
Masa KKN tak terasa sebentar lagi akan usai. Program-program KKN yang kami rangkai pun sebagian besar sudah terealisasikan. Hanya beberapa agenda lagi yang harus kami kejar dalam waktu semingguan kedepan. Salah satu diantaranya yaitu berkunjung ke SD yang berada di dekat gunung. Dari sana, dengan kita cukup berdiri di lapangan sekolah, kita bisa melihat pemandangan alam yang sungguh luar biasa. Gunung Ciremai terlihat gagah jelas sekali yang di depannya adalah sawah hijau membentang. Desa Cengkeh memang luar biasa indah. Namun bagaimana pun, kami sebentar lagi akan ucapkan salam perpisahan padanya.
Sudah beberapa malam ini anak laki-laki tidur satu posko dengan kami. Dan sore itu, mereka sudah berkumpul karena agenda hari itu sudah selesai di laksanakan. Kami langsung berebut kamar mandi karena jatah giliran kamar mandi jelas bertambah dengan adanya anak laki-laki. Sambil menunggu giliran, kami sepakat untuk menonton film dari CD bajakan yang kami beli di pasar beberapa waktu lalu. Kami putar film itu dengan menggunanakan proyektor yang kami pantulkan pada dinding rumah sehingga rasanya kami sedang menonton bioskop mini. Lampu ruang tengah sengaja kami matikan, semua pintu dan jendela kami tutup agar suasananya semakin mendukung. Dan kalian tahu film apa yang kami tonton?
SUZZANNA, sundel bolong, yang entah judulnya apa, aku tidak ingat. Kami pun sengaja memasang spiker tambahan agar suaranya semakin kencang memenuhi ruangan. Kami duduk bergerombol saat itu. Sudah mirip orang-orang yang sedang nonton layar tancap saja. Duduk lesehan sambil memakan kacang kulit dan kue lainnya seadanya.
Awal film seperti biasa si Suzzanna masih menjadi manusia dan sedang menikmati hidupnya dengan baik-baik saja. Sementara kami satu persatu bergiliran kamar mandi sambil menonton film itu. Aku pun sudah bersiap menunggu giliran. Handuk sudah aku lingkarkan pada leherku karena setelah teman yang sekarang sedang mandi adalah giliranku.
"Eh ganti dulu sih filmnya, nanti pas aku di dalam kamar mandi, Suzzannanya sudah jadi setan lagi?" Protesku pada mereka. Ngeri juga kan kalau aku sendirian di kamar mandi dan tiba-tiba Suzzanna sudah jadi sundel bolong? Walau tidak melihat langsung filmnya, tapi jelas suara cekikikan Suzzanna sudah hapal di telinga semua orang, termasuk aku. Tanpa melihatnya secara langsung, semua orang pun jelas sudah bisa membayangkan bagaimana wujud Suzzanna saat menjadi sundel bolong. Gaun putih panjang, rambut jabrig panjang yang mengembang, serta wajah putih dengan matanya yang hitam melotot mengerikan.
"Hahaha, sudah mandi saja saja! Masih lama kok dia jadi sundelnya," jawab Nani sambil tertawa.
Aku berdecak kesal. Teman dalam kamar mandi sudah keluar. Tandanya aku harus segera melaksanakan giliranku. Aku lihat sebentar film yang sedang diputar itu. Sepertinya memang masih lumayan lama setannya keluar. Oke, aku masuk ke kamar mandi dan mulai mandi.
Dengan suasana kosan yang mencekam, berada di kamar mandi seorang diri saat sore atau siang pun sudah membuat aku ngeri. Apalagi saat mengguyur kepala dengan mata terpejam. Aduh, pikiranku sudah aneh-aneh saja. Apalagi dari dalam kamar mandi suara film yang sedang di putar terdengar jelas. Hingga ....
"Hihihihihihihihihi."
Suara tawa sundel bolong terdengar. Yaa ampun, dia sudah jadi setan. Gambar wajah sundel bolong langsung terlintas dalam pikiranku. Segera aku percepat mandiku dan buru-buru keluar dari dalam kamar mandi.
***
Malam itu kami tidak ada agenda yang harus dibahas. Untuk itu kami seperti biasa duduk melingkar di ruang tengah sambil bermain kartu. Mengisi waktu bersama seasii mungkin. Kami tertawa bersama saat salah satu diantara kami kalah dan harus menerima coretan bedak dari teman lainnya. Aku duduk di samping Mira saat itu. Aku menghadap ke barat, sementara Mira ke utara, yaitu ke arah dapur.
Sedang asik main kartu, tiba-tiba Mira terkejut dengan matanya yang lurus meihat ke arah dapur. Aku kebetulan melihat saat Mira refleks menegangkan tubuhnya. Sementara teman yang lainnya tidak tahu, mereka masih asik dengan kartunya masing-masing.
"Kenapa? Ada?" Tanyaku pada Mira tanpa suara.
__ADS_1
Mira menjawab dengan anggukan. Aku paham sekali Mira. Dia akan tetap berusaha tenang walau telah melihat apa pun makhluk yang ada dalam kontrakan. Itu dilakukannya agar teman-teman yang lainnya tetap tenang.
Paginya, aku semua berjalan kaki menuju salah satu sekolah dasar yang akan kami kunjungi. Dalam perjalanan itu aku bertanya lada Mira perihal kejadian malam tadi.
"Kamu lihat apa semalam?" Tanyaku pada Mira.
"Ada bayangan hitam besar jalan dari dapur ke arah kamar mandi," jawabnya singkat. "Sepertinya dia memang di sana deh," lanjutnya.
"Iya kah?" Aku penasaran. Mira mengangguk.
"Sudah beberapa kali aku lihat mereka selalu dari dapur terus. Jadi kemungkinan besar mereka memang ada di sana."
Aku mengangguk.
"Tapi ya sudahlah. Kita diam saja dulu sampai KKN selesai ya. Jangan buat yang lainnya panik," ucap Mira kemudian.
***
Masa KKN akhirnya usai. Pagi itu adalah hari terakhir kami berada di posko. Kami dengan lesu merapikan barang-barang bawaan kami masing-masing ke dalam tas karena siang nanti kami harus membali ke rumah masing-masing.
Dan ya, masa perpisahan selalu jadi waktu yang menyakitkan. Termasuk hari itu. Menyebalkan sekali memang. Seolah tak akan bertemu lagi, kami menangis bersama sambil sesekali tertawa.
"Aang, nanti kalau aku kangen bagaimana?" Nani menangis sambil memasukkan pakaiananya dalam tasnya.
Melihatnya menangis, aku ikut menangis. Tinggal bersama selama 40 hari penuh, siang dan malam bersama, jelas membuat emosi kami erat. Hari itu seolah kami tidak ingin berpisah. Melihat kami para wanita menangis, anak laki-laki pun ikut berkaca-kaca. Om Indro berdiri di tengah pintu sambil menyaksikan kami beres-beres. Program KKN sudah berhasil membuat kami menjadi keluarga.
Namun bagaimana pun, kami harus berpisah. Selamat tinggal posko ungu, selamat tinggal desa Cengkeh. Semua pengalaman yang kami dapat di sana akan kami kenang selamanya.
__ADS_1
***
Pagi itu semua anggota KKN di minta untuk berkumpul di kampus 1 perihal penyerahan laporan selama KKN. Semua anggota berkumpul dengan kelompoknya masing-masing, pun aku. Aku sekarang sudah duduk bersama kelompok KKN ku melepas rindu setelah beberapa hari tidak bertemu. Hingga datanglah Ipah. Dia langsung duduk sambil semangat bercerita.
"Eh, eh aku punya kabar," ucap Ipah antusias.
Kami yang saat itu sedang duduk santai segera menghadapkan tubuh kami pada Ipah.
"Kabar apa?" Tanya salah seorang dari kami.
"Kemarin aku bertemu dengan bu Lurah lagi," ucapnya.
Waduh, bu Lurah? bawa-bawa KKN nih pasti. Kami langsung memfokuskan diri masing-masing siap mendengarkan informasi dari Ipah.
"Awalnya bu Lurah tanya perihal kita yang sudah selesai melaksanakan KKN. Nah setelah itu barulah beliau mengatakan sejujurnya tentang rumah kontrakan," ucap Ipah berhasil membuat kami semakin penasaran.
"Katanya, rumah kontrakan yang kita tempati itu memang ada penunggunya. Semua warga desa tahu kalau rumah itu berhantu. Tapi beliau sengaja tidak memberitahu karena kasihan pada kita. Katanya, kita sudah terlanjur mengontrak rumah itu, jadi yaa mau bagaimana lagi?"
Kami menelan ludah. Jadi selama 40 hari kemarin kami memang tinggal bersama dengan mereka? Para penghuni rumah ungu? Ada perasaan ngeri dalam diri kami masing-masing. Namun kami juga bersyukur, tidak ada kejadian ekstrim yang terjadi selama kami di sana.
Akhirnya siang itu, kami satu persatu menceritakan hal-hal yang kami alami selama di kontrakan pada semuanya.
🍃
Cerita perihal KKN aku cukupkan sampai di sini ya teman-teman. Nanti kita lanjutkan pada cerita berikutnya.
Sampai jumpa 😚
__ADS_1