Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
KKN (Part 6)


__ADS_3

Malam ini ramai di posko. Anak laki-laki sudah membawa sarung dan bantalnya untuk bekal tidur malam nanti. Lepas isya setelah kami selesai mengerjakan tugas wajib program kerja KKN, kami seperti biasa memainkan permainan apa saja yang menyenangkan, alih-alih mengalihkan pikiran kami dari hal-hal aneh. Malam itu kami seperti biasa duduk memutar di ruang tengah sambil memulai sesi curhat. Kami bisa mengutarakan hal apa saja yang ingin kami bagi pada teman-teman. Ada yang bercerita tentang pacarnya, keluarganya, dan lain-lain.


Namun tetap saja, walau kami awalnya hanya membahas obrolan ringan, lama-lama tetap saja mengarah juga pada pembahasan yang berat. Salah satunya yaitu tentang alasan mengapa anak laki-laki harus tidur di posko perempuan. Kami pun sebenarnya sedikit tidak enak hati pada warga sekitar karena tidur campur satu rumah laki-laki dan perempuan. Tapi mau bagaimana lagi? Kami anak perempuan sudah tidak nyaman untuk tidur di dalam rumah yang bisa saja tidak aman untuk kami semua, walau aku sendiri pun belum tahu ada apa sebenarnya di dalam rumah itu.


Dan ternyata, anak laki-laki pun belum terlalu tahu jelas alasan mengapa mereka mulai malam itu diminta tidur satu posko dengan kami.


"Iya, memangnya ada apa sih? Kenapa kita disuruh tidur di sini malam ini?" Salah satu anggota laki-laki bertanya dalam forum yang tidak resmi itu.


"Ya, kalau bisa sih jangan hanya malam ini. Besok-besoknya juga ya sampai KKN selesai, kalian tidur di sini saja," jawab salah satu anggota perempuan.


Aku yang belum tahu apa-apa memilih untuk diam mendengarkan.


"Iya, kenapa?" Tanya anak yang lain.


"Kemarin si Mira lihat ada orang lewat," jawab salah satu diantara kami, Yuna.


"Hah? Maksudnya bagaimana?" Salah satu anak laki-laki terlihat belum paham arah pembicaraan Yuna. Termasuk aku. Yuna adalah penghuni kamar depan ya, termasuk Mira juga.


Mereka anak-anak penghuni kamar depan saling berpandangan. Aku yang sebagai penghuni kamar belakang masih diam, tak sabar mendengarkan penjelasan selanjutnya.


"Jadi sore itu kami sedang ngobrol di kamar kan, posisi pintu kamar dibuka. Di antara kami saat itu yang menghadap ke luar pintu hanya Mira. Nah, saat sedang asik ngobrol itu Mira lihat ada orang jalan dari dapur menuju ruang tamu," Yuna mulai menjelaskan. Kami diam.


Malam-malam di rumah kontrakan, dan kami membicarakan hal horor yang sedang terjadi di dalam kontrakan itu? Apa yang dirasa coba? Ngeri.


Mira saat itu ada. Tapi dia lebih memilih diam dan membiarkan Yuna yang mengambil alih untuk menceritakan apa yang dia lihat pada kami.


"Awalnya Mira kira yang jalan itu adalah salah satu dari kalian, tapi kan sore itu kalian semua tidak ada di posko," lanjut Yuna menunjuk kami para penghuni kamar belakang.

__ADS_1


Kami masih diam. Sore itu seluruh penghuni kamah belakang memang tidak ada. Mereka sedang dapat giliran ikut pengajian di desa.


"Sedang asik ngobrol, Mira tanya, 'Eh itu siapa?' Sambil dia menunjuk ke arah luar pintu," lanjut Yuna. Kami masih diam, membiarkan Yuna menyelesaikan ceritanya.


"Siapa apanya? Kami balik tanya kan? Si Mira jawab, 'Itu tadi ada yang lewat dari dapur ke ruang tamu', posisi kami semua ada di kamar, dan sudah tidak ada siapa-siapa lagi di posko, jadi yang tadi lewat siapa, kami tidak tahu."


Kami menghela napas mendengarkan penjelasan Yuna. Posisi pintu kamar depan memang menghadap lurus ke arah dapur. Sehingga pastilah Mira akan dengan sangat jelas tahu jika ada orang yang lewat.


Jika makhluk itu sudah bisa mewujud menjadi manusia entah siapa itu, berarti dia tidak main-main memainkan kami. Aku merinding.


"Kata Mira, yang lewat perempuan. Makanya dia kira itu salah satu dari kalian," lanjut Yuna sambil kembali melirik kami, anak kamar belakang.


Kami semua berpandangan. Padahal KKN sebentar lagi akan usai, tapi kenapa makhluk itu baru menampakkan dirinya sekarang? Kenapa tidak dari awal saja saat kami pertama menginjakkan kaki di rumah ini?


Anak laki-laki saling mengangguk mengerti. Mereka menangkap ketakutan dalam raut wajah kami. Akhirnya mereka setuju jika harus tidur satu rumah dengan kami sampai KKN usai.


Malam tadi di posko serasa penuh. Kamar depan diisi oleh anak-anak depan, kamar belakang diisi oleh aku dan teman-teman yang lain, sementara ruang tengah diisi oleh anak laki-laki. Jadi malam itu kami bisa tidur nyenyak walau sebelumnya kami membahas hal menakutkan. Saking nyenyaknya, aku sampai terlambat bangun subuh, pun Nani. Saat itu sekitar pukul 5 lebih 20 menitan. Udara masih dingin, di luar masih gelap. Tapi tentu saja jamaah subuh di mushola sudah tidak ada. Selama ini kami memang sudah terbiasa sholat berjamaah di mushola, Alhamdulillah, mumpung dekat.


"Bagaimana ini? Kita sholat di mana?" Aku bertanya pada Nani yang juga terbangun. Sementara semua teman masih tertidur.


"Ya ayo di mushola saja! Toh di sini juga mau sholat di mana? Penuh semua tuh," jawabnya sambil siap-siap membawa mukenahnya.


Nani benar, posko memang benar-benar sesak. Hanya tersisa dapur dan kamar mandi saja yang kosong. Akhirnya aku dan Nani beranjak menuju mushola.


Kami berjalan menuju mushola melalui gerbang samping, Nani berjalan di depan. Dan begitu menaiki anak tangga, dari tempatku berdiri aku melihat ada pak Ustad yang biasa mengimami sholat masih berdiri di depan pintu utama mushola. Beliau masih berpakaian lengkap menggunakan sarung, baju koko putih, kopiah, dan sajadah melingkar di lehernya. Beliau mendongak melihat ke arah atas tembok, entah melihat apa. Aku menghentikan langkahku. Aku malu juga pada beliau karena sudah bangun subuh kesiangan. Dari tempatku berdiri, aku bisa jelas sekali melihat beliau, karena dinding mushola ini full kaca, bukan tembok.


Namun Nani masih santai saja berjalan ke arah depan menuju tempat wudhu. Aku teriak dengan suara yang kecil memberi kode agar Nani juga berhenti.

__ADS_1


"Nani, Nani! Sst ssst!" Aku memanggilnya parau. Maksud hati adalah aku ingin kami diam sebentar dulu sampai pak Ustad pulang agar kami tidak perlu menjelaskan dengan malu bahwa kami bangun subuh kesiangan.


Namun Nani masih melanjutkan langkahnya menuju tempat wudhu. Kebetulan tempat wudhunya ada di pojok depan dari mushola. Otomatis jika kami ke sana, kami pasti akan berpapasan dengan pak Ustad. Tak ada pilihan lain, aku pun akhirnya lanjutkan jalanku. Urusan ditanya pak Ustad, bisa aku jawab sekenanya nanti.


Namun ada yang aneh saat aku sudah berjalan ke depan. Pak Ustad tidak ada. Area depan mushola kosong melompong. Aku penasaran.


Aku segera lari menuju sayap kanan mushola karena rumah pak Ustadz memang ke arah sana. Aku berdiri mematung memandang jalan lurus yang masih gelap itu, sunyi, tidak ada siapa-siapa. Jarak waktuku berjalan tadi tidaklah lama, harusnya aku masih bisa melihat pak Ustad berjalan menuju pulang di jalan itu. Namun di sana kosong.


Aku berlari lagi menuju Nani yang sedang mengambil wudhu.


"Kamu kenapa sih?" Tanya Nani heran melihatku mondar-mandir tak jelas.


Aku mengatur napasku. "Pak Ustad kemana?"


Nani mengernyitkan dahinya. "Pak Ustad apanya?"


"Pak Ustad di depan tadi, kemana?" Aku yakin seharusnya Nani tahu. Karena saat dia berjalan ke tempat wudhu, aku masih melihat pak Ustad berdiri di depan pintu.


"Pak Ustad yang mana woy? Tidak ada siapa-siapa di sini," jawab Nani lantang sambil naik ke atas. Posisi tempat wudhu memang agak ke bawah saat itu. "Cepat wudhu sana!"


"Ih sebentar dulu!" Aku penasaran sekaligus bingung. "Tadi ada pak Ustad berdiri di sana, masa kamu tidak lihat?" Tanyaku sambil menunjuk arah depan mushola.


"Dari tadi di sana tidak ada siapa-siapa Via! Salah lihat paling kamu tuh," jawab Nani sangat yakin. "Sudah sana cepat wudhu, cepat sholat!"


Aku berdecak bingung. Aku sungguh tidak salah lihat. Dari balik kaca tadi memang ada pak Ustad berdiri di depan pintu, jelas sekali. Tapi jika memang menurut Nani tidak ada siapa-siapa di sana? Lalu dia siapa?


"Tunggu ya. Jangan kemana-mana!" Ucapku pada Nani sambil segera turun untuk mengambil air wudhu. Takut juga aku. Setelahnya kami bergegas sholat di dalam mushola yang memang sudah sepi itu.

__ADS_1


'Tidak apa-apa, Vi. Kamu tadi lihat pak Ustad, tandanya itu adalah jin baik yang mewujud menjadi pak Ustad, tidak usah takut!' Aku bergumam dalam hati menguatkan diri saat aku dan Nani hanya berduaan di dalam mushola di pagi hari yang sepi itu.


__ADS_2