Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
PPL (Part 4)


__ADS_3

"Ada pocong tahu di pojokan mushola."


HIH!!! Yang benar saja???


Aku paling takut dengan mahkluk satu itu. Asli aku takuuut.


Salah satu teman PPL bercerita saat kami sedang santai di ruang PPL di jam istirahat.


"Ih yang betul kamu?" Salah satu dari kami bertanya tak percaya.


"Iya. Dia berdiri di pojokan."


Ampun yaa. Aku membayangkannya saja sudah ngeri, bahkan saat sekarang mengetik tulisan ini pun.


Kalian bisa bayangkan pocong kan? Badan berdiri tegap di pojokan dengan terbungkus kafan putih sudah kecoklatan karena bercampur tanah? Wajahnya? Sudah lah lupakan. Jangan dibayangkan. Aku mual.


Aku tidak mengerti mengapa pocong itu ada di sana. Dan aku juga tidak paham mengapa makhluk-makhluk itu rajin sekali menyapa kami, para guru PPL yang hanya tiga bulan tinggal di sana. Lalu bagaimana dengan guru dan siswa yang sudah bertahun-tahun di sana?


Ada satu yang aku sayangkan dari SMK Mandiri, yaitu musholahnya. Musholah di sana benar-benar seukuran mushola. Maksudku, untuk murid yang sebanyak itu, tempat ibadah yang ada sangatlah kecil. Dan lagi, musholahnya seperti kurang terurus. Ini berbeda dengan sekolah-sekolahku dulu jaman aku SMP dan SMA. Musholah sekolah ku besar seukuran masjid di desa-desa. Cukup menampung siswa satu sekolahan.


Lah di SMK Mandiri??


Bukankah tempat ibadah adalah yang terpenting?


***


Malam itu kami ada di sekolahan. Entah dalam rangka apa, aku lupa. Intinya kami guru PPL malam itu menginap di sana. Kalau tidak salah sih dalam rangka pengukuhan ekstrakulikuler. Anak-anak mendirikan tenda di lapangan utama.


Ingat, selama tidak menyentuh lapangan belakang, kami aman. Hehe. Lapangan utama bisa digunakan pagi, siang, sore, bahkan malam.


Tapi kebetulannya, malam itu aku sakit. Badanku meriang, kepala pusing, jadi aku hanya tiduran saja di ruang PPL, sementara teman-teman yang lain mengurus anak-anak.


"Hih, siapa tuh?!" Rosi berteriak kaget pada Santi saat keduanya tengah berdiri di depan perpustakaan sambil mengawasi anak-anak di lapangan. Perpustakaan memang pas menghadap ke lapangan. Di depan perpustakaan tumbuh pohon asam yang lumayan besar.


"Siapa apa?" Santi menjawab ikut kaget.


"Tadi ada orang berdiri di belakang, tapi sudah hilang"

__ADS_1


Keduanya mematung bersamaan. Rosi mendapati bayangan hitam yang berdiri lumayan dekat dengannya yang seketika hilang.


Ya, bagaimana tidak? Siang saja 'mereka' gencar mengganggu. Apalagi malam?


Namun karena malam itu aku sakit, jadi tidak banyak hal yang aku tahu mengenai acara pengukuhan itu.


***


Setelah acara pengukuhan, sekolah akan mengadakan acara pelantikan yang akan dilaksanakan di salah satu bumi perkemahan yang ada di Kuningan, Jawa Barat.


Kalian tentu tahu gunung Ciremai kan? Atau yaa minimalnya pernah baca atau dengar tentang gunung Ciremai?


Nah, di sanalah SMK Mandiri akan mengadakan kemah dalam rangka pelantikan ekstrakulikuler, yaitu di salah satu bumi perkemahan di kaki gunung Ciremai.


Kami sebagai guru PPL ikut serta dalam kepanitiaan di dalamnya. Kami bertugas untuk menjadi mendamping dari masing-masing regu dalam pelantikan. Dan anggap saja aku mendampingi regu Kamboja, aku lupa nama regunya 😁✌


Siang itu kami beramai-ramai menuju bumi perkemahan dengan menggunakan beberapa mobil elf. Sementara barang-barang yang kami bawa diangkut menggunakan truk.


Kami dengan riang gembira bernyanyi sepanjang jalan menikmati perjalanan.


Tak lama, mobil kami sampai di bumi perkemahan yang kami tuju. Di sana kami langsung disuguhkan dengan suasana alam yang sejuk. Pohon-pohon pinus berjejer indah. Rumput-rumput hijau ikut menghiasi menambah cantiknya alam.



Setelah semua barang diturunkan dari truk, setiap regu segera mendirikan tendanya masing-masing. Kami para guru PPL bertugas mengawasi sekaligus membantu jika mereka butuh bantuan.


Setelahnya, semua murid diistirahatkan untuk makan, mandi, dan sholat. Kami harus menuruni tangga dari tempat kemah didirikan jika ingin mandi dan sholat, karena musholanya terletak di bawah. Toilet di sana yang kalau tidak salah ada tiga bilik juga ada di mushola itu.


Setelah semua murid sudah membersihkan badannya, kami semua diberi waktu untuk bermain terlebih dahulu di curug yang ada di sana. Kebetulan bumi perkemahan yang kami datangi memiliku curug sebagai objek wisata. Intinya hari pertama di sana kami habiskan dengan beres-beres tenda dan juga bermain. Kami akan tinggal di perkemahan selama tiga hari.


Kami sedang mengantri masuk ke curug saat itu karena saking banyaknya murid. Dan aku berdiri bersama anak-anak dari regu Kamboja.


"Bu, ibu tahu Elisa tidak?" Sang ketua regu bertanya padaku, sebut saja dia Nina, dia dari kelas XI.


"Elisa siapa?" Aku bertanya karena memang tidak tahu.


"Itu loh, Bu. Anak kelas X yang punya teman" katanya membuatku heran.

__ADS_1


(X disini kelas 10 yaa teman-teman, alias kelas 1 SMK)


Pernyataan Nina yang mengatakan Elisa memiliki teman membuatku bingung. Bukannya memang semua murid juga memiliki teman kan? Namun saat ku tanya apa maksud dari perkataannya, si Nina menjawab,


"Temannya Elisa bukan orang, Bu" Nina berbisik.


"Hah? Bukan orang? Lalu apa?" Aku penasaran.


"Setan kecil, Bu. Kata Elisa sih dia itu temannya. Elisa suka berbicara sendiri"


Aku diam mendengarkan.


"Saat ditanya dia sedang berbicara dengan siapa, dia jawab dengan temannya" lanjut Nina menjelaskan.


Hidiiih. Ada saja yaa orang yang seperti itu.


"Dengar-dengar si Elisa itu tidak punya teman, Bu. Sampai suatu ketika, Elisa menemukan surat" Nina masih menjelaskan sambil tetap sabar menunggu antrian.


"Surat apa?" Aku makin penasaran.


"Surat dari temannya itu, Bu. Suratnya dari daun, Bu"


"Hah? Daun?" Sungguh aku sangat antusias mendengar cerita dari Nina.


"Iya, Bu. Kata Elisa, dia menemukan daun yang ada tulisannya. Namun anehnya dia sendiri yang bisa membaca tulisan itu"


Aku mendengarkan sambil sesekali menarik napas karena ngeri. Nina menceritakan sesuatu yang seram di tempat seram. Kalian pasti tahu kan jika dimana pun bumi berkemahan yang bertempat di kaki gunung, pasti ada seram-seramnya begitu. Yang mana kalau berada di sana, kita diwajibkan menjaga omongan kita, tidak boleh sembarangan berucap!


"Apa isi tulisannya?" Tanyaku.


"Intinya Elisa diminta untuk datang ke suatu tempat. Dan dia menuruti. Nah di sanalah mereka bertemu"


Waduuh. Sungguh ceritanya sudah seperti di film-film saja. Menurut Nina, makhluk itu sengaja menemui Elisa karena makhluk itu kasihan padanya yang tidak mempunyai teman.


Elisa, Elisa, Elisa.


Aku belum tahu bagaimana wajahnya. Aku belum pernah bertemu dengannya karena memang aku tidak mengajar di kelas X.

__ADS_1


Kalian bagaimana?


Ingin bertemu dengan Elisa?


__ADS_2