Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
Kosan Fardan (Part 4)


__ADS_3

Aku memerhatikan Tatang yang mengucek matanya sambil bergelayut di daun pintu. Aku lihat dia sepertinya benar-benar mengantuk. Padahal tadi aku hanya meninggalkannya sebentar. Tapi apakah waktu yang aku gunakan untuk mengecek kamarku terasa lama untuk Tatang? Ya entahlah.


Aku hanya diam. Aku rasa belum perlu aku menceritakan semuanya pada Tatang. Tapi katanya tadi ada aku yang datang padanya dan mengatakan padanya bahwa aku tidak jadi menginap malam ini.


Siapa dia yang berani-beraninya mewujud diri menjadi aku?


Sepertinya dia tidak ingin malam itu aku tidur di kamar Tatang. Dia menginginkan aku tetap tidur di kamarku. Ya, itulah keinginannya.


"Ya sudah, Tang, kita masuk yuk! Saya jadi menginap di kamarmu ya," ucapku sambil mengajak Tatang masuk ke kamarnya.


Tatang mengangguk pasrah, karena dia memang terlihat sangat rindu dengan kasur kamarnya. Setelah masuk kamar, Tatang langsung merebahkan dirinya lagi di atas kasur. Sementara aku mengunci kamar dan duduk di kursi meja belajar. Kopi yang dibuatkan Tatang masih ada di sana dan masih penuh. Aku teguk kopi itu agar tak cepat mengantuk. Lagi pula otakku masih mengajakku berpikir. Siapa sebenarnya biang kerok malam itu?


Sedang fokus aku berpikir di tengah malam yang sudah sunyi, tiba-tiba suara itu terdengar lagi.


PIYEK PIYEK PIYEK.

__ADS_1


***


Siang itu aku kampus aku banyak melamun. Ajakan teman-teman untuk nongkrong pun aku abaikan. Aku terpikirkan tentang omongan teman-teman kosan yang bertanya perihal betah tidaknya aku di kosan itu dengan kejadian aneh yang aku alami beberapa malam ini.


Aku yakin alasan itulah yang membuat teman-teman menanyakan itu. Namun jika kosan yang aku tempati itu memang ada penunggunya, setan, demit, atau apa pun itu, kenapa hanya aku yang seolah disanksikan perihal betah atau tidaknya aku di sana?


Aku lihat teman-teman yang lain aman-aman saja. Terbukti dengan adanya beberapa di antara mereka yang cukup lama tinggal di kosan itu. Tandanya mereka betah kan? Lalu ada apa dengan pertanyaan yang mereka lontarkan padaku?


Atau jangan-jangan, hanya kamarku saja yang berpenghuni? Hm.


Untuk mengurangi rasa takutku, malam itu aku alihkan fikiranku dengan mendengarkan musik kesukaanku melalui ponsel. Suara anak-anak kosan di luar sudah redam karena telingaku yang aku sumpal dengan headset. Alunan musik berdentum di sana.


Hingga malam semakin larut, ku lepaskan satu headset dari telinga kananku. Sudah senyap. Karena memang waktu sudah menunjukkan tengah malam saat itu. Ya sudalah, karena besok pagi aku juga harus kuliah, akhirnya aku putuskan untuk tidur. Aku rebahkan badanku pada ranjang kasurku, sampai kemudian...


BRUG BRUG BRUG

__ADS_1


Suara apa itu??


BRUG BRUG BRUG


Aku langsung terduduk. Ku pandangi sekeliling.


BRUG BRUG BRUG


Dan kalian tahu suara apa itu?


Aku lihat jelas dengan mataku sendiri, pintu lemari kamarku bergerak sendiri.


Astaghfirullah, kamu ingin apa?


Aku hela napasku menenangkan diri. Pintu lemariku masih bergerak. Seolah-olah ada sesuatu entah apa pun itu yang ingin keluar dari sana.

__ADS_1


__ADS_2