
"Ayo angkat, ayo angkat!" salah satu siswa menginstruksikan teman-temannya yang sedang menggotong satu siswa perempuan yang tak sadarkan diri.
Di letakkanlah siswa itu di ruangan serbaguna yang berada di samping ruang kantor guru PPL.
"Ada apa?" salah satu diantara kami bertanya.
"Kesurupan, Bu." Salah satu siswa menjawab.
"Ya sudah yang lainnya keluar ya. Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Kembali ke kelas masing-masing!"
Saat itu memang lumayan banyak siswa yang berkerumun karena tragedi kesurupan terjadi saat jam istirahat. Semua siswa menurut. Hampir semua dari mereka meninggalkan ruangan, hanya dua siswa yang bertahan di sana, mungkin mereka adalah sahabat dari siswa yang kesurupan itu.
Aku sendiri hanya berdiri di depan pintu. Aku takut kalau ada orang kesurupan, ngeri.
Tubuh siswa yang kesurupan itu kaku. Matanya melotot. Segera kami buka sepatu dan mengendurkan ikat pingganggnya. Kami pijit-pijit pelipis dan jempol kakinya. Tak lama, siswa itu Alhamdulillah sadar. Wajahnya kuyup karena keringat.
"Kamu kenapa?" salah satu temanku, Yuli, bertanya.
"Tidak apa-apa, bu," jawabnya.
Kami mendapat info dari salah satu temannya, bahwa temannya itu memang sering kesurupan.
Yang aku fikirkan adalah, saat itu sekolah sedang ramai karena masuk jam istirahat, kok yaa bisaaa itu makhluk masuk ke dalam salah satu siswa di sana?
Kurang kerjaan ya.
***
Sebagai guru PPL yang bertugas mengajar, kami juga ditugaskan untuk mendampingi anak-anak menjalankan ekstrakulikuler yang diadakan setiap pulang sekolah hingga sore.
Kebetulan sore itu adalah jadwal ekstrakulikuler Pramuka, yang di komandani oleh ibu Sri, guru asli SMK Mandiri.
__ADS_1
Kami para guru PPL menyaksikan anak-anak baris berbaris di depan lapangan utama di temani oleh ibu Sri. Tak lama, anak-anak diistirahatkan sebentar hanya untuk melemaskan kaki yang lelah setelah lumayan lama berdiri.
"Ingat ya, kalian nanti kalau melatih anak-anak ekstra di lapangan belakang, jangan pernah melebihi jam 4 sore," ucap ibu Sri mengingatkan kami yang saat itu duduk-duduk di tepian lapangan yang teduh.
"Kalian boleh melatih di lapangan belakang, tapi kalau sudah jam 4, segera pindah ke sini," lanjut ibu Sri.
Kami diam serius mendengarkan.
"Memangnya kenapa, Bu?" salah satu diantara kami bertanya.
"Sebenarnya tidak ada apa-apa. Hanya berjaga-jaga saja," jawab ibu Sri.
Mendengar jawaban ibu Sri, kami malah semakin penasaran. Kalau tidak ada apa-apa, lalu mengapa kami diwanti-wanti agar tidak ke lapangan belakang? Bukannya jam 4 sore itu masih panas dan terang-benderang?
"Dulu waktu ibu belum tahu, pernah melatih anak-anak sampai sore di lapangan belakang. Saking asiknya melatih, ibu sampai tidak sadar kalau hari sudah lumayan gelap." ibu Sri akhirnya menjelaskan.
Kami semua diam mendengarkan.
Kami masih diam.
"Eeh tiba-tiba ada angin kencang. Daun-daun pada terbang. Akhirnya ibu cepat-cepat kan jalan meninggalkan lapangan."
"...."
"Saat ibu sedang jalan, eh tahu-tahu ada yang mengikuti ibu. Langkah kakinya jelas sekali ibu dengar."
Waduuuh. Kami semua merinding.
Membayangkan ibu Sri yang berjalan seorang diri dari bagian sekolah paling belakang menuju gerbang. Dan kalian tahu? Dari lapangan belakang menuju lapangan utama itu lumayan jauh. Melewati beberapa ruang kelas, ruang praktik tata boga, dan juga ruang lab.
Jalan dari lapangan belakang menuju depan mirip seperti lorong rumah sakit. Di sana gelap karena bangunan yang berhadapan mengalangi sinar matahari untuk masuk. Bisa bayangkan jika kalian yang berjalan di sana sendirian sore-sore menjelang maghrib?
__ADS_1
Kami masih fokus mendengarkan cerita ibu Sri.
"Ibu penasaran. Ibu tengok ke belakang, dan tidak ada siapa-siapa. Saat ibu berhenti, langkah kakinya juga berhenti."
Kami menelan ludah, takut.
"Sadar ada yang tidak beres, akhirnya ibu mempercepat jalan ibu. Dan kalian tahu?"
Ibu Sri memberi jeda kami bernapas.
"Langkah kaki itu terdengar lagi. Langkahnya semakin cepat juga seperti mengejar ibu."
Kami diam dengan pikiran ngeri masing-masing.
"Dan ya, langkah itu hilang saat ibu sudah sampai di lapangan utama."
Fiuwwwh. Kami menarik napas.
"Jadi kesimpulan ibu, ada sesuatu yang tidak beres di lapangan belakang sana. Dan ya, semua guru juga tidak ada yang berani kesana kalau sudah sore." ibu Sri masih menjelaskan.
"Kalau siang si, Bu?" salah satu dari kami bertanya.
"Kalau siang sih aman. Tidak ada apa-apa."
Kami semua mengangguk.
Akhirnya misteri lapangan belakang terjawab sudah walau kami tidak mengetahuinya secara rinci.
Tapi intinya, 'dia' si penunggu lapangan belakang hanya beraksi saat sore. Jika siang, mungkin dia tidur siang.
Ya ya, saling menghormati saja, jangan ganggu !!
__ADS_1
Selama kita tidak berucap dan bertindak sembarangan, insyaAllah semua akan baik-baik saja.