
"Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina."
Begitulah kata pepatah.
Ya, seperti kami, para guru PPL yang sedang menuntut ilmu di SMK Mandiri. Ketahuilah, walau di sana kami memang mengajar yang sejatinya kamilah yang membagi ilmu, tapi pada dasarnya kami ini sedang mencari ilmu. Berguru pada guru-guru senior tentang bagaimana cara mengajar yang baik dan jadi guru yang baik. Karena kalian pasti tahu, tidak semua guru itu asik. Ada yang terus fokus belajar lagi dan lagi. Ada yang memakai kekerasan, kalau tidak membuat PR bakal di jitak, wekekeekek. Ada yang suka menghukum murid dengan cara lari berkeliling stadion Bung Karno 100 putaran. Tapi percayalah, maksud mereka baik. Salah siapa malas? Ada PR malah dianggurin.
Kalian kalau dianggurin juga BT kan? 😜
Kalau kalian mengabaikan PR atau tugas apa pun dari guru, rasanya itu sama saja dengan di abaikan gebetan. Sakitnya tuh di sana.
Iya di sana. Karena di sini sih tidak menerima sakit. Inginnya bahagia terus. Wekekkeke 😆
Lanjut 👍
Jadi, setiap harinya, kami para guru PPL mengajar anak-anak sesuai pelajaran masing-masing, dan aku mengajar Bahasa Indonesia.
Kami yang saat itu masih unyu-unyu, harus berhadapan dengan anak-anak SMK kelas 2. Bayangkan, tubuh kami saja kalah besar dengan mereka. Tapi Alhamdulillah mereka menyambut kami dengan baik.
"Huuuuuuu huuuu huuuuu."
Suara tangisan terdengar, saat Nike, salah satu guru PPL sedang mengajar Matematika di suatu kelas.
"Suara siapa itu?" Nike menegur.
Anak-anak saling berpandangan, mencari siapa pelakunya.
"Huuuuu huuuu huuuuuuu."
Suara itu terdengar lagi. Anak-anak saling berpandangan lagi. Diantara mereka tidak ada yang merasa sebagai pelaku.
"Uuuuuu Uuuuu Uuuu."
Suaranya terdengar lagi.
"Siapa yang bawa ponsel, cepat keluarkan!" Nike menegur lagi. Dia mengira suara itu berasal dari nada dering ponsel.
Karena saat itu memang sedang musim-musimnya nada dering suara orang menangis, orang tertawa ngakak, orang cekikikan. Ya, mungkin kalian bisa bayangkan yaa seperti apa bunyinya.
Tapi lagi, anak-anak tidak ada yang merasa. Hinga akhirnya, berhamburanlah mereka keluar kelas. Suasana sudah tidak kondusif. Anak-anak tahu bahwa suara itu berasal dari 'dia' yang tak terlihat.
__ADS_1
Kalau sudah begini, 'mereka' sungguh mengganggu. 'Mereka' mengacaukan pikiran anak-anak yang sedang fokus belajar. Sungguh merugikan.
***
"Itu ruangan apa sih?" Tanyaku pada anak-anak saat jam istirahat.
Aku menanyakan pada mereka perihal satu ruangan yang terisolasi. Di depan pintunya sudah diberi tanda silang menggunakan kayu. Dan di sekelilingnya sudah tumbuh rumput-rumput liar yang merambat.
Kami guru PPL memang selalu mencari celah agar bisa dekat dengan murid-murid di sana. Untuk itu terkadang kami pun jajan bersama di kantin. Duduk lesehan di lapangan di bawah pohon sambil membicaraka hal-hal tidak penting. Tapi intinya semua itu menambah hubungan murid dengan guru PPL menjadi semakin akrab.
"Oh itu bekas toilet, Bu," jawab salah satu diantara mereka.
"Bekas?" Tanyaku heran. Kok bisa bekas? Sudah seperti mantan saja ada bekas-bekas segala.
"Iya bu. Soalnya toiletnya sudah tidak terpakai," jawabnya.
Nah kan memang mirip mantan deh, kalau sudah tak terpakai, jadilah bekas...pacar.
"Oh begitu. Memangnya mengapa kok jadi tidak dipakai?" Aku penasaran.
"Soalnya dulu pernah ada yang bunuh diri di sana bu."
Aku kaget. Yaa Allah, yang aku pikirkan saat itu bukan horornya. Tapi aku memikirkan alasan mengapa anak itu bisa bunuh diri?
Seumur anak SMA/SMK, seharusnya hidup mereka sedang seru-serunya. Masalah terbesar mereka mungkin hanya PR yang menumpuk, teman yang berhianat, dan parahnya mungkin pacar yang selingkuh atau malah diputusin. Iya kan?
Tapi jika mengenai orang tua yang bercerai, aku tidak bisa berkomentar. Kalau soal ini, mungkin benar akan membuat jiwa anak benar-benar terluka. Untuk itu jika kita sudah menjadi orang tua, tolong selalu bijaklah dalam berbuat. Ada anak-anak yang butuh orang tua yang utuh 🙏
Aku berpikir lagi, dulu ada siswa yang bunuh diri di toilet?
Apa mungkin dia yang selama ini masih gentayangan dan mengganggu anak-anak lainnya?
Oh iya, FYI (For Your Information), apa pun itu yang katanya orang ada arwah gentayangan, roh yang tidak tenang, hingga menjadikan orang yang sudah meninggal itu terus menampakkan diri, aku beri tahu, itu salah yaa.
Semua yang bernyawa akan mati. Dan manusia yang telah mati, rohnya sudah kembali pada pencipta-Nya. Jadi tidak ada istilah, rohnya tertahan di bumi karena ada urusan yang belum selesai, dan bla bla lainnya.
Jika kita pernah melihat arwah orang yang sudah meninggal masih gentayangan, itu hanya jin yaa. Jin yang sengaja mewujud sebagai si fulan untuk mengurangi kadar iman kita. Tentang kepercayaan kita bahwa semua yang mati jiwanya akan kembali ke asalnya.
Iman artinya percaya.
__ADS_1
Jadi jika kita percaya terhadap tipu daya jin, tandanya iman kita kepada Allah perlu dipertanyakan.
Dan dari semua misteri SMK Mandiri, akhirnya aku tahu satu hal, yaitu ada siswa yang pernah bunuh diri di sekolah.
***
Siang menjelang sore itu aku ada pelajaran tambahan di salah satu kelas. Aku lupa karena apa. Tapi yang pasti, aku mengajar saat siswa-siswa yang lain sudah pulang. Hanya tersisa siswa-siswa yang akan melaksanakan ekstrakulikuler di lapangan utama.
Seperti yang aku katakan sebelumnya, sekolah ini sangat luas. Kelasnya berlapis-lapis mirip kue lapis. Kalian tahu kue lapis kan? Di sana ada berjejer-jejer lapisan.
Nah, SMK Mandiri seperti itu.
Barisan pertama, dari ujung berisi perpustakaan lalu kelas, kelas, kelas. Baris kedua, berisi kelas, kelas, kelas. Baris ketiga, kelas, kelas, kelas, kelas. Baris keempat, kelas, kelas, kelas.
Jadi dalam satu sayap, terdapat empat deret bangunan berjajar. Belum dari sayap kanan. Belum bagian belakang.
Intinya, saat itu aku mengajar di kelas sayap kiri, deret ke tiga. Lumayan jauh dari lapangan utama. Anak-anak sengaja memilih ruang kelas itu agar suara bising anak-anak lain dari lapangan tidak terdengar. Dan aku setuju. Saat memasuki ruangan kelas, terasa senyap di sana. Lebih tepatnya, mencekam.
Aku masuk ruangan kelas yang meja-mejanya berukuran lumayan besar dibanding meja ukuran standar pada umumnya. Aku masuk ke kelas itu serasa masuk di ruangan kelas jaman belanda.
Meja dan bangkunya besar dengan nuansa cokelat khas kayu. Segera aku tulis tugas anak-anak di papan. Setelahnya, aku biarkan mereka anteng mengerjakan tugas. Sementara aku memilih duduk di bangku belakang sembari menilai hasil kerjaan anak-anak pagi tadi.
Siang itu kelas hanya terisi setengah dari jumlah bangku yang ada. Sehingga masih banyak bangku yang masih kosong. Aku duduk di salah satunya.
Aku pandangi murid-murid yang sedang fokus dengan tugasnya dari belakang. Sampai suatu aroma melipir pada hidungku.
Aku mencium wangi yang entah berasal dari mana.
Aku sengaja bangkit, lalu keliling mengitari anak-anak. Aku pikir salah satu diantara mereka ada yang memakai minyak wangi sampai aromanya tercium sampai belakang. Namun setelah aku berkeliling, wangi itu tidak tercium.
Aku kembali duduk di bangku belakang. Samar-samar, wangi itu tercium lagi hingga semakin kuat. Oke fix yaa. Itu bukan wangi biasa.
Segera aku pindah duduk ke depan.
"Ada apa, Bu?" Salah satu murid bertanya karena aku berjalan agak cepat.
"Tidak apa-apa. Lanjutkan lagi tugasnya!" aku jawab sok santai.
Padahal yaa. Siapa tidak takut jika tiba-tiba di siang bolong ada aroma wangi yang semerbak?
__ADS_1