Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
Kosan Fardan (Part 6-End)


__ADS_3

Aku dan Heru langsung melaju menyusuri jalanan Bandung menuju alamat rumah Anton yang diberikan oleh ibunya. Rumah Anton lumayan jauh dari rumah ibunya itu. Sepanjang jalan aku berbincang dengan Heru perihal kemungkinan apa yang akan kami hadapi nanti saat bertemu lelaki yang sama sekali tidak kami kenal itu. Bisa saja Anton menganggap kami orang aneh yang tiba-tiba datang padanya dengan tujuan yang aneh pula. Apalagi Anton sekarang sudah beristri. Apa jadinya nanti saat kami kesana dan membahas perihal mantannya. Bukankah hal-hal mengenai mantan akan selalu jadi bahasan yang menyeramkan?


(Ya, ya. Namanya juga yang author tulis cerita seram kan ya? Cocok lah, wekekekek)


Waktu sudah beranjak sore. Matahari pun sudah mulai turun ke ufuk barat. Hari sebentar lagi akan gelap. Namun syukurnya kami sudah menemukan alamat yang kami cari, rumah Anton.


Kami berdua sekarang berdiri di depan pintu rumah Anton berhadapan dengan asisten rumah tangganya.


"Pak Antonnya belum ada di rumah, Mas," ucap si asisten rumah tangga.


"Hm, kapan pulangnya kira-kira ya, Mbak?" Tanya kami pada perempuan yang kami kira umur 35 tahunan itu.


"Sebentar saya teleponkan dulu bapak, ya Mas. Nama Masnya siapa? Dan ada perlu apa? Nanti biar sekalian saya sampaikan," ucapnya.


"Saya Fardan, Mbak. Tolong katakan saja pada pak Anton kalau saya ada urusan penting dengannya."


Setelah aku berkata demikian, si Mbak masuk ke dalam rumahnya dan menelpon majikannya.


Tak lama, si Mbak datang lagi menemui kami.


"Kata bapak, si Masnya tunggu saja di cafe depan. Nanti sekitar jam 7, bapak menyusul ke sana," ucap si Asisten sambil menunjuk ke arah cafe depan.


Tidak jauh dari sini memang tadi kami lihat ada cafe yang lumayan besar di depan. Akhirnya kami mengiyakan perkataan si Mbak sambil berlalu meninggalkan rumah itu. Aku juga tidak mengerti kenapa Anton meminta kami menunggunya di cafe depan. Kenapa dia tidak memersilakan kami masuk ke rumahnya saja? Ya mungkin karena nama kami yang disebutkan si Mbak padanya tidak dikenalnya. Untuk itu dia juga tidak bisa memasukkan orang asing yang tidak dikenalnya ke dalam rumahnya.


Sekarang aku dan Heru sudah duduk di cafe depan sambil menikmati segelas teh hangat untuk sedikit menghangatkan badan kami dari udara malam Bandung. Aku dan Heru saat itu harap-harap cemas kalau-kalau si Anton ini tidak akan datang menemui kami.


Namun dugaan kami salah. Dari tempat kami duduk, kami melihat seorang lelaki yang sedang tengok sana-sini seperti sedang mencari seseorang. Aku yakin dia Anton. Aku bangkit dari dudukku dan mendekat padanya.

__ADS_1


"Maaf, Anda Anton?" Tanyaku langsung padanya.


"Iya, benar. Kamu Fardan?" Tanyanya balik padaku.


"Benar. Mari kita duduk di sana," ajakku padanya kemudian.


Lelaki bernama Anton itu mengikutiku berjalan. Dalam hatiku berkata, "Rupanya ini lelaki yang sudah berhasil membuat seorang wanita bunuh dari sampai hantunya menggangguku?"


Kami sekarang duduk bertiga dalam sebuah meja cafe. Anton menatap wajah kami satu persatu lekat. Mungkin dalam hatinya bertanya-tanya siapakah kami? Raut wajahnya kentara sekali mengatakan kalau dia merasa bingung.


"Maaf ada perlu apa ya kalian ingin bertemu dengan saya?" Tanyanya.


"Hm, begini Mas," jawabku terputus. Aku bingung harus memulai semuanya dari mana.


"Hm, Mas nya kenal dengan wanita bernama Lala?" Ucapku kemudian.


"Lala yang mana, ya?" Tanyanya masih bingung.


Mungkinkah Lala kekasihnya dulu sudah dilupakannya?


"Saya juga kurang tahu sebenarnya Lala ini siapa, dan maaf sebelumnya kalau kedatangan kami ini membingungkan Masnya. Tapi kami hanya bermaksud baik," ucapku padanya menjelaskan tujuan kami. Aku rogoh kantong tas punggungku dan ku keluarkan benda keramat yang sedari tadi aku bawa. "Ini," kataku menyodorkan kertas itu.


"Apa ini?" Tanya Anton keheranan karena aku memberikannya sebuah lipatan kertas yang sudah menguning.


"Baca saja, Mas!" Ucapku tak banyak kata. Dengan membaca isi surat itu, mungkin Anton akan langsung mengerti.


"Kalian ingin main-main dengan saya? Kalian ingin bertemu dengan saya hanya untuk menyerahkan kertas yang sudah kuning ini? Terlalu!"

__ADS_1


Anton bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan kami. Namun aku tak akan membiarkannya pergi. Usahaku dengan Heru sudah sejauh ini. Surat yang aku pegang itu harus tersampaikan pada pemiliknya hari ith juga.


Ku kejar Anton yang berjalan cepat meninggalkan cafe. Namun baru sampai di luar cafe, aku berhasil menahannya untuk berhenti.


"Tunggu Mas!! Ini perihal Lala mantan pacarmu!" Ucapku akhirnya memberikan clue padanya.


Anton mendelik.


"Dari mana kamu tahu kalau mantan pacarku bernama Lala?" Anton menyelidik.


"Makanya tolong baca surat ini dulu, Mas agar mengerti." Aku menyerahkan surat itu padanya.


Dan Alhamdulillah dia mau menerimanya. Melihat Anton perlahan membuka lipatan kertas itu, hatiku ikut deg-degan. Seolah sebentar lagi bebanku perihal Lala akan hilang saat Anton sudah membaca surat darinya.


Lipatan kertas yang menguning itu kini sudah terbuka sempurna. Dan ku lihat mata Anton dengan teliti membacanya. Ku biarkan sejenak dia merasai isi surat itu perlahan. Untuk kemudian dia mengembuskan napasnya berat.


"Dari mana kalian mendapatkan surat ini?" Tanyanya kemudian.


Akhirnya aku menceritakan semua kisah ganjilku di kosan padanya hingga aku menemukan surat itu. Anton mendengarkan ceritaku sambil ku lihat ada rasa menyesal dari wajahnya.


"Dari semua kejadian yang ku alami itu, aku mengambil kesimpulan bahwa Lala ingin aku menyampaikan surat itu padamu. Dan hari ini akhirnya semua tugasku telah selesai," ucapku padanya kemudian. "Sekarang mungkin giliran kamu. Lakukan yang terbaik untuk bisa membuat Lala tenang, apa pun itu caranya, kamu sendiri yang tahu."


Anton tertunduk terdiam. Mungkin dia juga tidak menyangka bahwa semuanya akan berakhir seperti itu. Anton menarik lagi napasnya dalam.


"Terimakasih," ucapnya.


Kami mengangguk.

__ADS_1


Perjalanan kami malam itu akhirnya berbuah hasil yang menenangkan. Aku bisa menyampaikan pesan Lala pada kekasih hatinya. Tenanglah di sana, La. Aku di sini berdoa untukmu.


__ADS_2