Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
Kosan Teh Lisa (Part 4-End)


__ADS_3

Aku, Lulu, dan Nuri melanjutkan perjalanan kami menuju kosan teh Lisa yang tersendat karena nyasar. Aku juga kurang mengerti kenapa ada acara nyasar segala padahal tempatnya di pemukiman ramai, bukan di hutan-hutan yang jalannya bercabang dan membuat bingung.


Tak lama, kami sampai pada kosan teh Lisa yang pintunya tertutup. Tapi aku yakin teh Lisa ada di dalam karena dia jarang keluar malam. Apalagi tidak ada teman seperti di sana. Kalau sudah lepas maghrib, teh Lisa akan mengurung diri di kamarnya menghabiskan waktu malam sendirian.


TOK TOK TOK


"Assalamualaikum, Teh??" Teriakku sambil mengetuk pintu teh Lisa.


"Ya??" Suara teh Lisa terdengar dari dalam.


Beberapa detik kemudian, pintu kosan sudah di bukakan oleh teh Lisa yang lumayan kaget mendapati aku datang ke kosannya maghrib-maghrib begini.


"Eh dateng kok maghrib begini sih, kenapa tidak dari sore saja?" Tanya teh Lisa terkesan protes. "Sini masuk!"


Aku meringis dan segera masuk, Lulu dan Nuri mengikuti. Kami langsung sholat maghrib bergantian. Setelahnya, kami duduk di ruang depan yang beralaskan karpet sambil kuceritakan kejadian yang kami alami tadi.


"Sebenarnya kami kesini sebelum maghrib, Teh. Cuma tadi ada kendala sedikit, aku nyasar ke gang yang kata Teteh ada setannya itu loh!" Tukasku sambil nyeringis malu.


"Lah sih?? Bisanya nyasar kesana bagaimana awalnya?" Tanya teh Lisa penasaran.


"Hahaha, aku juga kurang mengerti, Teh. Mungkin karena menjelang maghrib juga. Mataku jadi kabur," jawabku sambil tertawa mengingat-ingat kejadian tadi. "Dari jalan tadi aku yakin gang yang aku masuki itu gang besar. Eeeh pas makin ke dalam kok jadi sempit gangnya. Dan di situlah aku baru sadar kalau aku salah masuk gang." Lanjutku.


"Hahaha." Teh Lisa ikut terbahak. "Terus bagaimana?"


"Tidak ada pilihan lain, wong kami tidak bisa putar balik. Jalannya sempit sekali. Jadi kami lanjut tabraaaak teruuuss maju!!" Aku tertawa lagi mengingat betapa deg-degannya aku saat melajukan motorku tadi di gang gelap itu.

__ADS_1


"Hahaha yaa Allah. Bagaimana gangnya? Seram?"


"Lumayan. Ada sumur tua ya Teh di sana?" Tanyaku penasaran mengenai sumur yang ada di tengah lahan kosong di sana.


"Iya. Itu sumur mati. Sudah tidak di pakai," jawab teh Lisa pasti.


Aku tertawa lagi. Membayangkan kalau-kalau saat itu ada yang nongol dari dalam sumur itu, kami harus bagaimana?


"Ya sudah malam ini kalian tidur di sini saja. Daripada nanti nyasar lagi?" Tawar teh Lisa pada kami.


Namun Lulu dan Nuri dengan lembut menolaknya. Mereka berdua memang baru malam itu bertemu dengan teh Lisa.


"Ya sudah kamu saja, Vi. Nginep di sini ya?" Teh Lisa memelas. Aku kasihan juga padanya. Suaminya jarang pulang karena dinas di luar kota.


Akhirnya aku meminta izin pada Lulu dan Nuri untuk meninggalkan aku di kosan teh Lisa, aku malam itu menginap di sana. Selepas isya, Lulu dan Nuri pulang ke kosan berboncengan.


Sudah sekitar pukul 10 malam, aku dan teh Lisa sudah berbaring di kasur sambil menonton televisi yang ditempatkan persis pada meja di depan kasur. Awalnya kami berbincang ini itu menikmati malam. Namun tak lama dari itu, teh Lisa izin untuk tidur karena dia sudah mengantuk.


Posisiku saat itu tidur di tepi kiri, tepi yang dekat dengan jalan lewat menuju kamar mandi. Sementara teh Lisa ada di tepi kanan. Tubuhnya menghadap tembok saat itu.


Krik krik krik.


Senyap. Alih-alih tidur di sana untuk memenani teh Lisa, eeeeh malah aku yang tidak bisa tidur.


Senyap.

__ADS_1


Hanya bunyi detik jam dan suara televisi yang pelan terdengar. Sudah tidak ada suara orang di luar. Karena sekarang sudah akan tengah malam. Dan aku masih juga belum bisa terpejam.


Aku tengok-tengok arah dapur dari temparku berbaring. Ngeri. Aku membayangkan suara kaki orang berlari yang teh Lisa ceritakan. Langkah kaki itu pastilah melewati jalan di samping kasurku.


DUG DUG DUG.


Aduh aku ngeri sendiri membayangkannya. Dalam bayanganku, suara itu adalah suara kaki anak kecil berlari berkejaran sambil tertawa riang bahagia. Wajahnya yang pucat dengan badannya yang tak berbaju dan hanya menggunakan celana kecil putih. Aku membayangkan dia adalah tuyul. Yaa Allah.


Sampai pukul 2, aku sama sekali belum bisa tidur. Televisi sudah aku matikan. Yang bisa ku lakukan hanya membalikkan badan ke kanan dan kiri mencari pososi yang pas untuk tidur. Namun tetap saja, aku tidak bisa tidur.


Hingga menjelang pukul 4, aku baru bisa tidur.


Paginya, ku ceritakan pada teh Lisa bahwa malam tadi aku tidak bisa tidur karena posisi tidurku yang dekat dengan jalan jalan. Teh Lisa tertawa mendengar akuanku. Katanya, kenapa aku tidak membangunkannya saja dan meminta tukar posisi?


Aku hanya bisa meringis. Aku tak tega juga kalau membangunkan teh Lisa hanya karena ketakutanku yang tak berasalan.


See??


Pada intinya, rasa takut hanya ada dalam pikiran kita saja. Kita sendirilah yang menciptakan rasa takut itu. Otak kita terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang belum pasti terjadi.


Hal itu juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Diri kita sering menjatuhkan diri kita sendiri karena rasa takut yang tak beralasan. Melamar kerja contohnya, belum juga interview, pikiran kita sudah down. "Nanti aku diterima tidak ya??" Ini itu banyak sekali.


Dari situlah aku mulai berpikir, aku tidak perlu terlalu memikirkan hal-hal yang belum pasti terjadi. Tugasku hanyalah melakukan yang terbaik untuk rancangan masa depan, dan apa pun hasilnya nanti, aku harus menerimanya. InsyaAllah semua yang kuterima adalah yang terbaik dari Allah.


Kemarin aku menemukan kalimat yang bagus tapi mengerikan juga kalau dijalani. Begini katanya,

__ADS_1


"Jika kita kebetulan melihat perwujudan setan, jangan lari, mendekatlah! Karena setan sejatinya takut dengan kita. Jika kita mendekat, maka setan akan hilang. Namun jika kita lari, setan akan mengejar."


Lalu jika kalian kebetulan melihat perwujudan setan, manakah yang akan kalian pilih? Mendekat? Atau lari?


__ADS_2