Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
Kembali ke Kosan


__ADS_3

Malam ini aku kembali tidur di kamar kosanku setelah 40 hari aku meninggalkannya karena tugas besar kampus. Aku rebahkan tubuhku pada kamar yang hanya aku tempati seorang diri itu. Serasa luas, nyaman sekali. Kasut lantai yang tidak terlalu tebal itu nyatanya aku rindui juga. Sekilas aku terbanyang tentang aku yang beberapa malam kemarin harus tidur berdesakan setiap malam di posko KKN. Namun mulai hari ini semuanya kembali normal. Aku kembali menikmati tidur nyaman, mandi tanpa antre, dan makan siap saji. Yang tak kalah penting, aku rindu Mall, haha. Selama di posko KKN, kami semua tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Mall berburu sandal, sepatu diskonan 😅


Kamar kosanku sudah 40 hari 40 malam tak berpenghuni. Dari siang tadi aku sudah mulai bersih-bersih walau badan masih sangat lelah karena debu-debu manja yang mulai banyak menempel di sana sini. Apa kabar kamar kosanku? Apakah kamu baik-baik saja walau telah kosong sebulan lebih?


***


Sore ini aku, Ningsih, dan Nita duduk di depan kamar kosan sambil berbincang santai. Tak lama, datanglah teh Wini, penghuni kamar nomor 4, dari kampunya. Kemarin dia mengeluh kakinya sakit. Kemarin kami lihat di area atas lututnya memar. Seperti bekas jatuh, atau seperti kaki yang capek. Kalian bisa bayangkan kan memar-memar pada kaki yang ku maksud?


Nah, ceritanya teh Wini kemarin mengeluhkan kakinya.


"Eh lihat deh kaki aku. Kenapa ya?" Tanyanya pada kami sambil menunjukkan kakinya yang lebam.


"Ih iya si, Teh. Kecapekan mungkin. Teh Wini kan akhir-akhir ini pulang sore terus," jawabku seadanya. Karena memang biasanya kaki memar disebabkan oleh kita yang terlalu capek.


"Iya mungkin ya," katanya mengiyakan.


Namun sore ini teh Wini kembali mengeluhkan kakinya.


"Lihat! Ini kenapa tambah lebar begini ya memarnya?" Tanya teh Wini sambil kembali memperlihatkan kakinya.


Kami terkejut. Karena memang memar yang ada pada kakinya makin melebar. Biru memarnya pun semakin membiru keunguan.


"Ih Teh, periksa ke dokter saja sih, ngeri juga kalau tambah lebar begitu," Nita mengusulkan. Aku setuju.


Karena lebam pada kaki teh Wini sudah tidak wajar. Melebar sekali. Dan itu sakit. Teh Wini adalah salah satu teman kosan yang baik, dia juga cantik. Rambutnya lembut panjang sepinggang. Dia adalah gadis yang ceria. Tak jarang dia tertawa ngakak membuat kami ikut tertawa.


Keesokan sorenya, teh Wini kembali menghampiri kami yang saat itu tengah duduk-duduk di koridor kosan seperti biasanya. Koridor kosan memang tempat ternyaman menikmati sore jika kami tidak kemana-mana.


"Eh sakit tahu periksa ke dokter tuh ya. Aku malah disuruh periksa ke dokter THT," ucapnya langsung memberitahu kami sambil menghirup hidungnya.


"Aih kok THT si, Teh? Kan yang sakit kaki?" Tanyaku heran. Apa hubungannya THT dengan kaki?


(THT \= Telinga Hidung Tenggorokan)

__ADS_1


"Iya nih. Hidung aku dimasukkan selang sampai mau ke mulut tahu," lanjutnya masih antusias bercerita.


"Hah?? Kok aneh sih?" Kami saling berdecak heran sekaligus penasaran. Sebenarnya teh Wini sakit apa?


***


Sudah beberapa hari ini kami tidak melihat teh Wini di kosan karena teh Wini harus rawat inap di salah satu rumah sakit di kota ini. Namun katanya rumah sakit sini tidak menyanggupi pengobatan teh Wini. Akhirnya teh Wini dirujuk ke rumah sakit besar yang ada di Jakarta.


Kami sebagai temannya di kosan ikut khawatir, sebenarnya teh Wini sakit apa?


Besoknya, kami dapat kabar dari mba Ani, teman sekamar teh Wini, bahwa teh Wini terkena kanker darah, stadium 4.


Yaa Allah. Bagai disambar petir di siang bolong. Kami tidak percaya gadis seceria teh Wini harus menderita kanker. Jadi lebam-lebam di kakinya selama beberapa hari lalu itu adalah penanda kanker darah? Yaa Allah, kami semua tertunduk lemas. Tak lupa kami berdoa untuk kesembuhan teh Wini.


Seminggu berlalu. Kami mendapat kabar lagi dari mba Ani bahwa teh Wini sudah pulang ke rumah. Namun kepulangannya bukan karena dia sembuh, melainkan karena keluarganya sudah kehabisan dana untuk mengobatinya di rumah sakit besar di Jakarta tanpa BPJS.


"Besok kita tengok, yuk!" Ajak mba Ani kemudian. Kami langsung mengangguk setuju.


Selama di rumah sakit, kami belum pernah sekali pun datang mengunjungi teh Wini. Dan besok adalah waktu kami untuk menjenguknya.


***


Bismillah, kami berangkat.


Tak lama, kami sampai di rumah teh Wini. Di sana kami lihat teh Wini tidur tergolek lemas dengan tubuhnya yang kering kerontang. Kami hampir tidak mengenalinya. Jika tidak kami tahan, kami mungkin akan menangis di sana melihat keadaan teman kami yang dulu cantik, segar bugar. Namun hari itu terlihat kuyu dan layu serta kurus hingga kelopak matanya jelas terlihat. Aku ingin menangis sungguh.


"J..jj..juuuss," pintanya pada orang tuanya. Untuk mengucapkan kata JUS pun dia susah. Sungguh aku tidak tega yaa Allah 😭


"Win, itu ada teman-teman kamu datang," ucap sang ibu memberitahu teh Wini.


Teh Wini melirik, kami balas dia dengan senyum, menguatkan. Walau kami sendiri sesungguhnya tidak kuat.


"Masih kenal tidak hayo?" Tanya Ningsih pada teh Wini dengan menunjuk dirinya.

__ADS_1


Teh Wini menatap lemah sambil berkata dengan susah, "Nn..nningsih."


Aku mengangguk. Aku ingin menangis saat itu sungguh. Tak kuat 😭😭


Tak lama, suara deru motor terdengar. Ku lihat ada banyak teman-teman teh Wini yang lain datang. Akhirnya kami para anak kosan undur diri, bergantian dengan mereka yang baru datang.


Kami hanya bisa menitipkan doa, semoga teh Wini lekas sembuh.


Setelahnya, kami langsung kembali ke kosan.


***


"Innalilllahi, Dek. Teh Wini meninggal," ucap mba Ani memberitahu kami pagi itu saat kami sedang menjemur pakaian.


"Innalillahi yaa Allah. Kapan, Mbak?" Aku kaget bukan main.


"Semalam katanya. Mbak baru dapat info tadi pagi dari pacarnya," jawab mbak Ani.


"Yaa Allah, untuk siang tadi kita sudah ke sana ya? Setidaknya kita sudah lihat teh Wini untuk terakhir kalinya," ucap Ningsih kemudian.


Teh Wini, mungkin beliau ingin ditengok oleh kami sebelun dia pergi. Yaa Allah innalillahi. Semua yang bernyawa akan mati. Semoga Kau matikan teh Wini dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin.


Teman-teman mari kita hadiahkan alfatihah untuk teh Wini yang baik hatinya itu yaa.


Alfatihah 🙏


🍃


Dan untuk teman-teman yang lain, jangan pernah anggap remeh segala macam penyakit yaa. Selalu periksakan segera jika ada gejala-gejala aneh yang ada dalam diri kalian 🙏


Semoga kita selalu diberi kesehatan dan keselamatan oleh Allah SWT, dunia dan akhirat.


Aamiin.

__ADS_1


Sampai jumpa di episode selanjutnya yaa. See ya 👋


__ADS_2