Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
PPL (Part 6)


__ADS_3

"AAAAA."


"CEPAT BAWA KESANA!"


"YANG LAINNYA JANGAN ADA YANG MELAMUN!!"


"AYO BANTU BACA DOA DAN SURAT-SURAT PENDEK!!"


Malam itu kacau. Anak-anak banyak yang kerasukan/kesurupan entah karena apa. Semua murid yang kesurupan di tempatkan dalam satu tenda. Di sana sudah ada bapak dan ibu guru SMK Mandiri mencoba menyadarkan murid-muridnya dibantu oleh seorang bapak-bapak dari bumi perkemahan itu sendiri. Sebut saja Pak Soleh. Pak Soleh sebagai pawang buper (bumi perkemahan) ikut membantu menetralisir keadaan karena beliau pasti paham tentang penyebab dari situasi yang sedang terjadi.


Sementara kami guru PPL, bertugas berjaga dan menenangkan anak-anak yang lain. Kami komandokan anak-anak untuk tetap diam di dalam tendanya masing-masing sambil berdoa dan mengaji.


"Fokus. Jangan pikirkan yang macam-macam!!"


Kalimat itu yang kami ucapkan lagi dan lagi.


Tapi ya, bayangkan saja. Namanya anak-anak. Seamannya mereka di dalam tenda, mereka tetap saja mendengar jeritan, tangisan, dan eraman dari teman-temannya yang kesurupan. Otomatis dalam diri mereka langsung mendarat rasa takut yang berlebihan juga. Panik. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan mereka saat itu.


Saat panik, pikiran kita kacau. Diri kita menjadi was-was yang berlebihan. Hingga jadilah mereka yang masih aman di dalam tenda juga ikut kesurupan.


Bayangkan, anak-anak sedang aman di dalam tenda, sebut saja 7 orangan. Lalu salah satunya kesurupan. Apa yang terjadi?? Yang 6 lainnya berhamburan keluar berteriak minta tolong.


Satu tenda berhamburan, otomatis tenda yang lainnya juga ikut berhamburan.


Kacau sekali memang.


Malam temaram di tengah bumi perkemahan dengan banyak suara binatang malam, dengan udaranya yang dingin menusuk kulit, seketika menjadi riuh gemuruh karena 'mereka' yang dengan ganas menyapa. Tak tanggung-tanggung, 'mereka' datang keroyokan menyerang anak-anak satu persatu.


Entah bagaimana ngerinya suara dari tenda-tenda kami jika di dengar dari bawah sana malam itu.


Di tengah hiruk-pikuk malam itu, aku terpikirkan Elisa. Dia apa kabar?


Tapi percayalah, di malam yang kacau itu, dia baik-baik saja.


Dia tidak ketakutan sedikit pun apalagi kesurupan. Dia duduk santai di tendanya sambil tengok kanan-kiri seolah tidak terjadi apa-apa.


Tapi sungguh, menurutku itulah yang paling mengerikan. Aku berpikir, mungkinkah 'teman' nya menjaganya??


Yaa, tentu saja.

__ADS_1


'Makhluk' itu datang pada Elisa memang untuk menjaganya. Alasan utama 'dia' datang adalah karena 'dia' kasihan pada Elisa yang tidak mempunyai teman. Tapi bukankah dengan adanya 'dia' yang selalu di samping Elisa membuat anak itu jadi semakin tidak punya teman?


Jika kalian menjadi teman kelas Elisa, apa yang kalian lakukan? Beranikah kalian berdekatan dengan Elisa?


Aku sendiri ngeri. Karena saat aku SMA, aku pun punya teman yang seperti itu. Aku ceritakan nanti yaa. Saat ini kita fokuskan pada Elisa dulu.


Menurut teman-teman dan kakak kelasnya, Elisa adalah anak pendiam. Dia lebih suka berdiam diri di kelas dari pada bersama dengan teman-temannya jajan di kantin atau bermain di lapangan saat jam istirahat.


Elisa juga punya dua sisi diri yang berbeda.


Walau pun 'teman' nya itu mewujud menjadi sosok yang seumuran dengannya, tapi percayalah, sosok itu pasti sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun.


Jadi yang terjadi pada Elisa adalah, jika dia memang dirinya yang asli, dia akan berbicara layaknya anak-anak normal pada umumnya. Namun jika 'makhluk' itu masuk pada dirinya, Elisa akan berbicara dan bersikap sangat dewasa, jauh melebihi umurnya saat itu.


Masuk di sini bukan merasuki yaa. Makhluk itu masuk ke dalam tubuh Elisa hanya untuk berkomunikasi lebih dekat dengan Elisa.


Semua teman-temannya sudah paham, jika mereka berbincang dengan Elisa dan mendapat jawaban yang setimpal, maka dia benar Elisa.


Namun jika Elisa sudah bersikap anggun, bicaranya formal dan elegan, saat itulah semua temannya harus waspada. Karena mereka sedang berhadapan dengan 'teman' Elisa.


***


"Katanya banyak kepala domba dan domba-domba berlarian." Salah satu dari kami menjelaskan saat kami para guru PPL tengah sarapan di dalam tenda.


"Ada juga yang melihat sosok hitam tinggi besar dengan mata merah menyala." Lanjut yang lainnya.


Kuntilanak, pocong juga tak ketinggalan di sebutkan.


Dan aku bersyukur karena selama di perkemahan, aku sama sekali tidak di ganggu oleh 'mereka'.


Kalian pernah dengar tentang gunung dan laut yang bayak penunggunya?


Mengapa bisa begitu?


Dengar-dengar Dajjal pun bersemayam di bawah laut. Ada yang bilang juga di bawah gunung. Begitu kan?


Kenapa harus gunung dan laut?


Kalian juga pasti sering dengar kan cerita horor tentang pendaki yang hilang, tentang pendaki yang disasarkan entah kemana. Apalagi waktu-waktu kemarin yang sempat ramai di semua media mengenai pendaki yang hilang, THORIQ. Kalian tentu tahu kan kabar tentangnya?

__ADS_1


Hilangnya Thoriq banyak disangkut pautkan dengan makhluk-makhluk itu. Ada yang mengatakan dibawa ke istana mereka, disembunyikan mereka, dan banyak lainnya.


(Apa pun itu, mari kita hadiahkan Alfatihah untuk ananda Thoriq 🙏)


Nah jadi apa sebenarnya yang terjadi dengan gunung dan laut??


Begini teman-teman.


Di dunia ini, kita selalu berdampingan dengan 'mereka', di mana pun kita berada. Bahkan di dalam kamar kalian saat ini pun mereka ada. Di kamar mandi, ada. Di taman kota juga, ada. Di supermarket pun ada, setan diskon namanya. Yang menjadikan ibu-ibu kalap mata jika melihatnya, wekekek ✌


Kembali pada pembahasan gunung dan pantai.


Di sekeliling kita, juga banyak penunggunya. Entah makluk apa pun itu. Tapi mereka tidak akan bisa mencelakakan kita seperti mereka makhluk di gunung. Makhluk di sekitar kita tidak sekuat mereka.


Mengapa mereka bisa kuat??


Jawabannya, karena tidak ada suara adzan yang terdengar di laut dan gunung. Dan tidak ada suara orang mengaji. Itulah yang membuat 'mereka' semakin kuat dan menjadikan gunung dan laut sebagai istananya.


Itulah juga yang menjadi alasan mengapa kita diminta untuk mengumandangkan adzan jika ada salah satu diantara kita yang hilang di gunung. Karena kekuatan adzan sebesar itu.


MahaBesar Allah dengan segala kuasanya.


Jadi teman-teman, kita sebagai manusia, jangan lelah untuk terus membentengi diri dengan ilmu-ilmu agama. Dengan rajin ibadah dan membaca kalam-Nya setiap hari.


Sudahkah kita mengaji hari ini?


Jangan pernah biarkan al-quran kita hanya sebagai penghias lemari yang akhirnya berdebu tak tersentuh di sana.


Jangan yaa!! 😘


Ada suatu kalimat bagus yang aku dapat mengenai Al-quran, begini :


"Guru, seberapa banyak aku harus membaca Al-quran?" Seorang murid bertanya pada gurunya.


Lalu sang guru menjawab, "Tergantung seberapa banyak kita ingin bahagia".


Resapi yaa teman-teman.


Jadi, seberapa banyak kita ingin bahagia??

__ADS_1


Silakan sesuaikan sendiri dengan kadar kerajinan kita dalam membaca Al-quran yaa 🤗


__ADS_2