
"Eh kalian dapat kabar juga tidak sih dari anak-anak sini?" Tanyaku pada teman-teman sambil memakan kue kering. Siang itu kami sedang tiduran santai di kamar belakang.
"Iya," jawab salah satunya sambil merapikan pakaian yang baru diangkatnya dari jemuran.
"Soal rumah ini?" Tanyaku meyakinkan.
Dia mengangguk. "Tapi yaaa, selama ini kan kita baik-baik saja. Tidak ada kejadian apa-apa juga. Jadi aman lah bismillah," jawabnya.
Aku juga mengangguk. Sudah akan dua minggu kami tinggal di rumah kontrakan ini, dan memang nyatanya tidak ada kejadian apa-apa. Atau mungkin ada salah satu diantara kami yang pernah mengalami sesuatu yang ganjil tapi mereka sengaja diam? Aku tidak tahu. Karena memang sampai hari itu aku sendiri pun tidak mengami hal-hal aneh, dan tidak mendengar kabar apa-apa dari semua anggota juga.
Yang aku tahu, lantai dan tembok rumah yang awalnya anyep, semakin kesini alhamdulillah semakin hangat. Mungkin karena rumah itu yang awalnya kosong melompong, sekarang langsung dihuni oleh kami yang jumlahnya banyak. Setan pun kaget mungkin kami datangnya keroyokan. Wekekekek.
***
Pagi itu kami semua harus keluar dari posko karena ada agenda yang membutuhkan banyak personel. Kami butuh mendata masyarakat lansia yang ada di desa Cengkeh dari bawah sampai atas. Agenda kami besok adalah ingin mengadakan tensi dan konsultasi gratis seputar kesehatan warga. Agenda ini sepenuhnya di pegang oleh bu dokter anggota kami tentunya.
FYI (For Your Information), desa Cengkeh ini terletak di tengah sawah ya. Jadi dari jalan utama (jalan raya), kita masuk ke gang yang hanya cukup untuk satu mobil. Jalan ini di apit oleh sawah-sawah warga. Pemukiman warga bercampur dengan sawah. Jadi ada beberapa rumah berdiri, lalu diseling dengan sawah. Setelah sawah, berapa puluh meternya kesana barulah ada rumah lagi. Begitu seterusnya. Ditambah jalan ini semakin kesana semakin menjak. Ala-ala jalanan pemukiman di gunung saja begitu. Bisa dibayangkan ya? Nah, jalan gang kecil inilah satu-satunya akses warga desa untuk menuju jalan utama.
Kami semua pagi itu bersiap berdandan tak lupa memakai almamater. Namun saat semua sibuk bersolek diri, teh Meli masih kusut dengan dasternya, dia tersenyum manis melihat kami.
"Ih teh Mel tidak ikut?" Tanyaku sambil memakai kerudung.
"Huum. Kalian saja. Jalannya jauh kan? Capek nanti aku," jawabnya sambil mengelus perutnya.
Benar. Jalan menuju atas memang lumayan jauh. Sementara kami harus berjalan kaki ke sana. Alasannya hanya satu, kalau pun bawa motor, banyak repotnya nanti. Sebentar-sebentar parkir, sebentar-sebentar berhenti.
"Terus teh Mel dengan siapa di sini?" Tanyaku penasaran. Karena ku lihat semua anggota sedang sibuk merapikan dirinya.
"Aku sendiri saja," jawabnya.
Aku melongo. Sendirian? Lah bukannya rumah ini sudah digosipkan angker? Lalu kenapa teh Meli malah sendirian? Dia hamil pula.
"Ih teh Meli jangan sendirian atuh! Ditemani siapa gitu?" Aku melirik mencari seseorang. "Teh Novi!!" Aku memanggil teh Novi, teman sekamar teh Meli yang juga teman dekatnya. Dia langsung mendekat.
"Teh Novi di rumah saja coba! Temani teh Meli," bujukku.
__ADS_1
"Sudaaaaah. Dari semalam aku sudah bilang kalau aku tidak ikut. Tapi si Meli bilang tidak usah, yowes." teh Novi menjawab santai.
"Ih lagian tidak apa-apa kok aku sendirian, serius." sambung teh Meli.
"Teh Meli tidak takut?" Tanyaku kemudian.
"Tidak ih, takut apa? Siang ini kok," jawabnya masih santai.
"Iiiih, gimana nanti kalau teh Meli mulas? Kan tidak ada orang?" Aku masih khawatir.
"Hahahaha." Teh Meli tertawa. "Aku lahiran masih dua bulanan lagi Viaaaa. Jadi sekarang mah amaaaan, hahahaha."
Aku mengernyitkan dahiku. Teh Meli hamil, dan dia akan sendirian di rumah kontrakan. Bukannya makhluk sebangsa mereka suka dengan orang hamil? Aku ngeri sendiri membayangkannya. Namun begitu, kami semua akhirnya tetap berangkat siap mengelilingi desa Cengkeh.
***
Satu per satu rumah bagian bawah sudah kami datangi. Kini kami berbondong-bondong berjalan menuju pemukiman atas. Tak lama, rumah atas pun sudah kami data. Tugas kami siang itu selesai. Namun kami tidak langsung kembali ke posko saat itu. Kami diajak salah satu warga untuk melihat situ apa ya aku lupa. Intinya semacam tempat yang dikeramatkan.
Sampai di sana, kami menuruni lumayan banyak anak tangga yang sekelilingnya adalah kebun. Banyak pohon pisang dan singkong di sana. Sampai di tempat utama, ternyata di sana ad semacam kolam yang di tengahnya ada satu batu besar. Menurut warga yang mengajak kami kesana, mereka sering mengadakan ritual apa begitu setiap beberapa waktu sekali. Entah apa tujuannya, aku tidak terlalu mengindahkan.
(Ini foto real kami anggota KKN desa Cengkeh ya. Pemandangannya indah kan?)
Desa ini memang masih asri. Harga jajanan di sini pun masih murah meriah jika di bandingkan dengah harga jajanan di desaku. Di desa Cengkeh, dengan merogoh sedikit duit pun kita bisa makan kenyang.
Hari itu agenda kami berjalan dengan baik. Kami bergegas kembali ke posko. Dan sampai sana, alhamdulillah teh Meli baik-baik saja.
***
Tentang rumah kontrakan.
Rumah kontrakan yang kami jadikan posko KKN ini kami sewa dari ibu paruh baya yang suaminya berjualan bakso dan bubur keliling. Letak rumah mereka tidak terlalu jauh dari posko kami. Saat kami tanya perihal rumah itu, beliau menjawab bahwa rumah yang kami tempati ini adalah rumah anaknya yang sekarang tinggal di Jakarta. Anaknya itu hanya sesekali saja pulang, makanya rumah ini kosong. Dan lagi, katanya beliau setiap sore dan pagi juga masuk ke rumah itu sekedar untuk menyala dan mematikan lampu.
Namun yang aku heran, kalau anaknya itu sesekali pulang dan si ibu setiap harinya masuk ke rumah walau hanya beberapa menit untuk kepentingan lampu, lalu kenapa rumah ini terkesan lama sekali tidak ditinggali sampai tembok dan lantainya basah?
__ADS_1
***
Sore itu Ipah izin pada om Indro untuk pulang dulu. Dia akan kembali ke posko besok pagi. Itu artinya malam ini dia tidak menginap di posko. Dan om Indro mengizinkan. Toh kalau malam kami hanya bersantai ria sambil merancang agenda-agenda selanjutnya.
Besoknya, Ipah yang baru datang langsung mengajak beberapa diantara kami berkumpul.
"Sini-sini!" Panggilnya membuat kami yang sedang sarapan langsung berbaur.
"Aku punya cerita," katanya lagi.
"Apa?" Salah satu diantara kami menimpali.
"Kemarin sore pas aku pulang, aku satu angkot dengan istrinya pak kades," ucap Ipah mulai bercerita. Kami diam mendengarkan.
"Ya awalnya kami basa-basi saja. Beliau bertanya soal bagaimana kelancaran kegiatan KKN dan sebagainya. Tapi, pada akhirnya beliau tanya soal rumah ini." Katanya dengan sedikit memelototkan matanya.
"Hah? Bu Kades juga tanya rumah ini? Apa katanya?" Kami penasaran.
"Beliau tanya, 'Gimana tinggal di rumah itu? Betah?' Kan aneh ya? Kenapa semua orang tanya soal rumah ini?"
Kami semua mengangguk. Ternyata celotehan anak-anak di sini bukan isapan jempol belaka. Sampai sekelas bu kades pun menanyakan hal yang serupa.
"Terus kamu jawab apa?" Tanyaku.
"Ya aku jawab saja semuanya betah. Toh nyatanya kita semua betah kan di sini?"
Kami mengangguk lagi. Kami memang betah di rumah ini. Tidak ada hal aneh yang kami alami.
"Terus bu kades bilang apa lagi? Barangkali ada info yang beliau bagi?" Tanya kami kemudian.
"Tidak bilang apa-apa sih. Beliau hanya bilang 'Syukurlah', begitu."
Nah kan? Mirip lagi dengan ucapan anak-anak sini. "Syukurlah."
Sebenarnya kenapa dengan rumah ini? Ada apa? Apakah ini berkaitan dengan ibu pemilik rumah yang menyewakan rumah ini dengan harga murah?
__ADS_1