
Di sebuah pondok yang sedikit jauh dari pandangan orang yang berada di taman, Sebas menarik Hana dan memeluknya seraya menangkup pipi gadis itu lalu mengucup bibir merahnya.
Dalam keterkejutannya Hana melopong mendapat perlakuan begitu dengan tiba-tiba. Situasi itu dimanafaatkan oleh Sebas dengan meluncurkan lidahnya ke dalam rongga mulut Hana.
Sebas memperdalamkan ciumannya dengan membelit lidah gadis yan terpaku kaku dalam pelukannya.
Tanpa sedar Hana mendesah dan lututnya melemah. Dia merasa sangat pening sakit kepala dengan apa yang dia terima saat ini.
Saat Sebas melepaskan kucupannya dan mula menjilat leher Hana, dia tersedar, lalu menolak Sebas dan menamparnya.
Plakkk
"Lelaki aneh kurang ajar," maki Hana dengan sangat marah dan ingin menampar pipi Sebas lagi.
Namun tangannya tidak cukup cepat melepaskan tamparan itu. Sebas menangkap tangan kecil itu memutarkannya ke belakang mengakibatkan Hana turut terputar membelakangi Sebas.
Dalam keadaan ini, sebas memeluk Hana dari belakang.
"Saya suka posisi ini," dan dengan santai Sebas mencium leher Hana lembut.
"Lepaskan saya...lepaskan saya sekarang lelaki aneh," marah Hana mencuba melepaskan diri dari pelukan Sebas.
"Tidak perlu pura-pura tidak pernah diperlakukan begini oleh lelakilah perempuan munafik," Sebas menghina semakin mempermainkan Hana.
"Cukup!!! Lepaskan saya," ucap Hana sambil memegang dan menarik rambut Sebas sekuat yang dia mampu ketika Sebas cuba mencium pipinya lagi.
Kerana merasa sakit rambutnya ditarik kasar, Sebas memegang tangan Hana yang mengenggam kasar rambutnya. Situasi ini digunakan Hana yang masih memegang rambut Sebas, berputar menghadap pemuda itu dan menendang selengkangannya.
"Ahhhh perempuan tak guna.. Berani kamu menendang biji ku. Ahhh..." teriak Sebas sambil menunduk memegang kebesarannya yang sakit minta ampun.
"Tuan .." teriak Bring mendekati mereka yang dari tadi hanya memperhatikan kedua orang ini
"Perempuan tak guna!! Murahan!!! Sok bagus!!" maki Sebas yang masih tunduk mengepit kakinya menahan sakit.
"Rasakan ini... haayaaaa " Hana terus menyerang menendang kaki Sebas lalu berlari meninggalkan pemuda aneh itu.
"Mungkin yang tidak berguna, murahan dan sok bagus itu, kekasih kamu!!" laung Hana lagi di kejauhan yang masih jelas kedengaran oleh kedua pemuda itu.
"Tuan.."
"Apa lagi kejar perempuan gila itu," marah Sebas memarahi Bring sambil menunjuk ke sembarang arah.
Bring berjalan memandang sekeliling mencari sosok Hana yang sudah tidak kelihatan.
__ADS_1
******
"Hello"
"....."
"Di mana?"
"....."
"Sekarang?"
"....."
Hana mematikan teleponnya lalu bergegas menaiki sebuah bas umum.
"Hana!!!" teriak seorang gadis cantik di kejauhan. Dia mencekak pinggangnya dengan muka kesal.
"Maf la sebab kamu sabar menunggu kedatangan ku," kikih Hana setelah sudah bergabung dengan beberapa orang teman-temannya.
"Kamu tadi naik bas umumkan?" kesal Kimberly tidak memandang Hana
"Siapa datang lambat, dia belanja kita," ucap Mimiyanti bersemangat
"Saya setuju dengan Mimi," sokong Cathy tersenyum penuh makna.
"Jadi macam mana temuduga kamu kelmarin?" soal Mimi menyuap makanan ke mulutnya.
"Harap-harap dapat. Saya betul-betul mahu berkerja di tempat itu. Kamu sendiri bagaimana Mi?" ucap Cathy dengan mulut yang penuh makanan.
"Telan dulu makanan mu Cat," pinta Kim.
Cathy hanya tersengih menambah makanannya. Bukan Cathy namanya kalau tidak makan begitu. Haha dasar..
"Ceo syarikat itu sendiri yang bertugas menyoal semua kami kelmarin. Kamu tahu, orangnya kacak handsome gitu. Kalau tidak fokus, tak terjawab soalannya," puja Mimi tersenyum sendiri.
"Ehemmm... awas suami orang itu." Kim mengoda Mimi.
"Jangan-jangan kamu tak jawab soalannya," tebak Hana ingin tahu.
"Aiii... ini Mimi la. Kalau soal kerja, setampan apa pun lelaki itu, itu tak menganggu fokus ku kawan," Mimi mendabik dadanya membanggakan diri.
"Ya semoga kita semua dapat kerja yang diinginkan, cheers..." Hana mengangkat gelas jusnya kepada teman-temannya.
__ADS_1
Klenggg bunyi gelas berbentur dari meja di sudut dekat jendela kacs restoran menarik perhatian beberapa pemuda.
Kegiatan para gadis di sudut itu diperhatikan dengan seksama oleh seorang pemuda. Seorang dari keempat gadis itu menarik perhatiannya. Sebuah senyuman kecil terbit dari pemuda itu tanpa disedari sesiapa.
Ketika teman-temannya rancak bercerita, Hana tanpa sedar menopang dagunya sambil menyentuh bibirnya ke atas dan ke bawah.
Rasa marah dan kesal terbit dihatinya tiba-tiba teringat kisah kelmarin. Bencinya tumbuh mengingat hal itu.
Kalau bertemu lelaki aneh itu lagi, awas akan ku kerjain dia sampai pingsan. Rasa tidak puas hati pula hanya menendang itunya. Dia bilang saya perempuan murahan. Dia saja tidak tahu, dia orang pertama menyentuh bibir ku. Awas akan ku patahkan giginya biar pakai gigi kuda dia nanti.
Muka Hana memerah kerana terlalu marah dan benci.
"Hana .. kamu ok," Kim menepuk bahu Hana menyedarlannya dari lamunannya.
"A...a...anu.. saya mau ke toilet. Tadi tu terlalu fokus dengar kamu cerita. Makanya saya tahan dia keluar. Sorry, saya ke toilet dulu ya," terbata Hana menerangkan keadaannya takut di soal banyak oleh teman-temannya.
Dengan terburu-buru dia mencapai begnya dan berlalu ke toilet.
"Huh...hampir kedapatan pula tadi," kesal Hana mencuci muka.
Maaf ya para pembaca, Hana tidak suka bermake up tebal. Orangnya sederhana saja.
Setelah mencuci mukanya, dia mengeringkan mukanya dan menyemprot pelembab muka lalu memakai gloss bibir yang akan berubah warna setelah si pemakainya mengoleskannya di bibir.
Hana menarik nafas lalu keluar dari toilet. Saat dia melangkah keluar ke lorong luar menuju ruang restoran, dia terlanggar seseorang.
Dia hampir jatuh ketika sebuah tangan kekar menyambutnya dengan siagap.
"Mmm kebetulan dan mungkin kamu sengaja ya?" suara yang kedengaran biasa di telinga Hana.
Hana menyentuh dada pemuda yang menyambutnya supaya dia dapat berdiri dengan betul, lalu mendongak.
"Ka..ka..kamu? Buat apa di sini?" Dalam keterkejutannya Hana mundur selangkah.
Sebas menyeringai memandang gadis yang membuatnya sakit seharian selepas anunya ditendang.
Selangkah Hana mundur, dua langkah Sebas maju menghimpit gadis itu ke dinding.
Tapi kali ini Hana sudah menyiapkan mentalnya menghadap Sebas. Tanpa menunggu, Hana menendang selengkangan Sebas lagi.
Bisa jadi rosak tu anu Si Sebas kalau terus ditendang begitu Hana. Haha... kasihan Sebas.
Sesaat kemudian Hana sudah menjauh dari Sebas yang membongkok menahan alat pusakanya yang super sakit dihentam lagi wanita sama.
__ADS_1
Hana berjalan cepat menghampiri teman-temannya sambil tersenyum sendiri
"Rasakan tendangan ku lelaki aneh. Puas hati ku, kamu kesakitan. Kamu fikir saya takut kah? Jangan harap kamu dapat kesempatan lagi kali ini." Hana lega sudah bertindak dahulu dari Sebas.