
Di episode kali ini aku ingin ceritakan tentang masa sekolah dulu ya. Baru setelah itu tentang saat aku KKN.
Tapi kisah sekolah yang akan aku tulis ini bukan tentang "Kisah Kasih di Sekolah" ya, haha.
Ini berhubungan dengan kisah Elisa, yang mempunyai 'teman'.
Jadi di sekolahku dulu, saat itu aku kelas 2 SMA di salah satu sekolah Negeri di kotaku. Kebetulan aku masuk di kelas 2 IPA 3 yang berjumlah 40an anak dalam satu kelasnya. Nah, ada lah satu teman kelasku yang mirip Elisa gitu, sebut saja dia Maya. Dia suka bicara yang seolah tua gitu, tidak sesuai umurnya. Dan tanda kalau yang bicara bukan dia adalah, matanya suka lirik-lirik sambil senyum aneh pokoknya.
Kejadiannya bermula saat kami mengikuti pelantikan ekstrakulikuler. Yang aku sendiri pun tidak paham kenapa dari jaman aku SMP, saat pelantikan selalu saja ada kakak kelas yang menyamar diri menjadi hantu. Entah itu pocong, kuntilanak, atau sekedar bersembunyi di balik semak-semak lalu tiba-tiba menangis. Di sekolah kalian seperti itu tidak sih?
Jaman aku SMP contohnya.
(Aku cerita tentang masa aku SMP dulu ya? Maya pending sebentar.)
Malam itu ceritanya malam pelantikan. Kami semua dibagi menjadi beberapa kelompok dan tidur di dalam kelas. Rumornya, SMP ku itu punya satu kelas yang dianggap horor, yaitu kelas pojok. Bangunan kelas di sekolahku yang dianggap horor itu adalah bangunan yang membentuk huruf "L", bangunannya tepat menghadap ke lapangan utama. Dan pada lekukan huruf "L" itulah kelas itu berada. Kalian bisa bayangkan kan bangunan dengan bentuk huruf "L"?
Kebetulan di kelas pojok itu minim sekali sinar matahari yang masuk ke sana. Mungkin karena letaknya yang membelakangi arah matahari terbit, plus berada di tengah-tengah. Jadilah kalau pagi gelap di sana. Kebetulan saat kelas 3, aku akhirnya merasakan setahun tinggal di ruangan itu.
Kembali ke malam pelantikan.
Ceritanya malam itu kami sedang tidur di dalam kelas. Sampai tengah malam kami diminta bangun oleh kakak senior dan disuruh segera memakai syal kami untuk menutupi mata. Kami manut. Masing-masing dari kami segera memindahkan syal yang awalnya mengikat di leher menjadi penutup mata. Setelah mata tertutup, kami diminta untuk sabar mengantri karena akan diambil satu persatu oleh kakak senior menuju lapangan, dengan mata tertutup tentunya.
Entah apa alasannya. Intinya kami dari dalam kelas dengan kondisi mata yang sudah tertutup, diambil satu per satu lalu mereka bawa ke tengah lapangan.
Satu per satu kakak senior itu mulai memindahkan kami menuju lapangan. Hingga sampailah giliranku.
"Ayo!" Katanya tegas. Aku hanya bisa manut.
Tanganku di tuntunnya perlahan.
"Awas hati-hati," katanya lagi.
"Ini mau dibawa kemana, kak?" Tanyaku penasaran. Aku hanya hawatir mereka mengerjaiku dan membawaku ke ruangan mana gitu.
"Sudah ikut saja. Penutupnya jangan dibuka sampai ada perintah, ya!" Ucapnya lagi.
Aku mengangguk.
Namun dalam kondisiku saat itu, aku terbanyang pada mereka yang benar-benar ditakdirkan buta. Betapa susahnya mereka melewati hari-hari mereka dalam gelap. Subhanallah.
(Sudahkah kita bersyukur atas nikmat penglihatan yang Allah beri saat ini? Semoga kita selalu bisa memakai mata kita untuk melihat hal-hal yang baik saja yaa. Aamiin.)
Aku berjalan mengikuti tuntunan kakak senior. Hingga sampailah aku di suatu tempat saat kakak senior itu menghentikan langkahnya.
"Ya, berhenti!" Katanya. "Duduk di sini ya. Jangan pindah, jangan geser, cukup diam di sini!"
"Iya, Kak," jawabku.
Awalnya aku hawatir akan di bawa ke dalam suatu kelas, lalu ditinggal di sana sendirian. Namun nyatanya memang aku ditaruh di lapangan. Aku bisa merasakan kasar permukaannya. Aku coba raba-raba di sekelilingku. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Ini aku sendirian apa bagaimana?? Pikirku saat itu.
Satu per satu akhirnya aku dengar teriakan yang suaranya agak jauh kesana.
HAAAA!!
WAAAAA!!
"Sudah, jangan hiraukan suara itu! Fokus saja pada diri masing-masing! Awas, pikiran jangan sampai kosong!!" Salah satu senior memberi instruksi.
Aduh, aku sudah parno saja kalau sudah ada perintah, "Pikiran jangan kosong!".
__ADS_1
Aku pun tidak mengerti, pikiran yang kosong itu seperti apa? Karena dengan membayangkannya saja aku tidak bisa.
Bukankah pikiran kita selalu penuh dengan hal ini itu?? Terpikirkan tugas sekolah, terpikirkan uang jajan, terpikirkan ibu, bapak, kakak, adik, tetangga, atau bahkan... ada yang terpikirkan mantan?
Oh, oh.. Hati-hati, itu lebih horor!!
Lalu pikiran kosong itu yang seperti apa? Yaa entahlah.
Mari kita lanjutkan.
Teriakan demi terikan terdengar. Entah teriakan siapa itu.
Suara kakak senior dari kejauhan pun terdengar.
"Ayo lari, lari!!"
Lah? Itu siapa yang di suruh lari? Kenapa aku malah disuruh duduk?
Aku yang dalam posisi mata tertutup membayangkan ini itu. Umurku saat itu berapa ya? Kitaran 15 tahun sepertinya. Usia SMP saja pokoknya.
Cukup lama aku tunggu giliranku. Sampai satu tangan meraih lenganku.
"Ayo, giliran kamu," katanya.
Aku diminta berdiri dan membuka penutup mataku. Segera aku buka karena penasaran. Dan yaa Allah, pantas saja tadi aku raba-raba seperti tidak ada siapa-siapa di sampingku. Wong kami, para junior di tata duduk berjauhan sekira satu meteran dari satu junior ke junior lainnya.
Aku dituntun berjalan keluar lapangan oleh si kakak senior. Sampai dia bilang,
"Kamu sekarang jalan keluar gerbang. Lalu ikuti tanda ya. Dari gerbang nanti belok kiri, lalu jalan terus sampai mentok, nanti belok kiri lagi. Paham ya??"
Aku mengangguk walau takut.
Aduh, aku ngeper ingin menyerah. Bagaimana tidak? Di tengah malam buta, aku diminta jalan sendirian memutari sekolah lewat gerbang depan?
Sekolahku memang di pinggir jalan raya. Tapi jam 1 malam begitu, jalan raya juga sepi yakali.
Bismillah. Aku mulai berjalan selangkah demi selangkah menuju rute yang diperintahkan.
Dan percayalah, aku yang saat itu berumur 15 tahun, yang biasanya ke toilet malam-malam pun minta diantar, ini disuruh jalan seorang diri? Yaa Allah, ini badan gemetar dari kepala sampai kaki.
Dari lapangan aku berjalan melewati perpustakaan. Gelap.
Terus berjalan melewati dua kelas. Gelap.
Berjalan lagi melewati gerbang kedua. Sepi, tidak ada siapa-siapa di sana.
Sampai aku tiba di gerbang utama. Di sekolahku ada dua gerbang ya. Gerbang utama gerbang besar. Dan gerbang kedua hanya gerbang kecil, sekira hanya masuk satu motor saja.
Aku keluar gerbang utama dan belok kiri. Aku saat itu sudah keluar sekolahan. Aku jalan lurus terus sampai aku temukan belokan. Aku belok ke kiri sesuai perintah tadi. Dan dari belok kiri itu aku kembali masuk ke wilayah sekolahan, namun itu adalah bagian belakang gedung.
Dari kejauhan aku lihat dua orang teman seperjuangan berhenti di depan. Aku segera dekati mereka.
"Kenapa?" Tanyaku pada mereka.
"Stt.. Di depan kayak ada orang," jawabnya memintaku diam.
"Dimana?" Aku penasaran.
"Itu di pojok toilet."
Aku perhatikan, di sana memang ada yang bergerak. Tapi aku tidak tahu apa itu. Akhirnya aku memilih ikut berhenti dengan mereka di sana. Tidak mungkin juga dong aku pilih lanjut berjalan sendirian? Ngeri sekali.
__ADS_1
Agak lama, satu orang baru lagi datang. Dan akhirnya kami jadi berlima saat itu.
"Gimana ini?" Tanya salah satu diantara kami.
"Ya gimana lagi. Lanjut saja yuk!" Jawab yang lainnya.
"Oke. Bareng ya," pinta yang lainnya.
Aku manut pokoknya manuuuut.
Kami berlima berjalan bersamaan melewati tapak demi tapak. Perlahan berjalan. Sampai sebentar lagi kami sudah dekat dengan pojokan toilet, hingga ..
BAAA!!!!!
Satu pocong meloncat keluar dari pojokan itu.
"WAAAAAAAAAAA."
Kami semua berteriak berlarian dorong-dorongan.
Aku akhirnya tahu suara teriakan apa tadi yang ku dengar saat masih di lapangan. Ternyata suara itu berasal dari junior-junior macam kami saat melewati pojokan toilet itu.
Dan ya, pocong itu adalah kakak senior kami.
See? Sekilas pikir, manfaatnya apa coba?
Mereka meminta kami berjalan sendirian di tengah malam, lalu mereka kagetkan dengan munculnya pocong? Ckckck.
Malam itu akhirnya berganti pagi.
Pagi itu kami sedang membereskan barang-barang bawaan kami karena akan di adakan upacara penutupan. Di saat waktu senggang itu aku berbincang dengan salah satu teman dekatku, Atin.
"Eh Vi, kamu semalam lihat penampakan apa?" Tanya Atin padaku. Penampakan di sini maksudnya penampakan hantu kakak kelas yaa.
"Aku cuma ketemu pocong di belakang toilet. Kamu sih?" Aku balik bertanya.
"Belakang toilet? Yang mana sih?" Atin bertanya heran.
"Itu loh yang jalannya memutar ke depan gerbang," jawabku.
"Loh, kok kesana sih?" Atin makin bingung.
"Lah, ya emang kesana kan rutenya? Keluar gerbang?" Aku meyakinkan.
"Ih bukan tau. Orang rutenya jalan ke depan lorong kelas," jawabnya.
"Depan gerbang, tauuuu!!" Aku tak mau kalah. Karena memang rutenya berjalan ke depan gerbang. Bukan ke depan lorong kelas. Buktinya aku di sana bertemu dengan banyak teman-teman di tengah jalan kan?
"Ih kalau gitu aku yang salah rute dong?" Atin bingung sendiri.
"Aku pikir aku diminta jalan ke lorong kelas tau." kata Atin lagi.
"Jadi yang aku lihat semalam siapa dong?" tanyanya.
"Memangnya kamu lihat apa?" Aku penasaran.
Atin memulai ceritanya.
Dan ternyata dia salah rute. Lorong yang dia masuki adalah lorong kelas yang membentuk huruf "L" itu, yang ada kelas horonya di pojokan itu.
"Jadi kan aku jalan ke lorong depan. Aku lewati kelasnya satu-satu. Nah dari kelas pertama itu kosong-kosong saja. Kelas kedua juga kosong. Kelas berikutnya juga kosong. Nah, sampai di kelas pojok, ada lilin nyala satu...."
__ADS_1