Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
Kosan Fardan (Part 2)


__ADS_3

Teman-teman, dari sini aku langsung cerita pakai sudut pandang Fardan saja ya, agar tidak terlalu banyak percakapan yang nanti memusingkan pembaca dan khususnya aku sendiri 😅


Selamat membaca.


Dukungan kalian jangan lupa mampirkan yaa 😘 (Like, Komen, Vote, Rate, Favorit)


Terimakasih.


🍃


POV Fardan.


Malam itu aku akhirnya terpikirkan juga dengan pertanyaan teman-teman kosanku yang itu-itu saja. Kenapa mereka menanyakan perihal betah tidaknya aku di kosan ini? Di kosan ini ada apa?


Tidak ingin terlalu lama menyita waktuku untuk memikirkan omongan orang, aku segera menghidupkan layar komputerku untuk mengerjakan tugas yang siang tadi diberikan oleh dosenku. Aku kini tengah duduk di meja belajar yang kebetulan ada di kamar kosan.


Kamar kosanku tidak besar dan tidak kecil juga. Cukup lah menampung badanku yang terbilang kurus ini. Aku kurus dan jangkung, aku juga berkacamata. Di dalam kamarku ada ranjang tidur single yang kolongnya hanya setinggi 30cm. Di samping ranjangku ada lemari kayu dua pintu yang tidak terlalu tinggi. Lumayan nyaman di sini.


Saking asiknya mengerjakan tugas, tak terasa waktu sudah tengah malam saja. Aku matikan komputerku karena tugas kuliah pun sudah selesai aku kerjakan. Kini aku sudah berada di atas ranjangku, aku bersiap akan tidur.


Baru saja aku rebahkan tubuhku pada kasur yang lumayan empuk itu, tiba-tiba satu suara terdengar, yang entah dari mana asalnya.


PIYEK, PIYEK, PIYEK.


Aku diam mendengarkan. Suara apa itu?


PIYEK, PIYEK, PIYEK.


Bulu kudukku mulai merinding.


PIYEK, PIYEK, PIYEK.


Segera aku bangkit dari rebahanku dan kini posisiku berjongkok di atas kasur. Mataku berkeliling mencari asal sumber suara tadi. Jangan-jangan di bawah ranjang? Ya, sepertinya suara itu berasal dari bawah ranjangku.

__ADS_1


Bismillah, pelan-pelan aku turunkan kepalaku untuk menengok bagian bawah ranjangku. Dan ....


Tidak ada apa-apa di sana. Aku menghela napas. Namun suara itu masih berbunyi.


PIYEK, PIYEK, PIYEK.


Aku tahu betul suara apa itu. Itu adalah suara anak ayam yang kehilangan induknya. Aku menarik napas lagi. Aku sudah tahu siapa lawanku dari tanda suara itu.


PIYEK, PIYEK, PIYEK.


Suara itu terus terdengar. Ku pandang plafon kamarku yang putih. Mungkinkah dia di atas sana?


Segera aku ambil ikatan lidi yang ada di samping ranjang yang biasa aku gunakan untuk membersihkan ranjangku dari debu-debu setiap harinya.


Aku pegang sapu kecil itu dalam genggamanku. Kini aku sudah duduk jongkok lagi di atas ranjangku. Ku tatap plafon kamarku lekat. Aku sudah siap kalau-kalau dia datang dan menampakkan wujudnya. Ku timpuk kau!!


"Hey!! Kalau berani, kemari tunjukkan wujudmu!!"


Haning.


Sepanjang hari aku terpikirkan tentang kejadian semalam. Apakah itu yang dimaksud dengan teman-temanku yang selalu menanyakan perihal betah? Suara piyekan anak ayam itu aku tahu betul pertanda apa. Atau ada siapa di balik suara itu. Ngeri juga ya. Lawanku ternyata si wanita itu.


Malam itu aku berada di kamar Tatang yang letakny agak bersebrangan dari kamarku untuk mengerjakan tugas. Alih-alih mengerjakan tugas, padahal sebenarnya aku butuh teman untuk berbincang. Di kamarku sudah lumayan ngeri. Dari kamar Tatang, aku bisa melihat kamarku yang pintunya sengaja aku biarkan terbuka setengahnya. Dari kamar Tatang, sebagian ranjang kasurku bisa terlihat jelas.


Saat itu pintu kamar Tatang dibiarkan terbuka lebar. Sehingga sesekali aku lirik kamarku hanya untuk memastikan bahwa tidak ada temanku yang lain yang masuk kesana.


"Tang, tidak apa-apa nih saya mengerjakan tugas di sini?" Tanyaku pada Tatang yang saat itu sedang bermain game di layar komputernya.


Malam itu Tatang memang sedang free, dia tidak ada tugas. Jadi sebenarnya malam itu aku mampir ke kamarnya hanya untuk numpang mengerjakan tugas.


"Santai, Dan. Kerjakan saja dulu tugasmu. Nanti kita ngobrol sambil ngopi," jawab Tatang santai sambil masih menghadap layar komputernya. Aku mengangguk.


Posisiku saat itu berhadapan dengan Tatang. Namun pandangannya terhalang oleh layar komputer di depannya. Sehingga Tatang jelas tidak tahu bahwa aku sedari tadi terus-terusan menengok ke arah kamarku.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, aku fokuskan pandanganku pada buku tugas di depanku. Tugasku sebentar lagi akan selesai. Namun kembali, mataku gatal selalu ingin melirik ke kamarku. Dan benar saja, saat aku melirik ke arah kamarku, tiba-tiba di sana sudah ada seorang perempuan berbaju putih menjuntai duduk di atas ranjang kasurku dengan posisi membelakangiku.


'Astaghfirullah! Itu siapa?' Gumamku kaget dalam hati.


Aku tajamkan pandanganku dalam balutan lensa kacamata yang lumayan tebal. Aku tidak salah lihat. Perempuan itu masih di sana. Masih duduk anteng di atas ranjang kasurku.


"Tang, saya ke kamar dulu sebentar, ya. Ada yang ingin saya ambil," ucapku berbohong pada Tatang. Aku penasaran dengan perempuan yang sudah berani masuk ke kamarku. Barangkali saja itu adalah salah satu penghuni kosan ini. Ya namanya juga kosannya campur kan? Laki-laki dan perempuan jadi satu.


"Oke, Dan," jawab Tatang mengangkat satu tangannya.


Setelahnya, aku bergegas memutari lantai menuju kamarku. Aku lumayan deg-degan juga malam itu. Aku takut yang aku lihat itu bukan manusia. Tapi jika memang bukan manusia, kenapa wujudnya jelas sekali terlihat?


Beberapa langkah lagi aku akan sampai di kamarku. Dan saat aku memasuki kamar ...


Kosong.


Tidak ada siapa-siapa di sana. Aku kelilingkan pandanganku memutari kamar, dan memang kosong. Aku sejenak berdiam diri di sana. Sampai beberapa saat kemudian, ku lihat Putri, salah satu penghuni kosan yang kebetulan malam itu mengenakan baju putih, berjalan melewati kamarku.


"Put, Put, tunggu!" Panggilku segera.


"Ada apa, Dan?" Putri menghentikan langkahnya.


"Kamu tadi dari kamar saya?" Tanyaku padanya terkesan asal bicara. Karena memang tidak mungkin juga Putri sekonyong-konyong masuk ke kamarku tanpa ada aku di dalamnya. Tapi ya sudahlah, aku sungguh penasaran.


Mendengar ucapanku Putri terkekeh. Aku mengerti, karena memang pertanyaanku konyol sekali.


"Tidak, aku dari dapur tadi. Kenapa memangnya? Ada yang masuk ke kamarmu ya? Cieee siapa tuh??" Goda Putri akhirnya.


Aku hanya bisa meringis sambil menggaruk kepalaku. Ya kalau saja memang benar ada teman kosan perempuan yang mau main di kamarku, aku juga senang mungkin. Tapi masalahnya yang tadi aku lihat itu siapa?


"Hehehe. Tidak, Put. Ya sudah makasih yaa," jawabku kemudian. Putri lalu melanjutkan jalannya.


Aku masih berdiri di dalam kamarku. Aku menelan ludah. Aku yakin tidak salah lihat. Di atas ranjangku memang ada seseorang yang duduk tadi. Tapi siapa?

__ADS_1


Aku jadi teringat dengan suara piyekan itik malam tadi. Mungkinkah wanita berbaju putih adalah pemilik suara itu?


__ADS_2