Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
Kosan Teh Lisa (Part 3)


__ADS_3

"Aku salah jalan wey!" Aku berucap ragu pada Lulu yang masih duduk anteng di belakangku. Aku menelan ludah.


Aku yakin aku salah jalan. Karena di depanku gelap. Dan aku tidak bisa putar balik karena jalannya hanya selebar satu meteran. Sebenarnya lahan di sana luas. Pemandangan di sebelah kiri adalah pekarangan warga yang kosong. Mungkin kalau siang bisa dipakai anak-anak kecil untuk main bola. Di ujung lahan kosong itu dikelilingi oleh pohon-pohon yang entah pohon apa namanya, aku tak tahu. Yang aku tahu di ujung depan sana ada pohon jambu biji yang lumayan besar. Sementara di bawahnya ada sumur. Aku tidak tahu apakah sumur itu masih digunakan atau sudah mati. Yang pasti, gang yang aku masuki itu sepi, gelap. Dari cahaya lampu depan motorku yang memancar, di depan ku lihat seperti ada kepulan asap tipis.


Aku menggaruk keningku bingung. Bagaimana ini?


Jalanan di depan memang luas. Namun jalan yang di paping hanya selebar satu meteran. Dan di jalan paping itulah ban motor kami berpijak. Ditambah jalan yang dipaping itu posisinya lebih tinggi sekitar 30 sentian dari permukaan tanah. Sementara kami sudah masuk lumayan jauh. Jadi kami jelas tidak bisa putar balik karena jalannya memang tidak bisa untuk kami putari. Jika kami ingin kembali, maka kami harus menjalankan mundur motor kami. Dan itu repot sekali. Dan kami juga tidak mungkin menerjunkan ban motor kami untuk berpijak pada lahan tanah.


Aku menengok ke belakang, "Bagaimana ini?" Tanyaku meminta saran pada Lulu dan Nuri.


"Kita salah jalan?" Tanya Lulu.


Aku mengangguk. Mereka belum tahu bahwa jalan yang sekarang sedang mereka tapaki adalah jalan yang benar-benar salah. Jalan yang kata teh Lisa tidak ada yang berani melewati kalau malam.


"Ya sudah kita lurus saja. Toh di depan sana ada jalan juga tuh," ucap Lulu kemudian.


Di ujung gang kecil itu memang menembus ke jalan besar, entah jalan apa itu. Yang pasti dari tempatku berhenti, jalan besar di depan sana sudah terlihat. Setelah lumayan lama terdiam memikirkan akan maju atau mundur, kami akhirnya memutuskan untuk maju saja. Setidaknya kami tidak perlu repot-repot berjalan memundurkan motor kami.


Bismillah.


Ku lajukan motorku ke depan agak cepat. Lumayan ngeri juga kalau-kalau ban motorku oleng lalu terjerembab ke tanah di bawah sana. Sambil melajukan motor, mulutku tak putus merapal doa dan surat-surat pendek yang aku bisa.


Suasana di sana memang ngeri sekali. Gelap, hening. Pantas saja jika tidak ada orang yang mau lewat sana kalau malam. Dari motorku yang melaju, aku lirik sebentar sumur yang berjarak beberapa meter dari arah kananku. Sepertinya sumur itu sudah mati. Melewati gang sempit dengan hanya bermodal lampu dari motor, membuatku merinding juga.

__ADS_1


Dari arah sumur ku lihat seperti ada kepulan asap tipis entah berasal dari mana. Mungkin kabut maghrib pikirku.


Tak lama, kami sudah tembus di jalan besar, kami berhenti. Aku celingukan ke kanan dan kiri, arah mana yang harus ku ambil? Aku bingung juga jadinya. Soalnya aku ke kosan teh Lisa pun baru satu kali. Ditambah dengan salah jalan pula.


"Aku lupa jalan euy, bagaimana ini?" Tanyaku pada teman-teman.


"Hahaha, ampun ini anak yaa!!" Nuri tertawa melihat aku yang kebingungan.


"Ambil kiri saja deh yuk!" Ajakku pada Nuri akhirnya.


Aku belokkan motorku ke arah kiri. Tak jauh dari titik ujung aku nyasar tadi, aku lihat ada beberapa anak yang duduk-duduk di saung pinggir jalan, kalau orang sini menyebutnya 'ranggon', tempat untuk bapak-bapak kalau ronda malam itu loh, kalian bisa membayangkannya? Di tempat kalian apa namanya?


Aku terus melajukan motorku mengikuti jalan, hingga sampailah aku pada jalan raya utama, persis di samping SMA Hijau.


Aku dan Nuri akhirnya putar balik. Memulai semuanya dari awal dengan memasuki gang yang benar. Lulu yang duduk dibelakangku hanya manut.


Kami lajukan motor mengikuti jalan. Kami rasa kami sudah cukup lama jalan saat itu. Tapi anehnya kami tidak sampai-sampai di kosan teh Lisa. Padahal saat siang aku kesana seorang diri, kosan teh Lisa cepat sekali aku temukan.


Aku celingukan lagi mengingat-ingat jalan dengan posisi motor yang masih melaju. Hingga,


SRUUUUTT.


"Eh kita kemana sih ini?" Tanyaku pada Nuri bingung. "Salah jalan lagi apa ya?"

__ADS_1


"Lah, kamu sih kemana? Wong kamu yang tahu kosan temanmu kok!" Ucap Nuri protes.


Aku meringis. Aku juga bingung kenapa bisa jadi begitu??


"Ya sudah lanjut saja dulu deh!"


Ucapku sambil melajukan lagi motor maticku.


Tak lama, aku lihat lagi saung yang berisi anak-anak tadi. Aku berhenti lagi. Aku semakin bingung. Yang aku lihat kok sepertinya itu-itu saja dari tadi. Padahal motorku sudah menyusuri jalan cukup lama.


"Bingung heh aku! Tanya ke orang saja ya?"


Nuri dan Lulu mengangguk. Akhirnya kami turun untuk bertanya pada warga. Kebetulan saat itu ada seorang ibu yang sedang lewat.


"Permisi, Bu," panggilku pada si ibu.


Si Ibu berhenti. "Iya, Dek."


"Bu punten, kalau kos-kosan milik bu Haji Nining dimana ya?" Tanyaku pada si ibu dengan menyebutkan nama pemilik kosan teh Lisa.


"Oh kosan bu Haji? Itu Dek tinggal jalan lurus saja. Nanti mentok belok kiri sedikit. Nanti di sana ada kos-kosan warna hijau, itu kosan bu Haji." Jawab si Ibu.


Aku mengangguk sangat paham. Karena rute itulah yang memang aku ambil saat kemarin aku ke kosan teh Lisa siang-siang. Tapi kenapa malam itu sepertinya aku buta arah?

__ADS_1


__ADS_2