir air mata turun. Dia mulai menangis.


Dia merasakan seperti masuk ke dalam perangkap sang pemburu. Kepalanya sakit berdenyut-denyut memikirkan nasibnya sepanjang berada di sini. Sekamar dengan boss anehnya?


Sebas keluar dari kamar mandi mendapati Hana sudah tidur. Dia mengitari katil itu menghampiri si gadis yang tidur mengiring menghadap dinding.


"Akan ku lihat sejauh mana kamu berpura-pura polos di hadapan saya. Sudah berapa banyak lelaki menggunakan kamu betina?"


Ehhh wait... Sebas menunduk menatap dengan lebih dekat. Ehhh gadis ini menangis? Kenapa?

__ADS_1


Dalam beberapa persoalann yang timbul, dia keluar dari kamar itu meninggalkan Hana sendirian yang masih tidur.


__ADS_2