Pengganti Yang Tidak Diinginkan

Pengganti Yang Tidak Diinginkan
Bab 20 Kesenangan dan kepuasan


__ADS_3

"Bila kita akan langsungkan acara itu?"


"Tapi mereka setujukah?"


"Harus setuju. Tidak ada bantahan."


"Tapi kalau mereka sudah memilih bagi diri mereka pasangan sendiri bagaimana?"


"Mereka kena belajar melupakan pasangan mereka itu."


"Kita kena usahakan kebahagiaan mereka. Ini mungkin tidak seindah apa yang mereka rencang, tapi percayalah kalau kita saling mendukung dan membantu, mereka pasti menuai kebahagian."


Entah idea siapa itu terjadinya satu rencana yang hanya mereka yang tahu.


Sejak akhir-akhir ini rencana itu semakin menjadi kenyataan. Tinggal menunggu hari untuk dibongkar dan diakhiri.


*******


Sementara itu seorang wanita masih bergelut untuk bangun dari tidurnya. Tadi malam dia bersama teman-temannya menikmati malam sampai ke subuh.


Kembali ke kamar hotel mereka, tidak ada yang masuk mandi sebelum tidur. Mereka sangat penat bersuka ria.


Tok tok tok


"Ahh siapa juga yang datang pagi-pagi buta ni," keluh Mirana malas. Perlahan dia menyingkirkan selimut tebalnya yang nyaman.


Pintunya diketuk bertalu-talu meminta agar cepat dibuka.


"Ya, ya, ya...sebentar..."


Ceklak


"Ad....'


"Mirna... kamu lupa kita kena keluar untuk..."


"Pagi buta begini mahu keluar ke mana? Bagus tidur."


"Mir...ampun... ini sudah jam 1 petang tahu?"


"What???"


"Iya ya ya saya mandi dulu," ucap Mirana berlari kecil menyambar tualanya masuk ke kamar mandi.


"Aik... dia tinggalkan kita di depan pintu?" cibir Sindi mencibir masuk ke dalam kamar Mirana disusuli Ratu.

__ADS_1


"Coba aja kalau Hazel ada, dapat free ceramah panjang si Mirana itu di depan pintu kamar mandinya," kekeh Ratu membetulkan rambutnya di depan cermin.


Beberapa minit kemudian Mirana keluar sedikit pucat.


"Mir.. kamu kenapa? Kamu pucat sekali. Kamu sakit?" soal Ratu yang menyedari perubahan temannya itu.


"Saya pucat?" Lantas Mirana melihat cermin dan menyentuh-nyentuh pipinya.


"Biasa aja. Sayakan baru selesai mandi. Cuaca disini juga sejuk." ucap Mirana setelah melihat-lihat wajahnya.


"Ratu.. kita ini di negara orang. Tidak hairan kalau kita akan jadi macam Mirna. Coba nanti kalau sudah pakai make up, pasti muka berseri-seri seperti baru habis keenakan dikasi ais krim panas, hahaha," tawa Sindi.


"Ais krim panas memanglah enak. Belum cuba belum tahu enaknya hahaha," Ratu makin memanaskan suasana perbualan yang sudah masuk ke perbualan dewasa.


Mereka bertiga terus ketawa dalam perbualan blue yang menghangatkan diri tanpa aksi lawan jenis.


"Oh come on Mir, pakaian kamu itu.. kamu selesa begitu?" Ratu sedikit tidak suka melihat pakaian Mirana yang tidak cukup kain.


Dia tahu Mirana itu sedikit liar tetapi temannya ini tidak pernah berpakaian begitu. Apa lagi di hadapan Sebas, tidak ada pakaian Mirana yang tidak cukup kain seperti sekarang ini.


"Teringin pakai begini tak salah kan? Lagipun kita di negara barat dan pakaian begini sudah kebiasaan di sini," protes Mirana sambil memakai pewangi.


"Apa rasa berpakaian begitu Mir?" tanya Sindi ingin tahu.


"Kamu mahu cuba? Masih ada di almari. Ambil la pakai. Kita jalan bersama-sama macam ini," ajak Mirana mengayakan pakaian seksinya.


Ketiga wanita itu keluar dari sebuah bangunan hotel sewaan mereka dengan sangat seksi.


"It's summer girls. Mari kita ke kedai baju renang. Saya teringin pakai bikini dan ke pantai dengan santai." ucap Mirana menghayunkan langkah kakinya.


Tiba di sebuah cafe, mereka masuk mencari sesuatu yang hangat di telan.


"Jadi bagaimana berpakaian begini? Ok?" tanya Mirana menyilangkan kakinya.


"Kamu sendiri bagaimana?"


"Saya? Sudah tentu saya rasa lebih elegant. Rasa bangga dan seksi tentunya," ucap Mirana bangga.


"Tapi sayang, rasa begini berpakaian begini hanya bisa dilakukan disini. Kalau sudah pulang nanti semua sirna." lanjut Mirana kesal.


"Jadi kamu suka berpakaian begini?" tanya Ratu membetulkan leher bajunya yang berbentuk U menonjolkan belahan dadanya yang montok.


"Rasanya kamu pun suka berpakaian beginikan? Tu dada kamu sudah mahu tersembul keluar tapi kamu biarkan." Mirana tersenyum melihat temannya yang sibuk membetulkan baju.


"Sudah mau keluar ni papaya, tapi lihatlah tidak ada yang tertarik, melihatnya, apa lagi menyentuh" kata Sindi yang memilih baju berleher bulat besar menampakkan separuh dadanya yang kenyal.

__ADS_1


Mereka ketawa serentak mendengar ucapan Sindi tadi.


Deraian tawa mereka menarik perhatian beberapa mata yang meliar menjelajah tubuh mereka.


Namun itu tidak menganggu ketiga wanita seksi itu. Perasaan bangga semakin tinggi mereka rasakan diperhati sedemikian rupa.


Petang itu mereka habiskan berjalan tanpa arah yang nyata. Namun keinginan Mirana mendapatkan swimming suit akhirnya tercapai. Begitu juga dengan kedua rakannya.


Sewaktu mereka masuk ke sebuah restoran untuk dinner, seseorang melambai ke arah mereka sambil memanggil nama Sindi.


"Ehhh dia lagi," batin Mirana melihat teman orang yang memanggil Sindi.


"Hello girls." sapa yang lain ketika Sindi bersama teman-temannya menghampiri mereka.


"It's will be a great day to have you here girls," senyum ramah seorang pemuda mengenyitkan mata mengoda.


Keramaian seperti inilah yang mengaburkan fikiran dan hati para wanita ini. Kebiasaan begini tidak mungkin mereka nikmati di tanah air mereka.


Apa lagi sekarang mereka hidup ditampung orang lain. Mereka tidak perlu risau keadaan hari esok kerana mereka yakin wang pasti mengalir terus memenuhi keperluan mereka.


Kerakusan mereka menikmati kesenangan di tempat ini semakin menjadi-jadi saat mereka tahu, hari kepulangan ke tanah air semakin dekat.


Tidak ada waktu sesaat yang mereka sia-siakan di sini. Tempat yang penuh dengan kesenangan dan kepuasan.


Entah sudah berapa kali Mirana meminta agar rekeningnya terus diisi pada jumlah wang yang tidak sedikit.


Namun pemberi wang itu pula tidak kisah berapa pun jumlah yang diminta. Apa yang pasti Mirana tetap mendapat apa yang dia mahukan.


"Sin, kamu kenal mereka?" Bisik Ratu memandang para pemuda kacak itu.


"Bukan semua, cuma yang itu dan yang di sana," bisik Sindi pula menjawan pertanyaan Ratu.


"Kamu gabunglah dengan kami. Kita makan bersama disini," kata lelaki yang memanggil Sindi tadi.


"Mmm..."


"Iya, kita makan bersama saja disini, lebih seru makan ramai-ramai," tambah seorang yang lain.


"Saya belanja, tapi harus disini," kata seorang pemuda berambut emas.


"Iya ok boleh, lagi pun saya sudah lapar," senyum Ratu melihat kedua temannya.


"Mira, duduk disini," panggil seorang pemuda yang memandang Mirana dari tadi.


"Tapi kamu yang bayar makanan saya,ok?" goda Mirana berharap pemuda itu membayar makanannya.

__ADS_1


"Sure why knot? Yang penting makan disamping saya dan habiskan makanan kamu," lata lelaki itu mengurai senyuman.


Malam itu semua orang di meja tersebut enjoy dengan makanan mereka. Apa lagi dengan suasana yang kadang-kadang romantis diselang selikan dengan tawa dan gurau senda.


__ADS_2